Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP144. Undangan Haris


__ADS_3

"Mana ada! Abang cuma bilang kalau adat orang sana tuh, laki-laki yang dikasih biaya. Terus Abang bilang juga, Zuhra suruh kerja sendiri biar bisa nikah sama pacarnya macam itu." jelasku dengan memperhatikan umi dan Zulfa secara bergantian.


"Ya udah suruh kerja sama Abang aja di sana, dari pada dia nganggur tiap hari. Lanjut kuliah pun tak, biar dia ada kegiatan." ujar umi dengan menyuapi Zulfa makan. Karena tangan kanan Zulfa yang terluka, jadi gerakan tangannya masih terbatas karena lukanya.


"Dia kan tiap hari momong anak, tak nganggur juga. Kadang Abang suruh masak, meski hasilnya tak enak." tuturku dengan mengambil makanan ringan dari toples, lalu memakannya satu persatu ke dalam mulutku.


Eh, tapi tunggu dulu. Kenapa umi dan Zulfa melihatku seperti itu? Apakah ucapanku salah tadi.


"Anak siapa yang dia asuh?" tanya umi dengan wajah herannya.


Sudah kuduga, aku keceplosan sendiri. Aku tersenyum kaku pada umi, "Anak kak Ayu, soalnya dia lagi hamil anak ketiganya sekarang." jawabku yang mungkin terlihat gelagapan sekarang.


"Subur sekali ya dia, cepet hamilnya." sahut umi dengan lanjut menyuapi Zulfa.


"Apanya? Anak pertama kan udah besar, udah tujuh tahunan. Yang kedua itu, si Putri udah tiga tahun. Terus sekarang baru hamil lagi, kan jaraknya lumayan jauh." timpalku sedikit bercerita, karena umi mungkin tidak tahu pasti keadaan dari keluarga abiku.


"Sekarang hamilnya udah berapa bulan?" balas Zulfa dengan masih mengunyah makanannya.


"Baru sebulan, lagi mabok-maboknya." jawabku kemudian. Lalu kami membahas tentang perkembangan Zuhra di sana.


Zuhra masih dalam masa pengobatan dan bulan ini ia sudah diturunkan dosisnya. Saat ia memakai barang itu kemarin, ia tengah tinggi-tingginya bermain dosis. Tentu akan lama masa penyembuhannya, ditambah lagi ternyata dia adalah korban bullying.


Susunan gigi depan Zuhra tak rapi. Meski dulu ia pernah memakai behel, tapi selepas dilepas behelnya giginya kembali acak-acakan. Padahal cukup lama ia memakai behel, belum retainer yang ia gunakan setelah memakai behel hampir setengah tahun sendiri.


Hanya karena gigi, ia sering dipanggil dengan sebutan 'Tonggar' hal itu membuatnya tak percaya diri dengan penampilannya. Makanya ia irit bicara dan jarang senyum, karena menurut pendapatnya senyumnya malah terlihat mengerikan.


Hanya kekasihnya yang selalu menemaninya, sayangnya kekasihnya adalah joki balap liar yang tentunya ia adalah pemakai aktif juga. Karena hal itu Zuhra memakai barang itu juga. Meski mereka berpacaran sudah hampir tiga tahun, tapi baru akhir-akhir ini Zuhra terbawa arus kekasihnya. Padahal menurutku, jika kekasihnya mengajak untuk memakai. Ia juga memakai dalam kurun waktu yang lama, tapi Zuhra baru akhir-akhir ini. Menandakan kekasihnya bisa menjaga Zuhra sejauh ini, meski akhirnya terbawa juga.


Zuhra menceritakan semuanya pada Dinda, Dinda adalah orang terdekatnya di sana. Padahal ia dekat dengan umi, tapi kenapa ia tak bercerita tentang dirinya yang dibully?

__ADS_1


Psikiater pun mengatakan, bahwa Zuhra adalah korban bullying. Masa terapinya pun lebih lama, karena ia dikucilkan oleh temen-temennya dulu. Membuatnya sedikit trauma dan tak percaya diri kembali.


~


Sore harinya, Haris mendatangi rumahku. Ia membawa undangan pernikahannya.


"Di, nanti ajak Dinda dong. Aku, Dinda sama Jefri kan squad broken heart." ucapnya dengan menduduki bangku panjang di teras rumahku.


"Squad, squad apa pulak itu! Ghifar masih bayi, 40 hari aja dia belum genap. Bahaya kalau dia ikut penerbangan, orang dewasa aja sakit telinganya kena tekanan udara. Apa lagi Ghifar yang masih bayi." sahutku dengan duduk di sebelah Haris.


"Memang kapan 40 harinya?" tanyanya dengan memainkan ponselnya.


"Besok, genap 40 hari." jawabku dengan memperhatikan mobil sedan yang dipakai oleh Haris, mirip seperti sedan milik Zuhra.


"Ya ampun, Di. Sampek harus nungguin genapnya! Bayi 2 atau 3 minggu itu udah boleh ikut penerbangan, yang penting ada surat keterangan sehat dari dokter. Terus selama take off dan landing, Ghifar disusuin biar dia tak terlalu ngerasain sakit kena tekanan udara. Kalau tak percaya, minta Dinda untuk cek ke dokter anak dulu sana. Biar kau percaya." jelasnya dengan mengesampingkan ponselnya, untuk menjelaskan hal itu.


"Terserah kau lah." balasnya dengan berlalu masuk ke dalam rumah. Tak lama terdengar seruannya memanggil umi. Aku langsung bergegas masuk, aku khawatir Haris malah memberitahu tentang Dinda.


"Ya…" sahut suara umi, tak lama umi terlihat baru keluar dari kamar.


"Ini Umi, Haris mau ngasih undangan. Nanti datang ya sama keluarga besar, Mi. Ajak Zulfa juga, itung-itung refreshing di pesta pernikahan Haris." ucap Haris dengan menyunggingkan senyum ramahnya.


Aku menghela nafas, lalu duduk di sofa ruang tamu. Aku merasa lega, ternyata Haris tak mengatakan tentang Dinda.


"Oh, iya. Udah mau nikah aja, Ris. Kemarin dengar kabar baru cerai." sahut umi dengan menerima undangan yang Haris berikan.


"Iya, Haris tak kuat lama-lama sendirian." balas Haris yang membuat umi tertawa renyah.


"Wah, lima hari lagi ya pernikahannya. Biasanya undangan kan dibagikan tujuh hari sebelum hari H." ujar umi, setelah mengamati undangan pernikahan Haris.

__ADS_1


"Iya Haris baru sempet ngasihnya, Umi. Soalnya tau sendiri lah, calon pengantin kan emang sibuk." tutur Haris kemudian, lalu ia langsung memutuskan untuk pamit pulang.


"Di mana hotel Z*****, Bang?" tanya umi dengan duduk di sebelahku.


Aku langsung membuka undangan pernikahan dari Haris, untuk melihat denah lokasinya.


"Tak jauh dari sini kok, Umi. Nanti kita bareng aja." jawabku kemudian dengan masih memperhatikan undangan pernikahan Haris.


"Hebat ya, pasti biayanya tak sedikit. Resepsi pernikahannya empat jam di hotel itu." sahut umi dengan menyentuh lenganku, aku menoleh pada umi. Terlihat umi tengah tersenyum kagum dengan masih membaca surat undangan pernikahan Haris.


"Nanti isbat pernikahan Abang juga pasti wah, nanti mempelai wanitanya pakek sunting A***. Nanti insyaa Allah Abang pesen emas, buat mahkota suntingnya dan perlengkapan perhiasannya. Kurang lebihnya 5 kg emas cukup keknya ya, Umi?" ungkapku dengan tersenyum samar, lalu aku menoleh pada umi.


Saat menoleh aku menemukan umi mengerutkan keningnya dan memicingkan matanya padaku, "Isbat nikah itu untuk mereka yang nikah siri, terus mereka resmikan pernikahan mereka di KUA. Bukan untuk mereka yang udah nikah resmi macam kau, Bang." jelas umi yang membuatku berkedip cepat.


Ya ampun, aku keceplosan lagi. Untung tadi aku mengatakan mempelai wanita, bukan Dinda. Bisa kacau nanti, jika aku mengatakan akan isbat dengan Dinda.


"Ada-ada aja kau ini, Bang." lanjut umi dengan geleng-geleng kepala.


Aku menghela nafas panjangku, lalu menyandarkan punggungku pada sofa.


Aku tiba-tiba merasa rindu dengan Dinda. Aku memperhatikan jarum jam yang berputar perlahan, mungkinkah aku bisa meresmikan pernikahanku dengan Dinda? Mewujudkan impian Dinda, untuk menjadi seorang ratu dalam sehari.


Sedangkan Maya di sini tak mau untuk diceraikan, padahal jelas ia tersakiti akan pernikahan ini. Jika aku meninggalkannya begitu saja, jelas dosa besar menungguku sampai ke akhirat. Karena aku tak memenuhi kewajibanku dan tanggung jawabku pada Maya.


Aduh, rasa sakit kepala sebelah kini menyerangku kembali. Sepertinya aku harus beristirahat sebentar, agar rasa sakit kepala ini tak semakin menjadi.


TBC.


Don't go anywhere. 👍

__ADS_1


__ADS_2