Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP35. Morning sick


__ADS_3

"Apa, Sel?" tanya Adi kemudian.


Seila berjingjit, dan hampir mengecup pipi kanan Adi. Namun wajah Seila langsung di tutup oleh Adi.


"Kalau aku masih lajang sih tak masalah. Ini aku udah beristri. Tolong jangan seolah kita sama seperti dulu lagi. Kita hanya teman, tak lebih. Jangan terlalu melebihi batas pertemanan. Hargain keputusan aku, ok?" ungkap Adi halus. Agar Seila tak sakit hati.


Seila langsung menganggukan kepalanya, "Maaf, Di. Aku kira kau belum berubah." sahut Seila dengan menundukkan kepalanya.


"Aku udah berubah, untuk kebaikan istriku, untuk kebaikan anakku, dan untuk kebaikanku juga. Bahkan sekarang aku udah tak ngerokok." jelas Adi menyahuti Seila.


Tak lama kemudian, lalu Adi pamit pulang. Setelah percakapan kecil seputaran kehidupan Adi sekarang.


~


~


Malam harinya, Adi sudah berada di provinsi A. Ia dijemput oleh Safar. Namun Safar tak bisa mengantarkan Adi sampai ke depan rumahnya.


Adi berinisiatif berjalan kaki dari rumah Safar menuju ke rumahnya sendiri. Karena Safar tengah diare, dan ia tak bisa menahan lebih lama lagi rasa sakit dalam perutnya.


Ia menentang beberapa susu ibu hamil dengan brand terbaik. Dan beberapa pack susu uht kemasan kecil untuk Givan.


"Istri kau baru pergi ke bidan tadi, Di." ujar salah satu teman Adi, yang berpapasan dengannya.


"Sama siapa dia pergi?" tanya Adi, dengan menghentikan langkahnya.


"Sama bang Ridho. Anak kau sama Ayu keknya." jawab teman Adi tersebut. Lalu Adi mengangguk, dan berjalan menuju rumah kak Ayu.


'Bisa-bisanya, suami orang yang ngantar istri aku periksa. Apa gunanya aku?' gerutu Adi dengan langkah kaki lebarnya.


Langkah kakinya akhirnya telah sampai di depan rumah Ayu. Adi mengetuk pintu beberapa kali. Dengan mengucapkan salam.


Pintu langsung terbuka, dengan menampilkan anak kecil yang tersenyum mekar pada Adi.


"Papah, mamah aku sakit. Lagi berobat." ungkap Givan, setelah mencium tangan ayah sambungnya itu.


"Sakit apa mamahnya?" tanya Adi dengan membawa Givan dalam gendongannya.


"Baru balik kau? Masuk aja, Di." ucap Ayu yang menemui Adi di depan pintu rumahnya. Karena yang membukakan pintu untuk Adi tadi, adalah Givan.


"Mamah muntah-muntah terus, katanya kepalanya muter juga." jelas Givan kemudian.


"Kau jangan tega-tega betul lah, Di. Istri kau lagi hamil, kau tinggal-tinggal terus." ujar Ayu menimpali.


Adi semakin merasa bersalah. Berulang kali ia membohongi Adinda. Terlebih lagi, kemarin ia pergi untuk perempuan lain yang menjadi istrinya.

__ADS_1


Ia tak bisa untuk jujur. Namun ia pun merasa semakin berdosa pada istrinya, Adinda.


Adi hanya terdiam, tak menyahuti perkataan Ayu maupun Givan. Ia sibuk dengan pemikirannya sendiri. Ia bingung akan beralasan apa lagi nanti.


Sampai motor yang berhenti di depan rumah Ayu, menyadarkan lamunan Adi.


"Bisa turun tak?" suara Ridho, suami Ayu. Adinda mengangguk, dan perlahan ia turun dari motor matic itu.


Adi langsung menurunkan Givan, dan ia berbalik untuk membantu istrinya.


Adi langsung memegang tangan Adinda, namun Adinda langsung memeluk tubuh suaminya.


"Aku udah tak kuat. Aku pengen lahiran aja cepat. Aku udah tak tahan ngidam macam ini. Kepalaku muter kenceng betul, lebih hebat dari puteran khamar." ungkap Adinda dengan menangis tersedu-sedu.


"Bawa masuk, Di." ucap Ridho mengingatkan mereka. Meski mereka sudah berstatus suami istri. Namun tetap saja, kemesraan mereka tak sebaiknya diumbar.


Adi mengajak Adinda melangkah, namun Adinda mogok. Tak mau melangkahkan kakinya. Berakhir dengan Adi yang terpaksa menggendong mesra istrinya.


Ayu dan Ridho tepuk jidat melihat kelakuan mereka berdua.


"Dinda tak kuat jalan." ucap Adi, menyadari kesalahannya pada Ayu dan Ridho.


Lalu Adi menurunkan Adinda di sofa ruang tamu.


"Sakit apa dia, Bang?" tanya Adi pada Ridho. Karena Ridho yang mengantarkan Adinda ke bidan tadi.


"Anak Adi macam mana, Bang?" sahut Adi kemudian.


"Baik-baik aja. Katanya sih ukuran sesuai usia kandungannya. Abang tak ikut masuk. Cuma pas Dinda selesai diperiksa, Abang tanya ke bidannya." balas Ridho menjelaskan.


"Kau jangan pergi-pergi coba, Di. Tak semua perempuan hamil itu kuat. Ada yang fisiknya lemah, ada yang tak merasa kehamilannya juga. Kau kan biasanya bayar orang. Giliran punya istri kau malah handle sendiri." lanjut Ridho dengan nada tak bersahabat.


"Ya Bang. Lain kali Adi nyuruh orang aja." ucap Adi penuh penyesalan. Ia tak mau melihat istrinya kelimpungan mencari bantuan orang lagi. Ia ingin dirinya selalu ada untuk anak istrinya.


~


Sesampainya di rumah, Adi langsung membawa anak istrinya ke kamar. Kemudian ia membersihkan tubuhnya di kamar mandi.


Selepas itu, ia menghampiri istrinya yang tengah melelehkan air matanya. Sembari memejamkan matanya.


"Masih pusing kah?" tanya Adi dengan menyibakkan rambut istrinya.


"Ya, Bang." jawab Adinda tanpa membuka matanya.


"Maaf ya? Abang janji tak akan pergi-pergi lagi. Maaf udah ninggalin Adek sama Givan. Pasti Adek kesusahan betul dengan kondisi macam ini, dan harus urus Givan juga?" ungkap Adi dengan menciumi seluruh wajah istrinya.

__ADS_1


"Tau istrinya kesusahan malah tak cepat balik!" seru Adinda dengan membuka matanya lebar. Dan menjambak pelan rambut suaminya.


"Maaf, Sayang." ucap Adi meringis.


"Aku kesel betul sama Abang. Aku dihamili, tapi ditinggal-tinggal terus. Jangan bikin aku nyesel punya suami Abang." sahut Adinda sewot.


"Iya, maaf ya Sayang. Abang janji tak pergi-pergi lagi." balas Adi menenangkan istrinya. Ia memahami sikap Adinda demikian. Dan ia pun merasa bahwa dirinya bersalah di sini.


"Papah, mau ee." ujar Givan dengan terburu-buru melepaskan celananya.


"Sana tuh temenin!" seru Adinda. Adi hanya mengangguk, dan membawa anaknya ke dalam kamar mandi.


Itulah Adi jika di depan Adinda. Ia tak pernah bisa berkutik, apa lagi mengelak dari perintah istrinya. Entah karena rasa cintanya? Rasa bersalahnya? Atau memang ia ingin menjadi tempat ternyaman untuk istrinya? Hanya Adi sendiri yang tahu tentang kebenarannya.


ADI POV


Semalam suntuk aku memijat pelan pelipis istriku. Agar ia bisa terlelap dalam tidurnya. Namun malah membuatku begadang tak jelas.


Sebetulnya, aku ingin mengajak istriku menumpahkan rindu. Tapi sepertinya keadaan semalam tak memungkinkan. Aku pun tak mungkin memaksa Dinda untuk melayaniku. Aku tak tega melakukan hal demikian.


Paginya, Dinda muntah-muntah hebat. Aku takut kondisinya akan berakhir di rumah sakit lagi.


"Morning s*x kah ini, Dek? Abang pernah baca artikel, katanya hamil muda identik dengan morning s*x." ungkapku dengan membalurkan minyak angin aromatherapy pada lehernya, dan juga dadanya.


"S*x terus pikiran Abang!" sahut Dinda kemudian.


"Memang macam itu, Dek. Muntah-muntah di waktu pagi itu. Namanya morning s*x." balasku tak mau kalah. Pasalnya, memang aku merasa membaca artikel yang mengatakan kondisi macam itu.


"Morning sick! Bukan morning s*x! Kalau morning s*x artinya se*s di waktu pagi." jelas istriku, yang membuatku terkekeh geli di pagi ini.


"Jadi sekarang jadi tak morning s*xnya?" tanyaku mengandung arti untuk mengajak istriku bercinta.


"Aku minta waktu buat tidur sejenak, bukan minta Ng W!" seru Adindaku sewot. Entah mengapa aku semakin terkekeh karenanya. Adindaku sungguh menggemaskan, begitu imut, dan lucu.


"Ok, ok. Silahkan tidur. Nanti kalau sarapannya udah jadi, Abang bangunin Adek." ucapku, lalu mencium keningnya.


Waktu baru menunjukkan pukul lima pagi. Biasanya aku dan Dinda pasti melakukan kegiatan rutin, yang membuatku semangat melewati hari-hariku. Sayangnya, Dinda terang-terangan menolakku. Ini adalah penolakan pertama yang ia lakukan.


Rasanya aku sudah ingin sekali bersarang. Mana di sini begitu dingin lagi.


"Sana olahraga dulu! Jangan bikin sarapan dulu!" seru Adinda, saat aku sudah berada di ambang pintu kamar.


"Ok." sahutku menoleh padanya, dengan mengacungkan jempol tanganku.


TBC.

__ADS_1


Dapet gak sih lucunya? 🙄


Ya sudahlah, yang penting mampu crazy up 😆


__ADS_2