
"Ceria sekali Mami habis ketemu Lala" ucap Reza senang
"Setidaknya aku ada teman A. Sudah lama aku gak tertawa. Alhamdulillah ada Lala aku jadi ada hiburan" ucap Tasya
"Papi senang kalau Mami semangat begini"
Tasya tersenyum
"Mam, apa betul si Lala pacaran sama Keenan?" tanya Reza
"Iya. Aku gak menyangka" Tasya tersenyum lebar.
"Kok bisa?" tanya Reza
"Jangankan mereka yang saling kenal. Kita saja yang gak kenal bisa" ucap Tasya
"Hehe iya sih" Reza menggaruk tengkuknya
"Terus kalian cerita apa?" tanya Reza
"Ya gitu, kenapa mereka bisa begitu. Katanya pas Keenan kecelakaan"
"Kecelakaan?"
"Iya. Waktu itu si Lala ngeliat Keenan kecelakaan. Eh berlanjut kali" ucap Tasya
"Apa jangan-jangan waktu Papi bilang kayak si Lala di taman itu beneran?" tanya Reza
"Hmm.. Bisa jadi."
"Luluh juga si Keenan sama dia" ucap Reza
"Bagus lah. Setidaknya itu bocah sudah move on"
"Kenapa memangnya?" Tasya menggodanya
"Dulu kan dia terang-terangan suka sama Mami" Reza bersungut
"Istri siapa sih, sudah nikah masih ada yang suka. Eh, lagi hamil juga ada yang suka" ucap Tasya membanggakan diri
"Istri Papi dong. Hebat kan Papi bisa dapat istri kayak gitu"
"Bukannya cemburu malah bangga" Tasya heran
Reza tertawa senang.
"Bangga lah. Masa gak bangga punya istri dikagumi banyak orang" ucapnya
"Terus bahas apa lagi?" tanya Reza
'Bahas Papi, tapi masa iya aku cerita. Nanti kepala Papi gede lagi' batinnya
"Banyak. Aku ajak double date" Tasya tersenyum senang
"Ingat kita punya Vano sayang" ucap Reza
"Iya aku tahu. Lagipula kapan coba aku bisa keluar jalan-jalan. Kan enggak"
"Nanti ada saatnya."
"Iya gak tahu kapan. Babymoon saja enggak."
"Maaf.."
"Jangan banyak minta maaf A. Aku gak masalah. Sudah biasa kan" ucapnya seraya tersenyum
"Mam. Papi selalu gak enak kalau begitu."
"Kenapa? Aku saja biasa saja"
"Terima kasih Mam" ucapnya seraya mengecup lembut sang istri
Tasya beranjak ke atas kasur. Dia merebahkan tubuhnya.
Reza mengikutinya, dia berbaring disamping Tasya.
"Mami.. "
" Hmm.. "
" Ada yang Mami simpan dihati Mami gak?"
"Maksudnya?"
"Ya misalnya kesal sama Papi atau apapun"
__ADS_1
"Enggak. Tapi apa ya, kalau ingat di apartemen itu rasanya sakit hati saja sama Papi" ucap Tasya jujur
"Iya Papi ngerasa kok. Mami maafin Papi ya?"
"Iya"
"Tapi Mami jarang sekali manggil sayang ke Papi" protes Reza
"Papi manja sekali"
"Sama istri sendiri. Daripada sama orang lain"
"Naudzubillahi mindzalik. Gak tahu malu kalau begitu, sudah punya Vano juga" Tasya bersungut
"Becanda sayang. Masa lupa sama janji Papi"
"Iya sayang" Tasya mengecup lembut bibir suaminya
"Panggil lagi"
"Sayang"
Reza tersenyum puas.
***
Tasya terbangun saat tubuhnya terasa berat. Reza menjadinya guling dengan memeluk Tasya sesuka hati.
"Berat sekali sih" gumam Tasya.
Tasya menoleh ke arah suaminya. Kini hembusan nafasnya nampak terasa. Tasya menyusuri lekuk wajah Reza dengan tangan halusnya.
"Jangan dilepas Bu. Langka. Diluar sana banyak yang mendambakan Pak Reza. Termasuk aku dan si genit Rosa" Ucapan Lala kini menari dalam benaknya.
Tasya menyadari perlakuan Reza yang lembut kepadanya. Serta curahan kasih sayangnya begitu terasa membuatnya merasa terenyuh.
"Terima kasih suamiku" Tasya mengecup lembut kening datar suaminya. Dia memainkan bibir suaminya dengan telunjuknya membuat Reza menggerakkan kepalanya. Tasya tertawa sendiri, kemudian dia melakukannya kembali.
Hup!
Tangan Tasya kini digigit Reza dengan pelan. Membuat Tasya berontak kaget, sementara Reza tertawa pelan masih menutupkan matanya.
"Kaget tahu Pap" Tasya bersungut
"Mami juga lagian iseng sekali. Papi lagi tidur juga" ucapnya
"Sayang, orang-orang pada menggoda Papi karena kegantengan Papi. Dan Mami baru sadar kalau Papi ganteng? Sungguh ter la lu!" ucap Reza
Tasya tertawa saat Reza bicara ala raja dangdut.
Tasya mengecup bibir Reza bertubi-tubi.
"Love you Papi Elvano" ucap Tasya
Reza tersenyum sempurna.
"Tahu gak Pap, Papi senyum begini tuh, bikin nular"
"Papi kalau lihat Mami begini terus saja ya" ucap Reza seraya melebarkan bibirnya
"Dih itu mah orang gila Pap" Tasya tertawa
"Sayang, Papi berapa lama puasa?" tanya Reza
"Gak tahu Pap. Aku takut." ucap Tasya saat merasakan bekas caesarnya.
"Iya sih. Papi ngerti sayang"
"Ngerti tapi tanya terus"
Reza tersenyum
"Papi, aku kayaknya gak sempurna jadi ibu" Tasya mengubah posisinya
"Kenapa?"
"Aku gak sadar saat melahirkan. Aku juga gak mengasihi Vano" ucap Tasya sedih
"Gak apa-apa sayang. Papi mah gak masalah, anak kita mau minum susu formula atau dari Mami langsung. Yang penting buat Papi sekarang, Mami sama Vano sehat. Sudah. Papi gak minta macam-macam." ucap Reza
"Tapi kan kalau mengasihi kata orang rasanya beda." Tasya menyela
"Beda apanya? Apa kasih sayang Mami ke Vano berkurang gara-gara gak mengasihi?" tanya Reza
Tasya menggeleng.
__ADS_1
"Biarkan orang lain menjudge apapun. Mereka tidak tahu apa yang kita alami." ucap Reza
"Sudah Mam, hal begitu gak perlu jadi pikiran. Ingat Mami harus pulih" ucap Reza
"Iya."
"Papi gak apa-apa nanti Vano banyak menghabiskan uang Papi buat susu dan popok?" tanya Tasya ragu
"Astaghfirullah Mam.. Mami bicara apa. Kalau Papi perlu ngasih jantung Papi juga Papi kasih Mam" ucapnya
"Jantung Papi buat apa? Enakan jantung ayam Pap, digoreng cocolin sambel sama lalapan" Tasya menelan salivanya
"Mami mah. Masa disamain sama jantung ayam. Berkokok hati Papi, Mam"
Tasya tertawa
"Apa sih berkokok. Dasar Papi ayam."
Sesaat dia terdiam seoalng mengingat.
"Papi wedus" ralatnya
Reza terbahak.
"Dih Mami sapi"
"Enak saja. Maminya Elvano Satria Martadinata"
"Iya sayang"
"Maminya Vano, istrinya Reza"
"Duh, bangganya aku" ucap Tasya
"Harus lah. Istrinya Reza"
"Dasar!"
"Bangun yuk, aku lapar" ucap Tasya
"Ayo" Reza beranjak lebih dulu.
"Papi nanti jenguk Vano lagi?" tanya Tasya
"Iya sayang. Kasihan Vano kalau gak dijenguk" ucap Reza
"Harus lah. Anak sendiri" ucap Tasya
Mereka melangkah keluar ruangan untuk makan.
***
Seminggu Kemudian
"Sayang, cepat! Lagi apa sih Papi?" tanya Tasya
Reza keluar dari kamar mandi
"Mam, perut Papi melilit banget. Mules tapi gak mau keluar" ucap Reza meringis
"Papi makan apa kemarin sama Adit?" Tasya mengingatkan pertemuan Reza dengan rekannya
"Apa ya? Papi gak makan apa-apa perasaan" Reza mengingat
"Mau sekalian ke dokter?" tanya Tasya
"Enggak. Nanti Papi beli obat saja di Apotek." ucapnya
"Yuk Mam" ajak Reza menggandeng tangan istrinya.
Mereka keluar kamar. Hari ini jadwal Tasya check up setelah seminggu berada dirumah. Dia sangat senang karena akan bertemu dengan buah hati tercinta. Dengan perasaan riang, keduanya melaju ke rumah sakit.
Mereka segera menuju ke loket pendaftaran ketika tiba disana.
"Dokternya sedikit terlambat karena masih masih menangani pasien rawat inap. Bagaimana Pak?" tanya seorang perawat
"Ya mau bagaimana lagi? Saya tunggu saja" ucap Reza
Dia segera menghampiri istrinya yang sedang duduk menunggunya.
"Jadwalnya mundur sayang. Kita lihat Vano yuk?" ajak Reza
"Bukan jadwal berkunjung kan Pap?" tanya Tasya
"Tenang. Papi keluar sebentar ya?"
__ADS_1
"Mau kemana?"
Reza tak menjawabnya. Dia melenggang meninggalkan Tasya yang menatapnya menjauh.