Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP67. Jalan-jalan ke luar


__ADS_3

Aku sengaja mengunggah foto kami berlima. Dengan caption 'Bukan perjuangan biasa.' dan tak lama, notifikasi ponselku terus bersahutan. Banyak kawan lama yang berkomentar.


"Bang, awas Givannya. Aku mau pipis dulu." ucap Dinda dengan menyentuh lenganku.


"Sama siapa, Dek?" tanyaku dengan menoleh padanya.


"Sama kak Sukma." jawab Dinda. Aku langsung mengangguk menyetujui. Di sini tinggal aku, Givan dan Nurul saja. Kita berlima masih berada di rumah makan, dan kami baru saja selesai menyantap hidangan. Givan masih asik dengan es cream miliknya. Dan sesekali ia memberitahuku, bahwa dalam es cream tersebut terdapat potongan buah kecil.


"Di…" panggil Nurul. Aku menoleh padanya.


"Apa?" tanyaku cuek.


"Dinda kok tak cemburuan, ya? Jangan-jangan dia tak cinta sama kau." ucap Nurul dengan celingukan.


"Kalau dia udah tau siapa kau. Dan dia udah klarifikasi sama aku, biasanya memang dia biasa aja. Apa lagi kalau aku nanggapin orang yang bersangkutan, dengan cuek dan biasa aja. Dia tak jadikan itu masalah." jawabku kemudian. Karena menurut pengamatanku Dinda memang demikian. Dia cemburu buta kalau aku belum menjelaskan padanya, dan aku bersikap welcome pada orang bersangkutan. Seperti saat Seila bertemu waktu itu.


"Gagal dong misi aku." sahutnya dengan kecewa. Sudah kuduga, ia seperti musuh dalam selimut.


"Iya, gagal. Tak mempan kau panas-panasi dia, dia tau kalau aku cinta mati sama dia." balasku dengan kekehan kecil.


"Dendam aku sama kau!" ujarnya sengit.


"Itu terserah kau. Cuma kalau memang masih ingin berteman dengan aku dan Dinda. Syaratnya satu, kau tak perlu ungkit-ungkit ini itu. Dan cerita semua kenangan aku sama kau. Bertemanlah sewajarnya teman, tak ada maksud untuk merusak hubungan aku dan Dinda. Dan bukannya kau pun tau, bahwa hubungan aku dan kau dulu. Yang ngerusak hubungan kita kan kau duluan, bukan aku. Kalau kau tak gila ingin jadi model, mungkin kita sekarang pun masih bareng-bareng." ungkapku yang membuatnya menunduk lesu.


"Maaf, Di." sahutnya lirih.


"Hmm… Jangan seolah aku yang salah di sini. Kau tau kan, meski rasa tertarikku pada kau udah hilang. Tapi aku tak pernah mutusin kau. Aku tetap pertahankan kau, tapi kaunya aja memang yang murahan." balasku lanjut mengingatkan permasalahan dulu. Agar permasalahan ini, tak berimbas pada hubungan aku dan Dinda.

__ADS_1


"Kan kau tau waktu itu aku pengen betul jadi model. Harusnya kau bisa bantu aku untuk dapatin impian aku. Tapi…" tuturnya kusela.


"Tapi apa? Aku udah bantu, tapi kau pengennya cara instan. Alhasil, kau jadi model cuma di musim itu aja. Pamor kau cepat redup. Coba dulu nurut untuk ikut audisi di kota M. Mungkin tak secepat itu ketenaran kau redup. Lagian untuk apa juga kau jadi model? Nyatanya kau lebih unggul untuk jadi dokter kecantikan. Cita-cita yang sesuai hobi dan pendidikan aja lah. Jangan berangan-angan terlalu tinggi. Jangan memaksakan jika sulit kau raih. Jangan ikutin trend yang lagi musim. Kalau kau lebih condong jadi dokter kecantikan, buat apa juga kau jadi model? Buang-buang waktu, uang, dan sia-sia aja menurutku." tukasku kemudian.


"Iya, iya aku paham. Maaf untuk kejadian dulu, dan maaf juga udah ngusik kehidupan kau." ucapnya kemudian. Setelah ia menyelesaikan kalimatnya, Dinda muncul dengan Sukma. Mungkin juga ia mendengar ucapan Nurul. Biar nanti di rumah saja aku ceritakan.


Lalu kami semua mengobrol ringan, dan setelahnya. Kami pergi dari tempat makan itu, menuju butik pakaian bangkok milik salah satu artis.


Di butik pun, kami berfoto ria. Aku tak nyaman dikelilingi wanita cantik seperti ini. Aku khawatir keimananku tak tangguh. Mana artis tersebut, turun tangan sendiri saat Sukma menyebutkan bahwa aku dan Dinda ini bos ladang. Memang hanya artis lokal provinsi A. Tapi kecantikannya Masya Allah luar biasa. Rasanya Dinda pun tak mampu menandinginya.


"Pulang yuk, Dek. Beli online aja." ucapku dengan menggendong Givan. Aku berkata lirih dengan merangkul pinggang istriku, saat dirinya tengah memilih beberapa pakaian.


"Aku pilih satu lagi. Terus kita pulang." sahut Dinda menyetujuiku. Lalu aku mengangguk pasrah.


Artis ini pun janda anak satu, Sukma janda anak satu, dan istriku mantan janda anak satu. Herannya aku, kenapa janda-janda ini begitu menarik di mata? Apa karena modalnya kuat kah? Atau memang karena mereka pernah melahirkan, menjadikan bentuk pinggulnya besar. Membuat postur tubuh mereka seksi terlihat di mata. Nurul pun tak semenarik mereka. Meski wajahnya terlihat cantik.


Lalu kami berlima pergi dari butik tersebut, setelah selesai melakukan pembayaran. Sang pemilik butik, begitu senangnya saat nilai yang fantastis dibayar meja kasir. Ia meminta Dinda untuk berlangganan pada butiknya. Dan Dinda pun hanya iya-iya saja. Aku tau dia berbelanja cukup banyak. Karena baju lamanya sudah tak nyaman di tubuhnya. Karena perutnya yang membesar, menjadikan beberapa pakaian sempit dipakainya.


"Bekasan apa? Kalau bekasan suami aku tak doyan. Aku tau pasti Adi udah habis-habisan kau sesapi. Nanti aku dapat sisa-sisa pulak." sahut Sukma kemudian. Sontak percakapannya mengundang tawa kami semua. Lagi pula Dinda tak memperjelas ucapannya. Ia hanya menyebutkankan doyan bekasan tak. Tentu itu mengandung arti yang banyak.


"Baju aku lah, Kak. Bang Adi tak mungkin aku kasihkan ke orang juga." balas Dinda menimpali, setelah tawa kami mereda. Ucapannya jelas membuatku paham, bahwa kelak dirinya tau aku menikah lagi. Ia tak akan merelakan aku untuk orang tersebut.


"Bolehlah, nanti Akak ambil yang muat di badan Akak aja." tutur Sukma kemudian.


"Nanti kan badan kau bagus lagi, Dek. Lepas siap melahirkan nanti. Tak perlu lah kau kasihkan ke orang." tukas Nurul menimpali. Memang betul juga ucapan Nurul.


"Ya… nanti aku tak beli baju baru lagi, kalau macam itu Kak." sahut Dinda. Aku paham, aku paham maksud ucapan istriku.

__ADS_1


Sukma dan Nurul pun tertawa terbahak-bahak mendengar sahutan Dinda barusan. Dasar fashionable abis! Dia tak mau ketinggalan trend. Jelas kalau ia memakai baju lamanya nanti, ia ketinggalan trend nantinya.


Ya sudahlah, yang penting pakaiannya tak menumpuk di dalam lemari. Bisa berat hisabnya nanti di akhirat.


Dinda rajin menyortir pakaian lama kami. Ia memberikan pakaian bekas milik kami, yang masih layak pakai pada tetangga yang mau. Jadi pakaian pun tak menumpuk sia-sia dalam lemari.


Setelah kita sampai di rumah, dan beristirahat sejenak. Dinda langsung membawakan beberapa pakaian yang sudah tak terpakai lagi olehnya. Mereka begitu heboh, dan berisik. Aku dan Givan memisahkan diri. Aku membawa Givan untuk tidur di kamar miliknya.


Tak lama ia terlalap dalam tidurnya. Sepertinya anak itu sangat kelelahan.


Aku merogoh ponselku. Notifikasinya begitu numpuk. Namun aku langsung terpusat pada jumlah panggilan telepon dari umi, Zulfa dan nomor tak dikenal.


Dan aku membuka chat dari nomor tak dikenal tersebut. Mataku membelakak, saat membaca isi pesan tersebut.


[Aku Maya, Bang. Save nomor aku.]


[Angkat telepon dari aku, Bang.]


[Bisa angkat telepon dari aku?]


[Abang, aku istri Abang. Abang harus ingat itu.]


[Bang aku nungguin balasan dari Abang.]


Pesan chat yang beruntun. Belum lagi chat dari Zulfa dan umi. Jadi siapa dulu yang harus aku hubungi?


TBC.

__ADS_1


Hayo loh, Di 😝


Bagi hadiah dong, yang banyak ya 😅


__ADS_2