BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Ibu Hamil


__ADS_3

Mereka memasuki mobil, Reza berhambur memeluk istrinya dan menghujaninya dengan kecupan.


"Aa ih sudah!" Tasya berontak


"Hehe maaf sayang, Aa bahagia" ucapnya


"Aku juga" ucap Tasya disertai rasa cemas


"Ingat kata dokter sayang, jangan berpikir yang macam-macam"


"Tapi.. "


" Sya, bayangkan saja nanti kita menggendong bayi yang lucu, yang ganteng kaya papi. Atau yang cantik kaya mami. Bayangkan suara tangisannya menggema diseluruh isi rumah yang biasanya sepi" ucap Reza menenangkannya


Tasya membayangkan apa yang diucapkan suaminya. Dia membayangkan perutnya yang buncit membesar bergerak-gerak didalamnya.


"Terbayang?" ucap Reza memecahkan lamunan Tasya


Tasya tersenyum. Kini raut wajahnya lebih bahagia.


"mudah-mudah sehat selalu kita ya" ucapnya membelai perut datarnya sendiri


"bodyguardnya juga" kini beralir membelai pipi Reza


Reza tersenyum melihat istrinya bahagia.


"Aa minta kamu patuh ya sayang. Demi kamu sama baby. Jangan banyak beraktifitas yang buat capek. Jangan macam-macam" ucapnya


"Siap bos. Tapi aku masih boleh kerja kan?" pintanya


"Boleh. Tapi setengah hari" ucap Reza


"Mana ada kerja setengah hari A. Aa ada-ada saja" protes Tasya


"Ada. Suka-suka Aa lah. Papa juga pasti gak keberatan. Apalagi ini menyangkut nyawa cucunya" terang Reza


"Ya sudah. Iya" Tasya pasrah


"Tapi Aa jangan berlebihan ya, Aa tuh sudah over protektif sekali. Sekarang aku hamil jangan makin menjadi ya. Bisa-bisa aku stres"


"Iya sayang"


'Huft.. Bakal jadi hari-hari yang menegangkan selama sembilan bulan nanti. Tapi demi kamu nak, papi rela' batin Reza


"Yuk pulang. Mau beli sesuatu?" tanyanya


"Tidak. Pulang saja"


***


"Papa mana Bi?" tanya Tasya begitu mereka masuk ke dalam rumah


"Tadi pergi. Katanya ada acara dengan temannya" ucap bi Tinah


Tasya melenggang masuk ke dalam kamar setelah mendengar ucapan bi Tinah. Kini dia merebahkan tubuhnya.


"Capek sayang?" ucap Reza seraya menutup pintu kamar


"Sedikit. Aa kita telepon ibu sekarang yuk?" ucap Tasya


Tasya membuka ponselnya, dia menghubungi ibunya


"Assalamualaikum Syaa.. " suara ibu membuatnya rindu


" Waalaikumsalam bu, kangen sekali sama ibu" ucapnya jujur


"Kalian sehat? Mertuamu sehat? " tanya ibu


" sehat alhamdulillah bu. Ibu bagaimana disana? Jangan capek-capek ayah sama ibu" ucapnya


"Ibu mending capek Sya, dari pada diam saja" ucapnya

__ADS_1


Tasya hafal betul orang tuanya yang super aktif melakukan aktifitas.


"Bu, aku hamil lagi" ucapnya


Reza yang duduk di sampingnya membelas lembut kepala istrinya


"Kamu hamil lagi nak?" kini berganti suara ayah Taufik disana


"Iya yah, doakan kita ya yah" Tasya meneteskan air mata harunya


"Pasti Nak. Nanti ayah sama ibu kesana. Kamu jangan capek ya Nak. Dijaga saja kesehatanmu dan bayimu" ucap ayah


"Iya yah"


Mereka berbincang bergantian. Reza sesekali menimpali obrolan mereka. Hingga akhirnya mereka menyudahi perbincangan mereka.


"Tinggal kasih tahu Papa, A" ucap Tasya.


"Papa masih belum pulang. Besok saja kasih tahunya."


***


Keesokan harinya mereka telah bersiap untuk bekerja. Pak Danu sudah duduk di meja makan dengan mengunyah roti kukus kesukaannya.


"Papa semalam dari mana?" tanya Reza menghampirinya


"Papa ada undangan makan malam dari teman" ucapnya masih asyik dengan roti di tangannya


"Pa, Tasya hamil lagi Pa" ucapnya


Seketika Pak Danu menghentikan makannya dan meneguk air putih untuk membersihkan sisa makanan di rongga mulutnya.


"Anak nakal berguna juga kenakalanmu" Papa memukul lengan Reza


"Jangan diragukan lagi kejantanan anakmu Pa!" ucapnya membanggakan diri


"Haha.. Jaga baik-baik. Jangan suruh dia kerja terlalu keras" pintanya


"Monitor saja dulu, kalau kandungannya oke biarkan saja"


"Apa Reza beli kasur saja buat di kantor Pa?"


"Buat apa? Memang kamu mau tinggal disana?" Pak Danu heran


"Tidak. Maksudnya kalau dia capek biar bisa istirahat" ucapnya sambil mengoleskan selai cokelat di rotinya


Pak Danu hanya tertawa kecil mendengar omongan konyol dari anaknya.


"Pagi Pa, Papa semalam dari mana?" sapa Tasya menghampirinya yang sudah rapi dengan setelan kerja


"Papa ada undangan semalam nak. Kamu hamil lagi sayang?" tanyanya lembut


"Iya Pa. Doakan mudah-mudahan kuat ya Pa" ucapnya


"Jangan kecapean. Kalau mau apa-apa, peralat saja suamimu. Haha" ucap Pak Danu senang


"Tidak perlu di suruh juga dia sudah memperalatku" Reza bersungut


"Enak saja! Sejak kapan coba aku begitu. Bohong Pa, papa percaya kan?" Tasya mencari pembenaran


"Pastinya dong Papa percaya sama anak Papa" ucapnya seraya tertawa senang


Reza cemberut melihatnya


***


Tasya dan Reza sudah masuk ke dalam mobil, tiba-tiba Bi Tinah mengetuk kaca mobil Tasya.


"Kenapa Bi?" ucapnya seraya membuka kaca mobil


"Bibi buatkan makanan, sama buah juga." ucapnya

__ADS_1


"Ya ampun Bi.. Terima kasih banyak. Nanti aku pasti makan Bi" Tasya merasa terharu


"Iya, jangan terlalu capek ya Neng"


"Kita jalan ya Bi. Titip rumah. Terima kasih buat bekalnya" ucap Reza


Reza melajukan mobilnya, tiba-tiba saja Tasya meneteskan air matanya.


"Sya? Kamu kenapa?" tanyanya heran


Tasya tak menjawabnya. Tangisannya semakin membanjiri pipinya yang putih


Reza menepikan mobilnya.


"Kamu kenapa sayang?" Reza kebingungan


Tangisan Tasya seketika pecah


"Hei, kenapa?" Reza memegang wajah istrinya. Dihapus air mata yang jatuh di pipi istrinya


"Kenapa menangis tiba-tiba? Aa salah sama kamu?"


Tasya menggelengkan kepalanya


"Terus kenapa? Tidak mau ke kantor?" tebak Reza


Tasya masih menggelengkan kepala


'Terus kenapa nangis? Ayolah pagi-pagi jangan main tebak-tebakan' batin Reza


"Bicara kenapa sayang" Reza masih berbicara selembut mungkin


"Aku hanya terharu saja. Bi Tinah sampai bawakan bekal. Sebegitu perhatiannya sama aku" ucapnya sambil terisak


'Tuhaaann.. Gara-gara di bawakan bekal dia nangis seperti ini? Huft..'


"Sudah sayang, jangan nangis lagi. Bersyukur banyak yang sayang sama kamu kan. Bi Tinah juga sudah seperti keluarga. Sudah ya jangan nangis lagi"


"Nanti bekal dari Bi Tinah habiskan ya, biar Bi Tinah juga senang" ucapnya kemudian


Tasya masih terdiam. Mengatur emosinya sendiri


"Lanjut ke kantor?" tanyanya lagi


'Stok sabarku harus lebih banyak dari sekarang' batin Reza


"Iya" ucapnya pelan


Mereka melanjutkan perjalan ke kantor yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah.


Setibanya di kantor, Tasya langsung membuka kotak bekal yang dibawanya dari rumah.


"Tumben sekali ibu sarapan di kantor" ujar Lala heran


"Aku sudah sarapan kok, hehe"


"Terus itu apa bu?" Lala tak paham


"Ini bekal makan siang dari orang rumah. Belum juga siang, aku sudah lapar lagi" Tasya menyeringai


"Tumben sekali bu. Kemarin takut gemuk, sekarang malah makan. Gimana sih bu" Lala heran


"Haha.. Iya ya. Tapi lapar sih La, makan segini gak bakal gemuk kali ya? Kamu mau?" tanyanya


"Tidak. Terima kasih bu"


"Mau buah?" Tasya menyodorkan buah potong miliknya


"Tidak bu"


Tidak lama, Reza keluar dari ruangannya hendak mengecek gudang.

__ADS_1


"Loh Sya?"


__ADS_2