BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Bukan Mengadu


__ADS_3

Tasya masuk ke dalam ruangan bersama dengan Rasya, Vano, dan Mbak Diah.


"Loh?" Dokter nampak heran


"Dia kakak saya Bu Dok."


"Oh saya pikir sudah berubah suaminya." canda dokter.


"Hehe.. Bu Dok bisa saja."


"Yuk naik saja langsung." ucap Dokter Felly, dia segera berbaring di ranjang.


"Aa jangan lihat A." ucap Tasya


"Enggak Neng." ucapnya seraya menghadap ke arah lain sementara dokter hanya tersenyum.


Dokter mengarahkan transducer seperti biasa.


"Bagus ini. Tuh lagi bergerak-gerak. Gak ada keluhan kan Bu?" tanya dokter


"Enggak dok."


Tasya turun dari brangkar. Dia duduk kembali disamping Rasya.


"Jadi, adik saya boleh perjalanan ke luar kota Dok?" tanya Rasya


"Kalau ibu tidak ada keluhan boleh saja" ucap Dokter


"Alhamdulillah.." ucap Tasya senang sambil melirik kakaknya.


"Vano mau pulang kampung?" tanya dokter


"Iya Bu Dok. Vano kangen Nenek Kakek." ucap Tasya


"Saya berikan penguat kandungan lagi saja ya, buat jaga-jaga." ucap dokter


"Baik Dok."


***


"Aa capek A? Kalau cape kita istirahat saja dulu." ajak Tasya saat mereka masuk ke dalam mobil.


"Enggak. Nanti saja di rest area kalau lelah ya istirahat."


"Aa juga belum makan." Tasya mengkhawatirkannya


"Santai Neng. Memang Aa anak kecil." sanggahnya.


"Bismillah dulu dong Van, kita pulang yaa." ucap Rasya pada Vano


"Eh, kamu bilang suamimu dulu deh Sya." ucap Rasya


"Oh iya. Aku kirim pesan saja deh. Dia sibuk kali A. Gak diangkat terus dari tadi." ucapnya seraya mengetikkan sesuatu.


"A Reza, aku telepon gak di angkat dari tadi. Aku sekarang dirumah sakit sama A Rasya. Aku izin pulang ke kampung ya, dokter sudah kasih izin untuk perjalanan jauh. Aku ingin istirahat disana sama Vano."


"Yuk berangkat." ajak Tasya


"Tunggu balasan dulu. Kalau gak boleh bagaimana?" tanya Rasya


"Nunggu sampe kapan Aa, telepon saja gak diangkat. Sudah yuk A. Dia kan gak butuh kita lagi" ceplos Taysa


"Maksud kamu?"


"Mm.. Maksudnya A Reza sibuk sendiri Aa. Aku jenuh dirumah. Bosan. Makanya cepetan berangkat. Nanti keburu sore." ucap Tasya


"Ya sudah" Rasya mulai melajukan mobilnya.


***


Reza merasa tersentak saat membaca pesan dari Tasya. Ketakutannya kini menjadi kenyataan. Saat hendak menghubungi Tasya, sebuah telepon masuk di ponselnya.


"Kenapa Dit?"


"Kok kenapa? Kamu lupa sore ini pertemuan dengan Pak Bram" ucap Adit


"Oh, oke." dia melirik jam yang melingkar ditangannya.


Sesaat dia lupa harus menelepon sang istri. Reza bergegas berangkat.


"Dit, aku janji bertemu dimana?" tanya Reza


"Ya ampun Za.. Kamu itu, kamu janji bertemu di resto Hotel." ucap Adit


"Oh iya aku ingat."


Dengan tergesa Reza tiba disebuah resto Hotel bintang lima. Dia menghampiri dua orang paruh baya yang sedang menunggunya.


"Pak Bram, maaf saya terlambat." ucap Reza seraya menjabat tangannya.


"Tidak apa-apa. Kami juga baru turun." ucapnya tersenyum ramah.


"Ini istri saya, maaf saya ajak dia. Saya tak tega meninggalkannya sendirian di atas." ucap Pak Bram


"Wah, Bapak so sweet sekali."


"Haha.. Pujianmu seperti untuk anak muda saja."


"Silahkan duduk." ucapnya.


Mereka membahas pekerjaan mereka. Sementara istri Pak Bram menyimak dan sedikit menimpali obrolan mereka.


Setelah kesepakatan dicapai, mereka berbincang santai kembali.


"Pak Reza sudah beristri?" tanya Istri Pak Bram


"Alhamdulillah sudah Bu." ucapnya. Sesaat dia teringat kembali Tasya yang sedang pulang ke rumahnya.


"Wah, telat nih. Kalau kenal dari dulu saya jodohkan dengan anak saya." ucap Ibu tersebut seraya tertawa.


"Mama ini setiap ketemu laki-laki muda bawaanya mau menjodohkan saja." Pak Bram terkesan malu


"Hehe.. Becanda ya Pak Reza." timpal istrinya seraya tertawa


"Iya Bu tidak apa-apa." Reza tersenyum ramah


"Sudah punya anak berapa?" tanyanya lagi


"Sekarang istri saya sedang mengandung anak ke tiga Bu." ucap Reza


"Wah, selamat Pak Reza." kini Pak Bram menimpali


"Terima kasih Pak." ucapnya.


"Maaf Pak, saya mengganggu waktu Bapak." ucap Reza


"Tak masalah. Kita juga sedang santai sambil menunggu berangkat nanti." ucap Pak Bram


"Baik kalau begitu Pak, saya pamit. Selamat bertugas Pak, semoga selamat sampai tujuan." ucap Reza sambil berdiri


"Haha.. Tugas membahagiakan istri. Saya kesana dalam rangka merayakan ulang tahun pernikahan kami Pak Reza, bukan untuk urusan bisnis" Pak Bram tertawa sementara istrinya terlihat sedikit malu.


"Oh mohon maaf Pak, saya pikir untuk.."

__ADS_1


"Sudah tak apa." ucapnya menepuk bahu Reza


"Kalau begitu, selamat ulang tahun pernikahan Pak. Semoga saya bisa seperti Bapak menjadi keluarga harmonis." ucap Reza tersenyum malu


"Haha.. Ujiannya berat Nak bisa berada dititik ini." ucap Pak Bram


"Hehe betul. Apalagi untuk Direktur muda seperti anda, ujiannya luar dalam" ucap istri Pak Bram.


"Hehe. Iya Bu. Mudah-mudah berjodoh sampai akhir hayat." ucapnya mengakhiri pembicaraan mereka.


Sepanjang perjalanan, dia memikirkan kepergian istrinya. Dia menyadari kesalahannya.


Reza sedikit termenung saat masuk ke dalam rumah. Disana tak ada seorang pun yang menyambutnya pulang walau dia pulang lebih sore dari biasanya.


Dia segera masuk ke dalam kamar, dia mengecek lemari baju istrinya yang hanya meninggalkan beberapa potong baju saja menandakan bahwa sang istri akan tinggal lama disana.


Reza mengambil tas dan memasukan bajunya kesana. Dia berniat untuk membujuk istrinya kembali pulang.


***


"Assalamualaikum Niiiin" Taysa mendekati Ibu seraya menggendong Vano.


"Waalaikumsalam. Alhamdulillah kalian sudah sampai." ucap ibu


"Ayo masuk Mbak Diah." ajak Ibu


Rasya membawa turun koper milik mereka kemudian memasukannya ke dalam kamar Tasya.


"Mbak Diah kamarnya yang waktu itu ya. Masih ingat kan?" tanya Ibu


"Iya Bu."


"Tidurkan disini saja Sya." ucap Ibu yang melihat Vano terlelap dipangkuannya.


Tasya mengikuti Ibu, menidurkan Vano di ruang keluarga.


Ibu segera membuatkan minum untuk mereka. Sementara Tasya dan Mbak Diah duduk disana.


"Istirahat saja Mbak, mumpung Vano tidur." ucap Tasya


"Baik Bu." ucapnya. Mbak Diah menuju kamarnya, memberikan ruang untuk keluarga mereka melepas rindu.


"Reza tahu kamu kesini kan Sya?" tanya Ibu seraya membawa nampan berisi kudapan dan teh manis


"Iya tahu Bu."


"Ayah mana?" tanya Tasya negalihkan pembicaraan


"Masih di mushola." ucapnya


"Gimana kandunganmu?" tanya Ibu


"Alhamdulillah sehat Bu, makanya aku bisa kesini. Kangen banget sama cuankii" Ucap Tasya riang.


Rasya merebahkan tubuhnya di samping Vano.


"Aa sana dikamar A. Nanti sakit lagi." ucap Tasya


"Sebentar ah. Mau deket anakku." ucapnya seraya memeluk Vano.


Vano yang terusik menjadi terbangun


"Ih tuh kan Aa sih!" Tasya kesal


"Vano, sini sama Nin." Ibu merentangkan tangannya hendak menggendong Vano, tapi Vano menolaknya. Dia bangun menuju Tasya


"Duh, Aa sih." Taysa bersungut


"Sini sama Papa yuk." ajaknya.


"Mabuk gak kamu, Sya? Tanya Ibu


"Kadang-kadang Bu. Tapi alhamdulillah sekarang-sekarang aman sih Bu." ucapnya


"Ya sudah, sana istirahat dulu. Buar Vano sama Ibu." ucap Ibu


Tasya segera masuk ke dalam kamarnya sewaktu gadis dulu. Tak banyak berubah dari kamar itu. Dia duduk ditepi ranjang.


"Sibuk atau gak peduli?" gumam Tasya melihat ponselnya. Tak ada satu pesan atau telepon dari Reza. Hatinya terasa perih. Dia menahan air matanya agar tak menetes.


***


Tengah malam, suara ketukan pintu terdengar dari luar. Tasya terbangun dan mendengarkan suara ketukan yang berulang tersebut dengan seksama. Tasya keluar kamar kemudian mengintip dari balik gorden.


"A Reza!" pekiknya


Tasya segera membuka pintu.


"A Reza ngapain kesini?" tanya Tasya


"Kok ngapain?" Reza masuk ke dalam rumah menuju kamar Tasya.


"Ngapain A Reza nyusul segala?" tanya Tasya kemudian


"Gak boleh?"


"Kerjaannya kan banyak dan lebih penting." ketus Tasya


"Aku gak mau debat Sya. Capek." ucapnya.


Dia segera mengganti pakaiannya dan membersihkan dirinya ke kamar mandi. Setelah selesai, dia tidur disamping Vano. Sementara Tasya masih terjaga.


Tasya tak bisa tidur setelah kedatangan Reza.


'Apa dia mau nalak aku karena pergi gak bilang dulu?' Batinnya


'Seenggaknya Aku berusaha memberitahunya. Tapi bukan salahku tak memberitahunya, dia saja terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.' batinnya kemudian


Tasya berusaha memejamkan matanya.


***


Lepas subuh, Ibu dibantu Mbak Diah sudah sibuk di dapur.


"Sya? Reza nyusul kesini? Kok ibu seperti melihat mobilnya." tanya Ibu


"Iya bu."


"Kalian sebenarnya ada masalah apa?" tanya Ibu


"Gak ada masalah Bu." ucap Tasya


"Kalau gak ada masalah, gak mungkin kan kamu pulang, dia nyusul kesini. Katanya kamu sudah izin ke suamimu." ucap Ibu


"Ya memang sudah izin Bu. Aku kirim pesan sama dia"


"Loh kirim pesan bagaimana?"


"Ya aku pamitnya lewat pesan."


"Kenapa? Kalian sedang tak tegur sapa?" tanya Ibu


Tasya melirik Mbak Diah, Ibu faham akan lirikan Tasya.

__ADS_1


"Mbak, boleh titip sebentar?"


"Iya Bu" Mbak Diah tak banyak bicara


Tasya dan Ibu pindah ke kamar Ibu.


"Sebenernya ada apa Sya?" Tanya Ibu tanpa basa basi


"Gak ada apa-apa Bu. Aku hanya jenuh saja dirumah."


"Terus itu pamit?"


Tasya menghela nafasnya.


"A Reza pergi lebih pagi, pulang larut malam. Aku komunikasi dengan A Reza bisa dihitung jari Bu, berapa kata yang kita lontarkan setiap hari."


Tasya menguatkan hatinya agar tak menangis.


"Setiap hari begitu Bu, sejak A Reza naik jabatan." Tasya menjeda ucapannya


"Bukan aku tak paham atau tak mengerti kesibukannya. Aku tahu betul Bu. Tapi makin hari aku ngerasa makin asing dengan A Reza."


"Komunikasi kita berkurang. Jangankan untuk quality time bersama keluarga. Buat gendong Vano pun enggak ada waktu Bu." Tasya menghela nafasnya


Ibu masih menyimaknya dengan sedih.


"Aku minta anter check up kandungan saja boro-boro ada waktu Bu."


"Rasanya aku mengulang kehamilan Vano dulu." kali ini satu tetes air bening lolos dari matanya.


"Maaf Bu, bukan aku mengadu sama Ibu. Aku hanya..gak kuat saja. Rasanya beban semua ada dipundakku sendiri." Tasya kini menangis. Menumpahkan semuanya pada sang Ibu.


Ibu memegang jemari Tasya.


"Nak, memang lelaki digoda oleh tiga hal. Harta, tahta, dan wanita. Kamu juga harus paham itu. Saat ini mungkin Reza sedang terlena dengan tahta baru yang disandangnya."


"Ibu kalau melihat kesulitanmu merasa sangat berdosa. Maafkan Ibu, Ibu menjodohkanmu disaat kamu seharusnya.. " Ibu tak kuasa meneteskan air matanya.


"Enggak Bu. Semua sudah takdirnya. Hanya saja sikap A Reza-nya yang berubah Bu. Aku gak masalah nikah muda." ucap Tasya menghibur Ibunya.


"Kamu, komunikasikan saja semuanya dengan Reza. Baiknya ke depannya bagaimana. Ibu dan ayah gak berhak ikut campur dengan rumah tanggamu."


"Kalau aku ingin bercerai saja bagaimana bu?"


Ibu tersentak.


"Kenapa?"


"A Reza selalu mengulang kesalahan yang sama Bu. Aku merasa ditelantarkan. Iya, aku difasilitasi kartu, makanan berlimpah, mau ini itu gak susah. Tapi bukan hanya materi kan bu yang aku butuhkan?"


Ibu terdiam.


"Jangan membuat keputusan disaat emosi Sya." ucap Ibu


Kini keduanya terdiam.


"Aku hanya lelah Bu. Aku merasa jadi orang tua tunggal untuk Vano." Tasya menelan salivanya berat


"Aku gak punya teman berbagi dan berkeluh kesah. Untuk sekedar mengurus Vano atau dengan kehamilanku yang sekarang."


"Aku sudah gak tahan lagi Bu." ucap Tasya


"Baiknya kamu pikir ulang lagi Sya. Kalau hanya masalah komunikasi se.. "


" Bukan hanya komunikasi saja Bu. Rumah tangga itu harusnya saling mengisi bukan?"


Ibu terdiam lagi.


"Kalau hanya sekedar mencari nafkah. Aku juga mampu Bu menafkahi Vano dan calon anakku. Diluar sana banyak single mother yang sukses menafkahi anaknya."


"Rumah tangga harusnya lebih dari itu kan Bu?"


Ibu tak mampu berkata-kata. Apa yang dikatakan anaknya memang benar. Tapi dia juga tak mau berkomentar untuk menyudutkan Reza. Dia tak mau rumah tangga anaknya hancur begitu saja.


"Kamu bicarakan keluh kesahmu pada Reza dengan kepala dingin Sya."


"Coba bicara berdua. Biar Vano, Ibu yang pegang dulu." ucap Ibu.


"Maaf ya Bu, aku kesini bukan untuk melarikan diri. Aku hanya jenuh saja dirumah. Kasihan juga Vano disana gak dapat udara segar. Setidaknya kalau disini, Vano nisa berinteraksi dengan sekitar. Bisa ikut ke kebun juga" ucap Tasya


"Iya gak apa-apa. Cuma ibu hanya minta kamu bicara baik-baik dengan Reza."


"Iya Bu."


"Ya sudah, yuk keluar. Gak enak sama Mbak Diah kalau kelamaan." ajak ibu


Tasya segera keluar dari kamar Ibu. Diruang tengah, Vano nampak sedang bermain dengan Pak Taufik dan Rasya.


"Vano sudah bangun?" tanya Ibu pada Vano


Ibu bergabung dengan mereka. Sementara Taysa segera ke dapur.


"Sudah beres Mbak?"


"Sudah Bu."


"Maaf ya Mbak, tadi aku bicara dulu dengan Ibu." ucapnya


"Iya, saya mengerti Bu" Mbak Diah tersenyum.


"Yuk kumpul saja disana." ajak Mbak Diah.


Tak berapa lama, Reza keluar dari kamar mandi.


"Sya, baju Aa di taruh dimana?" tanya Reza mencari alasan


Tasya bergegas ke kamar diikuti oleh Reza. Tanpa sadar, semua melihat ke arah mereka dengan pikirannya masing-masing.


Reza menutup pintu kamarnya.


"Sya.. "


" Bajunya masih di tas, kan?"


"Sya, dengarkan Aa."


"Sudahlah A. Aa pulang saja. Kerjaan disana banyak bukan?"


"Tapi Sya?"


"Apa?


"Aa gak mau jauh dari kalian"


"Buat apa lagi?" Tasya mendengus kesal


Sementara Reza terdiam. Reza menarik nafasnya hendak mengatakan sesuatu.


"Aku ingin kita bercerai A." ucap Tasya tegas


.


.

__ADS_1


.


Gimanaa ibu-ibuuuuu.. Tunjukaan pendapatmuuuu dengan like dan komentar. Jangan lupa vote yang buanyaaakkkkk. Oke buibu? Terima kasih ^^


__ADS_2