Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP56. Bungkamnya Adinda


__ADS_3

"Abang tau. Tapi jangan harap Abang bagi ini." ucap Adi dengan menarik makanan berbahan dasar nanas itu.


"Bagi sikit itu, Mak cek. Aku mau pacri nenasnya." ujar Adinda, ia meminta izin langsung pada yang punya wewenang di rumah ini.


"Ambilah sikit." sahut ibu Handa. Membuat Adi menoleh tak percaya.


"Janganlah, Dek. Bisa kenapa-napa nanti anak Abang." larang Adi. Ia menjauhkan makanan itu dari jangkauan Adinda.


"Anak Abang terus yang Abang pikirin! Abang tak pernah mikirin aku!" seru Adinda, yang membuat Adi terdiam. Ia tak mungkin berdebat dengan istrinya di depan keluarga pamannya.


Adi hanya bisa menatap prihatin, saat Adinda mulai memasukkan pacri nenas ke dalam mulutnya.


Ia teramat khawatir sesuatu yang buruk terjadi. Karena sepemahamannya, wanita hamil tidak boleh makan nanas.


"Udah, Dek. Jangan lanjut terus. Mak cek pun hanya bagi sikit. Tapi kau nampak keenakkan macam itu." ungkap Adi yang memperhatikan istrinya dari tadi.


Adinda menaruh makanannya begitu saja. Lalu ia pergi ke belakang, untuk mencuci tangannya.


"Biarin aja, Di. Dia lagi pengen itu." ujar ibu Handa, saat Adi sedari tadi memperhatikan istrinya terus.


"Adi khawatir, Mak cek." sahut Adi kemudian.


~


~


Sudah satu hari ini Adinda diam membisu. Ia tak mau membuka suaranya pada Adi, dan dirinya hanya mau berbicara dengan anaknya saja. Ia pun memisahkan diri dari Adi, ia menghindari untuk tidur bersama Adi.


"Mamah, aku diajak main sama bang Hafis." seru Givan yang berlarian ke arah ibunya, yang berada di dapur. Hafis adalah anak sulung dari Ayu, ia sudah berusia tujuh tahun.


"Ke mana?" tanya Adinda, dengan memusatkan perhatiannya pada anaknya.


"Ke rumah bang Hafis. Aku tak jauh-jauh, aku main di sana aja." ungkap Givan dengan mendongakan kepalanya. Untuk bisa melihat wajah ibunya.


"Mana bang Hafisnya?" sahut Adinda. Lalu Givan menarik tangan Adinda. Mengajaknya untuk menemui Hafis yang berada di depan rumahnya.


"Aku mau ajak Givan main, Tante. Aku udah beli bola kecil banyak kali. Buat main mandi bola." ujar anak laki-laki yang berusia tujuh tahun tersebut, saat Adinda muncul dari dalam rumah.


"Oh, ya udah. Main di rumah aja, ya? Jangan ke mana-mana!" sahut Adinda kemudian. Adi yang tengah menanam beberapa macam bunga itu, hanya memperhatikan mereka saja. Bunga yang ia tanam, sengaja untuk dijadikan hiasan di halaman rumahnya. Dan inilah hobi Adi, bercocok tanam dan memelihara tumbuhan. Makanya tak heran, ia begitu menekuni usahanya. Tak jarang ia yang turun tangan sendiri ke ladangnya.


Lalu Givan dan Hafis pamit pergi main. Adinda masih memperhatikan langkah kaki anaknya dari kejauhan.


"Dek, sini… Abang ajarin nyusun tanah di pot." ajak Adi dengan melambaikan tangannya pada istrinya.

__ADS_1


Adinda menggelengkan kepalanya, ia menolak ajakan suaminya.


Adi menghela nafasnya, ia tak tahu harus bagaimana lagi agar istrinya menyudahi amarahnya.


Ia berdiri, mengibaskan sarung yang ia kenakan hanya sebatas lutut saja. Setelahnya ia menata ulang sarungnya, dan berjalan ke arah keran air yang tersedia.


Ia membersihkan tangannya, dan berjalan memasuki rumah.


"Dek…." seru Adi memanggil istrinya. Namun tak ada sahutan dari istrinya.


'Kaku! Bikin sesak di hati.' gumam Adi pelan. Ia tak bisa menyabari keadaan Adinda yang terus mendiamkannya. Namun jika ia berbicara dengan emosi, sudah pasti ia Adinda akan lebih-lebih terbakar amarahnya.


Adi menemukan istrinya yang tengah berkutat dengan sayuran.


Ia menarik nafasnya, "Bismillah." ucapnya untuk menguatkan hatinya, agar lebih bersabar menghadapi istrinya itu.


Lalu ia berjalan menghampiri istrinya, dan langsung memeluknya dari belakang.


Adinda terhenyak kaget, mendapat pelukan dadakan tersebut. Namun sepertinya ia masih enggan membuka suaranya.


"Udah dong ngambeknya. Dunia Abang serasa berhenti bergerak. Abang jadi tak punya semangat." ungkap Adi lembut.


Namun Adinda masih tak mau bersuara. Ini membuat Adi bertambah bingung.


"Mau cerai." sahut Adinda cepat.


"Kau hamil, kau minta cerai. Kau waras kah, Dek?" balas Adi mencoba menjaga intonasi suaranya.


"Ya mumpung anak baru satu. Biar kelak nanti Abang tak terlalu repot ngurusin anak Abang." ujar Adinda membuat hati Adi mencelos.


"Oh macam itu? Anak sama Abang nanti? Ok nanti anak sama Abang. Tapi Abang minta Givan juga untuk ikut sama Abang." ucap Adi halus, namun terdengar begitu dingin. Ia pun sebenarnya tak benar-benar menginginkan hal itu. Ia hanya ingin tahu seberapa jauh Adinda berani mengancamnya.


"Mana bisa macam itu. Givan anak aku. Bukan anak Abang!" sahut Adinda cepat.


"Kenapa Givan bisa jadi anak kau?" tanya Adi terdengar konyol di telinga Adinda.


"Ya karena Givan aku lahirin. Makanya dia aku sebut anak aku. Abang tak punya otak kah? Untuk mikir sampai…" ucapan Adinda terpangkas, karena Adi menyelanya.


"Jadi nanti anak yang tengah kau kandung ini, mau kau apakan? Apa tak kau LAHIRKAN juga?" sela Adi menekankan kata tersebut.


"Kau pilih kasih. Anak kau dengan laki-laki lain, kau sebut dengan anak kau sendiri. Dan kau mau bawa dia, karena dia bagian dari kau. Sedangkan anak kau dengan Abang, kau sendiri pun bingung untuk menyebutkannya sebagai anak kau sendiri. Ditambah lagi, kau setega itu menyerahkan bayi yang baru kau LAHIRKAN itu pada laki-laki yang udah menghamili kau ini." lanjut Adi, dengan menunjuk dirinya saat menyelesaikan kalimatnya.


Adinda mendorong dada Adi. Namun tak berpengaruh pada Adi. Ia tetap berdiri tegak dengan jarak yang semakin mengikis.

__ADS_1


"Maksud kau apa sih, Bang?" sahut Adinda.


Adi langsung mengunci tubuh istrinya. Dan membawanya dalam gendongannya. Adinda tak mampu menghindar dari tindakan yang dilakukan secara tiba-tiba itu.


Ia terangkat, dan mau tak mau ia harus mengalungkan tangannya pada leher suaminya. Agar tak terjatuh.


"Turunin aku!" tegas Adinda.


"Kau butuh selang*angan sampek maksa aku macam ini!" lanjut Adinda dengan seru.


Adi menurunkan istrinya di atas tempat tidur. Lalu ia duduk bersila di atas tempat tidur, berhadapan dengan istrinya.


"Duduk! Biar masalah kita selesai." ucap Adi kemudian.


Adinda membenarkan posisi duduknya, dan membenarkan rok panjangnya yang tersingkap sedikit.


"Abang iri! Kau bawa Givan, tapi kau tak bawa anak Abang." ucap Adi terjeda oleh helaan nafasnya.


"Kau sebut anak kau dengan laki-laki lain, dengan sebutan anak kau. Tapi kau berucap anak kau dengan Abang, kau sebut dengan anak Abang. Bukan anak kau." lanjut Adi. Menurut Adinda, pembicaraan Adi tak mengarah ke arah yang jelas. Karena jelas yang ada di pikirannya. Givan bukan anak Adi, bagaimana mungkin Givan diasuh oleh Adi. Sedangkan bayi yang tengah ia kandung, jelas itu anak Adi. Namun malah Adi membuat bingung dirinya, dengan kata-kata yang berbelit.


"Jelasnya macam mana? Aku pusing! Aku tak paham!" sahut Adinda jujur.


"Kau mau kita cerai?" tanya Adi. Adinda langsung mengangguk mantap.


"Kau mau bawa Givan?" tanya Adi kembali. Adinda pun mengangguk kepalanya untuk kedua kalinya.


"Kau tak mau bawa bayi kau sekalian? Apa bedanya Givan dan bayi yang kau kandung ini?" tanya Adi beruntun.


"Abang bukan ayah kandungnya. Abang tak mungkin ngasuh dia. Dan jelas, bayi ini anak kandung Abang. Kau ada hak buat ngasuh dia. Tak semua laki-laki, mau nerima anak orang lain. Dan kalau anak itu aku bawa, otomatis akte lahirnya akan dibuat sesuai dengan nama yang di buku nikah aku. Kelak nanti berarti bin anak aku ini, ikut ke ayah barunya. Tak tak sah menurut hukum agama. Karena anak ini tak satu nashab dengan ayah baru itu. Sedangkan kalau dia ikut Abang, dan Abang nikah. Abang bisa buat akte lahir dengan bin nama Abang. Itu mempermudah pernikahannya kelak, dan jelas tak menyalahi aturan agama. Karena nama ibu tak begitu penting, kecuali itu anak hasil hamil di luar nikah. Jelas nanti dia akan satu nashab dengan ibunya." jelas Adinda mengungkapkan. Dengan membuat Adinda bingung, Adi bisa mengerti maksud dari anaknya yang harus ia bawa. Jika ia bercerai dengan Adinda, ia bisa membuatkan akte dengan bin namanya sendiri. Jadi semua ini masih ada sangkut pautnya dengan pernikahan resmi itu.


"Intinya kita harus nikah resmi kan, macam itu? Kenapa kita harus cerai. Dan menikah resmi dengan orang baru. Kalau kita bisa menikah resmi sendiri?" sahut Adi. Harusnya Adinda berterus terang saja. Bahwa dirinya ingin diresmikan, untuk alasan akte lahir anaknya. Namun ia sampai meminta cerai, dan Adi untuk membawa anaknya.


"Memang Abang bisa sanggupin untuk resmikan aku? Tak kan? Buktinya aku masih enggan untuk Abang ekspos di sosial media Abang. Aku pun Abang minta untuk tidak mengumumkan pada semua orang, bahwa kita sudah menikah meski nikah siri. Lebih-lebih Abang tak mau cerita ke orang tuanya. Aku macam simpanan Abang, yang harus Abang simpan rapat-rapat." balas Adinda.


"Dek, dengerin Abang…


TBC.


Meskipun dulu Dinda doyan mabok, rokok selalu terselip di tangan, judi jalan, balap liar pun jalan. Tapi dia paham hukum agama.


Dia pun shalat, dan jadi guru ngaji anaknya Haris dan anaknya Ashila itu. Bukan maksud menjelekan wanita yang pandai ngaji dan lain sebagainya.


Tapi... ini sebagai contoh saja. Dan memang ada wanita seperti Adinda. Dia shalat, tapi maksiat pun jalan. Karena shalat adalah kewajiban umat Islam sendiri, dan maksiat karena kita yang salah pilih haluan.

__ADS_1


__ADS_2