
Wanita tersebut membuka maskernya.
"Nov?"
"Maaf Za, silahkan duduk. Ini aku tandai, soalnya suamiku sedang ke toilet. Hehe" ucapnya seraya mengambil tasnya.
"Boleh istriku duduk Nov? Dia sedang hamil"
"Iya. Iya. Gak apa-apa. Silahkan Mbak." ucapnya
"Mami, duduk sayang." ucap Reza pada Tasya.
Tasya duduk disambut oleh senyuman Nova.
"Aku Nova, teman kuliah Reza." Nova memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya, dia menyembunyikan kalau mereka pernah berpacaran.
'Bagus' batin Reza.
"Tasya" ucapnya seraya menyambut uluran tangan Nova.
"Siapa yang sakit?" tanya Nova melihat ke arah Vano yang digendong oleh Mbak Diah.
"Anakku. Demam dari semalam Mbak." jawab Tasya
"Sama. Anakku malah sudah tiga hari." balas Nova.
Tiba-tiba ponsel Reza berbunyi.
"Hallo Dit?" ucap Reza membuat Nova melirik ke arahnya.
"Kamu ke kantor Za?" suara Adit diseberang sana.
"Aku lagi bawa Vano ke rumah sakit. Kenapa?" ucap Reza seraya menepuk bahu Tasya dan berlalu meninggalkan mereka.
Tak lama Vano merengek.
"Sini sama Mami sayang" Tasya mengambil Vano dari gendongan Mbak Diah.
"Vano haus?" tanyanya
"Susu Vano, Mbak" pinta Tasya pada Mbak Diah.
"Tas dibawa bapak Bu. Saya ambil dulu." ucap Mbak Diah.
Nova memperhatikan mereka dari tadi. Tak lama Reza dan Mbak Diah datang.
"Papi bilang jangan gendong Vano, Mam." Reza mengambil Vano dari tangan Tasya seraya memberikan susu.
"Berapa bulan anaknya Mbak?" tanya Nova
"Sepuluh bulan Mbak."
"Mana anakmu Nov?" Reza menimpali
"Gak tahu lama sekali mereka ke toilet."
"Berapa tahun anaknya Mbak?" tanya Tasya
"Sudah besar Mbak. Yang satu 10 tahun yang satu 7 tahun." ucapnya.
"Wah, sudah enak ya Mbak." ucap Tasya.
"Hehe. Begitulah."
"Ini baru satu atau?"
"Mau tiga aku. Yang pertama keguguran sih. Ini yang ke dua. Yang ke tiga masih dikandungan Maminya." ucap Reza
"Wah? Sudah berapa bulan?"
"Dua bulanan Mbak."
Seorang anak lelaki berjalan mendekati mereka.
"Ayah mana?" tanya Nova pada anak tersebut.
"Itu duduk disana." ucapnya
Reza mengikuti telunjuk anak tersebut.
'Deri? Awet juga mereka.' batin Reza.
Reza mengingat Nova duku meninggalkannya demi Deri. Tak lama perawat memanggil Vano masuk.
"Wah? Reza duluan." ucap Nova
"Aku daftar online Nov" Reza tersenyum.
"Aku duluan ya Mbak." ucap Tasya
Mereka berlalu masuk ke dalam ruangan.
***
Setelah keluar dari poli klinik anak, kini mereka berjalan ke poli kandungan. Tasya segera masuk karena namanya telah dipanggil sedari tadi.
"Jangan lelah ya Bu, jangan banyak gendong anak juga kalau dirasa sakit. Saya beri penguat kandungan karena di khawatirkan terjadi kram lagi. Ibu juga punya riwayat keguguran dan juga si adek lahir prematur." ucap Dokter tersebut seraya melirik Vano sepintas.
"Baik dok. Tapi kalau gak gendong susah juga dok, soalnya kan kadang anaknya ingin sama saya" ucap Tasya
"Iya sih ya, tapi jangan seperti kemarin gendong lama-lama juga. Kasihan juga yang diperut. Walau sebenarnya trimester awal itu, gendong anak masih tak masalah. Cuma ya semua balik lagi sama kondisi ibu sendiri." ucapnya.
"Baik Dok." ucap Tasya
"Bapak juga sabar dulu ya Pak, tunggu semuanya kondusif dulu Pak. Baru bapak gaspol." ucap Dokter seraya tertawa
"Baru saya mau tanya Dok." ucap Reza
Mereka segera keluar ruangan.
***
"Pak Bud, ke kantor dulu ya, aku ada perlu sebentar." ucap Reza saat mobil keluar dari parkiran rumah sakit.
"Oke Za" ucapnya singkat
"Pap, temen Papi anaknya sudah 10 tahun loh." ledek Tasya
"Dia kan cewek. Wajarlah. Begitu beres kuliah langsung nikah." ucap Reza
"Memang Papi gak wajar?"
"Wajar juga. Kan Papi laki-laki. Kerja dulu, baru nikah. Masa anak orang mau dikasih makan cinta. Lagi pula, Papi masih belum empat puluh tahun mah masih muda Mam. Mau anak tiga lagi." ucapnya
"Dih gak mau kalah." ucap Tasya.
***
Setibanya dikantor, Tasya berpisah dengan Reza. Dia segera menghampiri Lala karena merindukan karyawannya yang cerewet itu.
"Lalaaaaa" Tasya antusias bertemu dengan Lala.
"Ibuuuu.. Ya ampun ibu" Lala memeluk Tasya erat.
"Mana calon pangeranku Bu?" tanya Lala pada Vano.
"Lagi demam dia. Aku pulang dari rumah sakit." ucap Tasya
"Loh? Kenapa kesini sih gantengnya aku?" Lala menyubit pipi Vano gemas
"Sini sama Kak Lala." ujarnya. Vano menolak.
"Iih kok gak mau? Nunggu gede nanti kamu gendong aku ya.." goda Lala pada bocah kecil itu.
__ADS_1
"Enak saja. Nanti anakku dimarahi sama Keenan." ucap Tasya
"Haha.. Dia jinak Bu. Aku pelototin saja dia mengkerut kaya putri malu." ucap Lala seraya tertawa
"Wah, yang sudah bisa naklukin hatinyaa.. Gimana-gimana sama Keenan sekarang?"
"Yah, begitu-begitu saja Bu"
"Kapan dihalalil dong?" tanya Tasya
"Hehe. Doakan yang terbaik saja Bu." ucap Lala
'Ingin cerita sama Ibu tapi gak mungkin juga disini kan.' batinnya
"Iyalah. Siapapun jodohnya asalkan buat kamu bahagia. Aamiin."
"Nah itu Bu."
"Ibu besok datang gak?" tanya Lala
"Enggak La. Anakku kan sakit."
"Ciee..yang naik jabatan." goda Tasya
"hehe.. Alhamdulillah Bu. Terima kasih banyak. Aku kerja disini sangat puas." ucapnya
"Alhamdulillah ya La. Dari nol kita."
"Iya, sampai Ibu tinggalkan aku seorang diri. Nanti ditemani pangeranku saja ya." ucap Lala pada Vano.
"Pangeran-pangeran. Enak saja." ucap Reza tiba-tiba
"Jangan begitu Papi mertuaku."
"Ih amit-amit La. Merinding aku mendengarnya." ucap Reza
"haha Bapak tega sekali."
"Lebih tega kamu, gak kebayang anaku kalau berjodoh sama kamu. Sudah nenek-nenek kali." ucapnya
"Kalian kalau bertemu gak bisa akur terus." ucap Tasya.
"Mami mau makan apa Mam? Papi pesankan. Kita kan belum makan." ucapnya.
"Loh ibu belum makan?" tanya Lala
"Aku kan dari rumah sakit. Tadi lumayan lama juga. Penuh disana."
"Owh"
"Mbak Diah mau apa Mbak?" tanya Tasya
"Aku gimana ibu saja."
"Mbak, kalau ditawarin gitu jangan sungkan-sungkan Mbak. Pilih yang mahal." Lala mengompori
"Memangnya kamu La." Tasya menimpali.
"Jadi mau pesan apa?" tanya Reza
"Apa ya? Bento boleh. Beef teriyaki extra saladnya ya Pap. Biar seger." ucap Tasya
"Kamu mau La?" tanya Tasya kemudian
"Enggak Bu. Aku sudah kenyang."
"Yakin?"
"iya bu. Tapi kalau dibelikan aku gak bakalan nolak Bu" Lala tertawa
"Dasar kamu itu."
Setelah bercengkrama dengan heboh, mereka makan bersama Lala. Sementara Reza melanjutkan pekerjaannya bersama Adit. Adit kini menjadi salah satu tangan kanannya yang membantu memajukan perusahaan mereka.
"La, kamu lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku ke ruangan A Reza dulu ya." ucap Tasya
Tasya segera keluar dari ruangan Lala diikuti oleh Mbak Diah. Dia kemudian masuk ke dalam ruangan Reza melewati beberapa staff baru.
"Ibu mau bertemu siapa?" tanya salah satu staff menyapanya.
"Pak Reza diruangannya?" tanya Tasya
"Oh, ada Bu. Silahkan. Ruanganya paling ujung" staff tersebut mengarahkan Tasya, dia seolah paham saat melihat Vano dan Mbak Diah mengekorinya.
Tasya mengetuk pintu ruangannya.
"Eh Ibu." ucap Adit.
"Pak Adit, lama gak ketemu. Sehat Pak?" tanya Tasya
"Alhamdulillah sehat. Silahkan Bu. Saya permisi." ucap Adit segera keluar ruangan.
Tasya masuk ke dalam ruangan Reza.
"Wah, lebih luas dari yang dulu Pap." ucap Tasya melihat ruangan Reza yang baru selesai direnovasi.
"Duduk Mbak" titah Reza pada Mbak Diah.
"Mbak, tidurkan saja Vano di sofa daripada pegal" ucap Tasya
Mbak Diah menidurkan Vano disana. Vano yang terlelap tak terusik sedikitpun
"Sekarang banyak karyawan baru Pap." ucap Tasya
"Iya sayang. Sekarang lebih terstruktur. Mau gak mau ya harus ada jabatan yang diisi." ucapnya
"Mami capek?" tanya Reza
"Iya. Aku lumayan capek."
"Yuk pulang kalau begitu." ajaknya
***
"Sayang, besok berangkat bareng Papa?" tanya Tasya membelitkan tali handuk kimono pada tubuhnya. Dia kemudian mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.
"Sini Mam, Papi bantu." ucapnya seraya duduk diatas kasur
Tasya segera mendekat.
"Papi berangkat sendiri saja Mam. Gak enak sama yang lain. Masa harus bareng Papa." ucapnya
"Mami yakin besok gak datang?" tanyanya
"Enggak. Mami doakan semoga Pak Dirut besok pidatonya lancar jaya." ucap Tasya
"Haha.. Aamiin"
Reza memeluk istrinya dari belakang. Menghirup aroma shampo dari rambut Tasya.
"Doakan Papi ya sayang. Maaf kalau nanti Papi lebih sibuk." ucapnya
"Kok sibuk sih Pap? Bukannya kerjaan dirut hanya tanda tangan doang?" tanya Tasya
"Enggak gitu juga sayang. Enak bener kalau hanya gitu. Itu mah Pak Danu dong. Bebas kerja tapi uangnya ngalir terus."
"Papi iri sama Opa?"
"Ya enggak. Cuma kerjaan Papi gak cuma tanda tangan saja sayang." Reza masih memeluknya.
Tasya berbalik. Kini duduk disamping suaminya.
"Semoga Papi bisa mengemban amanah ini dengan baik, semoga Papi gak berat sebelah. Mengesampingkan keluarga demi pekerjaan atau sebaliknya. Semoga sehat dan jangan lupa bahagia." Tasya tersenyum pada suaminya.
__ADS_1
"Aamiin. Terima kasih suportnya sayang." Reza mengecup kening Tasya.
"Sana mandi. Bau keringet." ucap Tasya.
"Iya iya."
"Istirahat lebih awal sayang, besok biar fresh."
"Eh, nanti pakai masker Mami saja sayang biar nanti shining, shimmering, splending." Tasya bernyanyi
"Haha.. A whole new world.."
"Ciee Papi" ledek Tasya
"Haha..Dasar Mami." Ucapnya seraya masuk kamar mandi.
Tasya keluar kamar.
"Vano mau tidur yuk?" ajak Tasya
Vano masih tetap bermain tak menghiraukannya
"Kasihan Mbak Diahnya capek Nak."
"Mbak istirahat saja. Aku yang jaga Vano" ucap Tasya
"Iya Bu. Terima kasih."
Tasya segera membawanya masuk ke dalam kamar. Menaikannya ke atas kasur mereka.
"Mau susu Nak? Bobo yuk. Mami capek banget hari ini." ucap Tasya berbicara pada anaknya.
Vano masih sibuk dengan mainannya. Sementara Tasya tertidur saat menemaninya bermain.
"Lah.. si Mami malah tidur ya Bang?" ucap Reza.
"Yuk tidur. Sini sama Papi." Reza segera menggendong Vano dan mengayunnya agar terlelap.
"Kamu tunggu dulu ya Bang, Papi buatkan susu biar kamu tidur." ucapnya
Setelah selesai membuat susu, Reza menepuk halus paha Vano sambil memberikan susunya. Tak lama avano terlelap. Reza segera memindahkannya dalam box bayi.
***
Pagi hari Tasya sudah bersiap di dapur. Dia membuatkan sarapan untuk suami dan Papa mertuanya. Dia juga menyiapkan segala kebutuhan suaminya mulai dari kemeja batik hingga kaos kaki.
Reza keluar dari kamar mandi saat Tasya sedang merapikan tempat tidur.
"Hari yang bersejarah untuk perjuanganmu Pap." ucap Tasya mengembangkan senyumnya begitupun dengan Reza. Dia merasa senang saat istrinya selalu meledeknya.
Reza kini memakai batiknya. Tasya segera mendekat, membantu Reza mengancingkan satu satu persatu kancing hingga semuanya terpasang.
Dia menepuk pelan dada bidang suaminya.
"Selamat berjuang suamiku, aku bangga sama Papi." ucapnya
"Terima kasih istriku." Reza menghujaninya dengan kecupan.
"Mami belum mandi loh."
"Biarin. Ibu hamil tetep wangi kok." ucapnya
Kini Reza memakai pomade pada rambutnya sementara sang istri melihatnya dengan bangga.
"Yuk sarapan sayang." ajak Tasya.
"Papi auranya beda. Pak Direkturku masyaAllah gantengnya luar biasa." pujinya
Reza hanya tersenyum mendengar pujian dari istrinya.
"Pakai kacamata apalagi. Mami meleleh deh kayaknya." ucapnya kemudian
"Tumbenan nih Mami muji-muji terus. Papi gak ada receh sayang." ucapnya
"Siapa juga yang minta receh. Orang aku mintanya kartu." ucap Tasya membuat Reza tertawa.
"Bang Vano sudah sarapan Nak?" tanya Reza
"Jangan gendong Pap. Nanti bajunya kusut. Papi kan nanti bertemu banyak orang." ucapnya
"Iya sayang."
"Maaf ya Bang. Papi gak gendong Abang. Nanti pulangnya kita main ya" ajak Reza
"Yuk sarapan dulu." ajak Tasya menuju ke ruang makan. Pak Danu sudah duduk disana.
"Wah, Papa sama A Reza ganteng banget." puji Tasya
"Haha.. Kamu bisa saja."
"Kenapa gak ikut?"
"Takut Vano demam lagi Opa. Kasihan ah" ucap Tasya.
"Iya. Istirahat saja dirumah. Nanti juga suamimu masuk koran." ucap Pak Danu.
"Wah? Serius Pa?"
"Iyalah. Nanti masuk website perusahaan juga."
"Ih keren Papi." ucap Tasya.
"Nanti aku gunting deh tuh itu koran terus masukan ke pigura kaca tempel dikamar" ucap Tasya membuat Pak Danu terbahak seketika.
"Yakin Sya? Vano sama calon adiknya gak akan sawan?" tanya Pak Danu.
"Enggak lah. Orang idolanya. Yang ada mereka mengikuti jejakku Pa." ucapnya
"Jejak apanya? Borosnya?" tanya Pak Danu
"Jangaan. Bisa-bisa aku yang turun tangan kalau begitu." ucap Tasya
"Ngajak A Reza ke jalan yang lurus saja susah. Apalagi kalau ditambah anak-anak. Gak kuat aku Pa" Keluh Tasya
"Haha.. Janganlah. Nanti ada yang pinjem kartu Papa lagi. Ops." dia keceplosan
Reza meliriknya sebal.
'Ya ampun mulut bapak-bapak ini kayak mulut emak-emak komplek. Bocor bener.' batin Reza
"Kartu apa Pa?" tanya Tasya
"Haha.. Sudah berlalu. Dulu dia pinjem kartu Papa takut uangnya kurang. Dia bilang jangan kasih tahu kamu, malu katanya. Gengsi memang itu anak." ucap Pak Danu
"Pa! Bongkar terus Pa!" ucap Reza tak terima
"Haha.. Yang ini keceplosan Za. Gimana dong?" Pak Danu menyunggingkan senyumnya
"Ada lagi Pa rahasianya?" tanya Tasya penasaran
"Haha.. Enggak Nak. Gak ada lagi dia."
"Kali sama mantannya itu loh Pa yang kirim salam kayak acara radio" sindir Tasya
Pak Danu terbahak lagi.
"Nah itu Papa gak tahu, dia gak pernah bawa cewek ke hadapan Papa. Makanya Papa jodohin sama kamu. Takutnya dia belok kan Papa yang repot." ujar Pak Danu
"Belok gimana Pa?"
"Ya gak suka wanita maksudnya."
"Haha.. Aku gak kebayang kalau A Reza belok begitu Pa." Tasya dan Pak Danu Tertawa.
__ADS_1
"Jangan begitu Cyin, akika gini-gini lekong tulen" ucap Reza seraya melambay.
Mereka tertawa puas.