BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Pie Susu Buatan Tasya


__ADS_3

Reza berbicara dengan serius disana. Tanpa perlu penjelasan dari Reza, Tasya tahu siapa yang menelepon suaminya.


Reza mematikan sambungan teleponnya.


"Senin Aa bawa proposal dan sample kesana. Sebetulnya tidak perlu sih, tapi untuk formalitas saja" ucap Reza


"Aku di tinggal lagi?" tanya Tasya


"Kita ke kantor sama-sama sayang, Aa gak akan lama. Adit juga kan sedang kerja" terang Reza


"Syukurlah" ucap Tasya


"Kenapa sayang? Kamu gak mau jauh-jauh dari Aa ya?" goda Reza


Tasya malu.


"Bukan aku, tapi anakmu" ucap Tasya berdalih


"Iya Dedek, Dedek gemas" ucap Reza menyindirnya seraya mengecup lembut kening sang istri.


"Aa ngantuk sayang" ucapnya


"Ya sudah tidur, aku mau bantu Bi Tinah" terang Tasya


"Gak. Disini saja temani Aa sayang" pinta Reza seraya memeluknya.


Reza memejamkan matanya, sementara tangan Tasya sibuk mengelus kepala suaminya. Tiba-tiba dia mengecup gemas wajah suaminya.


"Kenapa? Kagum ya?" Reza menyeringai. Garis matanya terlihat melipat saat Reza mengembangkan senyumnya. Senyuman indah yang membuat siapa saja yang melihatnya akan terpesona.


"Iya, Aa ganteng" puji Tasya


"Tumben kamu muji-muji Aa. Pasti ada maunya" tuduh Reza


"Kalau aku mau sesuatu pasti bilang. Gak usah muji-muji dulu" terang Tasya


Reza terkekeh mendengarnya seraya membenarkan ucapan istrinya tersebut. Dia memejamkan matanya kembali.


***


Tasya melepaskan apron yang melekat ditubuhnya. Dia tersenyum senang saat melihat kue pie susu buatannya yang dia praktekan setelah melihat resep dari ponselnya.


"Wangi Neng" Bi Tinah menghampiri.


"Bi Tinah mau?" Tanya Tasya


"Buat Reza saja dulu" ucapnya


"Gak apa-apa, A Reza masih tidur" Tasya memotong kue berbentuk oval tersebut menjadi segitiga.


"Kulitnya rapuh sekali ya Bi" Tasya mengambil remahan kulit pie susu tersebut kemudian memasukannya ke dalam mulutnya.


"Emm.. Enak" ucapnya bangga


Tasya memberikan kue yang masih panas tersebut kepada Bi Tinah.


"Duduk sini Bi" Tasya mengajaknya. Bi Tinah yang tergiur oleh kue buatan Tasya segera duduk di kursi. Bi Tinah mulai memotong kue tersebut, meniupnya, kemudian melahapnya. Seketika wajahnya berbinar.


"Enak Bi?" tanya Tasya


"Enak sekali" ucapnya seraya menelan kue pie susu tersebut.


"Ini mengkilat sekali, pakai agar-agar membuatnya?" tanya Bi Tinah


Tasya seketika tertawa.


"Tidak Bi, masa pakai agar-agar. Puding dong jadinya."


" Bahannya hanya tepung, susu, dan telur" jelas Tasya


"Asyik sekali, sedang apa Sya?" tanya Reza menghampiri mereka.


"A Reza, cobalah ini" ucap Tasya seraya memotong kue dan menyendokannya pada Reza


"Pa.. Nas.." Reza menghembuskan nafasnya disetiap ucapannya.

__ADS_1


Seketika Bi Tinah tertawa.


"Maaf.. Maaf..aku kira sudah hangat" Tasya segera memberikan air putih pada Reza.


"Enak A?" tanya Tasya


"Bagaimana Aa merasakannya. Panas tahu!" Reza cemberut


"Ya maaf" Tasya tersenyum


Tasya memindahkan potongan kue untuk Reza ke dalam piring kecil.


"Enak sekali Za" ucap Bi Tinah


Reza yang tak sabar segera memotong kue pie susu tersebut. Kemudian memakannya.


"Lumer, enak sekali sayang." ucap Reza


"Enak kan?" ucap Tasya seraya menyomot kue dari piring Reza


"Punya Aa" Reza seolah tak rela membaginya


"Ya ampun A, masih banyak. Kalaupun habis nanti aku bisa buatkan lagi" Ucap Tasya


"Harus. Aa suka buatan kamu. Jadi gak perlu beli" Reza menyeringai


"Kiwi habis sayang" ucap Tasya


"Ya sudah nanti kita beli. Sekalian jalan-jalan" ucap Reza


"Aa sudah baikan?" tanya Tasya


"Sudah. Alhamdulillah."


"Mam, lagi" pinta Reza seraya menyodorkan piring yang kosong


Tasya memotong kue tersebut kembali.


"Pa, Papa mau kue?" ucap Tasya saat melihat Pak Danu dengan setelan olah raga hendak ke taman belakang


"Kenapa kamu kasih Papa sih sayang" Reza memberi sapaan pada Pak Danu dengan menyindirnya


"Karena Papa spesial" ucapnya tanpa melirik Reza


Tasya memberikan kue tersebut pada mertuanya. Dia menantikan pujian dari sang mertua.


"Enak sekali. Manisnya pas buat Papa" ucap Pak Danu takjub


"Pintar sekali mantuku. Papa suka Sya" ucapnya kemudian


"Istri siapa dulu" Reza menyelanya


"Kalau tak di jodohkan oleh Papa gak mungkin jadi istrimu" Pak Danu berbangga diri


***


"Pakai baju hamilnya Sya. Perutmu sudah terlihat" ucap Reza


"Masa sih?" Tasya menatap dirinya lekat-lekat dari pantulan cermin.


"Sudah. Ni" Reza menyelipkan kedua tangannya dari belakang seraya membentuk perut Tasya


"Sedikit sayang. Aku pakai ini juga tidak merasa sesak" ucapnya


"Ya sudah terserah Mami saja kalau nyaman" Reza menyerah


Mereka keluar kamar dan pamit pada Pak Danu.


"Kita mau kemana A?" tanya Tasya


"Toko buah"


"Setelah itu?"


"Kamu maunya kemana?" Reza balik bertanya

__ADS_1


"Hmm.. Gak tahu. Kemana ya?" Tasya nampak berpikir


"Mall?" tanya Reza


"Gak mau. Aku maunya ke tempat terbuka" pinta Tasya


"Oke" ucap Reza seraya memutar otaknya


***


Setibanya di toko buah, seperti biasa Tasya langsing menuju ke rak kiwi. Dia sudah hapal betul dimana kiwi tersebut disimpan.


"Aa ingin jus semangka Sya" pinta Reza


"Aa hobby sekali makan jus semangka" ucap Tasya


"Segar. Apalagi dingin"


Mereka masih sibuk memilih kiwi.


"Reza" sapa seseorang


"Eh Dit, ketemu lagi kita. Apa kita berjodoh?" sapa Reza seraya tertawa


Mereka sekarang mulai akrab dengan memanggil nama masing-masing.


"Bu Reza" sapa Adit ramah


Tasya tersenyum.


"Oh ya, ini istri saya" Adit melirik istrinya


"Hai mbak" sapa Tasya ramah


"Berapa bulan?" tanyanya


"Lima jalan enam" ucap Tasya


"Istri saya juga sedang hamil" timpal Adit


"Wah? Selamat. Langsung goal begitu" ucap Reza. Mereka berdua asyik kembali berbincang


"Berapa bulan mbak?" tanya Tasya


"Baru dua bulan" jawabnya


"Panggil saja Mira, mbak" ucapnya


"Panggil saya juga Tasya. Rasanya aku tua sekali dipanggil Mbak" tolak Tasya


Mereka berbincang akrab seputar kehamilan. Sesekali mereka tertawa bersama menceritakan kekonyolan mereka selama hamil. Begitupun Adit dan Reza, mereka sudah dekat terlebih dahulu.


"Mau kemana setelah ini?" tanya Adit


"Dia ingin jalan-jalan" ucap Reza


Sementara Tasya dan Mira masih asyik berbincang. Mereka nampak bertukar nomor ponsel. Setelah itu keduanya berpisah.


"Aku senang sama istrinya Adit A. Enak ngobrolnya" ucap Tasya


"Iya. Kalian seumuran kok" ucap Reza


"siapa yang bilang?" tanya tasya


"Adit cerita. Ternyata kita sama sayang. Dia seumuran denganku, begitupun kamu dan istrinya" ucap Reza


"Kok bisa sama begitu sih? Kita bisa menikah dengan om-om" ucap Tasya


"Iya, keren itu om-om bisa mendapatkan daun muda yang masih amatir pula." ledek Reza


"Ih a Reza mah!" Tasya cemberut


"Habis kamu bilangnya om-om terus" Reza bersungut


"Daripada Aa memanggilku ukhti-ukhti" Tasya tak kalah cemberut

__ADS_1


Mereka berdebat sepanjang perjalanan.


__ADS_2