BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Usaha Mami


__ADS_3

Tasya menahan kesalnya saat melihat adegan tersebut. Dia memperhatikan Reza yang memang fokus tertawa bersama anaknya dan juga Dira.


'Dasar ganjen! Gak ada suaminya berani pegang-pegang suami orang! Gak tahu malu' batin Tasya kesal.


Vano menarik tangan Reza ke perosotan, Reza hanya mengikuti kemauan anaknya yang diikuti juga oleh Dira. Vano dan Dira menaiki anak tangga menuju perosotan, sementara Reza menunggunya dengan berkacak pinggang disamping papan seluncuran. Sesekali Reza mengusap mukanya yang terkena tetesan air. Reza tak sadar, gerakan kecilnya tersebut seperti oase di gurun pasir untuk para Mommy yang ingin dimanjakan penglihatannya.


"Duh si Dira pepetin Vano terus. Maaf ya Mam Vano"


"Gak apa-apa Bund." ucap Tasya datar. Tasya juga kesal dengan Bunda Dira yang berbicara tanpa merasakan perasaan orang lain.


Setelah beberapa lama bermain air, mereka kini berkumpul kembali untuk penutupan acara. Tasya memperhatikan Mommy Selly yang selalu mencuri-curi pandang pada suaminya.


"Pi" Reza mendekatkan telinganya ke arah istrinya.


"Aku kok ngerasa dingin Pi" Tasya berbisik pada Reza.


"Kenapa? Sakit?" Reza tak kalah berbisik.


"Enggak" Tasya menggosokan kedua telapak tangannya kemudian menurunkannya. Dengan sigap tangan Reza menautkan jemarinya dengan jemari istrinya. Tasya tersenyum karena berhasil memancing Reza melakukan kemauannya.


"Tapi Mami hangat ini Mi" gumam Reza


'Hati aku kepanasan bukan hangat lagi, sayang' gerutu Tasya dalam hati.


Tasya sedikit senang saat melihat Mommy Selly yang menatap tangan mereka. Dengan sengaja Tasya menggoyangkan tangannya seolah mengajak Reza bermain.


Reza hanya mengikuti tangan Tasya yang mengayun pelan ke depan dan belakang layaknya anak kecil.


"Pi" Reza menoleh


"Aku mau bakso" Reza tersenyum


"Ngidam Mi?"


"Aamiin" Reza tersenyum senang.


Mommy Selly tak berhenti menatap kemesraan mereka.


"Pi" Reza menoleh kembali


"Sini" Dia mendekatkan telinganya.


"Tuh kayaknya dia naksir sama Papi." Tasya berbisik ditelinga Reza seraya menutup tangannya.


"Yang mana?"


"Depan Papi banget. Tapi jangan dilihat dulu ya" ucap Tasya


Reza pura-pura mengedarkan pandangannya kemudian melihat ke arah wanita yang ada dihadapannya. Mommy Selly nampak menyunggingkan senyumnya saat pandangan mereka beradu.


"Yang tadi bareng renang?"


"Sampai hafal begitu!" ketus Tasya


Tasya dan Reza yang tak fokus ikut bertepuk tangan walau tak tahu apa yang disampaikan oleh kepala sekolah Vano. Mereka membubarkan diri masuk ke dalam bis.


"Miss, kebetulan saya kan menyusul. Saya mohon izin membawa Vano dan Maminya ikut ke mobil saya saja." ucap Reza pada kepala sekolah Vano.


"Ya silahkan Daddy. Hati-hati dijalan."


"Terima kasih Mrs."


Mereka masuk ke dalam mobil setelah berpamitan pada kepala sekolahnya. Tak ada percakapan diantara mereka saat Reza melajukan mobilnya, sementara Vano terlelap karena lelah.


"Jadi mau makan bakso?" Reza mulai membuka percakapan.


"Enggak aku sebel sama Papi!"


"Kenapa?"


"Tadi deket-deket sama Mommy Selly."


"Ya ampun Mi. Mana Papi sadar kali Mi. Lagipula bukan Papi yang dekat-dekat dia."


"Kumat deh Papi. Aku gak suka!"


"Duh ngambek." Reza mencolek dagu istrinya.


"Papi mana tertarik Mam sama orang itu. Istri orang, Maminya teman Vano, cari mati kalau Papi begitu. Lagipula cantik Mami kemana-mana. Papi gak suka cewek ganjen. Mami tahu sendiri."


"Berarti kalau bukan istri orang dan ibunya teman anak-anak, Papi mau?"


"Enggak sayang"


"Tapi aku sebel, dia pegang-pegang tangan Papi." Tasya cemberut sementara Reza tersenyum geli


"Ya kan bukan mau Papi, Mi. Dianya saja yang kegatelan."


"Udah ah, Mami mah cemburunya aneh."


"Kok aneh?"


"Ya cemburunya yang orang lain lakuin, bukan yang Papi lakuin"


Tasya hanya diam. Sementara Reza membujuknya dengan menautkan jemari mereka. Dia mengecup lembut tangan istrinya.


"Love you Mami, satu-satunya wanita yang mengisi hati Papi untuk saat ini"


"Kok untuk saat ini?"


"Nanti kan ada princess sayang."


"Pi.. "


" Kenapa Papi kayaknya ingin banget sih punya anak lagi? Daffa padahal masih kecil loh."


"Enggak, Papi tuh penasaran duplikatnya Mami kayak gimana. Itu mereka kan Papi banget. Nah, makanya biar adil kan sayang. Terus mumpung usianya gak jauh-jauh banget dari abang-abangnya." ucap Reza


"Memang kenapa kalau mirip Mami?"


"Dia pasti pendiam tuh kayak Mami, terus nanti di cerewetin sama Abang-abangnya Mi. Apalagi si tua, banyak ngelarang adiknya ini itu deh. Ah pasti seru tuh mereka."


Tasya hanya tersenyum mendengar penuturan Reza.


"Aku gak yakin dia pendiam Pi. Pasti mereka itu rame aja, secara nanti semua bawel. Dia juga ikutan bawel deh."


"Nah kalau dia bawel pasti dirumah lebih heboh. Bertengkar terus tuh sama Abang-abangnya."


"Masih belum telat ya sayang?" tanya Reza


"Harusnya minggu-munggu ini sih menstr*asi."


"Moga aja gak menstr*asi Mi."


***


Tiba di rumah, mereka merasa lelah. Reza meminta Vano dan Daffa naik ke atas punggungnya dan menginjak-nginjaknya.


Anak-anak yang suka bermain diatas Papinya yang tengkurap hingga kedua anaknya lelah dan tertidur


Sementara Tasya masih dilanda ketakutan saat memmbayangkan kejadiannya tadi siang.


'Sepertinya perebut laki orang lebih dari tadi kelakuannya. Ih naudzubillahi mindzalik.' Tasya begedik sendiri.


Kini mereka berdua di dalam kamar, Reza sudah setengah sadar karena kelelahan.

__ADS_1


"Pi.." Tasya mendekati suaminya, dia memeluk Reza


"Hmm.." Reza membalas pelukannya


Tasya mengecup lembut bibir Reza yang memejamkan matanya berkali-kali. Reza masih meresponnya.


"Sayang" ucap Tasya lembut di telinga suaminya.


"Hmm.." masih memejamkan mata


Tasya memainkan tangannya di dada Reza.


"Geli Mi"


"Nikmati aja" ucap Tasya ditelinga suaminya, membuat Reza tersenyum dan membuka sedikit matanya.


Tasya mengecup wajah Reza, tangannya bergerilya ke tubuh suaminya. Perlakuan Tasya tak lantas membuat Reza berga*rah, dia semakin terlelap dalam tidurnya.


'Dia malah tidur. Ih si Papi menyebalkan!'


***


"Papi mau ke kantor gak?" Tasya duduk di bibir kasur


"Enggak Mi. Papi gak enak badan." Reza mengangkat kepalanya, merebahkannya di paha sang istri.


"Mau sarapan?"


"Huum. Tapi males turun sayang"


"Papi gak demam ah" Tasya memegang kening suaminya


"Papi bilang gak enak badan sayang, sakit semua badan Papi"


"Ya udah, aku ambil dulu roti buat sarapan Papi. Awas dulu kepalanya."


Reza mengubah kembali posisinya. Kini dia tengkurap.


"Abang emang gak sekolah?" tanya Pak Danu saat Tasya menuruni anak tangga.


"Enggak Opa, kata Miss libur karena aku kan habis field trip kemarin."


"Seru?"


"Seru banget. Aku meluncur opa kayak spiderman."


"Oh ya? Takut gak?"


"Ck.. Aku tuh gak takut sama begituan, Opa. Teman aku yang takut tuh sampai nangis-nangis. Padahal dia juga anak cowok, Opa."


"Hebat dong cucu Opa gak nangis."


"Mami kok dibawa ke atas sih Mi makanannya." perhatian Vano kini teralihkan


"Papi gak enak badan, sayang. Jadi bawa sarapannya ke atas"


"Papi sakit?"


"Iya sakit badan"


"Papi.. Papi.. Baru nyusul Abang kesana saja sudah sakit." Pak Danu terbahak mendengarnya.


***


"Pi, bangun dulu. Sana cuci muka."


Reza menggulingkan tubuhnya menjadi terlentang. Dia bangkit menuju kamar mandi.


"Mau dikerokin gak?" tanya Tasya


"Enggak Mi. Papi istirahat aja deh." ucapnya seraya menyeruput cokelat hangat miliknya.


"Ke bawah."


"Masa Papi ditinggal." protes Reza


Tasya kembali duduk disamping Reza. Reza menyodorkan roti di depan mulut Tasya, Tasya menerima roti tersebut hingga roti tersebut habis oleh mereka berdua.


Tasya memainkan ponselnya, dia melihat foto grup dari sekolah Vano sisa field trip kemarin. Melihat Mommy Selly yang ganjen, Tasya merasa kesal lagi.


'Gimana kalau A Reza kepincut sama wanita lain? Astaghfirullah ngeri.' Tasya berbicara pada dirinya sendiri.


Dia membaca artikel mengenai tips terhindar dari pelakor.


'Jangan berhenti genit pada suamimu? Ya ampun. Aku gak pernah genit sama A Reza. Gimana ini?' Tasya merasa panik sendiri.


'Harus dicoba. Obral Sya, obral deh biar A Reza gak kepincut wanita lain' Tasya menyemangati dirinya sendiri.


"Papi mau tidur lagi?"


"Ambilkan laptop Papi, Mi. Papi mau cek email dulu."


Tasya memberikan laptopnya pada Reza.


"Aku simpan ini dulu ke dapur ya?"


Tak menunggu jawaban, Tasya membawa piring dan gelas kotor ke bawah.


Tasya berpikir keras, memutar otaknya apa yang akan dia lakukan pada suaminya.


'Genit? Genit gimana ya? Aku kalau bertingkah sok imut yang ada A Reza tertawa. Aku saja geli sendiri membayangkannya.'


'Mesti ngapain ya?' dia masuk kembali ke kamarnya.


Tasya membuka kembali ponselnya. Dia mencari informasi kembali agar bisa genit pada suaminya.


'Main di kamar mandi suka. saat nonton? Gak nonton bareng juga. Baju seksi? Dimana ya lingerieku? Malu banget kayaknya pakai itu. Terakhir kapan ya? Ya ampun sudah lama sekali, kalau gak salah sebelum Daffa lahir. Mandi dulu saja deh, biar bisa mikir.' batin Tasya


"Mami lagi apa si Mi?"


"Enggak. Lagi baca artikel saja Pi."


"Mami mandi dulu ah, gerah. Papi mau mandi?" Tasya berharap Reza mau mandi bersama.


"Enggak Mi, tanggung." ucapnya masih fokus di depan laptop miliknya.


Setelah Tasya mandi, dia menuju walk in closet. Merasa dapat ide, Tasya memakai kemeja putih milik Reza.


'Ya ampun .. Aku sudah gila. Obral Sya.. Diobral saja. Pahala menyenangkan suami.'


Tasya keluar walk in closet dengan perasaan malu. Dia melangkah mendekati Reza yang masih sibuk dengan laptopnya.


Tasya tak berani bersuara, dia mematung berjarak dua langkah dari Reza.


"Kenap.. " Reza tersenyum senang.


" Ada yang lagi menggoda" ceplos Reza


"Haaaa...Papi, jangan bicara" Tasya menubruk tubuh Reza yang sedang memangku laptop hingga keduanya terguling.


"Laptop Mi, Mi.. Laptopnya nanti rusak." ujar Reza


Reza menaruh laptop tersebut. Kemudian mengunci pintu kamarnya seraya tersenyum senang.


"Tumben Mami begitu?" Reza sumringah.

__ADS_1


"Ya udah ganti lagi ah. Berisik Papinya." Tasya hendak bangkit sementara Reza segera menahannya.


"Mami ngajak olahraga. Hmm?" seraya mengungkung Tasya


Tasya mengecup Reza penuh gairah. Reza yang merasa tak siap, sedikit kaget dengan perlakuan istrinya, namun tak butuh waktu lama Reza membalas kecupan Tasya dengan semangat. Kali ini Tasya mendominasi permainan mereka, hingga Tasya terkulai lemas diatas tubuh suaminya.


Reza tersenyum senang.


"Tumben Mi.." Tasya segera membekap mulut suaminya. Reza dengan segera melepaskan tangan Tasya


"Mami agre.. " Tasya kembali membekap mulut Reza kemudian melepaskannya kembali.


"Papi suka Mi." ucap Reza kemudian.


Tasya tersenyum senang. Dia menghujani Reza dengan kecupan.


"Mami kayak begini tuh, Papi merasa melayang deh."


"Apa sih berlebihan"


"Mi"


"Apa?"


"Sering-sering kayak gini ya. Papi sampe lupa lagi sakit badan."


"Ih dasar!"


Tok.. Tok.. Tok..


"Mamii Papiii i'm coming with Daffaaa" Vano berteriak.


"Untung udah beres." Tasya turun dari tubuh suaminya, dia berjalan ke kamar mandi sementara Reza memakai pakaiannya kembali.


Reza memunguti baju yang dikenakan Tasya kemudian menaruhnya di keranjang cucian.


"Papi sedang apa sih? Lama sekali."


"Papi ketiduran Nak."


"Mami mana?"


"Mandi." Reza menggendong putra bungsunya. Menaikannya ke atas kasur.


"Mau nonton?"


"Mauuu"


Ketigana kompak tiduran diatas kasur sambil menatap layar televisi.


Tasya memakai bathrobenya seraya mengeringkan rambut.


"Miii.. Sini deh." Vano memperhatikan Maminya dari tadi.


"Kenapa?" Tasya mendekati anaknya.


Vano berdiri kemudian memegang dada Maminya.


"Ya Allah, Mami kena nyamuk sampai begini" ucap Vano membuat Tasya dan Reza terkejut.


Tasya melotot ke arah Reza sementara Reza menahan tawanya.


"Aku ambilkan dulu minyak telon aku ya Mi." Vano turun dari kasur.


Tasya menyingkapkan bathrobe bagian dadanya.


"Ya ampun Papi, banyak gini"


"Sebanyak des*han Mami aja" ucapnya


"Ih si Papi!"


"Haha.. Bener Mi. Tiap Mami mend*sah, Papi makin semangat Mi" ucapnya


Vano masuk membawa minyak telon miliknya.


"Sini Abang yang olesi Mi." tangan mungil Vano hendak membuka tutup botol minyak telon tersebut.


"Pi buka dong. Susah"


"Eh, Papi aku minta tolong buka tutup botolnya yaa.." Reza tersenyum.


"Terima kasih Pi"


"Buka Mi bajunya."


Tasya melakukan apa yang anaknya minta.


"Nyamuknya nakal sekali, kasihan Mami aku sampai merah-merah begini." Ucapnya sambil mengolesi minyak telon pada tubuh Tasya.


"Nanti kalau ketemu nyamuknya pukul saja ya Bang" titah Tasya.


"Kayak Abang nih Mi. Tapi abang kecil bentolnya" Vano memperlihatkan kulitnya bekas gigitan nyamuk.


"Mami kayaknya lama Bang" ucap Reza


"Sepertinya begitu Papi. Merahnya Ya Allah.." Reza dan Tasya saling lirik menahan tawanya hingga Reza tak bisa menahan tawanya kembali. Dia terbahak.


"Ya Allah aku punya anak tua sekali Ya Allah" Reza terbahak begitupun Tasya ikut tertawa.


"Kenapa sih Mami Papi tertawa? Ada yang lucu?"


"Ada. Kelakuan kamu." timpal Reza


"Bang, jangan bilang Mbak ya."


"Kenapa Mi?"


"Nanti kalau mbak ingin lihat, Mami kan malu. Masa Mami buka-buka begini depan mereka."


"Jadi Mami buka-buka depan kita aja?" Vano mengelilingkan jarinya menunjuk Papi dan Adiknya.


"Iya Bang."


"Oke deh Mami, Abang gak bilang sama Mbak"


"Terima kasih ya Bang."


Mereka menonton kembali hingga film yang di tontonanya selesai. Vano mengajak adiknya bermain di playground.


Tasya menuntun Daffa menuruni anak tangga.


"Opaaaaa."


"Hai anak-anak"


"Ayo main Opa. Aku mau main sama Opa."


"Tumben katanya gak suka main sama Opa-Opa."


"Iya Opa, soalnya kasihan Mami aku, ininya di gigit nyamuk Opa." ucap Vano polos menunjuk dadanya membuat Tasya syok mendengarnya.


.


.

__ADS_1


.


Fans Abaaang mana suaranyaaaaa... Jangan lupa like dan komentarnya. Oya, vote yang banyak. Terimakasih ^^


__ADS_2