
"Apa hal?" tanyaku heran.
Namun Edi malah menyibakan bajuku. Dan menatap nanar bagian tubuhku. Kenapa sebetulnya dengan adikku ini?
Oh iya aku paham, "Minum susu tinggi protein, biar otot kau cepat jadi. Terus olahraga yang rutin, nge-gym juga biar ada yang bimbing. Kalau Abang beli beberapa alat olahraga sendiri, soalnya tak ada tempat gym di sana." ucapku jelas.
"Oh, jadi kissmark itu ditimbulkan dari susu tinggi protein ya Bang?" tanya Edi yang membuatku bingung. Apa hubungannya kissmark dan susu tinggi protein? Tapi apa dia kata tadi? Kissmark? Kissmark itu sejenis c*pangan kan?
Aku langsung mengaktifkan kamera depan pada ponselku. Dan terlihat beberapa bekas c*pang pada leherku. Begitu memerah, sampai sedikit membiru. Mungkin karena terlalu kuatnya Dinda menghisap. Ya lah, siapa lagi pelakunya kalau bukan Dinda. Pantas saja dua malam berturut-turut dirinya saja yang memegang kendali, saat kami b*rc*nta.
Dan aku menyibakan kaos yang aku kenakan. Beberapa bekas c*pangan pun nampak di sini. Dan yang paling membuatku tak habis pikir, Dinda membuat tanda tersebut di antara bagian perut bawahku. Gila memang wanitaku ini! Hebat juga bela*annya, sampai-sampai aku tak menyadari bahwa aku diberikan tanda begitu banyak.
Aku pun langsung mengetikan pesan untuk Dinda kembali.
[Adek c*pangin Abang? Banyak betul, Sayang.] tulisku, lalu aku langsung mengirimkan pesanku pada Dinda. Sebelumnya aku pun sudah mengiriminya pesan, hanya saja memang belum dibalas olehnya.
"Bang, Abang selingkuh?" tanya Edi kembali.
Aku menoleh padanya, "Berisik! Banyak tanya kau!" sahutku ketus.
"Astagfirullah, Bang. Dosa loh, Bang. Pantas aja Abang gak mau bawa istri ke sana. Gak taunya…." ungkap Edi, dengan diakhir kalimat yang menggantung itu. Ia menggelengkan kepalanya.
"Bisa diam tak?!!!" seruku menegaskan. Kesal betul aku dengan mulut Edi.
Tak lama aku mendapatkan balasan dari Dinda, [Iya, aku sengaja, biar perempuan di sana tak mau dekatin Abang. Biar mereka pada tau, Abang udah punya perempuan.] balasnya kemudian.
Astagfirullah, Adindaku. Pandai sekali dia. Pantas saja aku diizinkan pergi. Ia telah memberiku tanda cintanya, yang mungkin tak akan hilang sampai satu minggu ke depan.
"Ngobrolin apa nih? Sampai Abang kau ngotot-ngotot macam itu?" tanya ayah yang berjalan ke arah kami. Mati aku, kalau ayah sampai melihat tanda merah ini. Bisa habis aku diceramahinya.
Aku mengambil bantal sofa, dan langsung memeluknya. Agar bisa menutupi leherku.
Ayah mengerutkan keningnya, saat melihat reaksi dadakanku.
Lalu ayah duduk di kursi yang tadi Edi duduki, sebelum ia pindah ke sebelahku.
"Itu Ayah…" jawab Edi menggantung, lalu ia menoleh padaku. Aku memberinya pelototan tajam. Awas saja, kalau sampai ia mengatakannya pada ayah.
"Lagi ngomongin masa otot. Soalnya cepet betul Abang balik gagah lagi. Padahal waktu sakit itu kan, Abang sampai kurus kering." lanjut Edi. Alhamdulillah, lega. Ia tak memberitahu pada ayah.
__ADS_1
"Ohh… Kan udah lama juga. Udah sekitar delapan bulanan juga kan? Sejak Abang kau balik ke provinsi A itu. Pantaslah masa ototnya udah bagus lagi. Abang kau pasti olahraganya betul-betul." timpal ayah kemudian.
"He'em, Edi jadi kepengen tinggal di provinsi A lagi. Mana tau bisa dapat…" sahut Edi menggantungkan kalimatnya kembali, lalu ia menoleh padaku. Kurang ajar memang Edi ini, dia sengaja membuat degup jantungku bermaraton.
Aku bangun dari posisiku, dan melemparkan bantal pada Edi. Dan aku langsung berlalu menaiki anak tangga. Aku akan berganti pakaian dengan kemeja, atau jaket berhodie saja. Agar lebih aman.
"Hei, ke mana Bang?" seru ayah bertanya padaku.
"Mau ambil kunci mobil. Mau keluar, Yah." jawabku berseru.
Lalu setelah sampai di kamar, aku mengganti pakaianku dengan kemeja berwarna merah marun. Pemberian Dinda dulu, saat aku baru mengenalnya. Dan setelahnya, aku cepat-cepat keluar dari rumah ini. Aku ingin makan di luar, dan cari angin sebentar.
"Jangan jajan loh, Bang." sindir Edi, saat aku melewatinya begitu saja.
Lalu, aku melanjutkan langkah kakiku. Dan masuk ke salah satu mobil. Yang kuncinya tengah aku pegang. Perasaan saat aku datang ada mobil mobil sedan yang sepertinya sudah dimodif. Aku kira itu milik Bena, tapi Bena masih ada di dalam. Namun mobil itu sudah tak ada. Atau punya tamu kah? Tapi tamu siapa? Aku tak melihatnya di dalam tadi.
Ke mana ya enaknya? Angkringan atau coffe shop?
Jalan saja dulu lah. Mana tau ada yang menarik perhatianku di jalan.
Dering ponsel terdengar berulang kali. Aku merogoh ponselku dalam saku celanaku. Dan melihat nama Adindaku di sana. Ia meneleponku, mungkin ia menunggu balasan dariku. Karena sejak dari tadi, aku belum membalas pesannya.
"Sibuk kali kah?" nada tinggi istriku terdengar begitu menyeramkan. Untungnya hanya lewat telepon.
"Lagi cari makan ke luar nih, Dek. Tapi masih di jalan, Abang lagi nyetir." jawabku jujur.
"Sekalian mau nyelayab ya?" tuduhnya.
"Tak lah, Dek. Yang percaya dong sama Abang. Adek kan tau Abang anti alkohol, jadi tak mungkin Abang maen ke club." sahutku kemudian.
"He'em. Jangan kecewakan kepercayaan yang aku kasih, Bang. Ati-ati, jangan malam-malam. Aku pengen istirahat ya, Bang." balas Dinda.
"Ok, Dek. Kunci pintu sama gerbangnya jangan lupa. Baca doa dulu sebelum tidur." ujarku mengingatkan.
"Ya Bang. Assalamualaikum." tutur Dinda.
"Wa'alaikum salam." sahutku kemudian.
Lalu aku fokus pada jalanan lagi. Saat lampu merah menyala, aku memberhentikan kendaraanku. Dan dering ponsel terdengar kembali. Pasti itu Dinda menelponku kembali. Tanpa melihat nama yang tertera, aku langsung menggeser ikon hijau ke atas.
__ADS_1
"Ya, Sayang. Baru juga di lampu merah, Dek. Belum nemu makanan yang menarik. Nanti kalau udah kenyang, Abang langsung balik ke rumah umi kok." ungkapku cepat. Aku tak ingin membuat buruk moodnya.
"Ah iya, Sayang. Mampir sejenak ya di cafe R***r ya. Tempatnya tepat di seberang S**** yang dekat dengan perumahan emak kau itu." jawab Dinda. Eh, tapi ini bukan suara istriku-Adinda.
Aku langsung melihat nama yang tertera di layar ponsel. Sialan! Ternyata bukan istriku. Aku cekikikan sendiri, karena merasa sedikit geli dengan ucapanku tadi. Yang menyangka orang yang menelponku tadi adalah Dinda.
"Ketawa pulak kau!!!" seru seseorang yang berada di seberang telepon.
"Maaf, Sel. Kirain Dinda, soalnya dia tadi abis telpon." ucapku dengan melajukan kendaraanku lagi. Karena lampu sudah berganti berwarna hijau.
"Hmm. Mampir, Di. Makan di tempat aku aja." ujar Seila kemudian. Yah, yang menelponku bukan lain adalah Seila Ramadhani. Dia tau saja aku tengah berada di kota J.
"Ada siapa aja? Aku tak mau berduaan sama kau! Bisa mati dianiaya istriku nanti aku." sahutku dengan kekehan.
"Di cafe, Di. Ya banyak orang. Tak mungkin berduaan juga. Banyak yang masih makan, ngopi di sini." balas Seila. Oh, aku mengerti. Yang ia maksud tadi adalah cafenya, dan ia mengajak aku makan di cafenya. Aku kira tadi aku suruh mampir ke rumahnya.
"Ohh, di mana tempatnya? Ada yang spicy tak?" tanyaku padanya.
"Yang tadi aku sebutin. Ada spicy, ada yang manis macam aku, dan ada yang asin juga macam cairan kau. Cafe R***r, di seberang S**** yang dekat sama rumah emak kau yang di kota J. Kau lagi di kota J kan?" jawabnya, lalu bertanya balik.
"Sialan kau! Macam pernah rasain cairan aku aja. Ya aku lagi di rumah umi. Kok kau tau sih, aku lagi di kota J." sahutku kemudian. Lalu aku memutar arah kembali, karena tempat Seila sudah terlewat tadi.
"Taulah. Dinda minta titipin barangnya sama kau aja nanti. Katanya abangku lagi di pulau J, macam itu dia bilang di chat." balas Seila. Oh wow, istriku rupanya berbelanja perhiasan lagi.
"Hebat ya, tepat sasaran kau cari konsumen. Tau aja kau, istriku agak trauma sama emas. Eh tak taunya dia lari ke berlian." ungkapku. Seila tertawa puas mendengar penuturanku.
"Ya lah, bos ladang pasti belinya barang yang mahal. Udah nampak dari situ aja. Aku tau kau pasti royal, sama betina yang kau cintai." tukasnya, seolah ia tahu banyak tentangku.
"Ok, ok. Bentar lagi aku sampek nih." tuturku memberitahunya.
"Ok ditunggu. Ada Tasya, Tika sama Nova juga di sini. Lagi pada makan mereka." ucapnya kemudian. Nova adalah laki-laki, meski namanya terdengar seperti nama perempuan.
Hmm, banyak juga kawan lamaku yang berada di kota ini. Mungkin mereka bermutasi menjadi orang baik-baik sekarang. Atau karena mereka sudah pada menikah, dan ikut pindah kota dengan pasangannya.
Semoga malam ini aku tak bablas seru-seruan bareng mereka. Bisa-bisa, Dinda tau dan ngamuk lagi.
TBC.
1400 kata lebih loh ini..
__ADS_1
Kira-kira Adi kebablasan tak ya seru-seruan sama kawan lamanya? 🤔