
"Siapa yang nikah diam-diam?" suara seseorang yang berada di ambang pintu.
Ketiga laki-laki itu menoleh pada sumber suara. Mereka enggan menjawab pertanyaan ayah dari Zulfa. Yang berarti ayah sambung tercinta dari Adi Riyana.
"Buk… bukan siapa-siapa, Yah. Cuma lagi bahas kawan masa sekolah dulu." jawab Jefri begitu gelagapan.
Pak Dodi hanya manggut-manggut saja. Lalu ia melangkah masuk dengan Edi, dan beberapa laki-laki yang menjadi kakak ipar Adi dari keluarga Maya.
"Ada masalah apa sebetulnya? Kenapa sampai ngeroyok mempelai laki-laki macam ini?" tanya pak Dodi pada Jefri dan Haris. Ia memperhatikan mereka bergantian.
"Masalah intern, Yah. Tapi udah selesai juga." jawab Haris.
"Udah bonyok aja bilang masalahnya udah selesai." Adi menimpali.
"Belum puas padahal sih. Rencananya mau sampai mati. Tapi kasian nanti jandanya." balas Jefri kemudian.
"Lagi mules rupanya kau, Jef. Sana kau ngurung di kamar mandi." seru Adi yang terpancing lagi untuk meledek Jefri.
"Udah coba! Heran, dari tadi berantem terus." ujar Haris menengahi. Karena terlihat Jefri akan membalas ucapan Adi tadi.
"Tadi kau pun sama. Malah tadi kau mojokin aku lagi. Kau ikut dia ledekin aku besar kepala doang. Tuh aku ingatkan kalau kau lupa." ungkap Jefri dengan wajah tak bersahabat.
Semua orang yang berada di situ merasa sedikit heran, dengan ketiga orang dewasa itu.
"Gimana keadaan Adi, Ris?" tanya pak Dodi pada Haris.
"Baik-baik aja. Tapi mesti nunggu hasil rontgen." jawab Haris kemudian.
"Masalah apa sebetulnya? Jujur, Ayah tak terima anak Ayah dikeroyok macam ini." sahut pak Dodi serius.
"Masalahnya, Adi macarin adik Haris. Terus tiba-tiba dengar kabar Adi nikah hari ini. Aku tak terima, Yah. Adik aku dipermainkan oleh Adi." ungkap Haris dengan serius juga. Adi dan Jefri terlihat saling menoleh satu sama lain. Karena sebelumnya mereka belum menyepakati alasan apa pun.
Pak Dodi mengangguk mengerti, "Kalau macam itu… Ayah minta maaf atas nama Adi. Bukan maksud hati permainan adik kau, Ris. Tapi memang situasi dan kondisinya, tak memungkinkan Adi untuk menikahi adik kau." jelas pak Dodi lugas.
"Ya udah, Yah. Aku cuma minta, Adi selesaikan baik-baik dengan adik Haris." balas Haris menyahuti.
"Perlu Ayah bantu jelaskan ke adik kau?" tanya pak Dodi pada Haris.
"Tak usah, Yah. Biar Abang sendiri nanti yang jelasin." sela Adi cepat.
Lalu pak Dodi mengangguk, dan melanjutkan obrolan seputar Adi yang dengan sengaja ingin lari dari tanggung jawab. Makanya ia sampai secepatnya menikahkan Adi. Ia khawatir Adi kabur ke provinsi A, jika terlalu lama menggelar pernikahan itu.
~
__ADS_1
~
Esok harinya, pukul lima sore. Adi sudah diperbolehkan untuk pulang. Karena ia hanya mengalami luka ringan saja.
Ia hanya dijemput dengan Edi. Karena orang tua mereka sedang membahas tentang pertunangan Zulfa dengan Jefri. Di kediaman Jefri.
"Aku masih ingat ya, Bang. Ucapan Abang waktu aku mau nikah. Kenapa sekarang pernikahan Abang ceritanya sama kaya cerita aku?" ucap Edi memecahkan keheningan di dalam mobil tersebut.
"Tak tau lah. Udah, tak perlu dibahas!" sahut Adi kesal.
Ia mengecek kembali aplikasi chattingnya. Tak ada satupun keluarganya di sana yang memberitahu keadaan Dinda. Pesan chat yang ia kirimkan, hanya dibaca tanpa dibalas. Ini membuat Adi kelabakan memikirkan kondisi Dinda. Dan anak laki-lakinya di sana.
"Kau ada uang tak? Abang pinjam dulu buat ongkos balik ke provinsi A." ucap Adi kemudian.
"Bawa kak Maya juga kah, Bang?" tanya Edi. Adi hanya menggelengkan kepalanya.
"Malam ini antar Abang ke bandara ya? Abang ada masalah di sana." ujar Adi terlihat begitu pusing.
"Gak baik ninggalin malam pertama. Besok atau lusa nanti balik ke sananya." sahut Edi yang ada benarnya juga. Namun Adi tak menganggap penting malam pertamanya dengan Maya. Karena pikirannya terpusat pada Adinda saja.
"Itu urusan Abang! Kalau kau tak bisa antar ya udah. Biar Abang pakek kereta aja." tutur Adi kemudian.
Setelah sampai di rumah. Adi langsung meminta uang pinjaman pada Edi.
Namun saat ia hendak membuka pintu, dering ponsel terdengar di telinganya. Membuat enggan menarik gagang pintu itu.
Adi langsung menggeser ikon hijau ke atas, setelah mengetahui bahwa yang meneleponnya adalah Ayu.
"Hallo Di." ucap kak Ayu terdengar.
"Ya Kak. Gimana kabar Dinda? Kenapa kalian semua sulit kali dihubungi?" tanya Adi cepat. Dengan ia menjauh dari pintu masuk rumah orang tua Maya. Dan dia berjalan menuju pohon rindang yang berada di depan rumahnya.
"Kau masih lama kah balik? Udah tiga hari ini Dinda masuk rumah sakit. Sampai sekarang keadaannya belum membaik juga." ungkap kak Ayu membuat Adi semakin khawatir.
Tangannya langsung gemetaran, ia begitu kaget mendengar berita istrinya yang berada di rumah sakit tersebut.
"Dinda sakit apa, Kak? Kenapa tak ada yang bagi Adi kabar? Terus gimana dengan Givan? Anak Adi siapa yang urus?" tanya Adi beruntun, dengan suara yang tidak stabil.
"Makanya Akak tanya, kau masih lama tak baliknya? Givan rewel kali, jajan terus. Givan sama Akak." jawab kak Ayu pada Adi. Ia semakin khawatir dengan keadaan dua orang yang sungguh berarti untuk hidupnya itu.
"Adi balik sekarang, Kak. Adi ambil penerbangan malam ini." ujar Adi, lalu ia langsung mematikan sambungan teleponnya.
Adi langsung bergegas menuju rumah orang tua Maya. Tak ada yang lebih penting dari Adindanya menurut Adi.
__ADS_1
Tanpa mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Ia langsung memasuki rumah tersebut dengan terburu-buru.
"Eh, Di. Kau udah pulang dari rumah sakit?" sapa ibu Rokhayah yang melihat Adi berjalan menuju kamar Maya.
"Maya ada di kamar kan, Bu?" tanya Adi tanpa menjawab pertanyaan dari ibu Rokhayah.
"Ya ada di dalam." sahut ibu Rokhayah. Laku Adi melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti sejenak.
Ia langsung menarik gagang pintu, dan mendorong pintu tersebut.
"May, tidur kah?" tanya Adi yang melihat Maya berada di atas tempat tidur.
"Heh, kau bau kali. Kau belum mandi? Apa ini? Baju kotor?" ucap Adi yang melihat keadaan kamar. Dan mencium bau tak sedap di kamar ini.
"JOROK BETUL!" pekik Adi dengan menendang keranjang pakaian kotor, yang berada di samping ranjang tidur Maya.
"Kalau ngumpulin baju kotor jangan di kamar. Jijik kali aku!" seru Adi dengan sorot mata tajam.
"Udah jam lima sore. Kau masih belum mandi aja? Jangan bilang kau tak shalat juga?" lanjut Adi dengan intonasi tinggi. Namun Maya masih asik dengan ponselnya saja.
"Astagfirullah, Maya!" ucap Adi dengan memungut pakaian yang berceceran. Karena tempatnya ia tendang tadi. Lalu Adi keluar dengan membawa keranjang baju kotor itu. Dan memasukkannya ke dalam mesin cuci. Lanjut ia memberi deterjen, dengan langsung menyalakan keran air yang terhubung langsung dengan selang mesin cuci.
Ibu Rokhayah mengamati tindakan Adi dari kejauhan, dan hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
Lalu Adi kembali ke dalam kamar. Dengan menarik handuk yang tersedia di jemuran handuk.
"Sana mandi! Jorok betul! Kau punya suami, May! Mau jadi apa kau jam lima sore masih belum mandi juga! Kau tak berusaha mempercantik diri di depan suami kau." ujar Adi dengan suara yang masih meninggi.
Lalu Adi menyugar rambutnya ke belakang. Sambil memperhatikan Maya yang masih asik dengan ponselnya.
"Tanggung, aku lagi main hp." jawab Maya kemudian.
Ini jelas membuat Adi semakin emosi.
TBC.
Adi marah-marah terus 😩
Ngajarin istri masa macam itu 🤨
Apa nih yang terjadi besok?
Jadi tak dia balik ke provinsi A nya?
__ADS_1
Dinda sakit apa ya?