BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Pesan Pertama


__ADS_3

Entah kenapa Reza menjadi antusias.


Dia membayangkan wajah Tasya yang anggun dan senyumnya yang renyah membuatnya tersenyum sendiri.


'Semudah itukah aku move on darimu Cit?' Reza sumringah. Rasa sakit hatinya berkurang. Sekarang bertukar tempat menjadi dagdigdug di hatinya. Sebentar lagi dia akan berubah status menjadi seorang suami.


Di mainkan ponselnya dan teringat dia menyimpan nomor Tasya. Di carinya nama "Ukhti" dalam ponselnya.


"Assalamualaikum Sya, ini Reza. Kamu sudah yakin Sya menerima keputusan ini?" Reza menuliskan pesannya tanpa berbasa basi.


*Pesan terkirim. Sebuah laporan masuk di ponsel Reza.


Tasya sedang asyik merevisi laporannya. Dia tidak menyadari ada pesan masuk di ponselnya.


Satu jam kemudian


"alhamdulillah beres juga. Tinggal besok di print. Aahh.. Lelahnya" Tasya bicara sendiri


Diraih ponsel miliknya kemudian dia merebahkan diri. Di lihatnya ada satu pesan masuk dari nomor yang tidak di kenal.


"Hah? A Reza?" tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang. Dia salah tingkah seolah Reza ada di hadapannya


"Waalaikumsalam. Tasya sebetulnya masih belum yakin sih A. Tapi Tasya tidak mau mengecewakan Ayah, ibu dan Om Danu. Oya A Reza sendiri kenapa menerima keputusan ini? Padahal dari awal sudah sepakat kita menolaknya. Tapi belum apa-apa A Reza sudah menerimanya langsung. Sebel aku A" balas Tasya terhadap Reza

__ADS_1


"Hei hei.. Kamu mau kurang ajar sama calon suamimu Sya! Aku menerima pernikahan ini biar bisa bebas membulymu Sya!" Reza tersenyum senang. Dia lupa kalau sedang meriang dan sakit hatinya


Jantung Tasya makin tidak karuan ketika membaca isi pesan Reza yang menyebut dirinya calon suami. Perasaan Tasya campur aduk.


"A Reza kok begitu🙁" Tasya membubuhi emoji sedih. Dia menjadi takut apa yang di ucapkan Reza menjadi benar.


"Haha.. Terbayang sekali wajahmu kalau sedang begitu Sya! Aku makin semangat ngerjain kamu nih" Ucap Reza sambil tersenyum sendiri.


Tasya tak membalas pesannya lagi. Dia membayangkan peringai Reza yang tidak pernah lembut terhadap Tasya. Hanya dengan membayangkan Reza begitu, dia ingin membatalkan keputusannya.


"Sya, calon suamimu lagi meriang nih. Masa kamu gak perhatian?" Reza sangat senang menggoda Tasya


Tasya membuka pesan dari Reza. Dia menghela nafas. Kesal sekali dengan tingkah laku Reza.


Reza makin tersenyum senang dengan isi pesan Tasya yang sangat singkat. Dia tahu betul wanitanya sedang cemberut disana.


***


Tiga Hari Kemudian


"Pa, apa kita tidak terburu-buru pak ke rumah Tasya besok?" tanya Reza yang mengikuti Papanya menyusuri sebuah Mall


"Kenapa memangnya? Sesuatu yang baik tidak boleh di tunda-tunda bukan?" jawab pak Danu sambil mengedarkan pandangannya

__ADS_1


"Oh itu dia. Sudah sana, kamu harus milih mas kawin buat Tasya" ucap Pak Danu


"Tapi Pa.. " Belum selesai dia meneruskan kalimatnya, dia sudah di sambut oleh pelayan toko mas tersebut


"Selamat Siang Pak, ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang pelayan ramah


"Tolong carikan mas kawin untuk anak saya" ucap Pak Danu


"Sebelah sini Pak" pelayan menunjukan tempat cincin couple yang mereka punya


"Mba, saya mau beli kalung saja" Ucap Reza


"Kok kalung Za?" tanya Pak Danu heran


"Biar nanti Tasya sendiri yang milih mas kawinnya Pak. Ini buat besok saja Pa. Lagian kan kita gak tahu ukuran jari Tasya" jawab Reza


"Oiya. Ya sudah terserah kamu" ucap Pak Danu membenarkan


Para pelayan terkagum melihat ketampanan Reza.


"Ganteng banget Pak anaknya" ucap seorang wanita tua yang duduk di depan meja kasir seolah memperlihatkan dia pemilik tokonya.


"Haha.. Turunan dari saya Bu" ucap Pak Danu bangga

__ADS_1


Kemudian mereka berbasa-basi. Setelah selesai memilih kalung untuk Tasya mereka keluar dari toko tersebut kemudian mencari buah tangan untuk keluarga Tasya besok.


__ADS_2