BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Tiga Jagoan Mami (Part 2)


__ADS_3

"Mami mie hot plate aja?" Vano duduk disamping sang Mami saat mereka tiba di food court.


"Iya. Eh pangsit goreng juga ya. Tapi jangan disana, yang di bakmi sebelahnya itu loh Bang." pinta Tasya pada sang anak.


"Aku juga mau hot plate, Bang." Daffa menimpali


Tasya menatap suaminya. "Papi mau pesan apa?"


"Apa ya? Bakmi saja deh."


"Tumben Pi?" Tanya Tasya. "Biasanya gak pernah mau."


"Habis bingung. Papi lagi malas makan nasi juga."


"Sushi mau gak?" tanya Tasya sambil menaruh tasnya di meja.


"Mami mau?" Reza balik bertanya.


"Pesan aja Mi. Makan rame-rame." timpal Vano.


"Ya udah. Sana pesen." Titah Reza


"Kamu lah, Dek. Sana." Vano menyuruh adiknya


"Eh minumnya?"


"Mami, Papi air mineral aja." pinta Tasya


"Papi mau jus mangga juga, Dek." pinta Reza


"Duitnya mana Pi?"


"Kali-kali Papi Mami di traktir sama kalian kek." ucap Reza seraya mengeluarkan dompet miliknya kemudian memberikan uang pada sang anak.


"Nih, Adek yang traktir Pi." Ucap Daffa setelah menerima udang dari Reza. Daffa menyusul Vano yang berjalan lebih dulu meninggalkan mereka.


Reza dan Tasya menunggu berdua. "Pacaran lagi kita, sayang." Reza memegang tangan istrinya.


"Gak kerasa ya Pi, tahu-tahu anak kita udah SMA."


"Moga deh segera nimang cucu."


"Kok cucu sih? Papi mau Vano nikah muda?"


"Gimana ada jodohnya aja Mi. Lagipula kalau nimang cucu sekarang-sekarang, kita ngurusnya masih kuat Mi."


"Maaf ya Pi, kita gak bisa nambah lagi" kini tangan Tasya menumpuk ditangan suaminya.


"Gak apa-apa sayang. Papi juga gak tega Mami bolak balik di kuret." ucap Reza.


Pasca jatuh di kamar mandi, lima bulan setelahnya, Tasya sempat hamil kembali. Sayangnya dokter memvonis kehamilan anak ke limanya merupakan kehamilan kosong atau biasa disebut dengan blighted ovum.


Saat itu Tasya merasakan nyeri yang sangat hebat membuat Reza begitu panik dan ketakutan. Dari sana, Reza berhenti merengek untuk mempunyai anak lagi seolah tersadarkan bahwa nyawa Tasya yang jadi taruhannya.


"Kenapa sih Pi gak mau adopsi?"


"Gak mau aja, Mi. Lagipula kita punya Arumi."


"Yee.. Beda kali, Pi. Arumi kan anak A Rasya."


"Ya, Rasya aja anggap anak kita, anak mereka, Mi. Kita juga sama lah."


"Iya sih, cuma ya tetep jarang ketemu."


"Enak kayaknya Mi, kita jadi Oma Opa Muda" ucap Reza setaya tertawa.


"Mami gak setuju ah, nanti orang kira anak kita melakukan hal yang aneh-aneh lagi. Lagi pula Mami gak mau merenggut masa muda anak-anak kita. Biarkan mereka bebas dulu Pi. Mami gak mau anak-anak kita ngalamin hal yang sama kayak kita Pi."


"Emang kita gimana, Mi?"


"Kita dijodohkan. Masa lupa?"


"Terus kenapa kalau di jodohkan? Kita saja langgeng."


"Ya karena usia kita terpaut jauh. Papi kan udah matang ibaratnya. Kalau Vano di jodohkan sekarang-sekarang? Papi tahu sendiri kan bagaimana anak jaman sekarang."


"Siapa yang mau dijodohin Mi?" Vano dan Daffa mendekat dengan membawa nampan berisi mie hot plate. Dia meletakan dengan hati-hati.


"Kamu Bang" Reza menatapnya. Nampak wajah Vano terlihat sedikit kaget.


"Hari gini Pi" ucap Vano seraya duduk di samping Maminya.


"Kamu mau gak? Kalau misalkan Papi jodohin?"


"hmm.. Asal dibelikan mobil sport yang keluaran baru itu aja Pi, plus rumah dan isinya, tabungan juga, hmm apa lagi ya?"


"Matre banget itu mah Bang" celetuk Tasya membuat Vano tertawa.


"Kalau beneran Papi penuhi semua. Gimana?"


"Papi apa sih ah! Ngaco deh!" Tasya sedikit khawatir dengan ide gila suaminya.


"Nikah itu sekali seumur hidup. Bukan buat mainan."


"Ya iya Mi, Papi juga tahu itu mah. Ya kali anaknya minat."


"Enggak. Pokoknya Mami gak mau. Abang nikah sesuai umurnya lah. Belum juga genap 18 tahun sekarang." pembahasan pun terhenti setelah makanan milik Reza tiba.


Tasya menjadi kesal pada suaminya atas pembahasan tersebut.


Mereka kini tengah berjalan mengitari Mall sebelum belanja kebutuhan pokoknya.


"Mi.. Sepatu Mi.. " Daffa memeluk lengan Tasya.


" Tadi sebelum berangkat udah janji ya."


"Sepatu basket Adek udah mau rusak, Mi.." Daffa masih merengek.


"Lihat-lihat dulu aja Mi. Cuma kasih tanda saja. Nanti kalau tabungan Adek udah ngumpul baru beli. Yuk Mi."


"Emang Adek nabung?"


"Baru dua ratus ribu, Mi."


"Mami kira udah banyak. Makanya jangan boros kenapa sih Dek?"


"Buah jatuh gak jauh dari pohonnya Mi" ucap Daffa melirik Reza yang berjalan di depan mereka bersama Vano.


"Bisa aja kalau ngeles!"


"Mi.. Ayo dong Mi"


Tasya akhirnya menyerah. Kini dia hanya menyaksikan ke tiga lelakinya yang sedang mencoba sepatu.


"Papi beli ini ya Mi?"

__ADS_1


"Gak ada anggaran kesana, Pi."


"Mi.." Vano mendekat "Keren gak?"


"Yang ini cocok di Adek gak Mi?" Daffa ikut mendekat.


Pelayan toko nampak tersenyum menyaksikan ketiganya.


"Mi, cantik deh. Ayo dong Mi" rayu Reza


"Mami ya Allah. Ibu sholehahnya Abang" Vano tak mau kalah.


"Syurganya Adek pasti mau beliin Adek sepatu."


"Yang tadi bilang cuma lihat-lihat saja siapa?"


"Adek Mi" seru Reza dan Vano


Daffa yang terpojok sedikit terperanjat. "Adek disuruh Papi sama Abang tahu Mi"


"Mi.. Beli ya Mi.. Malu tuh sama Mbaknya Mi." Vano mendekat ke telinga Maminya. "Emang Mami mau di cap pelit sama si Mbaknya?" Vano tersenyum menatap Tasya


"Biarin aja."


"Atulah Mi" Rengek Vano.


"Mi.. Adek buat kebutuhan sekolah Mi.. Bukan main-main" Daffa memelas.


Ketiganya masih mengelilingi Tasya penuh harap.


"Hhh.. Ya sudah. Jatah kalian Mami potong ya.."


"Mii.." Seru Daffa dan Vano membuat beberapa orang melirik ke arah mereka


"Papi enggak ya Mi? Kan Papi yang nyari duitnya."


"Tanpa terkecuali. Ketiganya di potong." Reza menyebikan bibirnya


"Gimana?" Tasya tersenyum menatap mereka.


Mereka saling lirik dengan wajah lemas. "Ya udah" ucap Vano.


"Mbaak, yang ini aja." pinta Vano pada pelayan.


Daffa dan Reza ikut memberikan barangnya pada pelayan tersebut.


"Saya ambil notanya dulu ya." pelayan tersebut menerima sepatu dari ketiga pria dihadapannya.


Tasya kini berjalan sendiri ke tempat sepatu wanita. Dia mencoba sepatu olahraga disana.


"Cocok Mi. Buat jalan pagi Mi" Daffa mengacungkan jempol.


"Pi.. Pi.. Keren kan?" Daffa menunjukan sepatu yang di coba Maminya


"Keren banget. Mau Mi?"


"Ayo dong kita jalan pagi bareng atau sepedahan bareng Mi" ajak Vano


"Bagus gak sih?"


"Bagus Mi" kompak ketiganya.


"Sikat Mi" Vano mengompori Ibunya.


"Emangnya WC, Bang" gerutu Tasya


"Iya Mi. Kata Mami kita harus kompak." timpal Daffa


Tasya membolak balik sepatu tersebut. "Ringan sih, enak dipakainya."


" Jadi?" Daffa menatap Maminya


"Ya udah, sana kasih sama Mbaknya"


"Yeee..." ketiganya bersorak.


"Astaghfirullah.. Bikin malu."


Kini mereka menjadi pusat perhatian pengunjung dan pelayan yang lain.


"Uang jajan gak jadi di potong" Daffa bertos ria dengan Vano.


"Pinter ya kalian. Sengaja banget" gerutu Tasya.


Daffa dan Vano membawa plastik berisi sepatu mereka. Kini mereka berjalan menuju swalayan untuk membeli kebutuhan pokok.


Reza menggandeng tangan istrinya berjalan mengitari rak, diikuti oleh dua bodyguard mereka yang masing-masing membawa troley.


Daffa dan Vano dengan bebas mengambil makanan ringan kesukaan mereka. Hingga tak terasa troley mereka penuh dengan semua kebutuhan mereka.


"Abang banyak banget ambil cokelatnya, Bang?"


"Enak sih Mi. Mami juga suka makan cokelat Abang"


"Iya sih, tapi berlebihan deh Bang."


"Enggak Mi. Tuh si Adek suka ngambil juga. Papi juga"


Tasya melirik suaminya. "Kalau iseng doang Mi" Reza membela diri.


"Taruh sebagian Bang. Jangan serakah." titah Tasya.


Vano dengan malas membawa sebagian cokelat yang diambilnya menuju tempat semula.


Brukkk


"Aw.. " pekik seorang wanita saat tubuhnya bertabrakan dengan Vano.


Cokelat yang dipegangnya berhamburan kemana-mana.


"Maaf Kak."


"Maaf aku juga gak lihat." ucap Vano


"Kak Elvan?"


"Ya? Kenal aku?" tanya Vano saat nama panggilan disebut. Disekolah dia lebih sering sipanggil Elvan dan hanya teman dekatnya saja yang memanggilnya Vano.


"Kak Elvan sedang apa?"


"Biasa. Malam mingguan."


"Oh. Sama siapa Kak?" tanyanya antusias. Terlihat jelas wanita dihadapannya mengagumi Vano.


"Bang, Mami minta seaweed" Daffa mendekat.

__ADS_1


"Daffa"


"Oh, kamu ngapain Cal?" tanya Daffa


"Ini loh Bang, Calista yang titip salam." ceplos Daffa.


"Daffa.." Calista sangat malu


"Haha.. Oh kamu. Wa'alaikumussalaam Calistaa. Aku duluan ya." Vano pergi meninggalkan Calista membawa cokelat tersebut.


"Bang. Seaweed Bang"


"Kamu ambil sendiri." Vano terus melangkah meninggalkan Daffa dan Calista.


'Gengsi banget taruh cokelat ini lagi ke tempatnya. Nanti dikira gak ada duit lagi' batin Vano


"Astaghfirullah Bang. Mami bilang taruh kan? Kok dibawa lagi?"


"Emm..gak tahu tempat cokelatnya Mi. Abang lupa. Masa mau di taruh dimana saja." Vano memberi alasan.


"Alasan. Cepet Mami anter."


"Tapi Mi.. "


" Gak mau Mami ya beliin cokelat sebanyak itu!" dengan malas Vano diantar Tasya untuk menaruh kembali cokelat tersebut.


"Adek?" Tasya memanggi Daffa yang sedang asyik mengobrol.


Calista memutar tubuhnya. "Kakak kamu, Daff?" Calista melihat Vano dan Tasya bergantian.


"Temannya Daffa?"


"Iya kak" Daffa dan Vano menahan senyumnya.


"Oh. Saya Maminya Daffa" Tasya tersenyum


"Eh? Tante.. Maaf.. Tante muda sekali. Aku pikir kakaknya Daffa" ucap Calista seraya menyalami Tasya.


"aku Calista tante. Maaf tante yaa"


"Oh, hai Calista." Tasya mengingat-ngingat nama tersebut. Dia tersenyum saat ingat obrolan mereka kemarin. 'Panjang umur anak ini' batin Tasya


"Gak apa-apa, seneng malah di kira kakaknya" Tasya tertawa.


"Abang, ayo taruh lagi" titah Tasya


Dengan malu, Vano menaruh kembali cokelat yang diambilnya tepat di depan Calista.


Daffa menahan tawanya saat melihat raut wajah sang Kakak yang nampak malu tersebut. Vano yang kesal segera berlalu meninggalkan mereka tanpa permisi.


"Harga diri Abang diruntuhin Mami sendiri!" gerutu Vano saat Tasya kembali.


"Ya maaf Bang, Mami kira gak ada gadis itu"


"Apa sih Mi?" Reza penasaran karena anaknya cemberut.


Tasya menceritakan kejadian tadi membuat Reza tersenyum.


Calista memandang keluarga mereka dari jarak jauh. 'Sumpah keluarga idaman banget.' gumam Calista saat melihat Tasya dirangkul Daffa.


"Papi sama anak-anak bawa belanjaan saja, Mami beli kue balok di depan ya Pi"


"Bang, masukin mobil aja nih sama Adek. Papi anter Mami dulu." titahnya seraya memberikan kunci mobil.


"Mami sendiri aja Pi"


"Sudah tahu ngebrang begitu! Udah Mami sama anak-anak aja tunggu di mobil biar Papi yang beli."


"Enggak ah, yuk jalan" ajak Tasya pada Reza. Reza menggandeng istrinya dengan mesra. Dia begitu melindungi istrinya saat menyebrang.


Tasya melepas pegangan suaminya. Dia membuka tasnya seraya berjalan hendak mengambil dompet untuk membeli kue balok tersebut. Tiba-tiba sebuah sepeda motor mendekat kemudian menjambret tas miliknya.


Tasya ikut terseret seolah berlari karena memegang tasnya hingga akhirnya tas tersebut terlepas dan dia terjatuh tersungkur. Reza dan beberapa orang yang melihatnya segera berlari membantu Tasya. Sementara beberapa sepeda motor mengejar jambret tersebut.


"Mi.. Mi.." Reza nampak panik melihat sang istri.


"Gak apa-apa Mi?" Reza memyelidik tubuh istrinya. Beberapa luka memar nampak terlihat di tangannya.


"Kasih minum Pak." ucap salah seorang yang mengerubuni mereka saat melihat Tasya dengan wajah pucat dan gemetar.


Reza mengajak istrinya duduk di pinggir trotoar kemudian menerima air mineral untuk Tasya.


Reza segera menghubungi anaknya agar membawa mobil mereka. Tak butuh waktu lama keduanya tiba. Daffa dan Vano segera keluar mobil saat melihat Reza dan orang-orang yang masih berkerumun.


"Kenapa Mi?" Daffa dan Vano nampak kaget melihat Maminya duduk lemas disana.


Reza menceritakan kronologi mereka. Saat bercerita, beberapa ojek online datang membawa tas milik Tasya beserta dua penjambret yang dikawal oleh beberapa ojek online tersebut.


Tanpa basa basi Vano, Daffa dan Reza menghajar keduanya diikuti oleh orang-orang yang berkerumun. Tasya nampak histeris melihat anak dan suaminya yang menghajar kedua pelaku jambret tersebut.


Wajah jambret tersebut kini penuh lebab dan mengekuarkan darah di beberapa titik wajahnya.


Reza segera memeluk istrinya dan menghentikan aksi mereka. Reza meminta saksi menggiringnya ke kantor polisi diikuti oleh mereka yang akan melaporkan perkara tersebut.


Satu jam sudah Tasya di mintai keterangan bersama Reza. Reza yang notabene orang terpandang, nampak dikenal oleh beberapa polisi tersebut sehingga mempercepat proses laporan mereka.


Kini Tasya duduk di kursi belakang bersama Reza. Dia menyandarkan tubuhnya pada Reza yang memeluknya erat. Sesekali Vano yang sedang menyetir melirik Tasya dari balik kaca spion. Begitupun dengan Daffa yang nampak gelisah. Tasya tak bicara sama sekali membuat ketiga lelakinya merasa khawatir.


"It's oke Mami. Semua sudah beres. Jangan takut" Berulang kali Reza mengatakan hal yang sama pada Tasya seraya mengecup keningnya. Tasya yang syok hanya terdiam dengan wajah yang masih terlihat pucat.


Tiba dirumah, ketiga jagoannya menghibur Tasya namun Tasya masih belum bisa diajak becanda oleh mereka.


"Udah kalian tidur aja. Papi mau gantiin baju Mami dulu."


"Sama Abang aja Pi"


"enak aja! Sana keluar kalian." titah Reza


"Mi..jangan takut. Ada Abang, Adek, sama Papi yang jagain Mami." Vano memeluk Maminya begitupun dengan Daffa.


"Pi, kita tidur disini saja ya? Biar Mami gak ketakutan." pinta Daffa


"Ya udah, setelah Papi ganti baju Mami ya" Reza menyetujui usul anaknya.


"Pi.. " Tasya membuka suara saat mereka berdua.


" Kenapa sayang? Ada yang sakit?"


"Mami ingat semuanya.. " Cetusnya


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih buat dukungan teman BSN. Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan vote yang banyak. Terima kasih ^^


__ADS_2