
"Apa ini?" gumamnya saat melihat flek cokelat di celananya.
Tasya mulai panik.
" Menstruasi? Atau apa ya?" segera dia keluar kamar mandi.
Perutnya makin lama makin terasa sakit. Dia berjalan melewati keluarga yang sedang asyik ngobrol.
"Sya?" sapa ibu, semua menoleh kepadanya.
"Kamu kenapa?" tanya ibu khawatir
"Hmm.. Gak apa-apa bu. Tasya istirahat ya" ucapnya
"Kamu sakit?" tanya Ayah
"Enggak yah" Tasya berbohong.
Reza memperhatikan Tasya.
'Kenapa dia ya? Tumben sekali' batinnya
"Kamu yang sabar ya Nak, perasaan ibu hamil memang begitu. Sebentar-sebentar kesal. Sebentar-sebentar senang. Kadang lebih sensitif, sampai nangis-nangis. Dulu sih ibu gak ngerti, tapi sekarang makin di bahas sama para ahlinya. Bahkan setelah melahirkan ada yang namanya baby blues segala. Jaman ibu dulu gak kenal istilah-istilah begitu" ibu mencoba memberi pengertian
"Iya bu, saya sudah merasakannya. Sensitif sekali" Reza bercerita
"Yah, kita sebagai lelaki harus banyak mengalah Za" ayah menepuk bahunya
"Untungnya kamu lebih dewasa. Jadi lebih bisa mengalah" ucap ibu
"Aku ke kamar dulu ya bu, Yah. Takutnya Tasya minta di olesi kayu putih. Sekarang sama kaya putih sudah seperti soulmate" ucap Reza sambil beranjak meninggalkan mertuanya.
"Sya? Kamu kenapa?" tanya Reza
Tasya tak menghiraukan pertanyaan Reza. Dia segera bangkit dan keluar dari kamar
"Sya?" sapa ibu yang melihatnya keluar.
Dia tak menghiraukan ibu. Reza menyusulnya keluar kamar.
"Kenapa Za?" tanya ibu bangkit dari duduknya.
"Tidak tahu bu" ucapnya sambil mendekat ke arah ibu
Ibu menyusul Tasya ke kamar mandi
"Sya? Kamu kenapa Neng?" tanya ibu cemas
"Bu, ibu.." Tasya menangis begitu keluar dari kamar mandi
"Kenapa?" ibu panik
Reza dan ayah menghampiri mereka.
"Sya? Ada apa?" ibu memeluknya. Tasya masih menangis
Dia memandang suaminya. Reza mendekat ke arahnya.
"Kamu kenapa Sya?" Reza kebingungan
"Ibu, ini Tasya kayak menstruasi bu" ucap Tasya
__ADS_1
"Astaghfirullah..gimana ini yah?" tanya ibu panik
"Ayo ke rumah sakit" ajak ayah
Mereka semua bersiap untuk ke rumah sakit.
"Sya? Kenapa kamu baru bilang?" tanya Reza panik
"ini baru keluar A. Dari tadi perutku mulas. Seperti di peras juga perutku." ucapnya. Dia sudah tak menangis
"Masih kuat jalan?" tanya Reza
Tasya menganggukan kepalanya. Kemudian mereka keluar dari kamar.
Pak Taufik mengemudikan mobilnya agar lebih cepat sampai ke rumah sakit karena Reza tidak tahu jalan ke rumah sakit yang di tuju.
Tasya duduk di belakang, dia bersandar ke ibunya.
"Ibu, Tasya takut bu" ucapnya sambil menitikan air mata
"Berdoa saja. Mudah-mudahan masih bisa di selamatkan" ucap ibu
Reza merasa bersalah. Dia ingat apa yang mereka lakukan kemarin. Dia duduk dengan gelisah.
Setibanya di rumah sakit, mereka langsung daftar ke poli kandungan.
"Maaf pendaftaran sudah di tutup Pak." ucap perawat
"Dokternya masih ada? Istri saya pendarahan" ucap Reza tanpa basa basi
"saya tanya ke ruangannya dulu ya Pak." ucap perawat
"Tolong ya" ucap Reza.
"Silahkan bapak ke sebelah sana kemudian belok kiri. Nanti di situ ada perawat yang jaga. Bilang saja mau ke Dokter Nando" perawat tersebut memberi penjelasan.
Mereka menuju ke poli kandungan dengan tergesa.
"Semakin banyak bergerak rasanya semakin banyak keluar bu" ucap Tasya
Ibu hanya terdiam seolah mengetahui sesuatu.
Begitu sampai disana. Tasya langsung masuk ke ruangan karena dia merupakan pasien terakhir dokter Nando.
"Silahkan duduk. Ada keluhan apa Bu?" tanya dokter tersebut
Ibu dan Tasya duduk sementara Reza berdiri di belakang mereka
"Saya sedang hamil sekitar enam minggu dok. Ini tiba-tiba saja saya keluar flek. Terus sekarang yang saya rasakan makin banyak keluarnya dok" ucap Tasya
"Langsung saja berbaring kalau begitu. Mari kita lihat dulu" ucap dokter.
Perawat dengan cekatan mengoleskan gel ke perut Tasya.
"Sejak kapan keluar fleknya?" tanya dokter
"Tadi dok, setelah sampai di rumah" ucapnya
"Anak saya tinggal di kota sebelah dok, dia baru ke sini tadi menjelang sore" ucap ibu Tasya
"O iya, Ini sudah luruh janinnya. Tapi plasenta masih belum keluar sepertinya. Jadi harus di kuret." ucap Dokter tersebut sambil menggerakan transducer.
__ADS_1
"Bagaimana? Silahkan diskusi terlebih dahulu" ucap dokter tersebut
Tasya keluar ruangan, dia langsung menangis. Ibu menenangkannya. Sementara Reza sangat terpukul dengan kejadian ini.
"Jadi ini bagaimana bu?" tanya Reza yang kebingungan
"Sudah di kuret saja. Biar bersih kembali rahimnya" ucap ibu sedih sambil mengelus pundak putrinya
Reza memberitahukan kepada perawat. Mereka kemudian masuk kembali ke ruangan dokter.
"Jadi bagaimana?" tanya dokter tanpa basa basi
"Sesuai prosedur saja dok. Kalau memang harus di kuret" ucap Reza
"Baik. Tapi ibu harus rawat inap ya. Puasa terlebih dahulu selama delapan jam" ucap dokter tersebut
"Baik dok" ucap Reza
Mereka keluar ruangan. Reza mengurus administrasi untuk istrinya.
"Ibu pulang saja bu, biar besok kesini lagi" pinta Reza
"Gak apa-apa, ibu temani saja" tolak ibu
"Biar saya saja yang menjaga Tasya bu. Saya gak mau kalau ibu juga sampai sakit" Reza bersikeras
"Ya sudah, nanti setelah Tasya dapat ruangan. Ibu pulang" ucap ibu
Tidak lama dari itu, seorang perawat mengantar mereka ke ruangannya.
"Ibu pulang ya nak. Nanti hubungi ibu saja apa yang mesti dibawa" pamit ibu
Reza mengantarkan mertuanya sampai ke depan pintu.
Setelah pintu di tutup, Reza dan Tasya saling memandang. Tak terasa air mata Tasya mengalir lagi. Reza berjalan gontai ke arah Tasya. Di peluk erat istri tercintanya itu. Mereka saling menguatkan satu sama lain.
"Maafkan Aa ya Sya. Aa bukan suami yang baik. Aa gak bisa jaga anak kita" ucap Reza lirih
Tasya sulit untuk bicara, semakin dia ingin bicara air matanya semakin sulit dia kendalikan.
Reza memeluk istrinya kembali. Dibelai rambutnya seraya mengucapkan maaf berkali-kali.
Setelah beberapa lama, tangis Tasya mereda. Dia mulai membuka suara.
"A Reza, maafkan aku. Aku.. Aku.. " Tasya kembali terisak
Reza terdiam. Dia tak bisa berkata-kata lagi. Reza kembali memeluk Tasya. Keduanya larut dalam kesedihan.
"Tidurlah. Kamu harus istirahat buat besok." ucap Reza
Tasya mencoba memejamkan matanya.
'Kenapa semua terjadi padaku? Kenapa aku tak bisa menjaga darah dagingku sendiri? Kenapa aku egois. Kalau aku tidak meminta pulang sama A Reza, mungkin semua ini tak akan terjadi " batin Tasya mengutuk dirinya sendiri.
Reza merebahkan badannya di sofabed. Matanya enggan terpejam. Dia masih shock dengan apa yang menimpanya.
'Secepat kilat Ya Allah, Kau memberi kami kebahagiaan dan kesedihan dalam waktu yang singkat' Reza masih tak percaya
Dia melihat ke arah Tasya kemudian dia bangkit.
"Sudah tidur dulu sayang. Besok kamu harus ada tenaga" ucap Reza membelai istrinya
__ADS_1
Lagi-lagi Tasya menitikan air matanya. Reza menghapus air mata Tasya dengan tangannya. Di tempelkan bibirnya ke kening istrinya sangat lama. Terdengar isak tangis dari istrinya.
"Sudah. Kita harus ikhlas sayang. Yang penting kamu selamat dan sehat. Nanti kita bisa ikhtiar lagi." ucap Reza menenangkan.