Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP107. Tawaran usaha baru


__ADS_3

Tidak ada hal romantis menurut Zuhra. Ia malah mendapat musibah dadakan, ia terjatuh dengan p*n*at yang mendarat lebih dulu. Disusul dengan berat dari tubuh Safar, membuat Zuhra tepat di bawah Safar.


"BANG ADIIIIII…. TOLONGIN AKU.." teriak Zuhra dengan mata membulat.


Adi yang baru saja keluar dari rumah, langsung mendengar teriakan adiknya. Membuatnya terburu-buru berlari ke arah Zuhra yang ternyata tengah mencoba mendorong tubuh Safar, yang berada di atasnya.


Membuat Adi reflek mengambil sandalnya yang ia kenakan, lalu memukulnya pada p*n*at Safar.


"Sialan kau!!! Berani-beraninya mesum di tempat umum." ucap Adi kemudian. Dengan menggulingkan Safar ke samping, agar menyingkir dari atas tubuh adiknya.


Setelah terbebas dari Safar, Zuhra langsung bangkit dan membersihkan pakaiannya.


Dengan Safar yang cekikikan sendiri, lalu ia tersenyum lebar pada Adi dan bangkit dari posisinya.


"Kecelakaan loh ini, Bang." ujar Safar pada kakak sepupunya tersebut.


Adi menjitak pelan kepala Safar, "Kecelakaan apa kesempatan? Dasar gatal!! Lumayan betul kau." sewot Adi dengan memberi delikan tajam pada Safar.


Safar hanya terkekeh geli, sembari mengedipkan sebelah matanya pada Zuhra.


Membuat Zuhra merasa geram, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah dengan menghentakkan kakinya.


"Adik Abang tak mau sama kau! Mana bekas janda lagi. Ck, ck, ck…. Suram!" ejek Adi dengan melirik malas pada Safar.


"Memang kak Dinda perawan kah, Bang?" sahut Safar dengan wajah pura-pura polosnya.


Adi langsung menoleh seketika dan mengurungkan niatnya yang akan melangkah masuk.


"Hmm, tak bisa jawab kan? Buktinya aja Abang bisa dimabuk janda. Apa lagi aku, mana Sukma bahenol betul pulak. Bikin terngiang-ngiang ingin menganu aja." lanjut Safar dengan pandangan menerawang jauh.


Membuat tawa Adi pecah mendengar celotehan Safar, yang tengah menggilai perempuan tersebut.


"Sukma macam itu kan berguru sama Adinda long." balas Adi menimpali, lalu ia duduk di bangku yang tadi Zuhra tempati. Long memiliki arti aku, untuk menyebutkan diri sendiri dalam bahasa daerah Adi.


Safar tertawa kecil, "Aku langsung ditolaknya, Bang. Katanya macam tak ada perawan aja, sampai-sampai aku cari yang janda. Padahal kan ya, menurut aku perawan sama janda tak ada bedanya juga. Perawan jaman sekarang kan janda-janda juga, cuma memang tak nampak anaknya." ucap Safar bercerita, karena baru kali ini ia bertemu dengan Adi.


"Ya ada betulnya juga, apa yang Sukma cakap itu. Lagian juga, keknya Sukma itu masih belum move on. Dia ini masih berharap mantan suaminya mau berubah, terus ngajak balik dia lagi." sahut Adi kemudian dengan melambaikan tangan pada Givan yang tengah berlarian bersama anak dari saudara-saudara Adi. Namun Givan menggeleng, karena ia tengah asik bermain dengan anak-anak sebayanya.


Safar mengangguk mengerti, "Abang dulu sama kak Dinda macam mana? Susah tak bikin kak Dinda cinta sama Abang?" tanya Safar ingin tahu. Karena ia ingin mengikuti langkah Adi, dalam mendapatkan wanita idamannya. Yang merupakan janda beranak juga.

__ADS_1


"Dulu… kak Dinda dulu yang suka. Dia nemplok terus, bercandaannya keterlaluan. Abang dibuat jengkel terus, tiap kali ketemu dia. Mana orangnya mesum kali, yang namanya meluk seenak jidatnya sendiri. Ngode setengah mati, giliran dikode balik malah kabur. Ya… mau macam mana lagi? Abang udah terlanjur cinta, jadi macam kek jilat balik ludah sendiri. Gembar-gembor tak mau janda, eh ujung-ujungnya ngejar janda ke sana ke mari." ungkap Adi bercerita. Safar hanya menyimak dan diselingi dengan kekehan ringan.


"Sekarang malah Abang yang lebih mesum sama kak Dinda." timpal Safar kemudian.


"Ya namanya laki-laki. Tak mesum, ya tak bisa punya keturunan nantinya." balas Adi dengan menoleh ke arah pintu. Karena wanita yang tengah ia bicarakan muncul dari balik pintu rumahnya. Ia celingukan mencari keberadaan orang-orang yang ia cari.


"Pue, Dek?" seru Adi pada Adinda. Agar Adinda bisa menemukan posisi suaminya melalui suara yang Adi serukan.


Bukannya menjawab, Adinda malah melangkah menuju suaminya berada.


"Kak, katanya dulu Akak dulu yang suka sama Bang Adi. Betul Kak macam itu?" ucap Safar, saat Adinda sudah berada di hadapan Adi.


Adi menoleh pada Safar, dengan sorot mata tajamnya. Adi tak habis pikir pada Safar, bisa-bisanya ia mengatakan hal itu pada istrinya.


"He'em, makanya kau cari perempuan yang pasrah sama kau. Biar berjuangnya tak terlalu berat." sahut Adinda yang mengakui bahwa dirinya memang lebih dulu menyukai Adi.


"Ngomong dibuangin aja. Nyatanya Abang tak bisa nembus sampai ke pangkal waktu sebelum nikah." sahut Adi membuat Safar dan Adinda terkekeh geli.


"Kalau memang cinta, usahain sepenuh hati. Kalau udah dapat, Abang kasih nyicip ya?" ujar Adi pada Safar, dengan merangkul istrinya.


Membuat rahang Safar jatuh, mendengar penuturan kakak sepupunya.


"Edan!!" balas Safar, yang mendapat tawa puas dari Adi.


"Aku pengen yang asem-asem. Nyot-nyot mangga enak kali ya, Bang?" tutur Adinda, dengan mengikuti langkah kaki suaminya.


"Ada yang lama tak dinyot-nyot, malah mau nyot-nyot mangga. Nanti Adi's bird cemburu, Dek." tukas Adi dengan tersenyum pada istrinya.


"Mesum aja pikirannya, hari itu kan udah dapat." ucap Adinda lirih. Karena ia sadar, pembicaraannya cukup sensitif.


"Tak diemut, Abang pun tak diraba. Kan Abang pengen juga, Dek. Mana cuma hari itu aja lagi, ke siniin Abang libur lagi." jawab Adi kecewa.


Membuat Adinda tersenyum samar dengan menggelengkan kepalanya.


"Kalau nanti udah ada anak lagi. Pasti waktu untuk kita itu berkurang. Aku pasti fokus sama anak, memang aku usahain juga bisa urus diri dan urus Abang juga. Tapi tetap aja, anak pasti aku utamakan." ungkap Adinda, setelah Adi membawanya duduk di sofa ruang keluarga.


"Abang coba pahami itu nanti. Yang jelas, Abang tak akan lepas tangan. Abang juga bakal turun tangan buat urus anak-anak." sahut Adi dengan mengusap lengan istrinya, yang berada di dekapannya. Karena posisi tangannya masih merangkul istrinya.


"Di… sini dulu." seru pak Akbar yang muncul dari halaman belakang rumah Adi.

__ADS_1


"Bentar ya, Dek. Rebahan dulu gih, miring kiri ya. Biar enakan perutnya." ucap Adi pada istrinya. Adinda mengangguk mengerti, lalu Adi langsung pergi untuk menemui pamannya tersebut.


"Ya, Pak cek." ucap Adi, setelah berada di hadapan pamannya.


"Ada tambak mau dijual. Udah ada ikannya, tinggal lanjutin aja sampai panen. Kau mau tak? Soalnya kawan Pak cek ini lagi butuh uang." tutur pak Akbar, dengan menoleh ke arah Adi yang berdiri di samping kursi yang ia duduki.


Adi belum menjawab pertanyaan pamannya, kemudian ia duduk di sebelah pamannya.


"Nih foto tambaknya, lumayan lah Di." ujar pak Akbar dengan menunjukkan beberapa foto di ponselnya.


"Ikan apa itu, Pak cek?" tanya Adi dengan mengamati foto tersebut.


"Kalau kata orang sini, namanya ikan pedih. Ada juga yang nyebutnya ikan kerling. Di danau Toba, disebutnya ikan batak. Di provinsi JB, disebutnya ikan dewa atau ikan keramat." jelas pak Akbar pada Adi.


"Adi tak begitu paham pembudidayaan ikan, rencana kalau memang ada rejeki. Adi mau beli ladang lagi, mau coba tanam porang atau jahe merah macam itu. Soalnya lagi rame itu, Pak cek. Kan lumayan buat jatah warisan anak-anak Adi nanti, biar hidup tak kesusahan. Nanti begitu mereka besar, Adi ajarin berladang juga. Diajarin langsung ke ladangnya, biar hidup tak terlalu buang-buang harta macam emaknya." ungkap Adi membuat pak Akbar terkekeh geli.


"Jadi kau tak mau tambaknya?" tanya pak Akbar memastikan.


"Tak lah, Pak cek. Adi kurang ahli, terus juga tak punya waktu untuk belajar lagi. Tapi kalau memang kawan Pak cek ada ladang, ya mending Adi beli ladangnya aja." jawab Adi kemudian. Dengan Safar yang tiba-tiba muncul, dengan menaruh Givan di pangkuan Adi.


"Dapat Zuhranya?" ucap pak Akbar pada anaknya.


Safar menggeleng dan melirik pada kakak sepupunya, "Tak boleh sama Abang. Suruh sama janda aja katanya, Yah." sahut Safar kemudian.


"Heh, mana ada! Abang tak bilang suruh kau sama janda aja. Dasar memang kaunya yang udah tergila-gila sama Sukma!" timpal Adi, membuat tawa Safar dan pak Akbar pecah.


"Sana ajak main dulu Givannya, Abang kau lagi ada perlu sama Ayah." ujar pak Akbar langsung mendapat anggukan dari Safar.


"Kalau ada, kau mau kah? Tak apa kah meski tak di provinsi A?" ungkap pak Akbar membuat Adi berpikir keras.


Ia ingin Naya tak kekurangan, apa lagi jelas Naya belum makan. Pasti dia sangat kuat menghabiskan susu formulanya. Belum lagi ia ingin Maya juga sedikit bisa merawat tubuhnya, ia merasa malu dengan keadaan Maya yang begitu tak terawat. Tentu saja karena uang yang ia berikan seadanya.


Namun, ia juga menginginkan anaknya dengan Dinda memiliki tabungan pribadi seperti Givan. Jelas lahan kopi baru tak bisa diandalkan, karena pasti masih lama sekali untuk menunggu pohon kopinya siap panen. Membutuhkan waktu sekitar empat tahun, apa lagi jelas lahan barunya adalah lahan kosong. Membuat pembibitan memakan waktu lebih lama.


"Macam mana, Di? Soalnya kawan Pak cek itu pun nawarin sawah seluas sekitar satu hektar. Tapi memang tak di provinsi A." lanjut pak Akbar, membuat Adi menoleh pada pamannya tersebut. Ia kentara sekali tengah berpikir keras.


......................


Adi mikirin warisan buat anak-anaknya, ada kah ayah macam Adi? mau lah satu, suruh nikah sama emak author 😝

__ADS_1


gurau ya 😂


Naya di pikirin, anaknya Dinda yang masih di perut udah di pikirin 😌 Karena Givan jelas udah dapat bagian satu hektar dari Adi, setidaknya udah adem untuk biaya hidupnya ke depan.


__ADS_2