
"Abang, Abang mau punya rumah ada kolam renangnya?" tanya Reza saat perjalanan menuju sekolah Vano.
"Hmm.. Mau. Memang ada uangnya Pi?" tanya Vano
"Ya Papi nyari dulu" ucap Reza
"Memangnya Papi nyari dimana sih? Jauh?" tanyanya
"Di kantor. Kan Papi kerja cari uang, Bang"
"Kasihan Papi"
"Kasihan kenapa, Bang?" tanya Reza heran
"Kasihan Papi sampai cari-cari uang begitu. Memang banyak yang hilang uangnya, Pi?" tanyanya kemudian
"Kok hilang, Bang?" Reza tak faham
"Kata Papi, Papi nyari uang. Berarti banyak yang hilang uang Papi. Papi bagaimana sih?" ucapnya serius. Sementara Reza tersenyum geli mendengarnya
"Nyari itu biar dapat, Bang. Bukan hilang"
"Papi kalau ponselnya hilang suka di cari-cari kan?" tanya Vano
"Iya juga sih. Tapi bukan itu maksudnya"
"Aku gak ngerti deh sama Papi." Vano mendelik sebal
"Haha.. Ini Papi yang pinter atau kamu yang pinter sih?" Reza merasa heran sendiri.
"Sudahlah. Aku pusing bahas uang Papi" ucap Vano membuat Reza terbahak tak henti.
"Astaghfirullah.. Mami ngidamnya yang aneh sih, jadi gak heran keluarnya kamu kayak gini" ucap Reza
"Ngidam itu apa sih Papi?" tanyanya
"Kamu masih kecil, gak akan mengerti" ucap Reza
"Namaku Elvano, jangan panggil aku anak kecil. Paman"
"Tuaa.. Itu mah omongan film kartun kesukaan kamu. Dasar"
"Hehe.. Papi tahu saja."
"Papi, bukannya Papi sudah janji mau belikan aku mainan?" tanya Vano cerewet
"Tapi kan kita besok mau ke rumah Papa. Besok kamu minta yang banyak ya mainannya sama Papa. Mumpung Papa belum nikah."
"Memang kenapa kalau sudah nikah Pi?"
"Gak enak sama Mama baru kamu nanti."
"Kenapa gak enak?"
"Nanti dimarahin sama Mama barunya"
"Kalau dimarahin, nanti aku bilang sama Mami" ucapnya membuat Reza tersenyum.
Mereka tiba diparkiran sekolah.
"Elvanooo" teriak seorang gadis kecil
"Papi.." Elvano memegang tangan Papinya
"Kenapa? Itu temannya manggil tuh" ucap Reza
"Dia dekat-dekat aku terus Pi. Aku gak suka" ucapnya
"Bagus Nak. Pesona Papi menurun sama kamu" ucapnya bangga.
"Pesona apa Pi?"
"gak apa-apa. Yuk kesana. Tuh temannya nunggu kamu" ucap Reza
"Elvano, how are you today?" tanya Dira dengan genit.
"I am oke." ucapnya singkat
Reza tersenyum melihat mereka.
"Miss, nanti pulangnya Elvano dijemput Mbaknya ya Miss." ucap Reza
"Baik Daddy."
"Kalau begitu saya pamit Miss"
"Abang, jangan nakal ya. Papi kerja dulu."
"Bye Papi" ucapnya seraya melambaikan tangan
***
"Dit, atur jadwal untuk libur dua minggu ini ya. Iparku menikah." ucap Reza
"Siap Bos, laksanakan."
Reza sibuk di depan layar monitor. Tak berapa lama, dia menghubungi seorang perempuan. Reza nampak berbincang disana.
"Oke, jam tiga sore ya. Nanti aku kesana" ucap Reza
Setelah berapa lama, Adit datang menghampirinya kembali.
"Pak, Bapak ada jadwal yang gak bisa di cancel." ucap Adit.
"Hari apa?"
"Selasa, Rabu, Kamis di minggu depan. Tapi minggu depannya lagi, bisa bebas seminggu full" ucapnya
Reza terdiam sejenak.
"Oke kalau begitu. Thanks Dit" ucap Reza.
***
"Mami, sedang apa?" tanya Vano dan Daffa menghampirinya
"Mami sedang packing, Bang. Kita kan mau nginep dirumah Nin."
"Kok banyak sekali baju aku sama Daffa Mi?"
"Iya. Disana, kita lumayan lama" ucap Tasya
"Aku sekolahnya bagaimana Mami?"
"Libur dulu ya Bang. Maaf.
"Kenapa Mami minta maaf?"
"Karena Abang nanti gak sekolah dulu. Papa kan mau nikah."
"Papa yang nikah kenapa aku yang libur sekolah? Aneh sekali Mami"
"Karena kita nanti temani Papa, Bang"
"Papa sungguh merepotkan sudah tua juga" ucap Vano. Tasya hanya tersenyum, dia kewalahan kalau menanggapi Vano bicara.
"Eh Adek jangan Dek" cegah Vano pada Daffa yang mengacak baju dari dalam koper.
"Jangan ya Dek" Tasya mengambil baju dari tangan Daffa
"Adek sini deh, ikut Abang" ajak Vano pada Daffa.
"Mami aku bikin Adek keluar dulu ya, biar gak ganggu Mami. Mami pura-pura gak tahu ya" bisik Vano di telinga Tasya
"Sip Bang" ucap Tasya. Tasya merasa geli sendiri dengan ide anaknya.
"Yuk Dek ikut Abang." Vano keluar kamar mereka.
"Mbaaakk, Adek katanya ingin sama Mbak Ujii" teriak Vano
"Tuh Mbak Uji, cepet cari Dek" ucap Vano. Daffa yang polos menghampiri kamar Mbak Uji. Vano segera berlari meninggalkan Daffa. Tak lama, Daffa mulai menangis. Sementara Vano sidah didalam kamar dan mengunci pintu kamarnya.
"Aman Mami" ucapnya mengacungkan jempolnya.
"Hebat kan aku" ucapnya lagi.
Suara tangisan Daffa mendekat ke kamar mereka. Daffa menangis di balik pintu membuat Tasya menghentikan pekerjaannya.
"Bukan gitu caranya, Bang. Masa Adeknya di tinggalin" Tasya membuka pintu kamarnya.
"Biar Adek gak ganggu Mami" ucap Vano kesal usahanya digagalkan Tasya
"Iya, taoi gak baik Adiknya di tinggal begitu."
"Daffa mau apa?" Tasya menggendong putranya.
"Tutu Mii"
"Susu?"
"u'um"
__ADS_1
"Abang, tolong ambilkan susu Adek ya"
"Kenapa sih Abang terus, Abang terus yang disuruhnya Mi"
"Ya udah, Abang kalau gak ikhlas biar Mami yang ambil."
"Ya udah iya iya. Abang ikhlas, tapi belikan es Krim ya Mi" pinta Vano seraya menghentakan kakinya mengambil susu kotak untuk Daffa.
"Bukan ikhlas namanya itu" ucap Tasya
"Terus apa?"
"Pamrih"
"Oh." Vano menganggukan kepalanya
"Emang Abang Tahu apa itu pamrih?" tanya Tasya
"Enggak. Abang mah iya iya aja asal Mami senang" ucapnya
"Kata siapa itu Bang?"
"Papi" ucapnya singkat seraya meninggalkan Tasya dan Daffa.
Tak lama, Vano membawa susu untuk Daffa.
"Mii mana es krimnya Mi.. Aku kan mau es krim" ucapnya
"Kan ada di kulkas Bang"
"aku gak mau yang itu! Aku mau yang kayak di televisi Mami! Yang gambar kartun itu" Vano menghentakan kakinya
"Yang ada di kulkas saja Bang"
"Gak mau! Abang marah nih sama Mami!" kesalnya seraya merengek.
"Ada yang marah bilang-bilang?"
"Aku. Mami gak dengar aku marah apa!" masih dengan rengekannya
"Panggil Mbak Uji, biar Mbak Uji yang beli" pinta Tasya
"Kenapa sih Mbak Uji yang beli? Nanti salah lagi. Aku gak mau" rengek Vano
"Enggak salah. Sana panggil dulu Mbak Uji"
"Tapi aku ikut sama Mbak Uji ya?" pinta Vano
"Tunggu aja dirumah."
"Enggak!" kini Vano menangis
"Ya sudah. Sana panggil dulu Mbak Ujinya" titah Tasya lagi. Vano segera berlari ke kamar Mbak Uji.
***
Vano tengah asyik memakan es krimnya bersama Daffa di temani Mbak Uji, semetara Tasya meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda. Tasya sibuk mengecek barang-barang yang hendak dibawanya.
"Hallo Boys, apa yang kalian makan?" tanya Pak Danu yang baru tiba
"Opa gak bisa lihat, kita sedang makan apa?" ucap Vano
"Haha.. Memang kalian makan apa?"
"Astaghfirullah.. Aku lupa Opa sudah tua." ucapnya membuat Pak Danu terbahak
"Ini namanya es krim Opa."
"u'um" balas Daffa
"Kasihan Opa aku, sama es krim saja sampai lupa. Opa.. Opaa" Pak Danu tak hentinya terbahak hingga mengeluarkan air mata.
"Duh kakak tua buat Opa sakit perut"
"Opa kalau sakit perut cepetan ke kamar mandi. Jangan pup disini" ucapnya seraya menjilati es krim
"Haha.. Ya sudah Opa ke kamar dulu deh." ucap Pak Danu.
"Opaa?"
"kenapa Bang?" Pak Danu menghentikan langkahnya. Dia berbalik melihat cucunya.
"Jangan lupa di siram ya Opa" seketika Pak Danu terbahak kembali. Begitupun Mbak Uji.
"Kenapa sih ketawa Mbak? Ada yang lucu?" tanya Vano
"Enggak Bang" ucap Mbak Uji menahan tawanya.
***
"Iya Bang. Sudah siap-siap?" tanya Reza
"Tadi Mami sudah beresin baju-bajunya ke dalam koper Pi" Vano sangat antusias.
"Ya sudah, Papi mandi dulu ya, gerah nih" ucapnya
Reza masuk ke dalam kamar. Sementara Tasya kini sedang memasukan baju miliknya ke dalam koper.
"Mam" Reza menghampiri Tasya
"Mami jadi ajak Mbak Uji sama Mbak Diah?" tanya Reza
"Iya. Biar aku bisa fokus bantu Aa. Boleh kan?" tanya Tasya
"Iya sayang." Reza memeluk Tasya dari belakang
"Kotor ah Papi. Sana mandi dulu" ucap Tasya.
"Iya"
"Mau makan?" tanya Tasya
"Enggak. Tadi sudah makan diluar" ucapnya
"Oh, sama siapa?" tanya Tasya asal seraya melipat bajunya
"Sama Lidya"
"Hah?" Tasya melirik Reza
"Sama Adit, Mam." ralat Reza
"Perasaan tadi bukan Adit deh bilangnya"
"Iya sama klien juga Mami." ucapnya seraya masuk ke dalam kamar mandi.
***
Tasya menidurkan Daffa dalam dekapannya dikamar mereka.
"Pindahin Mam" pinta Reza melihat Daffa yang tengah terlelap.
"Kayaknya belum pulas Pap" ucap Tasya
"Udah. Sini Papi yang Pindahin" ucapnya seraya memangku Daffa.
"Lelah sekali" gumam Tasya
"Kenapa Mam?" pegal rasanya badan Pap.
"Sini Papi pijat" Reza mulai memijat kaki istrinya.
"Papi bisa cuti?" tanya Tasya
"Bisa sih tapi nanti Papi kerja dulu tiga hari"
"Papi anter Mami dulu kesana, Senin sore pulang kesini. Nanti Jumat kesana lagi ya?" Tasya hanya diam.
"Maaf Mam. Ada jadwal yang gak bisa d cancel" ucap Reza
"Sudah ku duga" gumam Tasya sedikit kecewa
"Asal hari H-nya ada disana" ucap Tasya datar.
"Pasti itu Mam"
"Kalau gak ngedadak, Papi bisa cancel Mam. Ini kan Rasya juga ngasih tahunya mendadak begitu" ucapnya
"Ya sudah jodohnya kali Pap"
"Kayak kita ya sayang"
"Bedalah"
"Kita dijodohkan. Aa mah pilihannya sendiri"
"Kamu menyesal Mam dijodohkan?" tanya Reza
"Untuk menyesal sudah terlambat kali Pap"
"Jadi beneran menyesal?"
__ADS_1
"Enggak juga. Tapi apa ya.." Tasya menjeda ucapannya
"Apa Papi merasa kita sedikit renggang? Maksudnya gimana ya, susah aku ungkapkan."
Reza menghentikan aktivitasnya.
"Karena apa?" tanya Reza
'Karena aku butuh Papi' ucapnya dalam hati
"Entahlah. Rasanya di hati itu kurang klik" jujur Tasya
"Kenapa sih Mam?"
"Papi bisa gak sih, sisihkan waktu untuk kita?" tanya Tasya
"Masalah kita itu-itu saja ya Mam?" tanya Reza
"Apa Mami masih belum mengerti kesibukan Papi"
"Mengerti. Cuma rasanya aku gak punya teman." ucap Tasya
"Papi sibuk sendiri, sementara aku disini juga butuh Papi. Bukan cuma mereka." keluh Tasya
"Papi tadinya mau kasih surprise. Cuma Maminya sudah begini"
"Apa?"
"Papi kerja tiga hari sebelum Rasya nikah. Terus setelah Rasya nikah, Papi libur seminggu." ucapnya
Tasya mengulas sedikit senyumnya.
"Seneng gak?" tanya Reza
"Enggak"
"Serius? Papi kerja lagi nih gak jadi cuti kalau gak seneng" ancam Reza
"Habis Papi bikin kesal!" ketus Tasya
"Duuh marah nih." goda Reza
Tasya membalikan tubuhnya.
"Sayang.." Reza merangkak ke samping Tasya
"Tidur, besok perjalanan."
"Mami, cantik"
"Sana tidur"
"Buat princess yuk?" ajaknya seraya memeluk dari belakang
"Besok perjalanan Mii" bujul Reza
"Sudah tahu. Makanya istirahat! Besok kan Papi bawa mobil"
"Sekali aja Mam." pinta Reza
"Besok udah disana susah deh Mam. Sekarang yuk" ajak Reza. Tangannya tak diam.
"Piii"
"Apa? Enak ya?" usil Reza saat tangannya bermain di dada Tasya
"Papii sudah!"
"Jangan berisik. Nanti anak-anak bangun Mam"
"Sini dong" pintanya kemudian. Tasya membalikan tubuhnya dengan sedikit malu.
Reza mengecup lembut istrinya.
"Aku masa subur, jangan didalam ya" pinta Tasya
"Iya sayang" ucap Reza asal, dia tak bisa menahan hasratnya.
"Love you Mami" Reza mulai melancarkan aksinya.
***
Tasya mengecek anak mereka setelah keluar dari kamar mandi. Sementara Reza memainkan ponselnya.
"Sana cuci dulu" titah Tasya
"Sekali lagi ya"
"Enggak ah" tolak Tasya
"Nolak dosa tahu" ancam Reza
"Gak mau. Nanti kalau jadi gimana?"
"Jadi apa?" Reza tersenyum
"Tadi sudah janji di luar, tahunya apa" gerutu Tasya
"Haha.. Maaf-maaf. Enak sih, jadi lupa"
"Sengaja Papi mah bukan lupa!" ketus Taysa
"Haha. Kita kan belum ada princess, sayang"
"Sana cuci dulu" pinta Tasya lagi
"Tanggung Mam."
"Gak mau. Sana cuci dulu enggak. Kalau gak mau, gak nambah."
"iya iya. Bawel banget Maminya Abang Adek" Reza beranjak ke kamar mandi.
***
"Mami lama banget deh Pap. Lagi apa sih?" tanya Vano yang menyembulkan kepalanya keluar mobil
"Enggak tahu. Sana lihat dulu" pinta Reza
"Males ah! Papi aja, lihat istrinya sedang apa"
"Heh! Istri Papi tuh Mami kamu!" ketus Reza
"Iya iya Maminya aku. Ah Papi nyuruh-nyuruh aku terus bisanya!" ketus Vano
Dia keluar dari mobil sementara Reza asyik memainkan ponselnya.
"Mamiiiiii lagi apa sih? Lama banget"
"Bentar Bang. Mami mual" ucap Tasya. Vano berlari ke arah Reza
"Mami mual katanya Pap"
"Baru juga semalam. Masa sudah tokcer" gumam Reza
"Semalam apa Pap?"
"Gak apa-apa" Reza keluar dari mobilnya.
"Kenapa Mam?" tanya Reza
"Mual banget."
"Mau di batalin? Nanti saja jalannya?" tanya Reza
"Enggak. Ayo jalan. Beli obat maag saja Pap" pinta Tasya
"Ya sudah. Ayo" ajaknya.
Vano sangat antusias saat mobil mulai melaju. Tak berapa lama, Reza menepikan mobilnya di depan sebuah apotek.
"Pii ikut" pinta Vano
"Cuma ke apotek. Tunggu saja"
"Papi aku mau vitamin yang kenyal-kenyal itu" pinta Vano kemudian
"Iya. Tapi tunggu disini" titah Reza
Tak berapa lama, Reza keluar dari apotek membawa plastik kecil berisi obat-obatan.
"Yang ini bagus kata apotekernya, Mam" ucap Reza sambil memberikan obat pada Tasya.
"Obat Maag mengandung obat tidur gak sih Pap?" Tasya melihat-lihat bungkus obat tersebut.
"Kalau tidur suruh bangun saja obatnya Mami" celetuk Vano membuat semua tertawa.
.
.
.
__ADS_1
Temaaannss terima kasih untuk dukangannya ya. Jangan bosan-bosan memijit simbol like dan beri komentar. Jangan lupa vote juga yaaaa. Terima kasih^^