BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Pulang Ke Rumah


__ADS_3

"Ayo sayang, kita pulang saja" ajak Tasya pada Vano


"Jangan dong Mami, tunggu Vano saja dirumah. Nanti Vano juga pulang. Vano masih betah sama suster yang cantik-cantik disini" goda Reza membuat para perawat disana tersenyum


"Masih kecil sudah di ajarkan genit. Gimana sih Papi" ucap Tasya. Perawat kembali dibuatnya tersenyum.


Mereka saling berbincang sampai waktu kunjungan mereka habis. Dengan berat hati, Tasya harus meninggalkan sang putra tercinta dengan berderai air mata.


"Sudah jangan nangis. Berdoa saja supaya dia lekas naik berat badannya sayang" ucap Reza.


Mereka kembali ke kamarnya. Disana, Tasya makin tak bisa membendung air matanya. Ibu, Reza, dan Rasya bergantian menghiburnya. Mereka meninggalkan rumah sakit dengan rasa berat hati.


***


Setibanya di rumah, Tasya disambut oleh Bi Tinah dengan rasa haru. Bi Tinah menyaksikan langsung saat Tasya tak sadarkan diri dengan berlumuran darah membuatnya tak henti mengucap rasa syukurnya.


"Neng, istirahat dulu di kamar. Jangan terlalu lelah" ucap Bi Tinah


"Iya, sana Sya. Kamu kan belum lihat kamar baru kamu" ucap Ibu


Reza mengajaknya masuk ke dalam kamar. Tasya tampak senang melihat interior kamar mereka sesuai dengan keinginannya. Seketika wajah kembali murung.


"Vano.. " ucapnya saat melihat box bayi


"Sabar. Vano pasti lekas pulang sayang" ucap Reza.


"Sini yuk, rebahan dulu Mam" Reza menuntunnya kemudian dia ikut berbaring disamping Tasya.


Reza memeluk istrinya.


"Jangan ke perut, ngilu A" ucap Tasya


"Maaf. Papi lupa" ucapnya


"Mami hebat Mam" Reza memujinya


"Kenapa?"


"Sehari dua kali operasi. Mami lebih tangguh dari Papi." pujinya kembali


"Makanya, Papi mah Mami ngomel kayak gimana pun terima-terima saja. Perjuangan Mami lebih berat dari Papi."


"Memang aku ngomel terus?" Tasya ketus


"Enggak sih sayang" ucap Reza


'Gak salah Mam' batinnya


"Maksudnya kalau Mami ngomel atau ketus sama Papi. Gak seberapa dibanding perjuangan Mami buat kita." ucapnya kemudian


"Sudah lama sayang kita gak begini ya" Reza merapatkan tubuhnya


"Aku kangen Vano Pap" kini Tasya memeluknya


"Sabar. Nanti 24 jam Mami sama Vano." hibur Reza


"Mami cepat sembuh ya. Papi kangen Mami. Kangen canda tawa kita. Kangen semuanya" ucap Reza balas memeluknya


"Kangen ngomelnya aku? Kangen marahnya aku?" goda Tasya


"Jangan ditanya, itu mah tiap hari bikin Papi kenyang. Eh" Reza menutup mulutnya


"Ih menyebalkan Papi" Reza menyubitnya


"Kangen mesra-mesraan sama Mami" bisiknya


"Yang dipikirin Papi itu saja!" ucap Tasya


"Harus sayang. Pupuknya pernikahan biar makin kuat" Reza menyeringai


"Papi gak sabar menata hidup kita kembali dengan adanya Vano" ucap Reza


"Pap.."


"Hmm.."


"Maaf ya kita menghabiskan uang Papi" ucap Tasya


"Mami bilang apa? Papi gak suka. Papi kerja buat kalian." ucap Reza

__ADS_1


"Tabungan pasti habis" ucap Tasya


"Alhamdulillah masih banyak tumbuhnya sayang. Jangan mikir kesana." ucap Reza


"Alhamdulillah rezeki kita deras. Sudah jangan mikir kesitu. Sekarang Mami bantu Papi biar lekas sembuh. Oke?"


Reza mengecup perban istrinya


"Sekarang mau sun Mami takut" ucap Reza


"Kenapa?"


"Ini" Reza menunjuk perban yang membelit kepala Tasya


"Sun ini saja" Tasya mengecup pipi Reza


"Papi lebih seneng yang ini" menunjuk bibir istrinya kemudian mengecupnya lembut. Mereka berpagutan.


"Diamond bangun kan" ucap Reza


"Puasa. Sabar ya. Akunya takut A" ucap Tasya


"Papi tahu sayang"


Tasya mengelus lembut wajah suaminya.


"Gak nyangka kita jadi orangtua ya Pap" Tasya tersenyum


"Huum. Kayak mimpi ya sayang" ucap Reza


"Jadi istri Papi juga kayak mimpi" ucap Tasya


"Kenapa? Gak nyangka punya suami ganteng akut?" tanya Reza


"Dasar"


"Ya tiba-tiba saja nikah sama orang yang gak aku kenal. Baru ketemu langsung dilamar." ucap Tasya


"Aku dimana, Papi dimana. Eh ketemu juga"


"Tahu-tahu ada Vano diantara kita" ucap Tasya


"Takdir sayang. Semuanya sudah ada yang ngatur. Kita mah cuma harus menjalankan sebaik-baiknya peran" ucap Reza


"Bosan kalau Papinya menyebalkan"


"Kita sama-sama belajar sayang. Kita saling mengingatkan kalau ada salah" ucap Reza


"Ya iya. Kan aku itu pakaian Papi. Begitupun sebaliknya"


"Cie.. Mami dewasa" mereka tertawa


"Senangnya pacaran, sambil meluk begini."


"Mumpung gak ada Vano. Kalau ada si jagoan, pasti Mami lebih milih meluk dia" Reza bersungut


"Apa sih, sama anak sendiri juga iri"


Mereka terdiam, saling menyalurkan cintanya masing-masing.


"Love you Mami" Ucap Reza tiba-tiba


Tasya mendongak ke arahnya dan tersenyum.


"Papi jangan berubah lagi ya." ucap Tasya


"Papi gak berubah sayang. Maafkan Papi waktu itu sibuk sendiri ya" ucap Reza tulus


"Kita mulai dari awal lagi." ucap Reza


"Aku gak masalah Papi sibuk. Aku ngerti. Tapi kemarin aku merasa di buang disana"


"Jangan bilang begitu lagi Mam. Papi makin merasa bersalah" ucap Reza


"Pokoknya kalau nanti kita sudah stabil, Papi gak sesibuk sekarang" ucap Reza


"Iya. Semoga saja"


Tak lama keduanya tertidur.

__ADS_1


***


"Pap, bangun"


"Hmm.."


"Bangun yuk, Ibu ngajak kita makan" ucap Tasya


Reza meregangkan badannya. Dia segera ke kamar mandi sementara Tasya membetulkan tempat tidur.


"Papi nanti keluar sebentar ya" ucap Reza


"Kemana?"


"Mmm.. Lihat Vano" ucapnya


"Aku ikut


"Gak boleh. Istirahat saja."


Tasya cemberut.


"Sayang.."


"Iya aku mengerti. Gak perlu dilanjutkan ceramahnya. Ayo keluar" ajak Tasya


Mereka keluar ruangan.


"Nak, sudah mendingan?" tanya Pak Danu


"Alhamdulillah Pa, Papa maaf ya jadi sibuk bantu A Reza" ucap Tasya


"Kamu bicara apa. Papa bersyukur kamu cepat pulih. Semoga cucu Papa juga cepat pulang"


"Ayo, makan. Sudah lama kita gak kumpul begini." ucap Ibu


"Iya, ayah sama Vano gak ada Bu" Tasya menyela


"Nanti tiba waktunya kita bakal kumpul semua."


"Ayo makan ah, kamu makan yang banyak Neng" Rasya mengambilkan makan untuk Tasya


"A kebanyakan ini" Tasya protes


"Biar cepat sembuh"


"Gak mau. Nanti bukan sembuh tapi gemuk" Tasya menolak


"Gak apa-apa. Sudah jadi Mami-Mami ini. A Reza juga pasti terima-terima saja" ucap Rasya


"A jangan maksa begitu dong. Kamu mah rusuh terus sama adikmu" Ibu menengahi


Rasya tak berani membantah. Mereka menikmati makan bersama dengan kehangatan seperti sebelumnya.


***


"Papi tinggal sebentar jenguk Vano ya sayang. Kamu sama Ibu dulu" ucap Reza


"Iya. Hati-hati sayang" ucap Tasya


"Mau nitip apa?"


"Gak mau apa-apa Pap."


"Kiwi?"


"Enggak. Sudah sana. Kasihan Vano nungguin" Tasya mendorong tubuh suaminya


"Sun dulu" Reza memutar tubuhnya


Menyodorkan pipi kanannya u tuk dikecup Tasya


Cup.


"Yang ini iri"


Cup.


"Ini" Kini menunjuk bibirnya.

__ADS_1


Reza segera melum*tnya.


"Dasar mes*m" Tasya bersungut sementara Reza tersenyum puas.


__ADS_2