Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP189. Adi dan anaknya


__ADS_3

Malam harinya, Adi tengah mengantarkan Ghava dan Ghavi untuk diperiksa. Karena Adinda merasa khawatir pada penerbangan pertama, untuk kedua bayi kembarnya tersebut. Karena sepemahamannya, bayi prematur membutuhkan waktu lebih untuk siap diajak naik pesawat.


"Alhamdulillah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan Bu. Si kembar sehat-sehat saja." ucap dokter tersebut, setelah memeriksa bagian telinga Ghavi.


"Sebelumnya saya udah ikutin saran dari G*ogle, biar mereka aman dalam penerbangan. Hanya saja, saya sedikit khawatir Dok." sahut Adinda kemudian.


Dokter tersebut tersenyum ramah, "Saya mengerti kekhawatiran Ibu. Ini saya resepkan vitamin, juga sesering mungkin untuk susuin mereka. Mereka ASI eksklusif kan?" tanya dokter tersebut.


Adinda dan Adi mengangguk cepat, "Ya, Dok. ASI eksklusif, insya Allah sampek tuntas 2 tahun." jawab Adinda kemudian.


Lalu mereka pamit pada dokter tersebut. Setelah membayar biaya pemeriksaan tadi, Adi langsung melanjutkan perjalanannya untuk kembali ke rumahnya.


Saat mereka sampai di rumah, Adi langsung disambut dengan tangis heboh dari Ghifar. Anak itu tengah menggeserkan alas duduknya ke sana ke mari, menolak untuk diajak oleh siapa pun.


"Anak Abang ini? Bikin PR orang satu rumah aja." ujar Edi yang berada tak jauh dari jangkauan Ghifar.


Ghifar langsung memeluk kaki ayahnya, ia mendongak kepalanya dengan pandangan sedihnya. Wajahnya basah karena air mata dan air hidungnya, ia terlihat begitu kacau saat ini.


"Ini tolong gendong bayi Abang dulu, sana ikutin kak Dinda. Kasihin ke kak Dinda." pinta Adi pada Edi.


Setelah bayi Ghavi sudah diambil alih oleh Edi, Adi langsung menggendong Ghifar.


"Zuhra… Zuhra… anak kau nangis, kau diam aja hah? Keterlaluan kau!" seru Adi dengan menggedor-gedor pintu kamar Zuhra. Tindakan Adi barusan membuat Ghifar terbahak-bahak. Ia merasa terhibur dengan tingkah ayahnya tersebut.


Zuhra keluar dari kamarnya, diikuti dengan Givan yang muncul dari belakang tubuh Zuhra.


"Aku udah ajak, dia tak mau Bang. Pah, pah, Bang aja dia kata, aku kata papah ada di dalam kamar. Terus aku tunjukkin bang Edi, dia nolak katanya papah abang. Aku kata, papah abang siapa? Aku tunjuk Givan dia geleng, aku tunjuk dirinya dia geleng. Terus aku kata lagi, bang Adi kah? Ghifar nyari papah bang Adi? Aku tanya macam itu, eh dia langsung manggut-manggut aja udah macam burung puter." ungkap Zuhra menceritakan, membuat Ghifar menatap ayahnya dengan menyunggingkan senyum lebarnya.


"Kau lagi! Papah-papah terus, kenapa tak kau tangisi mamah kau itu? Enak itu mamah, masuk kamar rebahan. Nah Papah? Abis antar ke dokter, malah ganti mesti momong kau!" ujar Adi dengan menangkup wajah Ghifar dengan telapak tangan kanannya. Membuat anak laki-laki itu terkekeh senang, atas ucapan dan tingkah ayahnya.


"Pah.. pah… Papah A… bang. Bang….. Di." Celoteh Ghifar dengan bersemangat.


"DEK….. Dinda…" seru Adi memanggil istrinya.

__ADS_1


Tak lama Dinda muncul dari dalam kamarnya, "Pue lom?" sahut Adinda dengan berseru kembali.


"Adek jangan manggil Abang, dengan sebutan Abang lagi. Anak kita ikutan, Dek. Dia kata papah bang Adi, masa ia anak manggil ayahnya bang Adi." adu Adi pada istrinya.


"Ada apa sih?"


"Rumah sampek ramai betul."


"Ada yang nangis, ada yang ketawa riang. Ada yang adek-adekan aja, ada pulak yang ngomong pakek bahasa A***."


Ucap ibu Meutia dan pak Dodi bergantian, dengan berjalan menuju ke ruang keluarga yang berada di bawah tangga tersebut.


Maya menatap malas dan mencoba tak peduli pada sekitarnya, ia hanya fokus pada tontonannya saja. Meski ia berada di tempat yang sama, dengan kehebohan yang terjadi tersebut.


Givan sendiri yang mudah akrab dengan orang, ia tengah bergurau dengan bahagia dengan Edo. Tentu tawa riangnya memenuhi ruangan ini.


"Nah, Umi kenapa diam aja? Cucunya sampek nangis kaku macam itu. Kasian kali si hitam dari gua hantu ini, tak diajak jalan-jalan sama Mamah Papah. Tak diajak main sama yang lain juga." ungkap Adi dengan menempelkan pipinya dengan pipi anaknya tersebut.


"Anak sendiri dibilang si hitam." timpal pak Dodi dengan menggelengkan kepalanya.


"Iya nih, Adek. Makanya jangan bang Adi-bang Adi aja, kan anaknya jadi ikutan." ujar Adi dengan melirikkan matanya pada istrinya yang tengah mengarahkan Zulfa, yang mencoba menggendong Ghavi.


"Masa ia aku harus bilang Kacung Adi, nanti tersinggung pulak." balas Adinda kemudian.


Ucapan Adinda barusan menarik perhatian pak Dodi, ia beranggapan lain dengan sebutan kacung tersebut. Berbeda dengan ibu Meutia dan yang lainnya, ia menganggap sebutan kacung tersebut untuk panggilan seorang anak laki-laki di kota C.


Adi hanya cengengesan saja, sembari memperhatikan wajah istrinya.


"Naya udah tidur, May?" tanya pak Dodi pada menantunya tersebut, dengan ia memperhatikan wajah masam Maya yang fokus pada televisi.


"Udah, Naya sih lepas maghrib pasti udah tidur. Gak macam anak-anak itu, bayi juga masih melek aja." jawab Maya yang seolah sengaja menyindir anak-anak dari Adinda.


"Biasanya Ghifar tidur jam berapa, Bang? Sini ngumpul, kita omongin sekarang." ajak ibu Meutia, pada Adi yang tengah bermain dengan Ghifar dan Givan.

__ADS_1


"Sedikeloninnya sih biasanya, tapi kadang kalau belum ngantuk ya agak malaman tidurnya." sahut Adi dengan melempar mainan bola dari karet, dengan Ghifar yang langsung menggerakkan tumpuan duduknya untuk mengejar bola tersebut.


"Kelonin aku aja, Pah. Ayun-ayun, sambil nyanyi indal fajri." timpal Givan dengan langsung berpindah ke pangkuan ayahnya.


Ghifar langsung melemparkan mainannya pada kakaknya tersebut, jangan lupakan suara nyaringnya yang menggema di ruangan ini.


"Mah… Adek nakalin Abang tuh, kurung aja ini Mah." seru Adi yang membuat Ghifar langsung berlindung pada Givan yang berada di sebelahnya.


Givan memeluk adiknya tersebut, "Makanya jangan nakal, kau belum pernah kan kena tancap gigi mamah?" ucap Givan dengan menepuk-nepuk punggung adiknya.


Adinda, Adi dan Zuhra terkekeh geli karena ucapan Givan barusan.


"Pah… bu.. bubu…" ujar Ghifar yang dimengerti oleh ayahnya.


"Yuk Bang Givan juga." ajak Adi dengan mengajak anak sulungnya.


"Teee… bikin susu." pinta Adi pada Zuhra. Dengan Zuhra langsung berlalu ke arah dapur.


"Tidurnya tak sama kau, Din?" tanya ibu Meutia dengan menepuk pelan paha Dinda.


"Jarang, Mi. Kalau tidur sama aku, malah aku yang tidur duluan." jawab Dinda dengan tersenyum malu.


"Terus ini bayi jam berapa tidurnya?" tanya ibu Meutia kembali, dengan mencubit pelan pipi Ghavi yang berada di dekapan Zulfa.


"Biasanya udah tidur, mungkin karena tadi di mobil udah tidur. Jadi mereka belum mau tidur lagi." sahut Adinda dengan mengatur posisi dadanya, agar ia bisa menyusui tanpa terlihat oleh orang lain.


Karena Ghava sudah membuka mulutnya, dengan menoleh ke arah dada ibunya. Tangannya pun sudah bergerak, untuk menggosok wajahnya.


"Kenapa waktu umi tanya, kau bilang suami kau udah mati? Jelas-jelas Adi masih sehat wal afiat." ungkap ibu Meutia, saat Dinda merapikan hijabnya agar bisa menutupi dadanya yang tengah dihisap oleh Ghava.


Adinda menoleh ke arah ibu mertuanya, terlihat juga Maya yang tengah memperhatikannya dengan lekat.


"Aku…..

__ADS_1


......................


__ADS_2