Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP55. Rencana terselubung


__ADS_3

Alhamdulillah, aku menemukan mereka. Saat aku baru sampai di depan rumah Safar, Givan berlarian ke arahku. Ia tengah bermain dengan Liana di halaman rumah.


"Papah… jangan bikin mamah aku nangis lagi, ya?" ucapnya tiba-tiba.


"Maaf, ya Bang." sahutku dengan memeluk tubuhnya. Aku tak bisa menjanjikan itu. Apa lagi jelas, kebenaran yang sebenarnya belum terungkap.


Aku menemani anakku bermain sejenak. Ia seperti biasanya, ia begitu aktif dan ceria. Kebanggaanku, anak sulungku, putraku, namun Dinda seolah tak berbelas kasih. Ia berniat membawanya pergi dariku. Dan dengan gantinya, ia memberiku seorang anak. Namun aku harus kehilangannya dan Givan. Aku tak ingin ini semua benar terjadi.


"Kak Dinda di dalam kah?" tanyaku pada Liana. Ia hanya mengangguk menanggapinya.


"Jagain dulu, ya? Abang mau ke kak Dinda dulu." lanjutku, ia hanya mengangguk kembali.


Aku berjalan memasuki rumah dengan mengucapkan salam. Namun tidak ada satu pun orang yang menyahutinya.


Aku berjalan masuk dengan menengok kiri kanan, berharap menemukan kehadiran Dinda di sekitar sini.


Aku berpapasan dengan Safar yang tengah membawa sangkar burung.


"Heh, Kak Dinda di mana?" tanyaku padanya. Aku membiaskan menyebut Dinda sesuai panggilan yang mereka sebut. Agar mereka paham dengan status Dinda di keluarga besar ini. Meskipun ia masih muda, dan lebih muda dari Safar. Tapi tetap, Safar harus memanggil Dinda dengan sebutan kakak.


"Kamar induk." jawabnya sambil menunjuk kamar orang tuanya dengan dagunya.


Aku berbelok ke kanan, dan memperhatikan mereka yang berada di dalam kamar. Melalui celah pintu yang memang tak ditutup rapat.


Terdengar isakan pelan, dan suara pamanku yang mengatakan 'sabar' berulang kali. Ada apa ini?


Aku mendorong pintu, dan mengeluarkan kepalaku dari celah yang melebar itu. Aku bisa melihat Dinda tengah berbaring miring, dengan memeluk guling sepertinya. Berbantal paha bibiku, dan Dinda memunggugi pintu kamar ini. Jadi dia tak bisa melihat kehadiranku.


Derit pintu yang aku timbulkan, membuat dua orang yang kuanggap sudah seperti orang tuaku itu menoleh ke arahku.


Bibiku mengisyaratkan paman untuk menemuiku dengan dagunya, dan pamanku mengangguk mengerti. Lalu beliau berjalan ke arahku.


Ia menepuk bahuku, dan memintaku mengikuti langkah kakinya. Ternyata balkon lantai atas tujuannya.

__ADS_1


"Dinda jauh dari orang tua. Wajar dia pengen sering hubungi mereka." ucap paman langsung. Oh aku paham. Mungkin tadi Dinda tengah mengadu pada mereka.


Aku memperhatikan wajah pamanku. Pikiranku semakin berkecamuk rumit.


"Apa? Tak bolehkah Pak cek campuri rumah tangga kau?" tanyanya kemudian.


"Tak Pak cek, bukan macam itu." jawabku, lalu aku membalikkan tubuhku menghadap hampiran luas kebun kopi yang terpampang jelas di mataku.


"Ada masalah apa sebetulnya?" sahutnya, dengan menawariku rokok. Aku menggeleng menolak tawaran rokoknya.


"Dinda minta cerai. Karna Adi tak kunjung resmikan pernikahan Adi sama Dinda." jawabku jujur.


"Ya kenapa tak kau resmikan aja. Kau kekurangan dana kah? Biar Pak cek tambahin." balas pamanku dengan memperhatikan aku yang tengah frustasi setengah mati ini.


Sepertinya aku butuh seseorang, untuk aku jadikan sebagai teman curhat.


"Tak bisa, Pak cek. Istri Adi dua, dan di antara mereka tak ada yang tau sama sekali." ungkapku jujur.


"Aduh, aduh…" suara pamanku. Aku menoleh padanya. Terlihat ia tengah menepuk pakaiannya yang terdapat abu rokok. Ada apa dengan pamanku?


"Terkejot Pak cek." jawabnya kemudian. Aku malah terkekeh pelan. Ada-ada saja kejadian lucu, saat aku mulai berbicara serius macam ini.


"Kau serius?" ujar pamanku. Aku mengangguk mantap.


"Kapan kau nikah lagi? Apa Dinda ini istri kedua kau?" tanyanya lagi.


"Dinda yang pertama. Adi nikah lagi pas Dinda masuk rumah sakit itu. Pas Adi lagi pulang ke kota C." jawabku jujur.


"Kau gila apa macam mana? Apa Dinda tak bisa muasin kau?" sahutnya dengan memperhatikan aku. Jelas itu tak mungkin juga, aku jelas terpuaskan lahir batin. Dinda tak kurang satu apa pun, hanya saja jika ia sudah mengamuk, aku pun pasti dibuat nangis olehnya. Ia sekejam itu pada suaminya sendiri.


"Adi hamili perempuan itu, sebelum Adi nikah sama Dinda. Terus Adi memang tak tau, kalau perempuan itu hamil." terangku singkat.


"Rumit memang. Terus Dinda minta cerai karna itu?" balasnya menyimak ceritaku.

__ADS_1


"Tak, Pak cek. Dinda belum Adi bagi tau. Dan jangan sampek Dinda tau dulu. Takut dia stres, dan kandungannya kenapa-napa." ucapku, sambil memperhatikan Givan yang tengah berlarian ke sana ke mari.


"Mungkin firasat kali, Di. Dinda kayaknya kacau betul. Tadi dia ada bilang udah capek sama kau. Kalau bukan karena anak mungkin dia langsung balik ke orang tuanya." ungkap pamanku.


Oh, jadi Dinda berat ke anak. Aku yakin, ia tadi hanya mengancam mau meninggalkan anak kami padaku. Karena aku tak segera mengiyakan peresmian pernikahan kami. Ide yang sangat brilian terlintas di pikiranku. Mungkin ini jalan satu-satunya untuk menguncinya agar tetap bersamaku terus.


"Pak cek, perempuan kalau nifas berapa lama?" tanyaku dengan menoleh pada pamanku.


Ia terdiam sejenak, mungkin ia mengingat kembali tentang nifas istrinya dulu.


"Tergantung, ada yang empat puluh hari belum selesai. Ada yang satu bulan udah bersih. Ada yang sampek enam puluh hari." jawab pamanku. Benarkah macam itu? Tapi ya sudahlah, biar nanti kupastikan sendiri.


"Pak cek kok tau banyak? Berapa istri yang pernah Pak cek buat nifas?" tanyaku. Ia melotot kaget, dan tertawa setelahnya. Suasana tegang ini mencair.


Setidaknya, mungkin cara itu nanti akan bisa mengunci Dinda dalam kehidupanku. Biarlah aku egois. Aku hanya ingin bahagia bersama Dinda dan anak-anak kami. Aku tak ingin ia meninggalkanku. Dan semoga rencanaku nanti akan memperkuat ikatan kami. Akan membuat Dinda semakin berat padaku. Meskipun alasannya bukan karena aku. Tapi karena….


Biarkan itu semua terjadi nanti, aku harap rencanaku kali ini berhasil.


Aku tersenyum menatap teriknya matahari, hatiku kembali baik-baik saja. Aku harus yakini itu, aku harus yakin bahwa Dinda tetap mencintaiku. Hanya cintanya yang menguatkanku akan ujian rumah tangga ini.


AUTHOR POV


Siang harinya, mereka bertiga makan bersama keluarga dari adik ayah kandung Adi. Mereka berkumpul di ruang makan. Karena kursi yang tak memadai, akhirnya mereka memutuskan untuk duduk lesehan. Sambil menikmati hidangan yang tersedia seadanya.


"Makan yang banyak, Din. Biar bayinya sehat." ucap ibu Cut Handa, bibi dari Adi. Ibu dari Safar dan Liana, dan tentunya istri dari adik ayah kandung Adi.


Adinda meresponnya dengan menganggukan kepalanya saja. Ia sebenarnya malas untuk makan. Tapi ia sadar, anak kehidupan kecil di perutnya.


Namun ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Makanan itu sedari tadi ditatap lapar oleh Adinda. Namun ia yakin, ia tak akan diizinkan untuk memakan itu.


"Kenapa, Dek?" tanya Adi. Karena ia merasa bahwa Adinda menatap sesuatu yang berada tepat di depannya.


TBC.

__ADS_1


Rencana apa lagi sih, Di? Hidupmu penuh dengan rencana. Tapi gagal total semuanya.


sedihnya jadi Adinda, jauh dari orang tua.. 😔


__ADS_2