Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP138. Saran untuk Jefri


__ADS_3

"Keknya dia ngigau." ucap Jefri dengan mengatur alat yang berbunyi tersebut, entahlah itu alat apa.


Lalu dokter dan juga suster datang, dengan kami semua yang diminta untuk keluar dari ruangan Zulfa.


Jefri mondar-mandir di depan pintu ruangan Zulfa. Dengan umi yang pamit, untuk ke mushola rumah sakit. Mungkin umi ingin mendoakan anaknya, agar segera pulih kembali.


Aku memanggil Jefri, lalu aku berjalan menuju ke parkiran rumah sakit. Dengan Jefri yang mengikuti langkah kakiku di belakangku.


Aku menemukan tempat duduk yang berada di bawah lampu pencahayaan jalan, kemudian duduk dengan memperhatikan Jefri yang masih berjalan ke arahku.


"Jef, dari ucapan Zulfa ngigau tadi. Aku paham tentang masalahnya, yang bikin dia macam ini. Aku tak mungkin maksa kau untuk tetap sama Zulfa, karena perasaan orang bisa berubah seiring berjalannya waktu. Yang jelas, yang ada di pikirannya. Dia takut kau ninggalin dia, bukan karena tak bisa lupain kau. Tapi dia takut tak ada laki-laki yang mau sama dia, dengan keadaannya yang udah tak perawan. Memang ada sebagian laki-laki yang pro terhadap keperawanan wanita, tapi tak sedikit yang kontra akan hal itu. Salah satunya contohnya aku dulu. Betul memang pendirian laki-laki akan berubah, jika dirinya udah terlanjur cinta. Tapi ini kasusnya pada perempuan yang masih labil, pasti dirinya nekat macam itu." ungkapku, saat Jefri sudah duduk di sebelahku.


"Saran nih Jef. Bertahanlah sebentar, sampek Zulfa nemuin laki-laki lain yang bisa bikin dia nyaman. Biarin dia jalan sama laki-laki lain, biarin dia cari pengganti kau. Saat dia masih ada status sama kau. Katakanlah biar kau yang tersakiti di sini, biarin Zulfa bahagia dulu dari pada kejadian macam ini keulang lagi. Biarin dia yang ninggalin kau sendiri, jangan kau yang mutusin dia macam ini. Dia tak kuat Jef, dia tak bisa nahan rasa ketakutannya. Mungkin pikirannya lebih baik mati, dari pada tak laku laki-laki karena udah tak perawan." lanjutku kemudian.


Sebetulnya aku ingin sekali menghabisinya, tapi aku sadar bahwa bukan saatnya untuk mengutamakan emosi saat Zulfa tengah terbaring tak berdaya.


Jefri mengangguk samar, "Aku pun minta maaf, bukan maksud hati bikin Zulfa sekarat macam tadi. Aku cuma pengen Zulfa hidup berkecukupan kelak, karena aku tau kalau dia sama aku dia tak akan terpenuhi segala kebutuhannya. Aku banyak hutang, Di. Aku tak mau Zulfa nanti ikut pusing mikirin hutang-hutang aku." jelasnya, lalu ia menyugar rambutnya ke belakang. Ia terlihat begitu kacau dan tak terawat.

__ADS_1


"Ya paling lama satu tahun lah, kau bertahan sampai Zulfa udah nemuin pengganti kau." sahutku kemudian. Bukan aku membela Jefri, tapi jika sudah menyangkut perasaan seseorang. Tentu itu tidak bisa dipaksakan, seperti halnya aku dengan Ratna dulu.


"Aku mana bisa macam itu, Di. Kau kira aku sekuat itu? Kau kira aku bakal diam aja pas liat wanita aku keluyuran sama laki-laki lain?" balasnya sambil menundukkan kepalanya.


"Hutang apa sih? Aku tau kau cuma ngada-ngada." ujarku dengan memperhatikan beberapa kendaraan yang melintas di depanku.


"Aku jual motor kau itu, meski kau tak bilang bahwa itu hutang tetap aja aku mesti bayar. Aku paham kalau masalah uang, anggap aja kita tak kenal. Uang ini hal yang sensitif, Di. Belum ke Haris, belum hutang almarhum ayah aku." tutur Jefri dengan menawariku rokok. Otomatis aku menggeleng, menolak tawarannya. Susah payah aku berhenti merokok, aku tak mungkin memulainya kembali hanya karena masalah Zulfa saja.


"Hutang ada sekitar 100 juta? Kalau memang macam itu, nanti aku bayar kau tiap bulan 5 juta aja. 10 jutanya aku simpan, biar kau bisa bayar hutang. Sepuluh bulan aja, udah lunas hutang 100 juta itu, Jef." tukasku memberinya jalan keluarnya. Karena aku tak mungkin membiarkan kejadian ini terulang kembali, mungkin sudah jalannya jika Zulfa harus hidup bersama Jefri. Yang penting ia tak mati sia-sia seperti ini.


"Aku bukan sok iya, Jef. Aku coba bantu kau keluar dari masalah ini. Sekalipun memang iya aku kaya. Dulu waktu aku lagi bener-benernya jadi manusia, pengeluaran aku tak lebih dari 5 juta sebulan. Jangan kira aku tak pernah punya hutang, dulu saat aku lepas kuliah. Aku punya hutang ke rentenir, biar produksi tetap jalan saat aku gagal panen dulu. Jangan kira hidup aku enak aja, Jef. Kau malah lebih tau kan? Aku dulu SMA sambil nyambi jualan roti bakar. Biar bisa beli kendaraan yang aku mau, karena keluarga aku tak mau kasih sebelum aku dapat umur yang cukup. Mana pas kuliah, aku pernah nyambi jadi pelayan kedai kopi biar bisa punya jajan lebih. Hidup ini keras, Jef. Manusia punya hutang itu wajar, yang penting kau punya rasa ingin bayar dan berusaha buat bayarin juga. Kau dibantu-bantu nyebelin juga ya, aku ini kasian loh Jef sama kau. Tapi ada daya, aku cuma mampu kasih bayaran kau segitu. Aku paham, kerjaan kau sekarang bukan di bidang kau. Tapi setidaknya itu pilihan yang harus kau pilih, karena kau punya hutang yang harus kau lunasi. Aku paham, mungkin 5 juta untuk kau tak cukup. Tapi kan 10 juta itu bukan untuk aku makan, tapi disimpan buat hutang-hutang kau." ucapku sampai ngos-ngosan. Aku tak terima dikatakan aku kaya dan sok iya.


15 juta ia habiskan sebulan untuk apa saja? Jangan-jangan hanya untuk foya-foya dan bersenang-senang dengan wanita bayaran saja?


"Terima kasih sebelumnya, tapi…." sahutnya yang kupangkas kembali, saat dirinya menyebutkan tapi.


"Tapi apa? Dulu aku salah pergaulan pun, uang buat ngelinting itu aku dapatkan dari hasil judi. Bukan uang halal hasil dari ladang, terus aku pakek tiap harinya buat maksiat. Aku tak macam itu, Jef." selaku langsung dengan memperhatikannya.

__ADS_1


Bukan aku membandingkan diriku sendiri dengan dirinya, tapi memang Jefri sedari dulu orangnya begitu pemilih hanya untuk pekerjaan saja. Ya memang kerja untuk mendapatkan uang, tapi aku ok saja selagi aku bisa membagi waktuku dan hasilnya masih ada lebihnya.


Dulu waktu zamannya kami kuliah, aku dan Haris bekerja paruh waktu. Tentu Haris punya tanggung jawab pada Sukma, karena mereka sudah menikah sejak semester dua. Dengan aku yang memang ingin memiliki uang lebih, karena wanitaku dulu sering minta dibelikan barang. Entah itu kerudung, baju, atau jam tangan. Mereka pun mendapat barang yang mereka mau tidak gratis, karena aku selalu meminta kepuasan dari mereka.


Sedangkan Jefri, memang dari dulu selalu mengandalkan uang yang dikirim oleh orang tuanya. Sejak kuliah pun, ia mulai dikenal dengan sebutan **** boy. Sejak mulai kuliah pun aku sudah tak terlalu dekat dengan Jefri, karena fakultas kami yang berbeda dan juga ia yang selalu sibuk tak jelas.


"Ya, aku tak bisa macam itu. Aku terbiasa hidup dimudahkan, masalah uang tinggal bilang dan urusan yang lain bisa aku bayar. Kau tak paham, Di." sahutnya dengan menggelengkan kepalanya, sembari memandangi kakinya. Entah apa yang ia pikirkan untuk ke depannya. Yang jelas Zulfa harus tetap bersamanya, karena hanya hal itu yang membuat dirinya tetap baik-baik saja.


..."Kau yang paham keadaan, Jef. Kau udah tak punya siapa-siapa, aku pun cuma kawan kau. Aku ngebantu kau sebisaku, karena aku pun punya tanggung jawab sama anak istri. Perasaan di pesantren itu kau diajarkan untuk hidup sederhana, Jef. Kenapa kau malah tumbuh jadi laki-laki macam itu. Saran dari aku sih itu aja, kau aku gaji 5 juta sebulan. 10 jutanya aku simpan biar kau bisa bayar hutang-hutang kau." putusku dengan memperhatikannya, dengan sesekali Jefri menoleh ke arahku dengan wajah kacaunya....


"Nah, terus masalah Zulfa. Lepas kau lunasi hutang-hutang kau itu, kau kumpulin modal buat halalin Zulfa. Itu pun aku tak maksa, Jef. Kalau memang kau cinta sama dia, kau pertahankan hubungan kau. Jangan sampek kejadian ini terulang lagi, jangan permainkan nyawa Zulfa. Kalau memang kau pengen udahan sama Zulfa. Kembali ke saranku tadi, jangan sampek kau yang ninggalin Zulfa. Biar Zulfa yang lepasin kau sendiri, karena memang tak ada cara lain selain itu." lanjutku kemudian.


Jefri memperhatikan wajahku, terlihat sekali dari wajahnya bahwa ia tengah berpikir keras.


"Menurutku Zulfa….


TBC.

__ADS_1


__ADS_2