
"Rasya!" Ayah berteriak. Sementara Ibu menjerit dalam tangisnya. Suasana menjadi lebih tegang.
"Dari awal aku tak setuju Tasya di jodohkan dengan manusia lakn*t ini!" Rasya memuntahkan amarahnya. Dia mencengram kuat kemeja Reza yang mulai bangkit.
"Manusia sombong yang membuat adikku menderita!" Rasya melepaskan cengkaramannya kuat.
Reza hanya terdiam tak bicara. Dia menerima semua perlakuan yang Rasya berikan. Sementara yang lainnya hanya mematung menyaksikan kegilaan Rasya. Hanya ibu yang bersuara dengan tangisan.
"Ayah gak pernah tahu! Tengah malam Tasya terbangun hanya untuk membuat minumnya sendiri karena tak nyaman dengan kandungannya!" Ucap Rasya dengan gemetar. Amarah yang kian memuncak membuatnya ingin menangis. Terlintas bayangan adiknya di benaknya.
"Dan manusia ini! Tanpa peduli! Adikku menanggungnya sendirian!" Rasya menunjuk Reza dengan nafas menderu
"Persetan dengan cinta yang kalian ciptakan! Perasaan yang kalian tumbuhkan dengan paksa!"
"Hentikan A" ibu berteriak sambil terisak.
"Anakku.. Aku ingin melihat anakku" ibu menceracau hendak masuk ke dalam ruangan.
Ayah menahan Ibu masuk.
"Tidak sekarang Bu! Kasihan Tasya" ucap Pak Taufik dengan nada lemah.
Semua terdiam. Hanya suara isak tangis ibu yang terdengar.
Rasya menerobos masuk ke dalam ruangan. Dia berjalan gontai. Seorang gadis yang teramat dia cintai kini terbaring tak berdaya.
Air matanya jatuh satu persatu. Dia diam mematung melihat gadis kecilnya. Rasya duduk disampingnya. Dipegang erat jemari adik kecil kesayangannya.
"Neng.. Ayo pulang" ucapnya dengan air mata mengalir deras
"Neng, Aa sudah datang. Ayo kita pulang ke rumah" ajaknya lagi
Rasya menciumi tangan sang adik. Membenamkan wajahnya dalam genggaman tangan mereka. Lama dia terdiam. Sekuat tenaga menahan tangisnya agar tak terlihat lemah dimata sang adik.
"Aa.. "
"Apa?"
"A janji ya, aku lahiran Aa disini" ucap Tasya
"Iya."
"Kamu jangan banyak pikiran. Kasihan ponakan Aa" ucapnya
"Aku sebenarnya ingin pulang ke rumah, lahiran disana" Tasya mencurahkan keinginannya.
__ADS_1
Terlintas percakapannya dengan Tasya tempo lalu menari-nari dalam ingatannya.
Rasya menelan salivanya berat.
"Maaf, Aa tak menepati janji. Maaf Aa menahanmu disini. Kalau tahu begini.. " Rasya tak sanggup melanjutkan perkataannya.
Seketika dia melihat perut Tasya. Kini sudah tak ada lagi tonjolan dalam perutnya. Rasya berjalan cepat keluar ruangan. Semua melihat ke arahnya.
"Dimana dia?" tanya Rasya
"Apa kamu membunuhnya!" Rasya berteriak
Dua orang security menghampiri mereka.
"Tolong jangan membuat keributan disini" ucap salah satu security.
Ayah menarik lengan Rasya secara paksa. Ayah membawanya keluar untuk menenangkannya.
Reza kini berdiri, dia melangkahkan kakinya hendak masuk ke dalam ruangan.
"Biar Ibu yang masuk Za" pinta Ibu
Ibu bergegas masuk ke dalam ruangan setengah berlari mendekati anak kesayangannya.
Ibu membekap mulutnya sendiri. Sementara air matanya susah untuk dia kendalikan.
"Bangun anakku. Jangan begini" Ibu terisak kembali.
Ibu yang tak kuasa, segera keluar ruangan. Dia memegang dadanya terasa berat. Mengusap-ngusap dadanya tersebut seolah menguatkan hatinya sendiri.
Pak Danu tertunduk lesu, begitupun dengan Reza yang hanya terdiam tanpa bicara. Pikirannya meresapi perkataan Rasya tadi. Semua yang Rasya katakan terasa benar.
Reza mendekat ke arah pintu, dia berusaha masuk ke dalam ruangan Tasya dengan hati berkecambuk. Perlahan tapi pasti kini dia berada dihadapan wanitanya.
Wanita yang mengisi hari-harinya, yang dia jadikan alasan untuk bekerja lebih dari biasanya tanpa wanitanya minta.
Dia menggenggam erat tangan sang istri tercintanya.
'Bertahanlah sayang. Tolong beri aku kesempatan sekali lagi untuk membahagiakanmu, untuk menebus seluruh kesalahanku padamu. Tolong bertahan untuk anak kita yang membutuhkanmu. Begitupun juga aku' batinnya berbicara sementara mulutnya terkunci rapat dalam diam.
Ucapan Rasya tadi masih terngiang ditelinganya. Bagaimana tidak, Rasya mencurahkan isi hatinya yang sebenarnya tak ingin adiknya di jodohkan dengannya.
'Aku bertemu kamu sebelum kita tahu akan dijodohkan walaupun lewat kecelakaan itu. Bukankah itu takdir sayang? Allah mempertemukan kita dengan sengaja. Tak sekedar perjodohan semata. Bukankah begitu Sya?' batin Reza meyakinkan dirinya. Mencoba menepis semua tuduhan yang Rasya berikan kepadanya.
Reza terdiam dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Seluruh memory tentang Tasya dia ingat satu persatu.
__ADS_1
'Sayang bangunlah! Aku mohon bangunlah! Jangan begini! Jangan hukum Aa kayak begini! Mam.. '
Dia mencium tangan Tasya dengan lembut. Air matanya menetes di tangan sang istri. Tapi tak membuatnya bergerak sama sekali. Istrinya tetap mematung dengan mulut sedikit terbuka karena alat bantu pernafasan yang terpasang disana.
'Sayang.. Ayo bangun. Bukankah Mami penasaran dengan wajah anak kita? Dia mirip Papi, Mam. Dia ganteng. Dia menunggu Mami melihatnya. Ayo bangun Mam..' tak hentinya batinnya berteriak mengajaknya berbicara.
Diluar, Pak Danu mencoba mengajak Pak Taufik pulang ke rumahnya hanya sekedar untuk beristirahat.
Pak Taufik menyetujuinya. Mereka harus lebih sehat untuk bergantian menjaga Tasya. Tapi tidak dengan Rasya, lelaki itu enggan untuk pulang dan lebih memilih menjaga adik kesayangannya.
Pak Danu, Pak Taufik dan Ibu tak bisa memaksanya. Mereka meninggalkan Rasya dan Reza disana. Dua lelaki yang mencintai Tasya tanpa batas.
Seorang perawat masuk ke dalam ruangan Tasya, dia meminta Reza untuk keluar ruangan. Tak banyak bicara, Reza segera meninggalkan sang istri tercinta.
Reza melihat Rasya yang duduk disana. Mereka saling diam meski pandangan mereka beberapa kali beradu. Tak ada gurat kemarahan Rasya disana. Sekarang pikirannya dipenuhi oleh bayi Tasya yang dia belum temukan jawabannya.
Sementara Reza, tak perlu ditanya lagi. Hatinya sudah hancur berkeping-keping. Meski dia menyangkal semua tuduhan yang orang lain tuduhkan padanya, pada akhirnya dia sendiri yang mengutuk kesalahannya dan kebodohannya sendiri.
'Andai saja aku tak membawamu ke apartemen itu' batinnya bicara. Reza menjambak rambutnya sendiri sambil menundukan kepalanya. Sementara Rasya melihatnya dari ujung matanya.
Entah umpatan apalagi yang harus Rasya layangkan padanya. Yang jelas, Rasya bertekad untuk memisahkan mereka. Dia merasa Tasya sangat menderita bersama Reza.
'Kamu terlalu baik Neng, terlalu banyak kamu menutupi keburukannya.' batin Rasya bicara. Beberapa kali Reza berbicara ketus pada Tasya saat didepannya. Dulu dia merasa tak enak pada Reza, tapi sekarang?
'Dasar manusia angkuh!' umpatnya dalam hati. Rasa bencinya hadir kembali.
***
Reza terbangun saat seseorang menepuk pundaknya.
"Pulang dulu. Istirahatlah." suara ibu lembut ditelinganya. Tak ada amarah dari raut wajahnya.
"Nanti saja Bu" ucap Reza.
Tak lama Rasya datang dengan sisa-sisa air di anak rambutnya.
"Kalian makan dulu" ucap ibu
Rasya tak membantahnya. Dia mengambil makanan yang dibawakan ibu. Sementara Reza bangun untuk ke kamar mandi.
"Bu, tanyakan padanya dimana bayi Tasya" pinta Rasya pada ibunya
"Kenapa gak kamu tanyakan sendiri?" ibu balik bertanya.
Tak lama, Reza menghampiri mereka. Dan Rasya hanya mengunyah makanannya. Sementara ibu menyunggingkan senyumnya melihat kelakuan anak sulungnya.
__ADS_1
*** Readers, yang berharap Tasya segera pulih, yuk bantu Vote, like, dan komentarnya..
Jangan lupa follow juga instagramku @only.ambu yaa. Terima kasih ***