
"Jangan kabur dong. Nanti Abang sama siapa? Bisa gila Abang, kalau Adek tinggalin Abang." ucapku sambil menggenggam tangannya, dan memperhatikan wajahnya.
"Maaf ganggu…" ujar seorang suster yang sudah ada di sini. Sejak kapan dia datang? Aku merasa malu sekarang. Pasti suster itu berpikiran aku begitu bucin.
"Oh ya, silahkan." sahutku dengan mengembangkan senyum canggung.
Lalu suster itu mengecek keadaan Dinda. Dan mengganti kantong infusan yang sudah habis itu.
"Kalau keadaan Ibu Dinda sudah baik-baik saja. Sudah tak muntah-muntah lagi. Sore ini sudah boleh pulang. Tapi lebih baik dikonsultasikan dengan dokter lagi. Nanti jam dua siang dokternya ada." ucap suster itu. Lalu ia pamit pergi.
Kalau aku tahu Dinda sudah diperbolehkan pulang sore ini. Harusnya tadi aku tak usah bawa-bawa pakaian segala.
Sekarang jam setengah dua, sebentar lagi dokternya akan datang. Aku akan meminta untuk USG ulang. Aku ingin melihat sendiri anakku yang ada di kandungan istriku. Tengah apa dia di dalam sana?
Aku membereskan barang-barang milik Dinda. Segala adaptor laptop, casan ia bawa. Laptopnya pun ada. Apa kemarin ia sangat jenuh kah? Apa ia sendirian saat di rumah sakit ini?
"Adek nanti mau makan apa?" tanyaku padanya.
"Aku kepengen lobster yang besar kali." jawabnya dengan tersenyum lebar.
Ini mengingatkanku pada makanan yang Maya inginkan. Aku malah tak menghiraukannya. Apa memang anak-anakku tengah menginginkan lobster? Atau hanya kebetulan saja?
"Bang, dengar tak?" serunya membuyarkan lamunanku.
"Eh iya, Dek. Lepas ini nanti kita cari rumah makan seafood." sahutku cepat. Dinda hanya mengangguk, dan fokus pada ponselnya kembali.
Aku malah memikirkan Maya. Tengah apa dia di sana? Apa ia masih bermalas-malasan di atas tempat tidur saja? Apa gizi anakku terpenuhi? Apa anakku merasakan kenyang di dalam perut Maya?
"Permisi… Pak, Bu. Dokternya sudah datang." ucap suster yang tadi. Aku hanya mengangguk dan tersenyum ramah padanya.
Aku berjalan ke arah Dinda. Membantunya bangkit. Dan memintanya duduk, pada kursi roda yang sudah disediakan. Namun Dinda menolaknya.
"Aku pengen jalan aja." ucapnya dengan membenarkan hijab panjangnya.
Lalu ia meraih tiang infusnya, dan berjalan pelan. Aku langsung menggendong Givan yang masih tertidur. Dan berjalan di samping Dinda. Dinda menggandeng tanganku, dan kami berjalan beriringan menuju ruangan dokter kandungan.
Tok, tok, tok.
Dinda mengetuk pintu ruangan dokter, yang ia ketahui dari suster tadi.
"Ya, silahkan masuk." sahut suara seorang perempuan dari dalam ruangan.
Aku langsung meminta untuk melakukan USG ulang. Aku bisa melihat makhluk kecil itu hidup di rahim Dinda. Aku bahagia sekali melihatnya. Aku menciumi Givan yang berada di gendonganku. Anak-anakku, semoga kelak mereka jadi anak yang baik budi.
Setelahnya kami di persilahkan untuk duduk. Terlihat dokter itu sedang menuliskan sesuatu. Dan Dinda membuka suaranya.
"Sebelumnya saya sempat merokok. Apa itu berpengaruh pada janin saya?" ucap Dinda dengan ragu.
"Apa sudah berhenti merokok?" tanyanya yang langsung diangguki Dinda.
__ADS_1
Dokter itu tersenyum, "Ibu fokus sama kandungan Ibu saja. Jangan berpikiran buruk untuk sebab akibat dari rokok atau apapun yang Ibu konsumsi sebelumnya. Untuk trimester pertama, janin tengah membentuk organ-organ terpenting dalam tubuhnya. Seperti otak, dan lainnya. Jadi ibu harus mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin, asam folat, omega 3, dan gizi yang tinggi." jelas dokter tersebut. Mungkin ia mengatakan demikian, karena Dinda yang selalu memuntahkan makanannya.
"Boleh saya menambahkan ini juga dalam makanan saya?" sahut Dinda dengan menunjukkan foto suatu produk dalam ponselnya.
"Boleh, nanti saya juga resepkan. Tapi sebaik-baiknya vitamin buatan seperti ini. Lebih baik kita dapatkan dari sayur dan buah. Yang jelas mengandung vitamin alami." jawab dokter itu.
"Ini kehamilan ke berapa, Bu?" lanjut dokter tersebut bertanya.
"Hmm, ini kehamilan saya yang ketiga." jawab Dinda seperti memikirkan sesuatu.
Dokter itu mengangguk dan menuliskan kembali pada buku yang ada di hadapannya.
"Jarak dari kehamilan sebelumnya? Apa ada riwayat keguguran?" tanyanya lagi.
"Kehamilan yang kedua keguguran, Dok. Saat usia kandungan empat belas Minggu." jawab Dinda cepat.
Dokter itu memusatkan perhatiannya pada Dinda, "Kejadiannya kapan? Anak pertama berumur berapa?" tanya dengan memperhatikan wajah Dinda.
"Dua tahun lalu kayaknya. Anak pertama empat tahun lebih delapan bulan. Mau lima tahun, Dok." jawab Dinda. Kemudian dokter itu menuliskan sesuatu pada bukunya lagi. Lalu ia bangkit dan mengukur lingkar lengan tangan Dinda. Mengajak Dinda untuk bangun, dan mengukur tinggi badannya, dan berat badannya juga.
Aku menyaksikannya begitu heran, dia hamil. Kenapa seperti tengah membuat surat keterangan sehat.
Kemudian Dinda duduk kembali, dan dokter itu pun duduk di kursinya kembali.
"Sebelumnya memakai alat kontrasepsi apa saja? Dan berapa lama pemakaiannya?" tanya dokter tersebut.
"Tak pernah pakai KB." jawab Dinda ringkas.
"Kenapa?" tanya Dinda dengan menoleh padaku.
"Kok bisa tak KB?" tanyaku heran.
"Bukannya Bapak suaminya?" ucap dokter perempuan tersebut.
Aku tersenyum samar, "Aku suami barunya." sahutku pada dokter tersebut. Sebetulnya aku sedikit merasa malu mengakui hal tersebut. Suami baru pulak aku cakap. Kenapa aku tak menemukan kalimat yang lebih baik.
"Aku cabut singkong aja, Bang. Aku takut pakai KB." jawab Dinda kemudian.
Apa itu cabut singkong? Aku tak mengerti pulak. Dokter itu menahan tawanya, sambil menggelengkan kepala.
"Ini saya resepkan obatnya. Mari, saya bantu kembali ke kamar." ujar dokter tersebut dengan memberikan secarik kertas padaku.
"Tak usah, Dok. Saya udah baik-baik aja." tolak Dinda dengan senyum manisnya.
Lalu kami kembali ke ruangan Dinda. Lalu aku meninggalkannya, untuk mengurus administrasi dan obat yang harus ditebus. Karena Dinda sudah diperbolehkan pulang sore ini.
~
Aku sudah berada di rumah. Givan terlihat masih flu. Ia begitu manja dan rewel. Ditambah lagi Dinda juga begitu manja, dan nemplok terus padaku. Hmm, nikmat sekali rasanya jadi kepala keluarga.
__ADS_1
"Bang tengok, foto-foto kita tadi waktu di rumah makan. Givan yang ambil gambar ini Bang. Fotonya ala kadarnya aja" ungkap Dinda terkekeh kecil, dengan memainkan ponselnya. Dan bersandar pada bahuku. Givan yang duduk di pangkuanku, dengan posisi memelukku.
"Kalau ketahuan Mamah kan mana bisa foto ya, Bang? Mamah kan kalau foto-foto pilih-pilih tempat. Tak boleh foto di rumah makan juga." ucapku berniat mengajak anakku bergurau. Karena ia begitu tak bersemangat. Dengan rengekan yang sesekali terdengar.
"Papah bobo aja." tutur Givan dengan mulai menangis kembali. Givan persis seperti ibunya. Jika sakit, ia begitu manja dan penuh air mata seperti ini.
"Diayun Papah." lanjutnya kemudian. Aku mulai bangkit dari dudukku dan mengayunkannya dalam dekapanku.
Beberapa saat kemudian, Givan sudah tertidur pulas. Dan aku langsung meletakkannya di atas tempat tidur, dengan begitu perlahan.
Dan aku keluar dari kamar, berniat untuk mengajak istriku beristirahat.
"Bang sini." panggil Dinda dengan tersenyum lebar.
"Apa, Sayang?" sahutku menghampirinya.
"Maen dulu dong. Aku kangen." ucapnya dengan nada manjanya. Aku merasa senang mendengarnya. Tak ada permintaan yang lebih indah, selain Dinda meminta untuk berhubungan i*tim.
"Tak apa kah dengan kondisi Adek yang lagi hamil macam ini?" tanyaku dengan mendekapnya. Aku juga sangat menginginkannya. Hanya saja aku sedikit khawatir dengan keadaan anakku yang masih begitu rawan.
"Tak apa, memang kenapa?" jawab Dinda kemudian.
"Takut anak Abang ngerasain hentakan dari Abang." sahutku yang membuat Dinda terkekeh.
Tak ada percakapan lagi, karena istriku langsung memagut bibirku. Dan naik di atas pangkuanku.
Sejenak ia melepaskan pagutan bibir kami. Lalu ia berdiri dan perlahan melepaskan kemejaku yang kebesaran di tubuhnya itu. Dinda paling paham untuk menaikan lib*do laki-laki.
Kalau kulitku berwarna putih. Mungkin telingaku nampak begitu merah, karena ulahnya yang menggodaku sedemikian rupa. Nafsuku langsung memuncak dibuatnya. Ia begitu seksi, dan menarik sekali.
Tak mau berlama-lama, aku langsung menarik tangannya dan menahannya lagi di atas pangkuanku.
Aku mencumbui lehernya, dan merambat ke bagian tutup tekonya itu.
Namun dering ponsel di saku celanaku mengganggu aktifitas fisikku dengan istriku.
Aku mencoba menghiraukan suara dering itu. Namun panggilan itu, malah membuatku dan Dinda merasa terganggu.
"Siapa sih, Bang? Nelponin terus malam-malam macam ini!" ucap Dinda dengan turun dari pangkuanku.
Aku langsung merogoh ponselku, betapa terkejutnya aku. Saat melihat nama yang tertera di layar ponselku.
Maya menelponku.
Bagaimana ini?
TBC.
Cabut singkong? 🤔
__ADS_1
😆😂🤣
Padahal mau Ng W nih mereka, tapi diganggu sama istri resminya pulak 🙈