
"Tahan ya, Dek. Tak banyak kok." ucap ibu Nur, dengan lanjut melakukan aktifitasnya. Sepertinya ia tengah menjahit luka sobek di inti istriku.
"Dek, kau lahiran nangis tak. Eh dijahit kau nangis kaku." ujarku agar ia lupa akan rasa sakitnya, dengan celotehanku yang mengusiknya.
"Sakit kali." sahutnya dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya kembali.
Aku menghapus keringat di wajahnya, kemudian memberinya kecupan di pelipisnya. Belum selesai di situ saja, kejutan kecil dari anakku. Membuat tangis Dinda semakin menjadi-jadi.
Mulut kecilnya menemukan pucuk dada istriku, lalu sikecil menghisapnya dengan kuat. Sepertinya ia menangis karena lapar.
"Alhamdulillah selesai." ujar ibu Nur, kemudian asistennya langsung membereskan alat-alat yang tadi digunakan. Dengan Dinda yang mulai bernafas lega.
"Wah, udah nemuin tujuannya." lanjut ibu Nur, saat melihat mulut anakku tengah beraktifitas.
Hingga beberapa menit kemudian. Anakku sudah tertidur pulas, dengan mulut yang sudah terlepas dari pucuk dada istriku.
Bayi itu langsung diangkat, lalu dibawa oleh Rani. Dengan ibu Nur datang, membawa baskom dan kain. Ternyata ibu Nur akan membilas istriku.
Aku membantu ibu Nur melepaskan dan memiringkan tubuh Dinda, karena Dinda merasa dirinya masih begitu lemas dan tak bertenaga.
Setelahnya, Dinda memakai kemeja lain yang dibawakan oleh Zuhra. Dengan bawahan hanya memakai kain, tapi sebelumnya Dinda sudah memakai diaper dewasa.
"Panjangnya 51cm, beratnya 3,3 kilogram." ungkap Rani dengan menggendong anakku. Anak laki-lakiku sudah dibedong dengan kain jarik.
"Padahal lahiran delapan bulan ini, Ran. Besar, panjang ya bayinya." sahut ibu Nur.
Terlihat Rani mengangguk mengiyakan, "Semuanya normal dan bagus, sempurna. Tinggal nunggu pipis sama BAB aja." ungkap Rani kemudian.
Lalu Dinda ditensi oleh ibu Nur, kemudian ditanya kembali tentang apa yang ia rasakan saat ini. Tapi Dinda menjawab dirinya mengantuk. Kalau itu pasti, karena sekarang sudah masuk dini hari dan dia belum tertidur.
Mak cek, pak cek, dan Safar masuk. Untuk melihat anakku dan kondisi Dinda. Safar mengatakan, Zuhra dan Givan berada di rumahnya bersama Liana.
"Ya Allah, Nak. Ini Adi kecil ini, bukan anaknya Adi." ungkap mak cek dengan memperlihatkan anakku yang tengah digendongnya, pada pak cekku.
__ADS_1
"Padahal kalau mirip Dinda, pasti ganteng macam Givan ya Mak cek." sahut Dinda membuat orang-orang yang ada di sini tertawa, kecuali aku. Maksudnya dia mengatakan anakku tak ganteng begitu? Sikecil kan manis juga sepertiku.
"Wajahnya sampek hidung semua." timpal pak cek, setelah membisikkan doa dan ditiupkannya pada ubun-ubun anakku.
"Far, anter Mak cek pulang dulu gih." ujarku padanya.
Ia mengangguk, "Ayo Mi. Biar nanti aku sama Abi yang jagain di sini." ajak Safar pada Mak cek. Lalu mak cek pamit pulang, karena terlihat kentara sekali bahwa dirinya mengantuk berat.
Ibu Nur tengah menulis sesuatu pada buku KIA Dinda. Ia dan asistennya tengah mengobrol, membahas tentang jam lahir anakku dan saksi lahirnya juga.
"Minta fotocopy kartu keluarga, sama buku nikahnya juga ya Bang. Aktenya mau sekalian dibuatkan aja." ujar ibu Nur dengan menoleh ke arahku. Aku hanya terdiam, aku tak bisa menjawab ucapannya barusan.
"Atau mau bikin sendiri aja aktenya?" lanjutnya bertanya. Aku tersenyum canggung dengan menggaruk kepalaku yang tak gatal, karena aku bingung mau menjawab apa.
"Masih dibawa tangan." jelas pak cek, dengan menaruh anakku di ranjang bayi.
Kemudian tak ada pembahasan lagi. Tentu mereka memikirkan tentang perasaan kami, mungkin mereka tak enak jika melanjutkan tentang akte kelahiran ini.
Pagi harinya, aku terbangun dengan Dinda yang tengah duduk sambil menyusui anakku. Sedangkan Safar dan pak cek, sudah pulang saat subuh tadi.
Ibu Nur datang, dengan pakaian dinas yang sudah rapi. Sambil membawa dua cangkir teh manis yang asapnya masih mengepul.
"Nanti Dinda sama Rani aja ya. Ditensi sekali lagi, terus udah boleh balik." ungkapnya kemudian.
"Masih ada keluhan, Dek?" tanya ibu Nur dengan memperhatikan Dinda.
"Tak ada, aku udah bisa pipis juga. Bayi aku juga keknya lagi BAB ini, Bu. Pas aku angkat tadi juga, dia udah ngompol." jawab Dinda. Ibu Nur mengangguk, dan mengangkat anakku dari pangkuan Dinda.
"Dicek dulu ya, Nak." ujarnya, dengan suara tangis anakku yang memenuhi ruangan ini. Ia tak mau lepas dari pucuk dada Dinda.
"Wah iya bener, dia BAB. Normal ya BABnya hitam macam ini. Mungkin akan berlangsung tiga sampek satu mingguan." jelas ibu Nur, dengan membersihkan kotoran anakku.
"Udah keluar ya, Dek ASI-nya?" tanyanya sambil membedong anakku dengan kain jarik yang lain.
__ADS_1
"Belum begitu kuat, masih tes-tes kek gini aja." jawab Dinda dengan memencet dadanya.
"Rebus pepaya yang belum matang, terus di makan. Ngemil buah bengkoang juga. Terus bikin sayur daun kelor, biar ASI-nya lancar. Kalau belum bisa juga, nanti beli obat pelancar ASI di apotek." saran ibu Nur, Dinda mengangguk mengerti dengan mata fokus pada anakku.
"Duduk bangun sendiri kah? Udah bisa jalan kah, Dek?" ucap ibu Nur kemudian.
"Iya, udah bisa jalan juga. Tadi juga ke WC sendiri, karena tak bisa pipis di diaper. Padahal kebelet pipis betul." ungkap Dinda membuat ibu Nur terkekeh pelan.
"Lain kali jangan sendirian, kan masih lemes. Wajah aja nampak pucat betul." balas ibu Nur. Dinda mengatakan hal itu sebetulnya untuk apa? Apa agar ia dibilang mandiri? Atau agar aku dicap sebagai suami yang tak peduli?
Dinda mengangguk mengerti, lalu ibu Nur pamit pergi untuk bertugas.
"Bangunin Abang, Dek. Kalau mau ke WC. Takut kenapa-kenapa tuh." ujarku bersuara.
"Abang baru tidur subuh, aku tak tega banguninnya. Lagian aku udah pulih kok, Bang." sahutnya kemudian. Dengan melangkah dan menggendong kembali anak kami, yang ibu Nur letakan dalam ranjang bayi.
"Mau dikasih nama apa, Bang?" tanya Dinda dengan menggendong anak kami, ia tengah berjalan pelan ke arahku. Aku tertidur di sofa yang terdapat di ruangan bersalin ini. Aku reflek bangkit dan memapah Dinda yang tengah berjalan. Langkahnya pelan sekali, membuatku begitu khawatir padanya.
"Lemes kah, Dek?" tanyaku dengan memperhatikan wajahnya dari samping.
Dinda menggeleng, "M*kinya sakit, jahitan baru itu bikin kek bengkak di kulit yang ditusuk jarumnya." jawabnya dengan meringis. Ia tengah mencoba duduk dengan begitu pelan sekali.
"Kalau mau duduk, sama mau bangun sakitnya berasa kali." lanjutnya mengungkapkan apa yang ia rasakan.
"Rani bilang antara 12 hari sampek dua puluh hari, luka jahitnya sembuh. Tapi Adek juga meski rajin makan telor sama ikan, daging juga. Biar cepat sembuh jahitannya." ujarku memberitahunya. Aku tahu, karena aku sempat mengobrol dengan Rani. Saat Dinda tertidur dan anakku menangis, dengan Rani yang menenangkannya. Karena saat itu, kain jariknya basah. Tentu karena sikecil mengompol.
Dinda mengangguk, "Jadi mau dikasih nama apa?" tanyanya berulang.
Aku mengambil alih untuk menggendong sikecil. Siapa ya kira-kira? Aku ingin nama yang mirip denganku juga, atau memiliki ciri khas bahwa ia keturunan dariku.
TBC.
Siapa namanya? Saran dong untuk nama anak Adi.
__ADS_1