
"Mam, ponsel Papi mana ya?" Reza mencari ponsel di sekitar kasurnya. Tasya ikut membantunya.
"Dibawah situ gak ada?" tanya Reza
"Aku susah Papi" ucap Tasya
"Oh iya." Reza segera bersujud mencari dibawah lantai
"Pak Direktur, pinter sedikit" ucap Tasya, dia mengambil ponselnya dan menghubungi ponsel Reza.
"Gak ada suaranya." ucap Tasya
"Apa di silent?" tanyanya melirik Reza
"Enggak. Tapi nyambung Mam?" tanya Reza
Tok.. Tok.. Tok..
Tasya mematikan teleponnya sementara Reza membuka pintu.
"Ini ponsel Bapak.. " Mbak Diah memberikan ponsel Reza
" Ya ampun Mbaak. Terima kasih ya, aku lupa tadi dipakai Vano nonton dinosaurus" ucap Reza. Mbak Diah berlalu meninggalkan mereka.
"Ih Papi, suka bikin panik" Tasya berdecak
"Dirumah Mam, gak mungkin hilang, gak usah panik sayang" ucapnya
"Iya tapi bikin heboh" ketusnya. Reza hanya tersenyum.
Reza kini mengambil baju dan memakainya.
"Mam, pakai ini bagus gak kira-kira?" tanya Reza. Dia memadukan kaos bola berwarna hitam dan celana panjang berwarna krem.
"Papi mau futsal atau kemana?" tanya Tasya heran melihat Reza memakai pakaian tersebut.
"Iya futsal sama anak-anak tapi Papi mau meeting dulu buat gathering." ucapnya.
"Meeting pakai kemeja saja, Pap. Jangan seenaknya. Baju itu dibawa. Nanti tinggal ganti kan cowok mah gampang." ucap Tasya
"Iya." Reza segera mengganti bajunya kembali.
"Papi pulang agak malam gak apa-apa ya" ucapnya
"Sudah biasa." balas Tasya cepat.
"Dih, Mami ketus begitu" Reza mencolek dagu istrinya.
"Pulangnya belikan pizza" pinta Tasya
"Siap Mam" Reza bersemangat.
Reza meninggalkan rumah setelah berpamitan dengan Tasya dan Vano.
***
Tiba di kantor, Reza segera masuk ke dalam ruang meeting. Reza menghabiskan beberapa jam disana. Setelah meeting selesai, Reza kembali ke ruangannya sekedar untuk beristirahat.
Reza melihat story pesan milik istrinya. Dia melihat anaknya yang sedang bermain disana. Reza segera menekan tombol telepon dan menempelkan ponselnya di daun telinganya.
"Assalamu'alaikum Mami" sapa Reza
"Waalaikumsalam."
"Lagi ngapain sayang?" sapa Reza
"Biasa ngasuh Vano. Memang mau ngapain lagi? Futsal?" sindir Tasya
"Jutek banget sih sayangnya Papi" ucap Reza
"Sebentar lagi Papi futsal ya sayang. Nanti pulang beli pizza sesuai pesanan Mami." ucapnya
"Iya." sahut Tasya singkat
"Ya sudah, Papi berangkat futsal dulu sayang. Love you Mami" ucapnya seraya menutup telepon.
Tiba di lapangan, Reza dengan semangat mengganti pakaiannya. Dia nampak berbincang dan tertawa dengan temannya, termasuk dengan Adit.
Reza mulai melakukan pemanasan, hingga dia masuk ke dalam lapangan bersama teamnya. Reza berlari lincah kesana kemari dengan keringat yang mulai membasahinya.
Reza melompat ke udara untuk mengambil bola, namun pada saat landing, Reza salah memposisikan kakinya sehingga dia mengalami angkle sprin. Seketika Reza berguling seraya mengaduh sambil memegang kakinya.
Dengan sigap, semua temannya membantu Reza ke pinggir lapangan. Reza segera diberi pertolongan pertama dengan mengompreskan es kebagian kakinya yang sakit. Kemudian dilakukan pembebatan pada bagian nyerinya tersebut dan kaki Reza diangkat lebih tinggi dari posisinya.
Reza terdiam sambil merasanya nyeri dikakinya. Tak berapa lama Adit menghampirinya.
"Masih sakit Za?" tanya Adit
"Enggak. Cuma Akting." balasnya malas. Adit hanya tertawa kecil.
"Yah, pulang gak bisa bawa mobil dong" ucap Adit. Reza menatap Adit kesal.
"Kamu yang bawa mobil" titah Reza
"Siap-siap di marahin Bu Direktur dong. Eh, disenyumin. Senyuman maut" goda Adit seraya tertawa.
"Berisik lo!" Reza kesal.
***
Reza berjalan terpincang-pincang dibantu oleh Adit masuk ke dalam mobilnya. Setelah duduk dikursi penumpang dengan meluruskan kakinya, Reza memejamkan matanya sementara Adit mengambil alih kemudi untuk mengantar Reza pulang ke rumahnya.
"Semua jadwal harus batal dong, Za?" ucap Adit
"Ya iyalah. Aku gak akan bisa ke kantor dulu. Kamu yang urus semua" ucap Reza
"Laksanakan Bos" ucap Adit singkat
Reza masih memejamkan matanya, dia membayangkan istrinya yang akan memarahinya.
"Dit, ke restoran pizza dulu." ucap Reza pada Adit
"Hampir lupa." gumamnya
"Lagi sakit, sempat-sempatnya kamu mau makan pizza" ucap Adit
"Istriku yang pesan." ucap Reza singkat
"Wah, bener Bos. Kalau sampai lupa pesanan, pulang keadaan begini. Kelar hidupmu" Adit tertawa
__ADS_1
"Bahagia banget kamu, aku menderita kayak gini" ucap Reza
"Hahaa.. Canda Bos" ucap Adit
Sesuai permintaan Reza, Adit melajukan mobil ke restoran pizza. Dia menunggu pesanan pizza yang Reza inginkan, sementara Reza menunggunya di dalam mobil. Tak lama, Adit masuk ke dalam mobil dengan membawa tiga dus pizza.
"Banyak banget Dit?" tanya Reza
"Satu dus buat saya dong Pak" ucap Adit
"Oh iya. Baguslah kamu gak harus diingatkan sudah ingat sendiri" ucap Reza yang membuat adit tertawa sedikit malu.
Adit mulai melajukan mobilnya kembali hingga tiba dirumah Reza. Adit membantu Reza masuk ke dalam rumah secara perlahan.
Tasya yang sedang berada diruang televisi bersama Mbak Diah dan Vano, melirik ke arah Reza.
"Astaghfirullah Papiii kenapaa?" Tasya nampak kaget. Dia segera bangkit mendekati Reza
"Gak apa-apa Mam. Cuma cedera dikit" ucapnya sambil duduk di atas sofa.
"Kok bisa Pak Adit?" tanya Tasya
"Iya Bu, salah pijak kakinya, jadi ya begitu" ucap Adit.
"Gak ingat umur sih Bu, pakai lompat segala" ucap Adit yang membuat Tasya melirik tajam pada Reza.
"Bohong Mam. Jangan dengerin dia" ucap Reza.
"Sebentar ya Bu" Adit bergegas keluar. Dia masuk kembali dengan menenteng pizza pesanan Tasya.
"Ini Bu" Adit menyerahkan pada Tasya
"Terima kasih ya Pak Adit." ucapnya
"Saya permisi kalau begitu Bu" Adit segera berlalu dari rumah Reza dengan menggunakan ojek online.
***
Tasya masuk ke dalam rumah, sementara Reza pura-pura memejamkan matanya karena takut istrinya akan marah.
"Mbak, ini ada pizza. Makan dulu yuk, mumpung panas" ucap Tasya. Dia tak menghiraukan Reza.
Tasya membuka pizzanya kemudian memakannya bersama Mbak Diah. Dia tak berbicara apapun pada Reza. Untuk saat ini, Dia lebih memilih melampiaskannya kesalnya dengan memakan pizza.
Tasya membiarkan Reza diruang televisi sendirian setelah menyuruh Mbak Diah untuk menidurkan Vano. Tasya sibuk membawa kursi masuk ke dalam kamar mandi ditangannya.
Setelah selesai, Tasya kembali ke ruang televisi dan membereskan sisa pizza bekas makan mereka.
"Mam.. "
" Hmm.. "
" Maaf.. " Reza akhirnya membuka suara.
Tasya tak menyahutinya. Dia berlalu ke meja makan untuk menyimpan pizza tersebut. Sementara Reza bangun hendak berjalan ke kamarnya. Dengan sigap, Tasya segera membantunya memapah Reza untuk masuk ke dalam kamar.
"Sayang.. Jangan marah dong, Papi sudah begini, Mami masa marah" ucap Reza
"Astaghfirullah.." Tasya mulai mengatur nafasnya. Dia membuang nafas secara kasar karena menahan kesal pada Reza
"Mam.." Reza memelas
"Papi mah selalu bikin jantung mau copot tahu gak. Aku tuh sebel sama Papi." ucap tasya
Mereka tiba di kamar, Tasya membawanya duduk di atas sofa.
"Buka bajunya." pinta Tasya. Reza patuh sementara Tasya hanya melihatnya tanpa membantunya sama sekali.
"Celananya juga" ucapnya ketus.
"Semua Mam?" tanyanya
"Ya iyalah. Badan Papi tuh kotor semua bukan?" ucapnya ketus
"Ayo" ajak Tasya masuk ke dalam kamar mandi. Dia memapah Reza yang kini bertelanjang bulat
"Mami bawa kursi ke sini?" tanya Reza
"Gak usah banyak tanya" balas Tasya ketus.
Reza segera duduk di atas kursi, sementara Tasya mulai memandikannya. Mulai dari memakaikan shampo hingga menyabuni seluruh tubuh Reza. Reza mengulas senyumnya. Dia senang, istrinya begitu memperhatikannya walau dengan raut wajah kesal.
Setelah selesai, Tasya hendak mengambil handuk namun Reza menarik lengannya.
"I love you, Mam. Maaf buat Mami khawatir." ucap Reza sambil mendongakan wajahnya menatap sang istri dihadapannya.
Tasya hanya mematung kemudian memeluk suaminya.
"Jangan kayak gini lagi Pap. Aku tuh takut banget tahu dari tadi" Tasya menangis.
Reza semakin bersalah saat tahu istrinya menangis. Dia memeluk perut Taysa dan menciuminya.
"Maaf ya Dek, Papinya nakal. Bikin Mami kesel terus" ucap Reza yang berbicara dengan perut Tasya.
"Ayo cepetan. Nanti malah masuk angin." ucap Tasya sambil menyeka air matanya.
Reza mengeringkan badannya sementara Tasya sibuk mengambil baju untuk suaminya.
"Besok ke dokter dulu Pap. Aku takut cederanya parah" ucap Tasya seraya memakaikan celana pada suaminya.
"Iya sayang"
Setelah selesai membantu Reza, Tasya merebahkan tubuhnya karena terasa lelah.
***
Keesokan harinya.
"Mbak, aku titip Vano ya. Aku nganter dulu A Reza ke rumah sakit." ucap Tasya
"Iya Bu" ucap Mbak Diah singkat.
Tasya membantu Reza masuk ke dalam mobilnya dengan nafas sedikit tersengal.
"Maaf ya Mam. Mami jadi capek" ucap Reza
Tak dipungkiri Tasya, dia memang lelah saat membantu Reza karena sebagian bebannya bertumpu padanya.
Tiba dirumah sakit, Tasya segera meminjam kursi roda untuk Reza. Pak Budi menemani Tasya mendorong kursi roda sementara Tasya sibuk mengurus pendaftaran untuk Reza.
__ADS_1
Reza merasa sangat bersalah saat melihat istrinya kesana kemari dengan perut besarnya. Namun dia hanya mengamati istrinya tersebut.
Reza masuk ke dalam ruangan bersama Tasya saat namanya dipanggil. Dia menceritakan kronologisnya tersebut pada dokter.
"Untung tidak parah Pak, paling dua mingguan bisa sembuh" ucap dokter tersebut.
"Wah, lama juga dok" ucap Reza
"Paling sebentar itu Pak. Yang lain bisa sampai tiga bulanan." ucap dokter tersebut tersenyum.
Dia menuliskan resep untuk Reza. Setelah selesai, Tasya kembali mengurus administrasi dan obat untuk Reza.
***
Tasya mengatur nafasnya sambil memiringkan tubuhnya.
"Mam.. "
" Hmm"
"Lihat sini dong" pinta Reza
Tasya merubah posisinya menghadap Reza yang tidur terlentang dengan menyangga kakinya lebih tinggi.
"Maaf ya, Mami pasti capek" ucap Reza
"Makanya jangan banyak tingkah. Aku tuh mau lahiran, tapi Papi malah kayak gini." ucap Tasya.
"Nanti kalau aku lahiran, A Rasya yang temani aku?" pancing Tasya
"Enak saja! Ya Papi lah"
"Kesel deh aku, dari Papi pamit juga aku sudah sebel banget. Tapi Papi mana bisa dilarang." Tasya masih kesal kepadanya
"Ya kan namanya juga kecelakaan Mam, siapa yang tahu" ucap Reza
Tasya kini terdiam. Dia memilih memejamkan matanya.
"Maaf ya Mam" ucapnya lagi mengecup tangan Tasya. Kemudian tangannya terulur untuk mengelus rambut istrinya.
Tasya menempelkan tubuhnya pada Reza. Dia memeluk Reza dan menjadikan lengan Reza menjadi bantalannya. Reza mengecup kepala Tasya.
"Maaf" lirihnya
"Aku takut banget Papi, aku gak mau ya jadi janda muda" sindir Tasya
"Astaghfirullah Mami ngomongnya, Papi cuma cedera doang."
"Habis kesel. Papi banyak tingkah."
"Banyak tingkah apa sih Mam, cuma futsal doang" Reza meninggikan suaranya.
"Aku kan mau lahiran, tapi Papi malah kayak gini. Gimana mau nguatin aku" kesal Tasya
Tasya melepaskan pelukannya. Kini dia memunggungi Reza. Reza tak menyahutinya. Akhirnya mereka terlelap.
***
Tasya membawa piring berisi nasi dan lauk pauk ke kamarnya. Dia melihat Reza yang tengah duduk dikasurnya sambil memainkan ponselnya.
Tasya memberikan piring tersebut pada Reza tanpa bicara sepatah katapun. Begitupun dengan Reza, dia menerimanya tanpa bicara. Tak lama, Tasya segera keluar kamar dan membawa botol minum untuk Reza. Dia juga menyiapkan obat disampingnya. Tasya kembali keluar kamar. Dia enggan menunggu Reza yang tengah makan.
Setelah beberapa lama, Tasya melihat piring kotor, botol minum dan obat-obatan ditempat tidurnya. Tasya segera membawanya keluar kamar.
Rutinitas Tasya seolah tak ada habisnya. Dia harus melayani Reza yang membutuhkan bantuannya, dia juga harus mengawasi Vano yang masih membutuhkan perhatiannya hingga dia melupakan untuk mengurus dirinya sendiri.
Reza turun dari kasurnya karena merasa bosan. Dia pindah ke ruang televisi untuk menghibur dirinya. Namun matanya sesekali memperhatikan sang istri yang sibuk menyuapi anaknya.
"Vano, buka lagi mulutnya." pinta Tasya
"Mam.. Mam.. " ucap Vano.
"Iya mamam ya.. Kan Vano anak pinter." ucapnya.
Tasya membersihkan nasi yang tersembur dari mulut Vano. Sesekali Tasya mengelus punggungnya sendiri yang dirasa pegal. Hal itu tak luput dari pandangan Reza. Kini Reza merasa tak tega pada istrinya.
"Mbak, aku mandi dulu ya. Gerah banget" ucap Tasya setelah selesai menyuapi Vano
"Iya Bu" ucapnya singkat.
Tasya masuk ke dalam kamar, Reza pun dengan perlahan menuju kamarnya untuk mendekati Tasya.
***
Tasya keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah. Dia melihat Reza yang sedang meringis seolah kesakitan.
"Kenapa?" tanya Tasya yang akhirnya membuka suara pada Reza.
"Ssshh.. Sakit Mam" bohongnya
'Akhirnya dia duluan kan yang ngajak ngomong' batin Reza senang.
"Makanya diem. Jangan pindah kesana kemari" ucap Tasya datar
"Papi bosan dikamar terus" ucapnya
Tasya tak menyahutinya. Dia segera memakai daster motif bunga. Reza menelan salivanya, saat melihat Tasya lebih seksi menurutnya, padahal sehari-hari Tasya juga memakai daster seperti biasa.
"Mam.."
Tasya hanya menolehnya sepintas sambil menyisir rambutnya.
"Maaf. Papi salah Mam." ucapnya
Tasya masih membisu. Reza yang tak mendapat sahutan dari Tasya menggeserkan tubuhnya untuk bangun.
"Aw... Ssshhh... " Reza memegangi kakinya.
"Papi mau kemana sih?" Tasya meninggikan suaranya. Dia mendekat ke arah Reza dan mengelus lembut tulang kering Reza. Padahal bagian itu tidak dirasa sakit sama sekali.
"Mau nyamperin Mami. Habis Mami gak jawab Papi. Gak mau maafin Papi" ucapnya.
"Hhh..ya sudah, iya. Mami juga minta maaf sudah kesel sama Papi" ucap Tasya
'Iyes.. Aktingku berhasil juga' batin Reza senang.
.
.
__ADS_1
.
Temaans jangan lupa tinggalkan jejak dengan liks dan komentarnya. Bantu VOTE juga ya temans. Terima kasih ^^