
"Hei, Dek. Kau sadar tak, kau ngomong apa?" tanyaku, dengan memegang kedua lengannya.
"Aku sadar. 100% aku sadar! Kenapa? Masih tak paham juga?" sahutnya kemudian.
"Kau nyepelehin aku, Bang! Aku bukan ngancam, aku tak lagi bergurau. Lepas aku lahiran nanti, kau bawalah anak aku. Tak perlu kau antar aku balik, tak perlu kau balikan aku ke orang tua aku. Biar aku pergi dengan Givan, biar aku pulang sendiri. Nikahin seseorang yang sering kau telepon diam-diam itu. Besarin anak kau itu dengannya. Apa kau kira aku tak merhatiin kau, hah? Setelah Abang balik dari kota C. Abang seolah terbebani dengan adanya aku. Aku tak lagi jadi acuan hidup Abang. Hp kau genggam terus! Kau tak berani ninggalin hp dalam keadaan menyala, pasti kau pura-pura cas meski baterai dalam keadaan penuh. Ke ladang pun kau bawa hp kau itu. Kau hidangin aku kemewahan, agar saat kau nuntut sesuatu dariku. Abang bisa maksain kehendak Abang sendiri." ucapannya yang keluar begitu saja. Ia menghela nafasnya berulang. Lalu ia berkata lagi.
"Kau kira, kau main rapih? Aku istri kau, aku punya firasat atas apa yang kau lakukan! Siapa perempuan itu? Seseorang yang waktu itu dijodohkan kah?" lanjutnya kemudian. Aku masih terdiam membisu. Rasa panas sudah menyelimuti pelupuk mataku. Kenapa denganku? Aku secengeng ini dengannya? Apa karena aku merasakan aku ketahuan? Sampai aku hendak menangisi semua ini.
"Dari awal, Bang. Dari awal aku udah kata, tak usah maksa kalau tak direstui. Semua ini pasti percuma! Rencana Abang hanya angan-angan belaka, dan angin lalu untukku juga." ungkapnya dengan menangis pilu.
Tubuhku merosot, aku menangis dengan memeluk kakinya. Aku bagai anak kecil yang menangis sesenggukan, yang tak mampu meraih tubuh ibunya untukku peluk.
Hanya karena peresmian pernikahan yang tak kunjung aku penuhi. Amarahnya ke mana-mana. Sampai sesuatu yang aku anggap ia tak mengetahui, ternyata ia merasakannya juga. Sampai dengan masalah awal dalam hubunganku dengannya, ia bahas kembali di sini. Ia tukang ungkit yang paling pintar, dan ingatannya sungguh kuat.
"Kau membelenggu aku, dalam ikatan yang menguntungkan kau sendiri. Kau batasi aku dengan dunia luar. Kau tak suka, kalau temanku datang. Kau tak suka, kalau aku memainkan ponselku. Kau terlalu curiga, kalau orang tua aku hubungi aku. Kau minta aku ceritakan apa yang mereka bicarakan. Dan lebih-lebih, mungkin dengan kau hamili aku agar memperkuat ikatan yang kau berikan. Anak kau jadikan alasan. Pernikahan kau jadikan ancaman untukku. Tapi kau bebas melakukan apa yang mau. Ini hubungan yang nguntungin kau sendiri. Dan rasa-rasanya, kau takut miskin bila nanti kau aku tinggalkan." ujarnya begitu kasar. Aku punya perasaan, tak seharusnya ia menuduhku sedemikian rupa.
"Tenang, Bang. Aku pergi tak akan bawa apa pun dari harta kau. Peternakan silahkan kau ambil, kelolalah sendiri. Aku hanya ingin hidup tenang, tanpa ada gangguan dari kau. Kau pun tak perlu bagi tau ke anak aku nanti, bahwa aku adalah ibunya. Aku yakin, masalah anak nanti malah jadi mempersulit kehidupan kita nanti. Biar aku ikhlaskan dia dengan ibu sambungnya kelak. Kau pun tak perlu ungkapin ke orang tua kau, bahwa anak itu adalah anak kita. Tenang, aku tak akan mempersulit semuanya. Cukup kau talak aku, urusan kita selesai." lanjutnya masih berkata-kata.
Aku mendongakkan wajahku, aku bisa melihat wajahnya yang masih dipenuhi dengan amarah itu. Air mata yang masih mengalir deras. Kekesalan yang masih memuncak di kepalanya, terlihat dari wajahnya yang memerah.
__ADS_1
"Dek, kau macam tak punya hati." ungkapku dengan suara bergetar. Aku tak bisa menyembunyikan rasa sakitku akan ucapannya. Aku tak bisa menyembunyikan rasa kecewaku, atas apa yang ia ucapkan. Aku tak bisa menahan rasa laraku, atas semua tuduhannya. Kenapa wanita yang kucintai berubah sejahat ini?
"Aku tak mau diinjak-injak laki-laki lagi kali ini. Aku masih punya harga diri. Orang tua aku dari aku kecil, ingin sekali buat aku bahagia. Lepas aku besar, kenapa semua laki-laki seolah menyepelekan aku? Dan kenapa aku kembali mencintai laki-laki yang salah?" sahutnya, dengan menghentak-hentakan kakinya. Yang membuat kedua tanganku yang tengah memeluk kakinya, terlepas begitu saja. Bahkan ia enggan membantuku bangkit. Jenis wanita apa lagi ini? Kenapa dirinya berubah menjadi orang lain?
Ia berlalu pergi begitu saja. Aku masih terdiam dengan posisi berlutut. Aku tak bisa melihatnya menghendaki apa yang ia rencanakan itu. Jelas itu musibah untukku.
Ia kembali dengan mangkuk kecil, dan air mineral dalam botol plastik kedap udara milik Givan.
"Ayo, Bang. Sarapan dulu. Yuk sambil main di luar." suara Dinda yang mengajak anaknya untuk keluar rumah.
"Mamah tak apa-apa kan? Aku bisa makan sendiri kok." sahut Givan yang semakin mendekati ibunya.
Aku mengulas kembali ucapannya yang masih terngiang jelas di telingaku. Ia ingin bercerai setelah ia melahirkan? Aku tak mungkin diam saja. Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Aku belum berani menceritakan bahwa aku memiliki istri lain. Aku tak berani berkata jujur, tapi aku pun tak mau Dinda mengetahui ini semua. Bisa lebih-lebih dahsyat amarahnya.
Ia belum mengetahui kebenarannya pun, ia sudah meminta cerai. Apa lagi nanti, jika aku mengungkapkannya?
~
__ADS_1
Sampai siang hari mereka belum kembali ke rumah. Aku pun tak meladang, karena pikiranku masih semrawut. Aku tak memiliki semangat untuk bekerja. Masalahku dengan Dinda belum terpecahkan. Dan lebih lagi, ia tak memberiku makan sedari pagi. Setega itu dia padaku. Menghukumku tanpa belas kasih.
Aku putuskan untuk mencari mereka, dan memintanya pulang.
Aku berjalan ke luar rumah. Dan menuju ke rumah kak Ayu. Sepertinya mereka berada di sana. Rasanya tak mungkin jika Dinda dan Givan kabur. Hanya dengan menggunakan sendal jepit, dan baju longgar saja. Apa lagi jelas, dompet dan ponselnya ia tinggalkan di kamar.
"Bang, ada dek Dinda tak di dalam?" tanyaku pada bang Ridho, suami kak Ayu. Ia tengah berada di halaman rumahnya dengan mencuci motornya.
"Tadi ada, terus tak tau ke mana lagi. Coba tanya sama akak kau." jawabnya melihatku sekilas. Lalu ia fokus pada pekerjaannya lagi.
Aku berjalan memasuki rumah kak Ayu, dan aku langsung bisa melihat kak Ayu yang tengah menemani anak-anaknya bermain.
"Kak, dek Dinda sama Givan main ke mana? Dari pagi belum balik lagi." ucapku dengan berdiri di ambang pintu.
"Masa? Ke mana mereka? Udah balik dari Givan selesai makan. Terus dia pamit pulang, mau sarapan katanya. Dia belum sarapan katanya, Di. Tapi dia tak mau makan, pas Akak tawarin makan di sini." sahut kak Ayu yang menoleh ke arahku.
"Oh, ya udah Kak." balasku. Lalu aku berjalan keluar. Berniat menuju ke tempat Safar. Mungkin mereka berada di sana.
TBC.
__ADS_1
Ke mana ya mereka? betul kah ke rumah Safar? 🤔