
Hari berganti begitu cepatnya, kini tujuh bulan sudah usia kandungan Tasya. Perutnya semakin membesar, gerakan calon bayi mereka semakin lincah. Dokter Felly mengatakan bahwa berat janinnya sudah berbobot lebih dari satu kilogram. Hanya saja, jenis kelaminnya masih belum diketahui sehingga dokter tersebut berasumsi bahwa calon bayi mereka berjenis kelamin perempuan.
Reza dan Tasya tak pernah mempermasalahkan apapun jenis kelamin calon bayi mereka. Mereka hanya berharap kesehatan dan tumbuh kembang anaknya sesuai fase usia kandungannya berjalan normal.
"Ibu jadi kesini sayang?" tanya Reza disela-sela makan siang mereka.
"Katanya jadi Pap. Tapi masih belum ada kabar." ucap Tasya sambil mengunyah
"Jadi kamu mau beli perlengkapan Dedek sama ibu?" tanya Reza kemudian
"Huum. Bolehkan sayang?" tanya Reza
"Tentu saja. Nanti kita pergi saja sama-sama sekalian jalan-jalan" ucap Reza
"Mam, kamar kita mau dibenahi?" tanya Reza kembali
"Kenapa memangnya?" tanya Tasya
"Ya nanti kan ada Dedek sayang. Masa begitu saja?" ujar Reza
"Hmm.. Nanti saja kita pikirkan lagi"
"Kalau mau dibenahi dari sekarang mumpung masih banyak waktu Mam" Reza mengingatkan
"Hmm" Tasya masih asyik mengunyah.
Di trimester tiga ini membuat Tasya cepat lelah dan pegal. Kini dia menyerahkan seluruh pekerjaanya pada Lala meski dia setiap hari pergi ke kantor. Tasya bahkan menambah tiga orang karyawan baru untuk membantu pekerjaan mereka karena pesanan yang semakin meningkat.
***
"Mam"
"Hmm.. "
"Cek tabungan sayang, apa cukup untuk lahiran nanti?" tanya Reza pada Tasya
"Aku gak tahu berapa biaya lahiran" ucap Tasya
"Kenapa kita gak pakai fasilitas dari kantor saja Pap?" tanyanya kemudian
"Enggak. Biar tahu Papinya kerja keras" ucap Reza enteng
"Kan hemat. Lagipula itu juga hasil kerja keras Papi" Tasya mengingatkan
"Fasilitas kantor hanya kelas 1 Mam." pungkasnya
"Ya kan bisa kalau kita mau pindah kelas. Kita tinggal bayar kelebihannya. Hemat juga" ucap Tasya
"Tabungan kita bagaimana?" Reza mengalihkan pembicaraan
"Kalau menurutku cukup. Ini buat beli perlengkapan juga cukup. Lebihnya banyak malah" ucap Tasya
"Benahi kamar?" tanya Reza
"Harus?"
"Ya kan nanti ada tempat tidur bayi juga. Tetap saja harus dibenahi dari sekarang" ucap Reza bersikeras
Tasya nampak kurang setuju dengan keinginan Reza. Menurutnya hal itu terlalu boros.
"Pap, dikampungku lahiran tidak seheboh kita" ucap Tasya
"Ya terus? Papi hanya ingin yang terbaik buat kamu dan anak kita" ucapnya datar
"Iya aku tahu. Tapi kalau gak terlalu penting ya sayang juga. Mending ditabung kan" pinta Tasya
"Apa yang enggak penting?" tanya Reza
"Box bayi Pap. Kasur kita kan luas. Cukup buat bertiga apalagi dia nanti masih mungil" ucap Tasya
"Enggak Ah! Kamu gak kasihan sama dia. Nanti tidurnya gak nyaman ke ganggu sama kita?" tanya Reza
"Kok keganggu kita?"
"Kalau Papi kangen? Apa kamu mau ngasih goyangan disamping dia" ucap Reza yang membuat Tasya tersenyum malu
"Papi mah pikirannya kesana terus" ucap Tasya seraya menoyor pipi suaminya.
__ADS_1
'Iya juga ya. Aku gak berpikir sampai kesana' ucapnya dalam hati seraya tersenyum.
"Realistis sayang"
"Iya" Tasya tak banyak bicara
"Jadi?"
"Terserah Papi mau bagaimana" ucap Tasya
"Mami cari design kamar untuk kita. Mana yang disuka." ucap Reza
'Dasar keras kepala!' gerutu Tasya dalam hati.
Tasya kini berselonjor kaki di sofa, dia melihat-lihat design kamar untuk kamar mereka.
"Pap"
"Hmm.. " Reza tak berpaling dari pekerjaannya
"Yang ini bagus gak?" tanya Tasya
"Sini" pinta Reza
"Malas" bantah Tasya
"Hh.. " Reza beranjak.
"Mana?" tanyanya mendekat
"Hmm.. Lemari sebelah mana?"tanya Reza
"Gak tahu" ucapnya asal
"Kalo kamu cocok nanti Papi hubungi vendornya" ucap Reza
"Kamu tumben gak tidur" tanya Reza kemudian
"Aku gak ngantuk" pungkas Tasya
"Mau pulang?"
***
Tasya memakai daster setelah membasuh tubuhnya. Dia berdiri di depan cermin sambil mengusap perutnya.
Sementara Reza tidur sembarang sambil bermain game di ponselnya.
Reza memperhatikan istrinya. Diam-diam dia memotret istrinya dengan kamera ponselnya.
"Pap, aku gemuk banget gak?" ucap Tasya melihat Reza yang membuat Reza seketika gugup.
"Papi foto aku?" tanyanya kemudian mendekat
"Enggak. Percaya diri sekali Mami" ucapnya
"Kalau ngefans bilang. Jangan jadi paparazi" ucap Tasya
Reza hanya tertawa mendengarnya.
"Ibu katanya besok kesini. A Rasya juga datang A" ucap Tasya penuh semangat
"Rasya dirumah?" tanya Reza
"Iya. Katanya sebentar lagi beres" ucapnya
"Siap-siap Ayah pensiun" ucap Reza
"Gak mungkin dilepas sayang. A Rasya pasti kewalahan" ucap Tasya
"Ya iya. Sama kayak Papi saja sekarang. Pasti begitu" ucap Reza
"Yuk tidur" ajak Reza
***
Keesokan harinya, Tasya dan Reza sengaja tidak ke kantor karena Ibu akan datang. Tasya tengah sibuk di daput bersama Bi Tinah untuk menyiapkan makanan spesial.
__ADS_1
"Masak apa sih?" Tanya Reza
"Mau kemana?" Tasya tak menjawabnya. Dia balik bertanya
"Beli kue kesukaan ibu" ucap Reza dengan membawa helm ditangannya
"Ikut" rengek Tasya
"Di rumah saja. Cuma sebentar " pinta Reza seraya mengecup kening istrinya lalu pergi keluar rumah.
Setelah beberapa lama, suara mobil masuk. Tasya bergegas keluar.
"Ibu" pekik Tasya senang
"Hallo sayangku" Rasya menyambutnya
"Perutmu Neng? Kamu busung lapar?" ucap Rasya kemudian
"Aa!" Ibu memarahinya membuat Rasya seketika menutup mulutnya.
"Kamu sehat Nak?" sapa ibu seraya berpelukan
"Alhamdulillah Bu. Ayo masuk" ajak Tasya
"Sayangku kamu gak mau peluk?" tanya Rasya heran
"Enggak. Habis Aa menyebalkan!" ucapnya seraya berlalu meninggalkan Rasya sendirian
"Ayah sibuk terus. Padahal aku juga kangen ayah" ucap Tasya
"Nanti kalau sempat, ayah nyusul kesini" ucap Ibu
Mereka duduk di ruang televisi.
"Suami dan mertuamu mana?" tanya Ibu
"Papa tadi ke kantor gantiin A Reza. A Reza lagi beli kue kesukaan ibu" ucap Tasya
"Anak itu" ibu tersenyum senang
Tak lama Bi Tinah menghampiri dengan membawa nampan berisi minuman untuk ibu dan Rasya. Ibu dan Bi Tinah sedikit berbincang.
Suara derung motor masuk ke halaman rumah mereka. Rasya meloncat keluar menyambut Reza.
"Ibu, belikan A Rasya motor Bu. Kasihan dia sampai segitunya" ucap Tasya
"Enggak. Motor matic saja cukup. Bisa buat antar ibu ke pasar. Rasya pakai motor begitu, gimana bonceng ibu" ibu bersungut
Tasya tertawa mendengarnya.
"A Rasya juga gak mau lah bonceng ibu-ibu pakai motor begitu. Masa iya sih bu" ucap Tasya
Reza masuk dengan membawa plastik di tangannya.
"Baru sampai bu?" tanya Reza
"Iya. Kamu sehat?" tanya Ibu
"Alhamdulillah Bu"
"A Rasya mana?" tanya Tasya
"Biasa dia mah" Reza menyeringai
"Anak itu. Ampun.. " ibu menghela nafas kasar
Setelah beberapa lama, ponsel Tasya berbunyi.
"Assalamualaikum. Kenapa A" ucap Tasya saat mengetahui bahwa yang menelponnya Rasya
"A Reza suruh kesini Sya" ucap Rasya
"Kemana? Aa gak apa-apa kan?" tanya Tasya khawatir
"Dekat supermarket. Aa gak apa-apa. Ini motornya habis bensin. Aa gak bawa uang" ucap Rasya
"Haha.. Dorong saja sampai rumah" Tasya mematikan telepon masih dengan tawanya.
__ADS_1
*** Hallo Temans, seperti biasa bantu VOTE, like, komentarnya yaaa...
Kalau hari ini tembus like 500, aku up visual mereka deh. Yuk dibantu ^^ terima kasih ***