BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Vano Boleh Pulang?


__ADS_3

Temans, terima kasih masih setia membaca BUKAN SITI NURBAYA. Tolong tetap dukung dengan VOTE ya.. Tinggalkan jejak LIKE dan KOMENTARNYA Disetiap bab.


Oya, baca juga My Enemy, My Love! Cerita Lala dan Keenan yang kocak. Terima kasih ^^


---------


"Mam paket apa?" tanya Reza lagi


"Mmm..cuma beli beberapa baju Vano sayang" bohongnya


"Oh" Reza tanpa curiga. Dia segera memakai pakaiannya.


"Papi.. "


" Hmm"


"Aku.."


"Apa? Grogi begitu"


"Hari ini buka perban kan? Apa nanti Papi gak kaget dengan kepalaku?" tanya Tasya


"Memang kenapa?" tanya Reza heran


"Rambutku.. "


" Mami bicara apa sih? Papi gak masalah sayang. Cukup Mami sehat dan selamat saja Papi sudah senang. Rambut masih bisa tumbuh lagi sayang" ucap Reza


"Iya, tapi kan nanti sehari-hari Papi lihat kepalaku yang plontos" keluhnya


Reza mendekat ke arahnya. Terlihat sekali raut wajah tak percaya diri dari istrinya itu.


"Sayang, apa perlu Papi mencukur rambut juga biar seperti Mami? Hmm? Biar kita sama-sama?" tanya Reza


Tasya menggeleng cepat.


"Aku saja"


"Mami bagaimanapun, gak berkurang rasa cinta Papi sama Mami" ucapnya


"Aku takut Papi gak tertarik lagi nanti sama aku" Tasya menelan salivanya berat. Tiba-tiba dia ingin menangis


"Mami percaya Papi gak?"


Tasya terdiam.


"Papi kalau gak cinta Mami, kita gak akan sejauh ini sayang" Reza memeluk tubuh istrinya


"Jangan berpikir yang aneh-aneh lagi" pinta Reza


"Yuk berangkat. Vano pasti nunggu Maminya" ajak Reza


Tasya patuh tapi hatinya masih gelisah. Mereka keluar kamar, disana terlihat Mbak Diah sedang menunggunya.


"Ayo Mbak" ajak Tasya


Mereka segera menaiki mobil. Tasya seperti biasa duduk dibangku depan menemani suaminya. Sementara Mbak Diah seorang diri dibangku belakang. Terlihat Mbak Diah sangat canggung berada didalam mobil bersama majikannya.


"Nanti kita kemana-mana berempat ya Mbak. Gak usah canggung" ucap Tasya


"I.. Iya Bu" ucapnya terbata


Reza memakai kacamata hitamnya. Mbak Diah melihatnya dari balik kaca spion dengan terkagum. Sementara Tasya disibukan dengan rasa cemasnya sendiri.


"Jangan khawatir sayang. Mami gak percaya sama Papi?" ucap Reza seraya menggenggam tangan istrinya


Pemandangan baru yang membuat darah Mbak Diah berdesir melihat kemesraan majikannya. Dirumah, Reza selalu bersikap hangat pada Tasya. Tapi dia bisa menghindar untuk menyaksikan kemesraan mereka. Tapi sekarang? Dia terjebak diantara kemesraan mereka.


Tasya hanya memandang suaminya. Reza menyunggingkan senyuman indahnya seperti biasa. Sementara Mbak Diah mencoba menerka-nerka arah pembicaraan mereka dalam diamnya.


"Mbak Diah, Mbak gak mabuk perjalanan kan?" tanya Reza memecah keheningan


"Tidak Pak" ucapnya


"Baguslah. Setidaknya nanti kalau kita perjalanan luar kota aman" ucap Reza seraya tersenyum


"Perjalanan luar kota? Kemana?" tanya Tasya


"Pulang sayang. Nanti kalau Vano sudah stabil" ucapnya


"Oh iya. Nanti kita pulang berempat" ucapnya senang.


"Mami malah gak kepikiran kesana." Tasya mengembangkan senyumnya.


"Moga saja Vano hari ini bisa dibawa pulang" ucap Reza


"Aamiin. Semoga ya Pap"


Sesampainya di rumah sakit, mereka segera turun. Tasya berjalan bersama Mbak Diah terlebih dulu sementara Reza menyusulnya dari belakang.


"Mami duduk saja. Papi mau daftar dulu" ucap Reza


Tasya segera mencari tempat duduk. Sementara Reza sibuk mengurus pendaftaran.


Reza mendekat kearahnya.


"Pap, Vano jam berapa visit dokternya?" tanya Tasya


"Oh iya, Papi telepon dokternya ya" ucapnya


Reza duduk disamping istrinya. Kemudian berbicara dengan dokter yang menangani Vano.


"Setelah Mami check up kita ketemu dokternya" ucap Reza


"Yuk, tunggu disana" ajak Reza


Lama mereka menunggu akhirnya Tasya masuk ke dalam ruangan dokter.


"Hasilnya oke. Bagus sekali. Seperti yang saya katakan, kemajuannya sangat pesat." ucap dokter tersebut saat Tasya sudah dilepas perbannya.


"Selama tak ada keluhan, tak masalah" ucap dokter kemudian


"Tidak ada keluhan kan Bu?" tanyanya


"Alhamdulillah tidak ada Dok. Cuma rambut saya.. " Tasya tersenyum


"Gak masalah. Kalau sudah dasarnya cantik, tetap terlihat cantiknya. Iya kan Pak?" ucap dokter seraya tertawa


"Gak percaya diri, istriku Dok" ucap Reza


"Gak masalah Bu. Rambut masih bisa tumbuh." Dokter tersenyum pada Tasya


Setelah selesai, mereka segera pamit.


"Alhamdulillah ya Mam. Tinggal Vano nih" ucap Reza


"Huum. Mudah-mudahan boleh pulang ya" ucap Tasya


Mereka bergegas ke ruangan Vano.


"Ayo Mbak, kita lihat Vano" ajak Tasya pada Mbak Diah.


Mereka tiba di ruang NICU. Ketiganya masuk ke dalam ruangan.


"Vanoo..Mami kangen sekali" ucap Tasya


Vano meresponnya dengan mengerjapkan matanya sambil menggeliat.


"Lucu sekali anak Mami" ucapnya kemudian


"Mami ajak teman Vano. Mbak Diah namanya. Vano cepat pulang ya" ucapnya lagi

__ADS_1


"Boleh gendong kangguru sus?" tanya Reza


"Boleh. Yuk" ajak suster.


Tasya segera membuka kancing bajunya. Kemudian menempelkan sang anak dalam dekapannya.


"Sayangnya Papi semua ini" ucap Reza sambil mengelus pipi sang anak. Sementara Mbak Diah hanya tersenyum melihat mereka.


Tak berapa lama, dokter Vano datang. Mereka berbincang tentang perkembangan Vano.


"Yuk coba kita timbang, berapa sekarang berat badannya" ajak dokter


Vano segera diambil alih oleh suster yang menjaganya. Kemudian dia membaringkan Vano pada timbangan. Mereka semua terpaku melihat pada angka yang tertera dalam timbangan.


" 1.9 kilogram. Wah, Vano perkembangannya bagus" ucap dokter tersebut


Tasya sangat girang, dia menepuk-nepuk lengan suaminya.


"Boleh pulang kan Dok?" tanya Reza


"Hmm.. Papinya sudah gak sabar ya Van. Ya sudah, besok sudah boleh pulang deh" ujar dokter


"Alhamdulillah.. " Tasya sangat senang. Sementara Reza tersenyum.


"Sebulan lebih dokter, masa gak pulang-pulang Dok" ucap Tasya


"Iya. Sudah boleh pulang deh Vano, kasihan Papinya, pasti tabungannya sudah terkuras" dokter tertawa


"Dokter tahu saja. Double saya dok" jujurnya


"Iya ya Pak. Yang penting sekarang, sehat-sehat semua. Aamiin"


Setelah selesai, dokter pamit terlebih dahulu.


"Besok kita pulang ya Nak. Vano semalam lagi sama suster cantik" ucap Reza


"Genit Papi" ucap Tasya


Reza hanya tersenyum menggoda.


"Ya sudah, yuk pulang dulu. Besok kita jemput Vano" ajak Reza


***


"Mbak, mulai besok bantu aku jaga Vano ya Mbak" ucap Tasya begitu mereka masuk ke dalam mobil


"Iya Bu"


"Aku gak sabar ingin cepat-cepat besok" ujarnya.


"Ibu kasih tahu sayang" Reza mengingatkan.


"Oh iya"


Tasya segera menelepon Ibu.


"Assalamualaikum Sya.." suara Ibu tersengar nyaring saat sambungan teleponnya terhubung


"Waalaikumsalam. Ibu sehat?" tanyanya basa basi


"Alhamdulillah sehat. Semua sehat disini. Bagaimana kamu sehat? Mantu sama besan ibu sehat?" tanyanya


"Iya Alhamdulillah"


"Cucu kesayangan Ibu bagaimana?" tanyanya lagi


"Ibu mau ikut jemput Vano besok?" ajak Tasya


"Besok? Vano sudah boleh pulang Sya?" tanya Ibu


"Iya"


"Heboh deh Ibu" ucap Tasya pada Reza


"Maklum cucu pertama." ucap Reza


"Sya, Vano sudah dirumah?" suara Ibu berganti dengan suara Rasya


"Besok baru boleh pulang. Makanya, Uwa mau jemput Vano gak?" tanya Tasya sambil tertawa


"Enak saja! Uncle tahu!"


"Gak cocok!"


"Daddy atau Papa juga boleh lah. Kan dia anakku"


"Aku yang bikin!" Reza protes mengeraskan suaranya


"Tapi namanya sama denganku" Rasya tak mau kalah


"Ini gimanaa malah berantem di telepon." suara protes Ibu dari balik telepon.


"Aa gimana? Hari ini bisa gak kita kesana? Atau besok subuh?" ajak Ibu


"Nanti weekend saja Bu. Aku besok meeting gak bisa di tunda" ucap Rasya


"Ya.. Terus? Ibu kangen cucu Ibu A" Ibu masih terdengar protes


"Gak bisa Ibu. Aku gak enak batalinnya" ucap Rasya


"ah ya sudah."


"Sya.."


"Iya sudah dengar. Suara Ibu kencang sekali."


Ibu tertawa canggung


"Jumat sore atau Sabtu pagi Ibu berangkat ya Sya" ucap Ibu


"Iya. Aku tunggu. Ya sudah, aku lagi dijalan Bu. Nanti aku telepon lagi ya. Assalamualaikum" Tasya menyudahi percakapan mereka.


"Gak apa-apa. Yang penting anak kita pulang dulu sayang" hibur Reza


"aku gak sedih Pap. Pokoknya asal Dedek pulang" ucap Tasya


"Iya. Biar bisa nabung lagi" ucap Reza seraya tertawa


"Kita beli mobil MPV ya Mam. Rasanya sumpek mobil ini kalau dipake sekeluarga" ucap Reza


"Papi.." Tasya melotot


"Papi mah suka gitu deh. Gak nyambung tahu. Nabung mah nabung saja!" Tasya mulai kesal. Dia lupa ada seseorang yang dari tadi menguping dibelakang.


"Hehe Iya.. Iya.. "


"Ingat kebutuhan anak. Susu popok juga sudah berapa coba" Tasya mengingatkan


"Susu Vano kan khusus, bukan yang biasa" tegasnya lagi


"Iya sayang. Tapi gak ada apa-apanya sama biaya NICU. Tabungan kita cepat ngumpulnya" ucap Reza


"Mami gak ngerti lagi. Papi selalu ingin membeli hal yang Mami rasa gak penting-penting banget" ucapnya


Reza terdiam


"Maaf ya Mbak. Hehe.. Aku lupa sekarang ada Mbak Diah" ucap Tasya saat tersadar telah berdebat dengan suaminya.


"Gak apa-apa Bu" Mbak Diah merasa tak enak hati.


Mereka terdiam cukup lama. Tasya tak habis pikir dengan apa yang Reza pikirkan.

__ADS_1


'Bisa-bisanya dia mikir untuk beli mobil baru disaat begini' batin Tasya geram


Sementara Reza nampak santai setelah perdebatan mereka


"Mami mau beli apa Mam?" tanya Reza


"Buah masih ada gak?"


"Saya lihat tinggal buah naga sama mangga saja Bu di kulkas. Semangkanya habis" Mbak Diah menyautnya.


Tanpa aba-aba, Reza membelokan mobilnya ke toko buah. Tasya segera turun bersama Mbak Diah. Dia meninggalkan Reza yang masih di dalam mobil.


Tasya dan Mbak Diah masuk ke dalam toko buah.


"Bu, ini khusus buah ya?" tanya Mbak Diah


"Iya Mbak. Ini khusus buah-buahan. Ada sih snack, mie, yang lainnya juga. Itu sebelah sana" ucap Tasya


"Mbak Diah ada yang mau dibeli?" tanya Tasya


"Mmm.. Anu Bu, saya mau beli pembalut" ucapnya malu


"Oh, gak usah beli Mbak. Saya punya banyak. A Reza waktu itu beli banyak sekali buat saya. Nanti pakai punyaku saja" ucap Tasya


"Iya Bu. Terima kasih"


Tasya sibuk memilih strawberry. Sementara Mbak Diah terpaku dengan buah kelapa.


"Ibu, ini harganya gak salah?" tanya Mbak Diah nampak kaget


"Kenapa?" Tasya mendekat.


"Oh, ini import Mbak." ucap Tasya singkat


"Di kampung bisa dapat beberapa kepala Bu" ucapnya tak percaya dengan harga yang tertera disana


"Memang Mbak baru ke toko buah begini?" tanya Tasya


"Iya Bu. Biasanya majikan saya dulu nyuruh saya belanja ke pasar" ucapnya


"Oh, sama. Aku juga kalau dikampung begitu Mbak" Tasya tersenyum


'Rendah hati sekali Bu Tasya.' batinnya.


"Mbak ada yang di mau?" tanya Tasya


"Enggak Bu"


"Yuk cari semangka" ajaknya


Tasya nampak memilih semangka. Dia mengambil dua kepala besar buah semangka.


"Bapak suka sekali sama semangka ya Bu?" tanya Mbak Diah


"Iya. Hampir tiap hari mintanya itu-itu saja gak pernah bosen."


"Terus dia gak suka minum kopi, lebih suka cokelat hangat."


"Gak suka pedas juga. Aku yang suka banget makanan pedas jadi sedikit kebawa sama A Reza sekarang jarang makan pedas. Ditambah sekarang dokter ngelarang sekali aku makan pedas" imbuhnya


"Iya memang begitu Bu. Dulu saya juga gak suka makan pare. Eh karena mantan suami suka akhirnya saya juga ikut suka" kenangnya.


"Iya ya Mbak, rumah tangga sedikit merubah kebiasaan kita. Tiba-tiba kita ninggalin kebiasaan lama sama kebiasaan baru tanpa kita sadari. Unik juga sih" Tasya tertawa ringan


"Yuk Mbak" ajak Tasya saat dirasa semua kebutuhannya telah dibelinya.


Reza menghampiri mereka saat mereka keluar.


"Sudah Mam?" tanyanya sambil mengambil belanjaan mereka dan memasukkanya ke dalam bagasi.


"Mau makan diluar?" tanyanya


Tasya yang masih kesal pada Reza tak menghiraukannya. Dia masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.


Reza melanjutkan perjalanannya menuju rumah.


***


"Papi ke kantor sebentar ya Mam. Ada yang harus di cek. Tadi Papa telepon" ucapnya daat mereka masuk kamar.


Tasya tak menanggapinya.


"Mam? Kenapa sih? Kok tiba-tiba?" Reza heran


Tasya masih diam.


"Gara-gara mobil?" tanyanya


"Aku gak suka ya, Papi belum apa-apa sudah merencanakan yang lain-lain. Aku ingin tabungan kita saja dulu terkumpul lagi. Jangan langsung beli macam-macam. Kalau ada kejadian yang tak terduga lagi bagaimana?"


"Iya.. Gak beli sekarang-sekarang kok. Papi mau beli yang lebih nyaman. Lumayan harganya. Bisa nabung beberapa bulan"


Tasya mendelik sebal. Suaminya salah mengartikan ucapannya.


"Aku bilang jangan beli mobil. Bukan nanti saja. Tapi jangan. Ngerti gak sih!" Taysa emosi


"Mam, tadi ada Mbak Diah di belakang saja rasanya gak nyaman" ucap Reza


"Ya karena kita belum biasa" ucap Taysa


"Coba deh, nanti kalau kemana-mana perlengkapan Vano pasti banyak. Dan pasti gak muat" ucapnya lagi


"Aku.. Gak ngerti lagi deh sama Papi!" Tasya mencebik kesal


Reza merapikan bajunya, dia berdiri didepan cermin.


"Papi sudah telat sayang. Papa pasti nunggu. Papi berangkat dulu ya" ucapnya tak menghiraukan sang istri yang sedang kesal.


'Astaghfirullah.. ' Tasya menghembuskan kasar nafasnya.


Dia segera ke kamar mandi untuk menetralkan rasa kesalnya. Berlama-lama dia di dalam sana.


Setelah selesai, Tasya merebahkan tubuhnya.


***


Pak Danu pulang menjelang maghrib. Dia melihat menantunya sedang duduk sambil menonton televisi ditemani oleh Mbak Diah.


"Papa sudah pulang?" tanya Tasya


"Iya. Kamu sudah makan Nak?" tanyanya


"Belum. Nunggu A Reza"


"Reza kayaknya lama. Dia tadi ngambil tagihan dulu" ucap Pak Danu


"Kamu temani Papa makan saja" ajaknya


"Iya. Papa ganti baju dulu saja. Aku siapkan makanannya" pinta Tasya


Pak Danu tak banyak bicara, dia segera ke kamar untuk berganti baju. Tak lama mereka duduk di kursi makan.


"Pa, Vano besok pulang" ucapnya


"Iya Reza sudah memberitahu. Alhamdulillah cucu Papa pulang juga."


"Besok Papa ke kantor gak bisa temani kamu jemput Vano"


"Iya gak apa-apa Pa"


"Pa, aku mau tanya sesuatu.. " ucap Tasya yang membuat Pak Danu menoleh ke arahnya

__ADS_1


__ADS_2