Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP53. Amarah Adinda


__ADS_3

"Istri mana lagi? Istri Abang cuma Adek." balasku menyahutinya.


Dinda hanya terdiam, sambil mengangguk samar.


Aku mengelus perut yang mulai membesar itu. Dia bergerak, gerakan halus yang bisa kurasakan saat menyentuhnya. Aku tersenyum senang, dia hidup dengan sehat dan normal dalam kandungan Dinda.


"Aku pengen pulang ke ibu. Aku pengen lahiran di sana." ucapnya tiba-tiba.


"Lahiran di sini aja. Biar nanti ibu, Abang jemput." sahutku dengan memperhatikan matanya, yang menatap kosong. Ia melamuni apa sebetulnya?


"Berapa lama lagi aku lahiran?" tanyanya kemudian.


"Empat bulan lebih lagi, Dek. Ngitungin terus kapan lahiran!" jawabku dengan menarik dagunya, dan mengajaknya berciuman. Namun setelah bibir kami berpagutan, Dinda malah melepaskannya begitu saja. Sebetulnya aku ingin. Dan biasanya, jika sudah berada di atas tempat tidur. Dengan keadaan kami belum mengantuk, pasti akan berakhir dengan ranjang yang berdecit.


"Aku lagi tak pengen, Bang!" serunya melepaskan rengkuhanku. Lalu ia duduk dengan bersandar pada kepala ranjang.


"Kenapa sih? Ada masalah apa?" ujarku mengikuti gerakannya.


"Tak ada masalah, mungkin moodku lagi buruk aja." sahutnya dengan melengos, saat aku hendak mencium pipinya.


"Jangan bikin risih! Abang bilang, lagi pengen manjain, sayang-sayangin. Tapi malah nyerang terus. Jangan bikin aku tak betah di dekat Abang coba!" ujarnya ketus. Dengan ia sempat melirikku sekilas, dengan tatapan yang cukup mematikan.


"Kenapa sampek bilang tak betah, risih macam itu? Udah mulai bosan kah?" sahutku. Jelas saja aku tersinggung dengan pernyataannya. Apa maksudnya mengatakan demikian? Aku suaminya, tapi ia seolah enggan aku dekati.


"Kan aku udah bilang, aku lagi tak pengen! Masih aja cium ini itu. Aku risih! Aku tak nyaman!" balasnya dengan suara datar. Aku paham, ini fase yang lebih bahaya dari pada ia marah teriak-teriak. Ia sudah malas meladeni ucapanku.


Lalu ia menyibakan selimutnya, dan pergi meninggalkanku. Rasanya aku ingin memarahinya sekarang, ia sungguh tak sopan. Dia tak punya adab yang baik, untuk bersikap pada suaminya.


Tapi hari sudah malam. Rasanya aku sangat berdosa, bila membuatnya menangis sampai ia tertidur. Tapi jika dibiarkan saja, bisa-bisa aku yang mati kaku.

__ADS_1


Kuputuskan biar besok saja aku menasehatinya. Mungkin ini pengaruh hormon pada ibu hamil, yang membuatnya memiliki suasana hati yang tak bisa ditebak.


Tak lama aku mencari keberadaan Dinda. Ternyata ia tertidur pulas bersama anaknya.


Apa lagi ini? Dia meninggalkan ranjang kami? Berdosa betul dia! Apa dia tidak tahu, hukumnya meninggalkan suaminya di ranjang? Kedua kalinya ia bersikap demikian. Yang pertama, ia lakukan saat malam pertama itu. Saat aku gagal memuaskannya. Ia meninggalkan aku dalam keadaan tel*nj*ng, sehabis berc*nta. Apa ia tak waras kah? Di mana sopan santunnya? Ke mana perginya ilmu agama yang ia anut selama ini? Kalau hal seperti itu saja, ia tak paham.


~


Pagi harinya, sengaja aku tak membantu tugas-tugasnya. Aku masih kesal karena kejadian semalam.


Seiring bertambahnya usia kandungannya, ia tak sering muntah lagi. Tapi memang sesekali ia memuntahkan isi perutnya. Jika ia mencium bau penyedap rasa ayam, dan mencium bau gorengan telor. Hidungnya begitu sensitif, terkadang ia bisa mencium bau yang tak aku cium.


"Ya Allah Bang, diem aja! Bantuin jemur apa macam mana? Udah kek bos besar aja!" gerutunya yang ia sengaja serukan. Mungkin agar aku mendengarnya.


"Lagi capek!" sahutku kemudian. Namun aku malah mendapat lembaran mainan Givan darinya, yang belum ia bereskan itu.


"Kau aja macam mana? Risih juga konsekuensi yang kau terima, kalau kau punya suami!" ujarku mulai terpancing dengan ucapannya. Aku tak pernah mengkau-kaukan dirinya, setelah kami sepakat untuk tak menyebut pasangan dengan sebutan kau lagi. Namun aku sudah terlanjur emosi. Aku tak bisa halus, aku ingin dia mengerti kesalahannya dan mengerti apa yang aku maksud.


"Oh, jadi masalah selang*angan?" sahutnya dengan berjalan ke arahku. Kami berdiri berhadapan, dengan pandangan yang penuh emosi.


"Jadi manjain istri, sayang-sayangin istri cuma buat alibi aja? Biar bisa bersarang? Iya macam itu?" lanjutnya kemudian. Kenapa dengannya? Ia berani sekali berlaku macam ini?


"Kau sadar tak, bahwa kau udah bersuami? Apa kau tak pernah dengar tentang dalil, 'Apabila seorang wanita menghindari tempat tidur suaminya pada malam hari, maka para malaikat melaknatnya hingga pagi hari'. Kau pernah dengar itu bukan?" balasku menekankan dengan dalil. Agar ia mengerti dan tak mengulanginya lagi.


"Kau pernah dengar nusyuz? Nusyuz adalah pembangkangan istri atas suami. Nusyuz adalah HARAM yang berkonsekuensi dosa besar." lanjutku mencoba memberinya pengertian.


"Istri yang Abang khawatirkan nusyuz, maka berilah petuah mereka dan pisahkan mereka dari tempat tidur. Jika mereka sudah tunduk dan patuh, maka janganlah Anda bertindak sewenang-wenang yang akan membuat mereka membangkang kembali." sahutnya kemudian. Ck, bisa saja dia menyanggah ucapanku. Dan membalikkan masalah padaku kembali.


"Qur'an surat al-Nisa' ayat 34." lanjutnya melengkapi ucapannya. Bahkan dia sampai hafal. Macam mana aku tak kalah terus padanya? Ia sepandai ini.

__ADS_1


"Aku kira Abang paham atas kesalahan Abang sendiri! Aku tak bakal jadi pembangkang kalau tak ada penyebabnya." lanjutnya, karena aku bungkam. Tak bisa membalas ucapannya itu.


"Memang Abang salah apa? Dan kenapa, setiap ada kesalahan pasti kau limpahkan ke Abang?" ujarku, menyuarakan suaraku kembali.


"Abang tak paham, aku butuh diresmikan. Tapi Abang malah diam. Aku pergi, Abang malah teleponan. Pas kita mau nikah, Abang bilang secepatnya ngurus dokumen ke KUA. Setelah kita nikah, Abang bilang tak ada dana. Tunggu sampek deposit cair. Setelah deposit cair, Abang beralasan lagi bahwa umi dan ayah lagi sakit. Dan Abang janjiin bakal bilang ke mereka, kalau aku udah ngandung. Dan sekarang, aku udah ngandung. Bahkan empat bulan lebih lagi aku lahiran, itu yang Abang itung sendiri kan? Tapi apa? Abang masih enggan buat resmikan aku! Abang jangan bikin aku betul-betul capek nuntut itu semua. Nuntut hakku yang Abang janjikan." ungkapnya dengan lelehan air mata, yang rasanya tak mungkin ia kehendaki itu.


Aku melirik ke arah Givan berada, ia tengah memperhatikan kami yang tengah beradu mulut. Aku paham, ini tak baik untuk pertumbuhan psikisnya. Tapi jika aku tak menyelesaikan ini sekarang juga. Malah tak baik untuk kesehatan Dinda, apa lagi jelas dia tengah mengandung. Stres dan terlalu banyak beban pikiran, akan mempengaruhi kandungannya. Dan aku tak mau itu sampai terjadi.


Aku pun baru memahami sekarang, bahwa semalam Dinda bertanya tentang kapan ia lahiran. Karena ada sangkut pautnya dengan masalah pernikahan resmi itu. Dan aku tak memahami, bahwa Dinda masih ingin membahas tentang itu. Padahal jelas, ia mengutarakan sendiri bahwa ia sudah capek karena aku yang tak pernah mengabulkan permintaannya.


"Bukannya Adek yang bilang sendiri, bahwa Adek udah capek bahas itu?" sahutku heran.


"KAU BODOH, BANG! BODOH SEKALI KAU!" pekiknya sangat kuat terdengar. Padahal aku masih berdiri di depannya. Ia berbicara seolah aku tak mendengar suaranya. Atau memang ia tengah mencoba mengeluarkan amarahnya yang terpendam semalam.


"Jadi Abang pengen aku betul-betul capek, untuk nuntut semua itu?" lanjutnya bertanya, dengan air mata yang ia hapus dengan kasar.


"OK, LEPAS AKU LAHIRAN. KAU URUS ANAK KAU SENDIRI! KAU ASIKAN DIA SENDIRI! BERITAHU ORANG TUA KAU, KAU KEREPOTAN NGURUS BAYI YANG KAU LAHIRKAN SENDIRI! JANGAN HARAP AKU KASIHAN, ATAS APA YANG KAU PERBUAT SAMA AKU BANG!" teriaknya kencang.


Apa ini maksudnya? Dia ingin kita bercerai? Hanya gara-gara aku tak meresmikan pernikahan ini? Dia ingin meninggalkan anakku denganku macam itu? Aku tak menyangka dia Setega itu. Atau ini hanya gertakan saja? Agar aku menuruti segera apa yang ia inginkan itu? Ia tak tahu saja, bahwa aku pun ingin meresmikan pernikahan kami. Namun apa boleh buat. Semua pihak pasti akan menyalahkannya, akan menuduhnya sebagai pelakor. Aku seperti ini, hanya untuk melindunginya, agar ia tak dicap sebagai perebut suami orang.


TBC.


Meletus balon hijau, DORRRR.


Hati Abang sangat kacau 😆


Marahnya orang nurut kadang menakutkan 😌


Yang nurut aja bisa meletup, berarti itu tandanya ia sudah berada di batas kesabarannya.

__ADS_1


__ADS_2