BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Pacaran


__ADS_3

"Ya.. sang idola sebentar lagi pulang" ledek Tasya


"Kamu cemburu kek sayang, malah girang begitu" ucapnya


"Masa aku cemburu sama ibu-ibu. Aa kan idolanya ibu-ibu" Tasya terkekeh


"Ada loh yang janda juga suka goda Aa" Reza memancingnya


"Terus?" Tasya mulai terpancing


"Terus Aa takut lah sama ayah. Haha" ucapnya


"Jadi kalau gak ada ayah?" Tasya curiga


"Ya gak apa-apa. Aa kan setia sama kamu" ucapnya sambil memeluk Tasya dari belakang


"Alah gombal" Tasya mencibirnya


Reza hanya tersenyum dibuatnya.


"A Reza, kita sudah mau pulang tapi Aa jahat banget sama aku" ucap Tasya


"Jahat kenapa sih?" tanyanya heran sambil melepaskan pelukannya.


"Masa aku gak boleh jajan cuanki. Sekali saja A. Aku kan kangen. Kesini lagi kapan?" Tasya cemberut


Reza terdiam. Dia tidak tega melihat istrinya begitu. Dia kemudian keluar kamar.


"Bu, memang Tasya boleh makan cuanki?" tanya Reza pada mertuanya yang sibuk di dapur


Ibu tersenyum mendengar ucapan menantunya.


"Ya boleh. Memang kenapa?" tanya ibu


"Dia minta jajan itu terus. Sementara kata dokter kan jaga pola makan. Nanti takutnya salah lagi. Kenapa-kenapa lagi" jelasnya


"Asal gak makan pedas-pedas dulu boleh." ucap ibu


Reza masuk ke kamarnya lagi. Tasya sedang memainkan ponselnya.


"Sya mau ikut gak?" tanya Reza


"Kemana A?" tanyanya penasaran


"Beli cuanki" goda Reza


"Memang boleh?" Tasya berbinar


"Boleh gak ya?" Reza pura-pura berfikir


"Suamiku ganteng banget sih" Tasya memeluknya


Reza tertawa melihat kelakuan istrinya.


"Ya sudah siap-siap" ajak Reza


"Yeeaayy" Tasya mengecup pipi Reza gemas


"Terima kasih A" ucapnya


"Tapi kamu harus janji. Gak pakai sambal sama sekali nanti kalau makan" pinta Reza


"A, gak enak dong" Tasya protes


"Ya sudah gak usah kalau gak patuh" Reza mengancamnya


"Iya.. Iya.. Gak makan pedas" Tasya menyerah


Setelah bersiap keduanya keluar kamar.


"ibu mau ikut?" ajak Reza


"Kemana kalian?" Tanya ibu


"Beli cuanki bu" ucap Tasya

__ADS_1


"Sudah sana pergi. Ibu ini belum beres. Kamu kan minta dibuatkan kentang mustofa buat disana" ucap ibu


"Hehe iya bu. Terima kasih" ucap Tasya


"kIta pergi ya bu. Assalamualaikum" ucap Tasya semangat


Tasya sangat senang bisa keluar rumah. Ini pertama kalinya dia bisa keluar rumah walau hanya membeli cuanki.


"A Reza, pakai motor saja yu?" ajak Tasya


"Sya, kamu mau.."


"Iya.. Iya.." Tasya memotong pembicaraan Reza seakan mengerti kalau Reza akan menceramahinya


Mereka memasuki mobilnya.


"A Reza.. " ucapnya lirih sambil memegang tangan Reza


Reza seolah mengerti bahwa Tasya mengingat kejadian yang memilukan itu.


"Sya, kamu gak trauma kan?" tanya Reza


Tasya menggeleng.


"Aku cuma teringat terakhir kali kita.."


"Iya Aa tahu sayang" Reza memotong ucapannya.


"Nanti mobil ini bukan cuma kenangan kemarin sayang, siapa tahu nanti di mobil ini ada suara tangisan bayi kita" Reza menenangkannya


"Iya A" dia menguatkan dirinya kembali


"Mau jalan atau gak jadi?" tanya Reza


"Mau a" ucap Tasya tersenyum.


Mobil putih itupun melaju ke tempat tujuan mereka. Sepanjang jalan Tasya menikmati perjalanan mereka.


"Rasanya sudah lama sekali aku tidak keluar rumah A" ucap Tasya memecah keheningan


"Mumpung masih diberi kesempatan buat berduaan. Ayo kita manfaatkan" ajak Reza


Tasya tersenyum mendengarnya. Dia merasa Reza begitu banyak mencurahkan kasih sayang kepadanya. Dia pun berniat untuk memberanikan diri lebih memperlihatkan kasih sayangnya pada Reza tanpa rasa malu lagi.


***


"Papi mau apa saja?" tanya Tasya memberanikan diri setelah mereka tiba disana


Reza mengernyitkan dahinya.


'Aku gak salah dengar?' batin Reza senang


"Sama saja kaya mami" ucapnya sambil tersenyum menggoda


Tasya tersenyum geli.


Hiikss..malu..malu..malu..' batinnya merasa malu dan riang.


'papi mami jajannya cuanki' batinnya kembali. Tasya menahan tawanya.


Tak lama pesanan mereka pun datang.


"Mam, jangan pakai sambal" Reza mengingatkan


"Iya sayang" ucapnya lembut


Mereka menikmati cuanki tersebut sambil sesekali bercengkrama. Setelah selesai, Reza keluar terlebih dahulu. Sementara Tasya membayar makanan mereka.


"A Reza.. A.. " Teriak Tasya dari ambang pintu


Reza terus berjalan ke arah mobilnya


"A.." panggil seorang juru parkir, Reza menoleh ke arahnya


"Itu pacarnya manggil" ucapnya kemudian

__ADS_1


"Pacar?" Reza melihat ke arah Tasya kemudian.


Tasya melambaikan tangannya.


"Apa?" tanya Reza mendekati Tasya


"Uangnya mana? Aku lupa gak bawa uang tunai " Tasya tersenyum malu karena dihadapannya seorang kasir memperhatikannya.


Reza mengeluarkan dompetnya. Dia memberikan uang seratus ribuan pada Tasya, kemudian menunggu Tasya selesai. Setelah selesai mereka berjalan melewati juru parkir tadi. Reza teringat ucapannya kembali.


"Mam, tadi dia bilang 'A, itu pacarnya manggil'" Reza memperagakan ucapan juru parkir tersebut


Tasya tertawa mendengarnya


"Pacar a?" tanyanya


"Huum. Kebanyakan yang makan disana yang pacaran kali ya" ucap Reza


"Iya sih. Kebanyakan mahasiswa yang jajannya" Tasya membenarkan


"Pacarku, kita mau kemana lagi?" tanya Reza terkekeh


"Beli makanan saja buat ayah ibu" ucap Tasya yang ikut tersenyum


"Beli apa sayang?" tanyanya sambil memutar mobilnya


"Apa ya? Roti bakar saja buat ayah" ucap Tasya


"Terus ibu?" tanya Reza


"Martabak telor saja. Eh ya sudah, ayah belikan martabak manis saja biar satu arah" ralat Tasya


Reza menepikan mobilnya. Mereka keluar dari mobil untuk membeli martabak.


"Ciee.. Yang lagi pacaran" ledek Reza


Tasya tersenyum.


"Iya ya a, kita kayak orang pacaran. Pulang belikan martabak buat calon mertua" Tasya tertawa


"Aa dulu gitu ya?" Ledek Tasya kemudian


"Enggak. Boro-boro ketemu calon mertua. Di ajak ke rumahnya saja gak pernah" Reza jujur


"Bohong sekali A" Tasya tak percaya


"Serius. Aa kalau jemput dia tuh di minimarket dekat rumahnya. Alasannya dia gak boleh pacaran sama bapaknya. Jadi dia takut. Eh, taunya dijodohkan juga" Reza tersenyum kecut


"Jadi kesal nih ceritanya" Tasya menggoda.


"Enggak lah. Kan Aa dapat pengganti yang jauh lebih baik" pujinya


Tasya menunggingkan bibirnya. Reza tersenyum.


Tanpa mereka sadari, pedagang martabak tersebut mendengarkan percakapan mereka.


Tidak lama kemudian, telepon masuk ke ponsel Reza. Dia segera mengangkatnya dan berbicara dengan serius.


"Apa kata Lala a?" ucap Tasya yang mendengarkan percakapan mereka


"Laporan bulanan sayang" ucap Reza masih memainkan ponselnya


"Lama juga aku gak ketemu itu anak" Tasya mengingatnya


"Kamu jangan ikut ke kantor dulu. Kata dokter kamu gak boleh capek kan" Reza melarang


"Gak boleh angkat beban yang berat a. Bukan gak boleh capek" Tasya protes


"Sama saja gak boleh" Reza bersikeras


"A Reza, aku kan di kantor juga gak macam-macam. Di rumah pasti bosen berduaan sama Bi Tinah" Tasya cemberut


"Tuh kan gak patuh" ujar Reza


Perdebatan mereka terhenti setelah martabak mereka selesai. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil. Penjual martabak memperhatian keduanya hingga mobil melaju meninggalkan gerobaknya.

__ADS_1


***Hallo Readers, saya syuka sekali baca-baca komennya, terima kasih yaa.. Selalu membuat semangat. Maaf kalau tidak di balas satu persatu ya.. Jangan lupa bantu VOTEnya Qaqa ^^ terima kasih ***


__ADS_2