
"Sya, ibu lihat kamu sudah ada perubahan dengan Reza. Ibu senang melihatnya Sya" ibu membuka percakapan saat mereka memasak bersama
"Maksud ibu bagaimana?" tanya Tasya tak mengerti.
"Ya itu, belum sebulan ibu lihat kamu sudah tak canggung lagi sama Reza. Tidak seperti awal-awal gitu loh" ibu menjelaskan
"A Reza sih sudah biasa bu sama Tasya. Tapi Tasya masih belum terbiasa. Kayak semalam.. " Tasya tidak melanjutkan ucapannya
"Hayo, jangan-jangan ibu sebentar lagi di kasih cucu" goda ibu.
"Belum lah bu. Tasya belum lulus. Lagian Tasya sama A Reza juga gak pernah ngapa-ngapain" ucap Tasya jujur
"terus tadi malam itu apa?" tanya ibu penasaran
"Nggak bu" Tasya malu
"Kamu tidak boleh menolak ajakan Reza ya Sya. Ibu bicara begini biar kamu tahu. Kalau kamu menolak, nanti malaikat melaknat kita sampai pagi hari." ibu menasehatinya.
"Tapi Tasya masih takut bu. Ibu tahu sendiri, Tasya pacaran saja belum pernah. Tiba-tiba saja seorang laki-laki yang nggak Tasya suka, megang-megang Tasya, meluk-meluk Tasya. Hii nggak bisa bu" Tasya akhirnya jujur
"Ya kamu belajar Sya. Dulu juga ibu ayah sama kayak kamu. Rasanya aneh. Tapi lama-lama ya sayang itu tumbuh. Tahu-tahu kita saling cinta. Saling membutuhkan." ucap ibu
Tasya diam. Dia mencerna semua ucapan ibunya. Rasa bersalah pada Reza timbul kembali.
"Apa menurut ibu, Tasya harus percaya sama A Reza?" tanya Tasya
"kamu ini gimana, masa tidak percaya sama suamimu sendiri" ibu bertanya balik
"Memang selama disana bagaimana sikap Reza ke kamu? Kamu di galakin lagi?" tanya Ibu
"Nggak pernah sih bu. Cuma ya gitu, tiba-tiba dia buka baju depan Tasya. Tasya kan malu bu" Tasya menjelaskannya dengan cemberut
Ibu tertawa melihatnya
"Polos sekali kamu Sya. Dulu juga ibu ngalamin seperti kamu. Tapi gak terang-terangan nolak ayah. Nanti ayah tersinggung dong"
"Jangan-jangan kamu begitu?" tebak ibu
Tasya terdiam.
"Apa ibu berusaha juga?" tanya Tasya
"Berusaha bagaimana maksud kamu?" tanya ibu
"Ya misalnya berani nyentuh ayah. Megang tangan ayah begitu" tanya Tasya
"Ya senatural mungkin saja Sya. Masa sih kamu gak bisa begitu saja" ibu heran
"Terus Tasya harus bagaimana bu?" tanya Tasya
"Natural saja. Tidak menolak. Toh Reza juga gak bakalan makan kamu bulat-bulat" ucap ibu
"Ya gak muat juga kali bu mulutnya." Tasya ngeles
"kamu ini, kalau orang tua lagi nasehati suka begitu" ibu kesal
"iya iya bu" Tasya menyudahi pembicaraannya.
***
Tiga Lelaki
__ADS_1
"Baru setengah jalan sudah ngos-ngosan begini. Haduuh.. Kerasa sudah tua sekali ya Pak Taufik" ucap Pak Danu sambil berjalan menyusuri perkebunan milik Pak Taufik
"Makanya Pa, harus rajin olahraga. Papa kerjaannya nonton televisi saja" ucap Reza
"Memang kamu suka olahraga juga? Bentar lagi perut kamu juga maju kaya kita" ucap Pak Danu
"Apalagi dimasakin Tasya setiap hari" tambahnya lagi
Pak Taufik tersenyum mendengar perdebatan anak bapak tersebut.
"Dia olahraga sekarang Pak Dan, masa lupa" Pak Taufik dan Pak Danu tertawa keras
Reza tahu obrolan orangtuanya mengarah kemana.
"Haha..boro-boro Yah, di pegang saja dia marah" ucap Reza jujur
"Kamu juga sih suka usil." sela Pak Danu
"Saya lihat mereka berdua setiap hari kayak tikus sama kucing Pak Taufik. Gak tahu kapan akurnya" ucap Pak Danu
Pak Taufik tertawa.
"Masa dia gak bisa luluhin hati Tasya. Coba di kasih tips and trick nya pak Taufik" ucap Pak Danu seraya tertawa
"Belum lah Za. Semua juga proses. Nanti akan indah pada waktunya" ucap pak Taufik sambil tertawa.
***
Rumah Pak Taufik
"Ah lelah sekali" keluh Pak Danu ketika mereka sampai di rumah Pak Taufik
Tasya keluar membawa minuman dan cemilan. Dia melihat Reza membuka topinya dengan wajah yang lelah dan berkeringat. Tasya teringat kembali akan obrolannya bersama ibu tadi.
"Sebentar lagi saja Bu. Kasihan Pak Danu kelelahan begitu" ucap Pak Taufik
"Iya nih bu, payah sekali saya." seraya tertawa
Tasya merasakan detak jantungnya lebih kencang ketika melihat Reza. Dia segera masuk ke dalam kamar. Dia menenangkan dirinya sendiri.
'Aku ini kenapa sih? Masa iya aku ada rasa sama A Reza?' batinnya
"Sya, ayo siapkan makanan. Malah diam dikamar" ajak ibu
"iya bu" Tasya membuntuti ibu
Tak lama ibu keluar memanggil para lelaki untuk makan bersama. Reza duduk di samping Tasya.
"Sya, ambil nasi untuk suamimu" perintah ibu
Tasya malu saat ibu memerintahnya di depan semua orang.
Dia mengambilkan Reza nasi liwet dan lauknya.
"Super mantap memang liwet buatan besanku ini. Habis capek, makan begini terasa lebih nikmat" ucap pak Danu memuji.
"Lain kali kita makan di kebun Pak, biar lebih nikmat" ajak Pak Taufik
"Harusnya tadi nih kayak begini" sambil menambahkan nasi ke dalam piringnya
"Papa ini gak tahu malu" ucap Reza sambil mengunyah
__ADS_1
"Kamu juga suka kan? Sudah gak usah jaga image segala disini. Rugi Za makanannya enak-enak" ucap Papa
"Pak Danu bisa saja. Ayo kamu juga nambah Za" ucap ibu
"Iya bu" jawabnya singkat.
Setelah makan, Tasya membantu ibunya mencuci piring seperti biasa. Sedangkan Reza mandi untuk menyegarkan badannya. Setelah selesai, Tasya masuk ke dalam kamar untuk membereskan pakaiannya yang telah diangkatnya dari jemuran. Reza masuk ke dalam kamar setelah selesai mandi.
"A, aku minggu depan mau sidang." ucap Tasya
"kok kamu baru bilang sekarang?"
"Maaf kemarin lupa A"
"Terus gimana? Kamu mau disini dulu biar fokus?" Reza memberi pilihan
"Aku bingung A. Nanti A Reza disana bagaimana? Siapa yang ngurus?" ucap Tasya polos
"Aku kan sudah biasa Sya, aku bisa ngurus diri sendiri. Ya sudah kamu disini dulu saja. Takutnya kamu juga masih harus bolak balik kampus buat persyaratan yang kurang kan, nanti repot kalau kamu disana." jelas Reza
"Aa gak apa-apa? Yakin?" tanya Tasya
"Iya sayang. Kamu fokus dulu disini ya. Cepat lulus dengan nilai yang bagus." ucap Reza
"Aamiin. Doakan aku ya A." Tasya meminta restunya
"Pasti dong Sya. Aku pulang besok ya Sya. Gak enak lama-lama ninggalin karyawan."
"Kok besok A?" tanya Tasya
"Kenapa? Kamu gak mau di tinggal Aa?" godanya
"Bukan begitu juga A. Aku pikir bisa libur lebih lama. Hehe" Tasya berdalih
Akhirnya Reza dan Tasya membicarakan keputusannya dengan dengan keluarganya. Dan keluarganya menyetujui keputusan mereka.
***
Keesokan paginya Reza dan Pak Danu bersiap untuk pulang.
'Kok aku sedih ya?' batin Tasya
"Sya, aku kerja dulu ya. Kamu jangan nakal. Pegang ini, buat jajan atau keperluan kamu." Reza menyodorkan kartu debitnya kepada Tasya
"Gak usah repot-repot a" Tasya menolaknya
"Kamu nolak pemberian suamimu?" Reza kesal
"Nggak A. Ya sudah nanti aku pakai kalau butuh ya. Makasih A. Doakan aku ya" Ucap Tasya
"Pasti dong Sayang. Sini peluk. Jangan nolak. Aku pasti kangen kamu Sya" ucap Reza kemudian mengecup lembut rambut Tasya.
Tasya melingkarkan tangannya di pinggang Reza. Setelah itu mereka keluar kamar.
"Bu, aku titip Tasya sebentar ya Bu" ucap Reza pada mertuanya
"Iya. Tenang saja Za. Kamu disana baik-baik ya" ibu menepuk pundak Reza.
Reza dan Pak Danu kemudian berpamitan. Tasya melihatnya lekat-lekat. Mata mereka beradu. Kemudian Reza menjalankan mobilnya keluar pagar rumah Tasya. Tiba-tiba saja Tasya merasa sangat sedih dan tidak bersemangat.
'A Reza... ' panggilnya dalam hati
__ADS_1
*** Hai Readers, bantu VOTE aku ya.. Jangan lupa jejak LIKE DAN KOMENTARNYA ya.. Terima kasih^^ ***