Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP179. Adinda pulih 2


__ADS_3

Dinda memamerkan gigi putihnya, seputih kapas itu.


"Rasanya laper kali aku. Waktu di rumah bidan kan, boleh makan boleh minum ya. Di rumah sakit, malah dilarang." ucapnya dengan mempersiapkan wajahku.


"Kan waktu di sana keadaan Adek cepet pulih, ini kan Adek abis tidur dua hari. Makanya dilarang dulu untuk makan sama minum." sahutku yang membuat alisnya bertaut.


Ia menyentuh perutnya, "Lah iya. Anak-anak aku mana?" tanyanya kemudian.


"Ada, lagi di ruang NICU atau apa gitu namanya. Mereka prematur, harus di sana sampai beberapa waktu ke depan." jawabku dengan menggenggam tangannya, yang terbebas dari infusan.


Wajahnya langsung berubah sedih, "Pasti mereka kecil betul. Biasanya anak kembar, pasti prematur." sahutnya dengan pandangan menerawang jauh.


"Adek cepet pulih, biar kita bisa tengok mereka. Mesti cuma nampak dari jauh aja." balasku dengan membelai pipinya.


"Mereka laki-laki lagi? Mirip Abang lagi?" ujarnya dengan mengalihkan pandangannya, hingga fokus pada wajahku.


Aku tersenyum samar dengan menganggukkan kepalaku, "Iya dong, mereka laki-laki lagi. Kan air Abang, benih Abang, mestilah mirip Abang. Tapi keknya si adik kulitnya bening deh, macam Adek sama Givan. Soalnya warna kulitnya merah macam itu. Kalau si kakak, kulitnya merah kehitaman Dek. Macam Ghifar persis, badan si kakak lebih besar dari si adik." ungkapku bercerita, karena Dinda belum tau rupa anak kembar kami.


"Terus, macam mana lagi?" tanyanya kemudian, ia terlihat begitu tertarik dengan pembahasan obrolan kami.


"Si kakak tuh, tau sendiri kan dia pas keluar langsung melengking tangisnya. Tapi si adik, dia baru nangis pas tali pusarnya dipotong Dek." jawabku tak kalah antusiasnya.


"Tangisnya tak merintih kah, Bang? Aku tak dengar tangis si adik, keburu ngeces keknya aku Bang." sahutnya yang membuatku tertawa geli. Ia mengatakan ngeces, saat dirinya tak sadarkan diri.


"Tak, dong. Tangisnya paling kenceng di ruang itu. Bayi lain nangisnya lirih-lirih betul, tak macam kembar kita. Tapi lucu juga ya Dek, Ghifar delapan bulan udah punya Adek. Nikah belum lama, Adek udah ngeluarin tiga anak." balasku, dengan membayangkan bingungnya Ghifar karena ada dua bayi baru di rumah. Karena sepengamatanku, Ghifar tak menyukai jika aku atau Dinda menggendong anak orang lain. Ia selalu langsung mewek, begitu melihat aku atau Dinda menggendong anak kak Ayu.

__ADS_1


Kak Ayu baru melahirkan anak ketiganya sekitar tiga minggu yang lalu, dengan cara operasi sesar. Karena posisi ari-ari bayinya, menutupi jalan lahir. Anaknya sering dibawa oleh Shasha main ke rumahku, karena kak Ayu masih dalam masa pemulihan.


"Tapi aku cuma bisa ngasih anak laki-laki, Bang. Abang tak mau punya anak perempuan?" ujarnya sesaat setelah dirinya membelai pelipisku. Mesranya kami berdua, semoga kemesraan ini tak lekang oleh waktu. Semoga Dinda melupakan keinginannya, untuk berpisah dariku.


"Kita bikin lagi dong. Tapi menurut Abang, laki-laki atau perempuan sama aja. Cuma beda cara berpakaiannya aja kan? Perawatan masa kecil, sama pendidikan sih tetap sama." tuturku yang langsung diangguki olehnya.


"Sayangnya kita udah tak bisa buat anak lagi ya, Bang." tukas Dinda dengan memasang wajah kecewanya.


"Kenapa memang?" tanyaku pura-pura tak paham. Sebetulnya aku mengerti arah pembicaraannya, hanya saja aku tak mau membahas ini dulu. Karena keadaannya masih sangat lemah, belum lagi ia masih dalam masa nifas.


"Kan aku disteril, belum lagi kan kita nanti tak sama-sama lagi." jawabnya kemudian.


Memang kapan Dinda disteril? Aku tak menandatangani surat persetujuan tentang penyeterilan rahimnya.


Tawanya terdengar begitu lepas, "Ngeri-ngeri sedap betul jadi istri Abang, dihamili setiap kali abis lahiran nantinya." balasnya yang membuatku menyuarakan tawaku juga. Lalu pembahasan kami berlanjut, tentang siapa yang hamil dan akan dihamili setelah ini.


Aku begitu bahagia, bisa bersenda gurau dengannya. Semoga si kembar baik-baik saja, setelah ibunya pulih hari ini.


~


Esok harinya, Dinda benar-benar sudah pulih. Ia sudah diperbolehkan pulang, dengan menebus beberapa resep obat. Dinda pun sekarang diminta untuk mengusahakan ASI-nya, ia disarankan untuk memakan buah bengkoang juga membuat makanan berbahan daun kelor. Jika sampai dua hari tak ada perkembangan tentang ASI-nya, Dinda diminta untuk mengkonsumsi obat pelancar ASI.


Entah apa perbedaannya, saat ia melahirkan Ghifar dan si kembar. Namun, yang membuatku heran. ASI-nya lebih mudah dikeluarkan, saat ia mengandung bayi tunggal. Padahal ia baru lima bulan belakangan, dipaksa stop menyusui. Tapi ASI-nya malah tidak berproduksi sama sekali sekarang ini. Apa karena bayi yang dikandungnya, dilahirkan lebih dini. Sehingga p*yu*ar*nya belum siap untuk menyusui? Entahlah, aku tidak tahu pasti juga.


Sedangkan anak kembar kami, belum diperbolehkan untuk pulang. Ia masih harus berada di dalam inkubator. Dengan penanganan yang tepat, juga dilakukan pemantauan secara terus menerus. Keadaan si kembar sekarang ini, sudah lebih baik dari kemarin.

__ADS_1


Aku baru selesai mengurus biaya administrasi rumah sakit, hanya biaya Dinda saja. Sedangkan untuk biaya si kembar, Dinda berkata biar sekalian nanti kalau mereka sudah boleh dibawa pulang.


"Adek istirahat aja di rumah, jangan ikut Abang setiap kali Abang ke rumah sakit untuk tengok keadaan si kembar." ucapku, setelah menggendong Dinda untuk masuk ke dalam mobil. Sebetulnya ia kuat, hanya saja memang aku kurang percaya.


"Sesekali aku ikut lah, Bang." sahutnya, setelah aku dudukan dia di bangku sebelah kemudi.


"Kalau ASI-nya udah lancar aja. Kalau belum, biar di pump aja. Nanti Abang yang anter ke rumah sakit, pakek cooler bag." balasku sambil menunduk memandangnya.


Aku berjalan memutar, setelah mendapat anggukan kecil dari Dinda. Kemudian aku duduk di tempat kemudi, dengan langsung menjalankan mobilku meninggalkan halaman parkir rumah sakit ini.


"Bang, bakso dulu yuk. Tapi Abang yang bayarin, aku tak ada uang." ucapannya, ketika aku akan berbelok ke arah kampungku.


"Jangan lebay deh, Adek kewajiban Abang kali." sahutku dengan meliriknya sekilas.


"Kita harus manis-manisan dulu, biar kita tak saling benci nantinya." ungkapnya dengan pandangan lurus terdepan, tentu ia tersenyum samar juga. Pasti pikirannya tengah kacau sekarang.


Aku menggenggam tangannya dan menciumnya, "Jangan batesin Abang untuk ketemu Adek dan anak-anak ya? Adek stay di provinsi A aja, biar Abang bisa nengokin kalian setiap saat. Atau biar Adek tetap tinggal di rumah Abang, tapi Abang yang pindah. Biar Abang cari rumah sederhana, atau tempati rumah abusyik aja." ujarku kemudian.


"Jangan terlalu dekat, anak-anak tak paham masalah kita. Aku pun tak mau terlalu dekat dengan Abang, aku takut aku sulit nerima keadaan nanti." tuturnya dengan memperhatikanku.


"Ya, atur aja. Tapi selama masa idha, biar Adek di rumah aja. Abang yang pindah ke rumah abusyik." tukasku dengan berbelok ke tempat bakso langganan kami.


"Tapi aku mau Abang balikin aku ke orang tua. Kalau masalah aku menetap di mana, nanti aku kasih tau Abang nanti. Yang jelas, biar aku pulang ke rumah orang tua aku dulu." ucapnya yang langsung kuangguki.


......................

__ADS_1


__ADS_2