
"Hallo.." ucap Reza membuka percakapan
"Hallo Pak Reza, sedang apa? Saya mengganggu ya?" tanya seseorang di seberang sana
"Maaf ini dengan siapa?" tanya Reza tanpa basa basi
Tasya melirik ke arahnya, sorot matanya seolah bertanya 'Siapa?'. Reza mengangkat bahunya heran.
"Baru kemarin ketemu. Masa lupa sih" nadanya dibuat manja
"Oh, Ibu Karina?" tanya Reza tak pasti
"Karina saja Pak, jangan panggil Ibu. Saya kan masih single, cantik lagi" ucapnya
"Hehe.. Ibu bisa saja" ucap Reza
Tasya mendelik sebal. Reza segera menghentikan langkahnya, kemudian menggenggam tangan sang istri
"Mohon maaf, ada apa ya Bu?" Reza tak mau berbasa basi. Wanita dihadapannya sudah terlihat kesal.
"Tidak apa-apa. Saya hanya ingin mengobrol saja. Oya Bang Reza, kita jadi kan berangkat bareng ke nikahan Adit?" tanya Karina
'Bang Reza? Sok akrab sekali dia' batinnya mulai kesal
"Saya nanti berangkat bersama istri saya Bu." ucap Reza singkat
"Oh begitu. Baguslah saya ingin tahu secantik apa istri Bang Reza. Ya sudah kalau bagitu, kita ketemu disana ya.." ucapnya ketus
'Apa sih ni orang gak jelas!' batin Reza gusar
Tasya menatapnya seolah minta penjelasan.
"Sayang, besok lusa kamu beli gaun ya, rekan bisnisku menikah" ucapnya
"Yang barusan telepon menikah A?" Tasya lega
"Bukan. Tapi temannya yang lelaki, Adit. Yang kemarin ke kantor kita."
"Oh" Tasya kecewa sekaligus kesal
"Terus yang barusan telepon mau apa?" selidik Tasya
"Hmm.. Ngajak berangkat sama-sama" ucapnya pelan, dia sudah yakin istrinya akan marah
"Oh, ya sudah berangkat saja sana!" Ucapnya ketus
"Sayang, dengarkan dulu." mereka lanjut berjalan ke arah mobil
"Kamu harus ikut" ucap Reza
"Enggak" Tasya melotot. Mereka masuk ke dalam mobil.
"Sayang, kamu harus ikut. Biar Aa terlepas dari wanita-wanita genit itu" pinta Reza
"Memang kamu enak Sya cemburu terus? Aa juga gak enak kamu cemburu terus. Kasihan kamu sama anak kita kan. Pikirannya jadi terganggu."
"Makanya nanti kamu harus ikut ya, biar mereka tahu Aa sudah punya bidadari yang sangat cantik. Dan mereka sadar diri gak ganggu Aa" ucapnya
"Percaya diri sekali A, Aa dikejar-kejar wanita" ucapnya sebal
"Hehe.. Mohon maaf sayang, wajah ganteng Aa gak bisa di sembunyikan apalagi di kurang-kurangi" candanya
"Ih A Reza!" Tasya menyubit pinggang suaminya
"Aw.."
"Makanya nanti kamu harus temani Aa, nanti kita beli gaun sayang, biar auramu makin mempesona. Tapi gak sekarang. Hari ini kamu sama dedek sudah capek dari rumah sakit, belum barusan pilih-pilih buah." ucapnya
__ADS_1
"Aku gak lelah kok A" Tasya masih ingin jalan-jalan
"Sayang, istirahat saja. Aa takut kamu pingsan lagi Sya. Patuh ya? Besok lusa kita jalan lagi, ya? Aa janji." bujuknya
"Ya sudah. Iya"
"Pinter" seraya mengacak kerudung Tasya
'Lolos. Kali ini dia jinak' batin Reza
***
"Sayang lihat ini" Tasya menunjukan jarinya ke arah Reza yang lagi asyik dengan ponselnya. Tasya memaju mundurkan cincin nikahnya yang sudah terasa lebih sempit di jarinya.
Reza menghentikan aktifitasnya memperhatikan cincin yang melingkar dijari manis sang istri.
"Lepas saja. Nanti susah dibukanya sayang. Nanti jari kamu sakit" ucapnya saat melihat cincin tersebut
"Asyik dong, aku jadi gadis lagi" ucapnya riang
"Iya gadis hamil yang digunjingin tetangga gara-gara gak ada suaminya" Reza mendelik
"Haha.. Amit-amit.. Suami aku lagi kerja jadi TKI di Arab Saudi kakak. Kerjanya pukulin onta sampai jadi abon" canda Tasya
"Haha.. Dasar kamu ini" Reza tertawa ngakak
"Kakak kira suami kamu yang suka datang tak dijemput pulang tak di antar" ucapnya
"Jalangkung dong kak" mereka tertawa bersama.
"Amit-amit jabang bayi. Dek maafkan Mami sama Papi ya." ucapnya sambil mengelus perutnya yang datang
"Sini.. Sini.. Papi mau tium-tium biji kelengkeng Papi" ucapnya gemas
"Dasar.." Tasya membelai kepala sang suami
"Mam, masa masih harus puasa dua minggu lagi" wajahnya memelas
"Bukannya mengerang pada saat pelepasan?" goda Reza
"Dasar nakal!" Tasya tersenyum
"Nakal juga sama kamu. Boleh dong" ucapnya
"Kalau gak boleh bagaimana?" tanya Tasya
"Aa mau minta surat keterangan tidak mampu saja dari desa" ucapnya enteng
"Haha.. Ada-ada saja" Tasya senang
***
Keesokan harinya keduanya telah bersiap untuk berangkat ke kantor seperti biasa.
"Sayang gak usah ke kantor ya, Aa khawatir kamu kenapa-kenapa" ucap Reza
"Aku gak apa-apa A. Nanti kalau aku gak kuat tiduran saja seperti biasa di ruangan Aa ya" pinta Tasya
"Hhh.. Kamu ini" Reza pasrah
"Aa mau bebas dari aku ya? Biar aku gak ngawasin Aa. Gitu?" selidik Tasya
"Bukan begitu sayang. Aa takut hal kemarin terjadi lagi" ucapnya
"Ya sudah sana berangkat sendiri saja!" Tasya kesal
'Yah, salah lagi' batin Reza
__ADS_1
"Ayo sama kamu. Tapi janji ya, kalau gak kuat jangan maksain. Bilang sama Aa ya" pintanya
Tasya masih kesal
"Sayang, jangan marah dong. Aa kan hanya khawatir sama kamu. Gak ada maksud apa-apa. Masa Aa sudah bilang semuanya kamu masih gak percaya" Reza menjelaskan
"Bilang apa?"
"Aa mau kayak Papa" ucapnya
"O iya. Maaf. Habis Aa suka menyebalkan" Ucap Tasya
"hmm.. Iya Aa menyebalkan" Reza pasrah
"Tapi aku ingin dekat-dekat Aa terus" ucapnya jujur
Reza tersenyum mendengarnya.
"Dasar, ibu hamilku yang labil" Reza gemas mengapit kedua pipi Tasya
"Anak baru gede dong aku A" ucapnya riang
"Iya perutnya nanti yang gede" balas Reza
"Yuk berangkat" ajaknya
Setibanya di kantor, mereka disambut oleh Keenan dan Lala.
"Ibu, ibu gak apa-apa kan?" tanya Lala
"Gak apa-apa La, kemarin aku cek kandungan makanya gak ke kantor" ucap Tasya
"Terus bagaimana keponakanku Bu? Sehat kan dia" tanyanya lagi.
"Iya. Katanya dia masih sebesar kelengkeng La" Tasya cekikikan
"Masa kecil sekali bu? Bayi kan besar" Lala heran
"Ya masa langsung sebesar itu La. Sembilan bulan La prosesnya juga" terang Tasya
"Nikmatnya cuma sebentar ya bu" Lala menggoda
"Tapi berulang-ulang La" keduanya tertawa riang.
"iih ibu. Aku jadi ingin kaan" Lala cemberut
Tasya hanya tersenyum melihatnya.
Satu sorot mata menyunggingkan senyumnya. Rasa khawatirnya telah sirna setelah melihat orang yang di khawatirkannya pagi ini terasa riang.
***
"Sya, ayo makan" ajak Reza menghampirinya
"Aa, aku kok sedikit pusing ya" Keluhnya
"Ayo sini" Reza menarik tangan Tasya masuk ke ruangannya
"Sini rebahan dulu" ucapnya. Tasya menurut. Reza memijat kening istrinya. Yang di pijat memejamkan matanya, menikmati setiap pijatan sang suami.
"Enak A" ucapnya masih memejamkan mata
"Istrihat dulu kalau begitu, nanti setelah enakan kamu makan ya sayang" ucap sang suami
Tak lama kemudian Tasya tertidur. Reza menghentikan aktifitasnya.
"Kasihan sekali istriku" ucapnya seraya mengecup kening sang istri.
__ADS_1
*** Hallo Teman Readers, yang masih punya stok kue lebaran, enak nih Baca Bukan Siti Nurbaya sambil nyemil cantik ^^ tapi jangan lupa VOTE KOIN DAN POINNYA. Merosot lagi ni rangkingnya. Huhu..
Bantu LIKE DAN KOMENTARNYA juga ya teman Readers. Terima kasih ^^ ***