BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Melawan Trauma


__ADS_3

"Mami inget apa?" tanya Reza penasaran.


Tasya menutup matanya. "Pas tadi jatuh berasa banget waktu kecelakaan itu, Pi" Tasya mengatur nafasnya. "Astaghfirullah.. Takut banget. Rasanya baru ngedip Mami sudah dihantam sama motor itu." Tasya memejamkan matanya sambil menghela nafasnya.


Reza langsung mendekat, dia memeluknya erat memberi kenyamanan pada Tasya. "Alhamdulillah, Mami sama Abang sama-sama hebat. Kalian sehat dan selamat sampai detik ini." Reza memotong memori Tasya.


"Mami takut Pi. Takut banget." Tasya memeluk Reza erat.


"Udah lewat sayang. Udah jangan diingat-ingat lagi. Pokoknya jangan dibahas lagi."


"Gimana gak inget Pi, tiba-tiba saja terlintas gitu. Mami takut, Pi."


"Sudah Mi. Jangan diingat. Pikirkan hal lain saja." keduanya terdiam.


Reza memilih menghentikan memori Tasya yang hilang, dia lebih takut Tasya trauma akan kejadian masa lalunya.


"Kita check up saja besok, gimana?" Reza mengalihkan perhatian agar Tasya tidak larut memikirkan hal mengerikan yang telah menimpanya.


"Enggak ah. Mami males kalau nanti ujung-ujungnya harus minum obat."


Tok.. Tok.. Tok..


"Masuk" teriak Reza


Kedua anaknya masuk membawa bantal mereka masing-masing.


"Kalian tidur di kamar kalian saja." titah Reza


"Mami udah gak apa-apa?" tanya Daffa.


"Sini tidur sama-sama saja. Sudah lama juga kita gak bareng-bareng." Tasya yang ketakutan merasa membutuhkan kedua anaknya.


"Sempit Mi." protes Reza


"Gak apa-apa. Jarang-jarang Pi."


"Kalian gimana?"


"Gak apa-apa Mi. Kita temani Mami." timpal Vano


Reza mengalah pada kedua anaknya. Dia memilih tidur di sofa. Mereka berbincang sambil menonton film yang sengaja di putar Vano.


"Pi, apa Abang suruh bawa mobil aja?" Tanya Tasya saat menatap kedua anaknya yang sudah pulas setelah menonton film.


"Kenapa memangnya?"


"Mami jadi kepikiran. Takut Pi, kalau anak-anak kenapa-kenapa dijalan."


"Jangan takut ah. Semuanya sudah diatur. Yang namanya dijalan raya, kalau gak di tabrak ya nabrak Mi. Kita sudah waspada, kalau orang lain enggak, ya sama saja. Sudah ada garisnya."


"Iya, tapi Mami jadi takut aja Pi."


"Jangan berlebihan sayang, nanti kita sendiri yang susah kalau mau melakukan apapun dibarengi rasa takut yang berlebihan."


Lama mereka terdiam. Tasya melirik anak sulungnya, dia mengelus lembut kepala sang anak.


"Anak yang paling ekspresif. Percis Papi kelakuannya." gumam Tasya.


"Masa sih? Papi gak kayak dia kali Mi." Tasya menoleh saat Reza menyahuti gumamannya.


"Iya kalian tu sama. Makanya Papi sama dia sahut-sahutan terus. Gak ada yang mau ngalah. Akur kalau bahas otomotif saja."


Tasya melirik Daffa yang tidur di sebelah kirinya.


"Kalau yang ini lebih kalem." Tasya mengelus Daffa. "Penyayang banget. Sensitif juga."


"Iya, dia mah lebih ke Mami. Mana manja banget lagi tu anak."


"Tapi sama Mami gak pernah berantem loh yaa." kini Tasya merebahkan tubuhnya.


"Pi.. "


"Apa?"


"Mami diapit dua bujang" Tasya tersenyum.


"Asal jangan mes*m aja pikirannya."


"Astaghfirullah, Papi tuh yang mikirnya mes*m! Sama anak sendiri juga!" ketus Tasya.


***


Tasya menyiapkan sarapan untuk ketiga jagoannya yang sedang asyik berenang. Dia membuat sandwich dan potongan buah untuk mereka meski badannya terasa sakit. Tasya duduk menyaksikan ketiganya bermain air.


Dia menunggu ketiganya selesai berenang kemudian makan bersama di samping kolam renang.


"Abang, sekolah bawa mobil saja ya.." ucap Tasya membuat Daffa dan Vano menatapnya.


"Kenapa emangnya Mi?"


"Mami takut aja kalau kalian pakai motor."


"Mi, lama kalau bawa mobil Mi. Berangkat harus lebih pagi."


"Tapi Bang.."


"Mi, biarkan saja kenapa sih? Kemarin Mami sendiri yang gak setuju anak-anak bawa mobil ke sekolah." Reza kini membela mereka.


"Papi gak merasakan sih gimana takutnya Mami. Kalau jatuh dari motor, tubuh kita langsung benturan dengan aspal. Kalau mobil, paling mobilnya saja yang penyok." ucap Tasya

__ADS_1


"Mi, Abang gak mau ah bawa mobil. Sekolahnya juga dekat Mi."


"Lagian Mami mikirnya seolah-olah anak-anak mau celaka saja!" Reza menyelanya kembali.


Tasya terdiam, sementara ketiga lelakinya masih sibuk mengunyah sarapannya.


"Ya sudah, pakai motor kayak biasa. Tapi tetap berdua."


"Mi, kok curang sih?" Kini Daffa membuka suara. "Papi kan sudah janji mau belikan Adek motor. Adek tungguin Papi ngajak Adek beli motor, tapi Papi sampau sekarang gak ada bilang. Masa Abang saja yang dibelikan motor. Sementara Adek nebeng, pulang naik ojek." protes Daffa


"Adek gak ngerti sih perasaan orang tua kayak gimana. Mami tuh khawatir sama kalian."


"Mami yang gak ngerti! Pilih kasih terus!" Daffa meninggalkan mereka.


"Tuh kan! Coba Abang nurut pakai mobil. Adek gak bakal ngungkit minta motor." Tasya memarahi anaknya


"Loh kok aku sih, Mi?"


"Lagi pula Mami mancing sih. Jangan takut berlebihan Mi. Toh maut bisa kapan saja, dimana saja."


"Kok Papi begitu bilangnya? Kalian gak pernah merasakan diujung nyawa seperti apa rasanya sih!" ketus Tasya seraya meninggalkan mereka.


Tasya mengurung dirinya di kamar. Rasa traumanya kini kembali. Apalagi setelah kejadian penjambretan dirinya kemarin.


Sekarang dia lebih khawatir pada kedua anaknya. Terbayang hal yang mengerikan pada anaknya saja dia merasa sangat takut.


Seharian Daffa dan Tasya mengurung diri dikamarnya masing-masing. Sementara Vano dan Reza asyik bermain playstation di ruang televisi.


"Mi.. " Reza masuk ke dalam kamar. Tasya sama sekali tak menyahutnya.


"Mami jalan yuk? Biar segar pikirannya. Biar hilang rasa takutnya." Tasya terdiam.


"Takutnya dilawan Mi, jangan ditanam. Kalau Mami masih kayak begini, kasihan anak-anak."


"Kok kasihan? Justru aku khawatir."


"Justru khawatir yang berlebihan yang membuat mereka kasihan. Mami mau anak-anak Mami cuma bergaul dengan gadgetnya saja? Mau kesana, Mami larang. Mau kesitu Mami larang. Yang ada nanti anaknya brontak Mi"


"Buat kebaikan mereka juga Pi."


"Gak ada buat kebaikan mereka. Yang ada itu buat hati Mami tenang saja. Sementara mereka nanti bakalan kesiksa karena itu gak boleh, itu gak boleh. Mereka bukan anak gadis Mi."


Tasya terdiam.


"Percuma bibit unggul kalau kegantengan mereka hanya dilihat Maminya saja." ketus Reza membuat Tasya melirik ke arahnya.


"Kok gitu?"


"Mi.. Mereka laki-laki. Biarkan mereka mencari jati dirinya sendiri. Apalagi usia mereka lagi asyik-asyiknya bergaul. Kita mah orangtua cuma bisa support sama kasih doa. Selama anak kita positif, gak melenceng dari jalur. Kenapa gak kita dukung saja?"


" Tapi Mami takut Pi. Takut anak kita lagi dijalan kena begal, takut jatuh dari motor. Takut pacaran berlebihan."


"Gak tahu Pi, Mami masih takut. Apalagi kalau Adek harus bawa motor sendiri."


"Percaya saja sama mereka Mi. Jangan kayak begitu ya? Papi kasihan sama anak-anak. Sama Mami juga. Sehari-hari nanti yang ada Mami dihantui rasa cemas dan takut yang berlebihan saja."


"Udah Sayang, percaya saja. Kasihan tuh anak-anaknya. Mami mau tiba-tiba Abang sama Adek gak nyaman dirumah terus minggat gara-gara kebanyakan dilarang sama Mami? Anak laki-laki nekat loh Mi."


"Terus Mami harus gimana?"


"Percaya sama mereka. Bebaskan selama mereka berada dijalur ketentuan kita. Oke Mi?" Reza mengelus lengan istrinya.


***


Daffa tak hentinya tersenyum bahagia saat sebuah unit sepeda motor pilihannya tiba dirumah mereka. Daffa dan Vano silih berganti memegang body sepeda motor perpaduan warna biru dan hitam tersebut.


"Coba Dek" titah Vano.


"Bilang sama Papi dulu Dek, kalau motornya udah dirumah." Tasya menyela percakapan keduanya.


"Iya Mi"


"Ya udah, Abang yang coba duluan ya?"


"Enak aja! Enggak ah. Tunggu sebentar kek." Daffa tak terima.


Tasya menghela nafas panjangnya. Dia akhirnya mengikuti saran suaminya walaupun tak dipungkiri rasa takutnya masih menghantui dirinya.


Reza pulang lebih cepat setelah mendengar kabar dari sang anak. Dia ikut bergabung dengan kedua anaknya mencoba motor baru Daffa.


"Pi touring Pi kali-kali"


"kemana?"


"Kebun teh. Lumayan tuh."


"Seru sih kayaknya. Tapi Mami gimana?" Reza nampak ragu.


"Papi bujuk dong Pi."


"Kamu juga lah. Enak saja Papi sendirian yang bujuk Mami. Udah tahu Mami tuh terpaksa beliin motor Daffa."


"Daffa tuh suruh bilang Mami." titah Vano


"Enggak ah. Aku belum minta maaf sama Mami."


"Gimana sih kamu! Bukannya baikin Mami." ketus Reza


"Tahu tuh! Sudah musuhin Mami berhari-hari juga." Vano menimpali

__ADS_1


"Siapa yang musuhin sih!"


"Kamu lah! Marah gak mau makan, gak nyapa Mami. Ngurung di kamar kayak anak perawan. Bukannya minta maaf dulu sama Mami" ceplos Vanonoada adiknya


"Apa sih Van! Ikut campur!" Daffa merasa terpojok walaupun semua yang dikatakan Vano benar.


"Sudah jangan berantem! Sana Dek, kamu temui Mami dulu." titah Reza


Daffa berjalan menuju kamar Tasya. Dengan hati-hati dia mengetuk pintu kamar Maminya. Tasya membuka pintu kamarnya, terlihat jelas kalau dirinya telah menangis.


"Mi.."


"Apa Dek?"


"Adek minta maaf Mi udah marah sama Mami."


"Mami juga minta maaf, Dek."


"Mami habis nangis? Maaf ya Mi, Adek bikin Mami kesal." Daffa menundukan kepalanya.


"Hati-hati saja pakai motornya. Jangan kebut-kebutan."


Daffa memeluk sang Mami. "Maaf ya Mi. Adek udah dosa sama Mami" Daffa memeluk Tasya seraya menangis.


"Iya Dek. Sekolah yang bener. Jangan macem-macem ya. Pokoknya Mami minta kalian jaga diri saja."


"Iya Mi." Daffa menghapus air matanya.


"Ya udah yuk, keluar." ajak Tasya


***


Waktu terus berjalan hingga membuat suasana rumah kembali seperti semula. Tasya sedikit demi sedikit melawan rasa takutnya hingga dia terbiasa.


Vano tengah disibukan untuk menghadapi Ujian Nasional. Sementara Daffa mempersiapkan diri untuk naik ke kelas dua.


"Jadi kamu sudah putuskan mau kuliah dimana?" tanya Reza saat mereka sarapan pagi.


"Aku lagi cari beasiswa kuliah di luar negeri Pi."


"Bang, apa gak disini saja? Mami gak mau jauh dari Abang."


"Biarkan anaknya berkembang Mi." pungkas Reza


"Abang cuma cari-cari dulu Mi. Kalau misalkan gak dapat, ya kuliah disini."


"Fokus dulu ujian ya Nak."


"Pasti Mi."


"Kalau kamu kuliah disini, sambil bantu Papi urus kantor Bang. Belajar dikit-dikit."


"Adek juga." Reza melirik anak bungsunya. Tak ada jawaban dari keduanya.


Hari yang dinanti tiba. Tasya mempersiapkan sarapan Vano yang hendak melakukan Ujian Nasional. Vano sendiri nampak lebih santai menghadapi ujiannya.


"Adek gak sarapan, Mi?" Reza menghampiri istrinya.


"Masih tidur. Libur jadi ngerasa bebas dia mah."


"Kamu mau Papi anter Bang?" goda Reza


"Ck..apa sih Pi. Malu-maluin aja. Masa aku dianterin" Vano mencebikan bibirnya.


"Ya barangkali mau diantar Mami sama Papi" Tasya tak kalah menggodanya.


"Malu sama fans dong Mi."


"Belagu banget punya fans segala." gerutu Reza


"Papi gak tahu sih pesona aku kayak gimana. Semua cewek disekolah terpesona sama aku, Pi"


"Ya iyalah. Untung Papi bagi kegantengan Papi buat kamu."


"Cepat sarapannya, nanti telat Bang." Tasya menyudahi pembicaraan mereka.


Tak berapa lama, Vano pamit pada orangtuanya. Dia meminta restu untuk kelancaran ujiannya. Reza dan Tasya memberikan supportnya dengan menunggunya hingga dia melajukan motornya.


"Dia yang ujian, Mami yang degdegan begini Pi" ucap Tasya saat masuk ke dalam rumah.


"Masih dikasih umur ya Mi, anak kita sebentar lagi kuliah." Reza merangkul istrinya.


"Papi mau bekal gak?" Tasya berjalan menuju dapur.


"Bu.. Tas Vano?" Mbak Diah mengangkat tas milik anaknya


"Ya Allah, Abaang."


.


.


.


Sobat BSN terus dukung BSN dengan like, komentar dan vote ya.


Terima kasih.


#MenujuEnding

__ADS_1


__ADS_2