
"Udah tau, kan KTP Abang statusnya udah kawin. Terus apa lagi? Abang mau mudik ke sana?" ujar Adinda dengan sewot.
"Bukan, Sayang. Abang tak mudik, stay di sini sama kalian. Coba tengok tanggal lahir Abang, besok Abang ulang tahun loh Dek." ungkap Adi dengan senyum yang mengembang.
"Terus mau, selamat ulang tahun.. kami ucapkan… semoga panjang umur, kita kan doakan… Macam itu? Aku ulang tahun aja Abang diem aja, Givan ulang tahun pun Abang tak tau. Makek acara ngasih tau segala." ujar Adinda dengan melahap makanan yang tersedia di atas meja.
"Memang kapan Adek ulang tahun?" tanya Adi kemudian.
"Tahun lalu genap 24 tahun, tahun ini genap 25 tahun nanti. 25 tahun yang lalu, aku baru lahir." sahut Adinda dengan fokus pada tontonannya.
Adi menghela nafasnya, "Abang tau, Dek. Maksudnya kapan? Bulan apa? Tanggal berapa?" balas Adi begitu kesal.
"Cari tau sendiri!" tukas Adinda dengan beranjak pergi meninggalkan Adi sendirian.
'Dasar betina! Mana tau kalau ultahnya udah kelewat. Bukannya ngasih tau, malah kabur ke kamar.' gumam Adi dalam benaknya.
~
Malam harinya, Adi tengah menemani Adinda yang tengah duduk dengan memainkan gitarnya.
"Dek, ajarin dong." ucap Adi, karena Adinda asik sendiri dengan alat musik tersebut.
"Udah tua, mending belajar wirid sama dzikir. Biar dosa-dosanya diampuni, biar kuburannya lapang dan terang. Biar hisab amal baiknya banyak, biar kelak dapat surga-Nya." sahut Adinda kemudian.
"Dek, Abang ulang tahun besok. Adek malah ingetin macam itu, ngeri betul Dek." balas Adi dengan menyandarkan punggungnya kembali.
"Udah sana masuk ke kamar! Aku lagi cari hiburan sendiri tuh, gangguin aja." ketus Adinda dengan delikan mematikan.
"Lama kita tak gurau, romantis-romantisan macam itu. Apa Adek tak ingin juga dikeluarkan? Atau jangan-jangan, Adek malah keluarin sendiri ya?" tuduh Adi dengan semakin mendekati wajah istrinya. Lalu ia mengambil satu kecupan mesra di bibir istrinya.
__ADS_1
Berbeda dengan Adinda yang hanya menghela nafasnya saja, saat suaminya mencium bibirnya.
"Hambar! Udah sana masuk!" seru Adinda dengan menatap malas pada suaminya.
"Jangan bikin Abang bosen lah, Dek. Ayolah, bercandaan atau macam mana. Sok Adek yang main gitar, Abang yang nanyi. Dari tadi dilahap sendiri aja! Maen gitar sendiri, nyanyi sendiri." ujar Adi dengan memanyunkan bibirnya.
Namun, Adi tak mendengar jawaban apapun dari istrinya. Saat ia melihat ke arah istrinya, terlihat Adinda yang tengah menunduk dengan pandangan fokus pada senar-senar gitar tersebut.
"Dek… ini Abang diajak ngobrol lah! Anyeb betul kau sama suami kau sendiri." seru Adi dengan menggoyangkan lengan istrinya.
"Ish… ganggu aja! Ngerengek terus, macam bocah aja." balas Adinda dengan melirik sekilas pada suaminya.
"Dulu Adek yang ngejer-ngejer Abang. Dipeped dari segala arah, digandeng, dipeluk, manja-manja mesra macam yang iya." gerutu Adi yang terdengar jelas di telinga Adinda.
"Kalau dulu tau bakal macam ini, sungkan betul aku rasanya dekat-dekat Abang." sahut Adinda dengan sengit.
Adi menoleh ke arah istrinya, ia tersenyum manis pada istrinya. Pikirannya menerawang jauh, teringat kenangan manis antara dirinya dan istrinya dulu.
Manik Adinda bertemu dengan manik mata Adi yang tengah menerawang jauh tersebut.
"Laki-laki kalau tak bisa nahan birahinya kan, memang ujung-ujungnya pembuluh darahnya pecah." sahut Adinda santai, lalu ia mengeluarkan nada lagi dari senar gitar yang dipetik.
"Memang macam itu, Dek? Abang dua kali dulu mimisan karena Adek. Pertama waktu Adek makan es krim, yang kedua waktu di arena itulah." balas Adi dengan wajah seriusnya. Ia sampai menurunkan gengsinya, agar Adinda mau merespon ucapannya. Padahal jelas ia merasa malu sekali, karena mengungkapkan hal lucu yang menimpanya. Saat ia sudah terfokuskan dengan pujaan hatinya tersebut.
"Tak tau juga sih, soalnya aku ngarang." ujar Adinda yang membuat tawa mereka semua terdengar.
"Kirain betulan! Udah serius Abang, eh tak taunya ngarang." tukas Adi dengan masih terdengar tawanya.
"Lagian ada-ada aja, sampek mimisan pas dicium diceritakan segala. Kenapa tak sekalian cerita c*li, pas abis makan es krim itu?" tanya Adinda yang membuat Adi terdiam sejenak.
__ADS_1
Setelah ia mengingat kejadian tersebut, ia melebarkan matanya dengan menoleh pada istrinya.
Tawanya pecah kembali, "Adek tau Abang c*li, pas abis makan es krim itu?" ujar Adi bertanya kembali.
Adinda langsung mengangguk, "Ya ampun, malu betul Abang." lanjut Adi kemudian. Lalu mereka larut dalam tawa dan kenangan manis yang pernah mereka lewati.
Adi dan Adinda sebenarnya masih sangat mencintai satu sama lain, hanya saja keadaan yang membuat mereka berdua menjadi renggang dan menjadi seperti orang lain di kehidupan masing-masing pihak.
~
~
~
ADI POV
Tak terasa kandungan Dinda sudah menginjak bulan ketujuh. Banyak hal yang telah kita lalui, banyak cerita yang terlewatkan dengan suka dan duka.
Hari ini, Sukma dan Safar akan menjadi suami istri. Di mana aku dan Dinda tengah kerepotan mengurus anak-anak kami, karena kami akan menghadiri acara pesta pernikahan mereka di salah satu homestay yang berada di kotaku. Givan yang sudah bersekolah, ia menolak untuk libur sehari saja. Dengan Ghifar yang sudah berusia delapan bulan, ia begitu rewel dan tak mau lepas dari dekapan ibunya.
Belum lagi perut Dinda yang begitu cembung, membuat ruang geraknya sangat terbatas. Karena banyak faktor, Dinda akan melakukan persalinan secara operasi sesar. Tapi nanti, jika usia kandungannya sudah menginjak bulan lahir anak-anak kami.
Tentu Dinda sangat merasa kacau, ia sampai drop saat mendengar penjelasan dari dokter. Salah satu penyebab utama Dinda akan dioperasi sesar nanti, karena ia terlalu banyak pikiran. Kedua bayi kembar kami, mengalami suplay oksigen yang sangat minim. Akibat dari pikiran Dinda yang terus menerus merasa sedih tersebut. Inilah yang aku takutkan, jika permasalahan datang saat Dinda tengah berbadan dua seperti ini. Bukan hanya nyawanya yang terancam sekarang, tapi nyawa kedua bayi kembar kami juga.
Untuk berat badan dan kondisi fisik, bayi kembar kami sempurna dengan bobot normal. Hanya saja permasalahannya itu, belum lagi Dinda yang beberapa kali masuk ke rumah sakit. Karena ia tiba-tiba pingsan dan juga penurunan tensi darah yang cukup besar. Bahkan ia pernah sampai darahnya sekitar delapan puluh saja, membuatnya harus tinggal selama tiga hari di rumah sakit.
"Itam mameh, kenapa pulak kau ngerengek terus? Ini salah, itu salah! Bingung Mamah." ucap Adinda dengan menaruh Ghifar di atas tempat tidur.
Tentu tangis Ghifar pecah saat itu juga, bayi itu tetap suka menangis dengan suara keras. Menurut mak cekku, Ghifar rewel karena ia akan punya adik. Ia takut, dirinya tak disayang oleh kedua orang tuanya lagi.
__ADS_1
......................