
"Abang tak bisa…" ucapku lirih. Membuat Maya semakin tergugu dalam tangisannya.
Aku membawanya dalam pelukanku, aku tak bisa membiarkannya menangis begitu saja. Aku tak sampai hati membuat dirinya membatin sendirian seperti ini.
"Siapa yang bikin Abang terlalu jauh sama aku dan Naya begini?" tanya Maya dengan melepaskan pelukanku. Lalu ia menghapus air matanya kasar, dan menatap tajam padaku.
"Bukan siapa-siapa, jangan terlalu dipikirkan. Bukan berarti Abang tak mau mulai dari awal sama kau, karena ada perempuan lain. Bukan, bukan macam itu." jawabku, agar ia sedikit merasa tenang.
"Bohong!!! Buktinya Abang enggan nidurin aku! Dan tanda ini……" ujar Maya, lalu ia menyentuh leherku. Yang mungkin masih memiliki tanda merah itu.
"Setiap kali aku lihat ini, aku gak bisa berpikir positif. Terlebih lagi Abang di sana tinggal sendiri, dengan siapa Abang bermesraan di sana pun aku gak tau. Karena aku cuma tau, bahwa Abang tinggal sendirian. Jangan kasih aku kalimat penenang lainnya. Aku gak sebodoh itu Bang….." lanjutnya dengan menunduk pasrah.
"Jadi mau diselesaikan sekarang kah?" tanyaku pelan, dengan menarik dagunya. Agar bisa bertatap muka denganku.
"Aku gak mau selesai! Aku mau Abang tinggalin dia." jelasnya seperti memaksaku.
"Mau dicerai apa mau dimadu?" ucapku tanpa sadar. Lalu aku langsung menutup mulutku.
Sungguh aku tak menghendaki ucapku barusan, aku tak ingin memperpanjang masalah madu memadu ini. Jelas perceraianku dengan Maya, adalah penyelesaian terakhirku. Meski aku memiliki pendirian menikah tanpa perceraian. Tetap harus kuambil juga opsi itu, agar Dinda mau bertahan selamanya denganku. Karena aku tau, Dinda pasti tak rela kalau cinta suaminya harus dibagi dengan orang lain.
Mata Maya membulat sempurna. Ia pasti tak menyangka aku mengucapkan hal tersebut.
"Kan Abang udah kata, tak perlu dibahas dulu. Udah sini, Abang bantuin sisiran. Terus antar Abang ke depan, Abang mau berangkat." tuturku halus. Lalu aku berdiri, dan mengulurkan tanganku. Untuk membantunya berdiri.
"Abis ngomong kaya gitu, terus Abang pergi begitu? Jangan seolah-olah semuanya baik-baik aja, Bang." tukas Maya, setelah dia berhasil berdiri dari duduknya.
"Kau masih nifas, tak baik mikirin ini itu. Yang penting kan kita masih baik-baik aja. Urusan cerai atau lainnya kan bisa dibicarakan baik-baik nanti." ucapku lembut sambil tersenyum samar.
Kemudian aku mencium keningnya sekilas, lalu mengambil sisir rambut dan memutar tubuhnya. Agar aku bisa menyisir rambut sebahunya yang dicat pirang ini. Entahlah kapan ia mengecat rambutnya, saat aku kembali kemarin. Aku sudah mendapati warna rambutnya yang pirang, dan dipotong pendek seperti ini. Membuatnya semakin terlihat tinggi besar, karena lepas melahirkan badannya belum menyusut sama sekali.
Aku tau sekarang Maya sedang menangis dalam diam, ia pasti merasa digantungkan karena aku yang tak memberinya kejelasan pasti. Aku mengelak saat dirinya menuduhku bermain perempuan, tapi aku malah memberinya opsi kedua yaitu dimadu. Jelas itu membuatnya merasa bingung dengan keputusanku.
Bukannya aku ingin terus-menerus membohongi dirinya. Tapi masalahnya ia dalam masa nifas, itu buruk untuk kesehatannya. Ia tak boleh setres dan banyak beban pikiran, atau pun kerja berat. Karena sangkutannya dengan nyawanya. Entahlah apa hubungannya, tapi hanya itu yang aku pahami.
Setelah aku selesai menyisir rambutnya, ia langsung berbalik badan dan memelukku erat. Bisa-bisa wangi parfumnya yang tadi pagi aku semprotkan di pakainya, bisa menempelkan pada pakaianku.
Sepertinya aku harus berganti pakaian lagi nanti, agar keluarga Dinda tak berpikiran macam-macam.
__ADS_1
"Aku mohon… pertahanan aku, pertahankan Naya." ucapku sambil menangis lagi.
"Iya, May. Abang usahakan." sahutku dengan mengusap punggungnya.
Lalu aku menghapus air matanya, dan mencium keningnya lagi. Agar ia tenang, dan merasa dirinya dicintai. Meski sebenarnya, hanya Dinda yang menguasai hati, diri dan pikiranku.
"Abang berangkat ya." ucapku, ia mengangguk dan tersenyum samar. Lalu aku beralih pada Naya, aku sengaja menggangu tidurnya dan berhasil. Ia terbangun dengan menyuarakan tangisnya yang terdengar malas-malasan.
Aku membawanya dalam gendonganku, kemudian berjalan ke depan. Diikuti dengan Maya yang melangkah perlahan di belakangku.
"Jangan bobo aja dong, Kak. Nangis atau ngamuk macam itu. Memang tak capek bobo aja?" ucapku dengan menciumi pipi bakpaonya.
Suaranya pelan sekali, bahkan saat ia menangis. Tangisnya tak sampai terdengar ke luar kamar. Aku jadi ragu, saat pihak rumah sakit menyatakan Naya sehat-sehat saja. Benarkah sehat? Tapi kenapa berat badannya malah turun satu ons, dan tangisannya pelan sekali. Bahkan ia jarang sekali menangis, membuka matanya pun jarang. Ia lebih banyak terlelap tidur.
"Kenapa dipanggilnya kak, Bang?" tanya Maya, saat langkahku berhenti di ruang tamu. Dan memberikan Naya pada Maya.
"Ya tak apa, nanti kan dia punya adik." jawabku dengan memusatkan perhatianku pada Naya.
Tentu saja adiknya yang kumaksud adalah dari kandungan Dinda. Sebentar lagi Dinda akan melahirkan. Otomatis, Naya akan menjadi kakak dari anak Dinda.
Saat aku beralih menatap Maya, terlihat ia tengah tersenyum lebar.
"Ya udah, tunggu kau siap hamil lagi." timpalku, dengan mengulurkan tanganku. Agar ia menciumnya.
Heran aku padanya, kenapa ia tak peka sekali. Kalau hanya mencium tangan saja, tentu aku tidak keberatan.
Setelahnya, aku langsung keluar dari rumah dengan mengucapkan salam.
Kemudian, aku berjalan menuju mobil Dinda. Dan melajukannya dengan perlahan, menuju rumah orang tua Dinda. Biar mobil Dinda aku titipkan pada a Arif saja. Karena setahuku, halaman rumahnya cukup untuk parkir dua mobil.
Saat di jalan aku berhenti sejenak di depan penjual buah-buahan. Aku baru mengingat pesan Dinda yang mengatakan, jika berkunjung ke orang tua harus membawa buah tangan. Agar terlihat sopan dan menghormati orang tua.
Aku membeli buah apel, pear, jeruk dan anggur sebanyak satu kilogram perjenis buah. Aku tak paham dengan etika bertamu yang baik, karena dulu pun saat aku berkunjung ke orang tua pacarku. Aku tak pernah membawakan apa pun, meski jelas anak gadisnya aku makan habis saat aku bawa pergi ke luar.
~
Aku sudah memarkirkan mobilku di depan gang. Aku menyempatkan diri untuk mengganti bajuku, karena bajuku tercium bau wangi parfum Maya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah orang tua Dinda, aku langsung disambut oleh ibu mertuaku.
"Makan belum, Di?" tanyanya saat aku masuk ke dalam rumah. Dan menyerahkan buah-buahan yang tadi aku bawa.
"Udah, Bu. Siang sih belum." jawabku jujur.
"Nanti makan di sini aja. Eh, gimana sama Maya itu? Bayinya sehat?" tanya ibu mertuaku dengan memberiku segelas air putih. Tahu saja bahwa menantunya tengah kehausan hebat.
Aku menerima air tersebut dan meminumnya beberapa teguk.
"Udah lahiran, disesar Bu. Bayinya sehat, cuma ya beratnya di bawah rata-rata. Terus juga nangisnya jarang, mana suaranya pelan betul." jawabku jujur, saat ibu mertuaku duduk di hadapanku.
"Bayi Dinda gimana keadaannya? Ibu jadi takut Dinda juga kaya gitu." sahut ibu mertuaku, ia terlihat begitu cemas dengan anaknya.
"Sehat-sehat aja, alhamdulilah. Berat bayinya naik terus setiap bulannya. Cuma Dinda rawan lahiran lebih awal. Karena kepala bayinya udah masuk ke panggul. Kadang juga dia kontraksi palsu, sampai nangis-nangis dia." balasku bercerita.
"Waktu givan juga begitu, terus diurut gitu kan. Diorog kalau kata orang sini, eh lahirannya malah hampir sepuluh bulan." ujar ibu mertuaku.
"Jangan diurut-urut lagi, Bu. Di daerah Adi pernah ada yang meninggal bayinya, lepas diurut macam itu." tuturku halus, agar ia tak menyarankan Dinda untuk mengurut perutnya di sana. Karena Dinda dalam kategori manusia penurut.
"Iya, jangan. Di sini juga pernah ada kasusnya begitu." tukas ibu mertuaku, lalu ia pergi ke ruang televisi. Sepertinya ia tengah mengambil beberapa barang, yang akan ia titipkan padaku.
Ibu mertuaku kembali muncul, dengan koper kecil yang waktu itu Dinda gunakan saat akan pergi ke penerbit. Waktu kuajak ia ketemuan di stasiun kereta api.
"Di, marahnya Dinda itu diam. Udah gitu dia pasti langsung jatuh sakit. Pahami Dinda lebih jauh, kalau dia marah keluar suaranya. Itu masih bisa untuk dibujuk, tapi kalau udah diam. Itu udah dipuncak kesabarannya. Saran ibu, jangan paksa dia. Kalau suatu saat dia minta pisah, lebih baik kamu kabulkan aja. Untuk kebaikan kamu, untuk kebaikan Dinda juga. Masalah anak kan bisa diomongin baik-baik, entah ikut kamu atau ikut Dinda. Yang penting sama-sama bisa memahami satu sama lain." ungkap ibu mertuaku. Ia tengah memberiku pengertian, dan hanya pada Dinda semua keputusan berpusat.
"Nah, kalau udah pisah. Kamu yang tau posisi kamu, jangan mepet terus sama anak ibu. Anak ibu gak sekuat itu imannya, dulu dia pernah ketahuan tinggal serumah sama Mahendra. Padahal udah cerai. Kasih waktu satu atau dua bulan, untuk dia menerima semua kenyataannya." lanjutnya kemudian. Dinda tak pernah bercerita tentang hal itu, pasti itu kesalahan pahaman semata. Karena aku pernah mendengar Dinda mengucapkan, bahwa dirinya dan Mahendra pernah bertahan meski sudah tak ada lagi cinta di antara mereka.
"Kalau sebaliknya macam mana, Bu? Dinda rela Adi duakan?" tanyaku mencoba bertukar pikiran dengan ibu mertuaku.
Aku paham orang tua dan kakak Dinda pun menginginkan aku dan Dinda berpisah. Mereka tak rela jika Dinda dimadu. Tapi kembali lagi, mereka menginginkan Dinda memberikan keputusan untuk kehidupannya sendiri. Mereka berharap Dinda bisa bahagia dengan pasangannya. Aku menyukai pola pikir keluarga Dinda, yang tak terlalu jauh mencampuri urusan rumah tanggaku dengan Dinda.
Ibu mertuaku menatapku dengan pandangan yang sulit aku artikan, ada sorot mata kecewa dan penuh harap di sana.
......................
Panjang loh episodenya, hampir 1500 kata.
__ADS_1
Kalau kalian jadi ibunya Dinda gimana tuh? sebaik itu kah sama menantunya?