BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Menjalani Hukuman


__ADS_3

Reza merebahkan tubuhnya yang lelah setelah perjalanan tadi. Punggungnya terasa pegal dan panas karena sudah lama dia tidak menyetir mobil jarak jauh seperti tadi. Dia telah terbiasa mengandalkan sopir pribadinya. Namun karena ingin menyusul sang istri, Reza rela menyetir sendiri.


Lama Reza berdiam diri, dia merasa sangat kesepian dikamarnya yang luas. Reza segera mengambil ponsel untuk mengabari anak istrinya bahwa dia telah tiba dirumah.


"Lagi ngapain sih Mami, gak diangkat-angkat dari tadi." gerutunya.


Setelah bosan menunggu sambungan telepon yang tak kunjung diangkat Tasya, Reza beranjak ke kamar mandi untuk menyegarkan diri.


Tasya pulang dari rumah teteh bersama Vano dan Mbak Diah. Dia mengasuh Vano yang selalu ingin ke rumah teteh karena tertarik akan kelinci disana.


"Aa, beli kelinci dimana sih A?" tanya Tasya pada Rasya


"Ada deket pasar. Mau beli sekarang? Mumpung masih sore." ajak Rasya


"Ya sudah, Ayo deh." Tasya bergegas ke kamar mengambil dompet miliknya.


"Mau kemana Sya?" tabya Ibu saat melihat Tasya membawa dompet.


"Beli kelinci Bu. Dari pada harus ke rumah teteh terus." ucap Tasya


"Ya sudah jangan lama-lama keburu maghrib." ucap Ibu


"Loh A, kok pakai mobil?" tanya Tasya saat menghampiri Rasya dihalaman rumah.


"Kamu lagi hamil, Vano sama Mbak Diah gimana?"


"Aku pikir cuma kita berdua saja."


"Ajak saja anaknya, biar dia milih sendiri mau kelinci yang mana" ucap Rasya


"Vanoo, mau kemana?" tanya Pak Taufik yang batu tiba ke rumah.


"Beli kelinci, King. Vano ngerengek terus minta ke rumah teteh. Gak mau pulang kalau sudah disana."


"Nih uangnya Van" Pak Taufik mengeluarkan dompetnya.


"Ini ada King."


"Nih, King yang beliin saja." ucap Pak Taufik memaksa.


"Ya sudah. Terima kasih King." ucap Tasya senang.


"Jatah aku mana yah?" Tasya berbalik meminta uang dari Pak Taufik.


"Mau beli apa memangnya?"


"Baso aci. Seger kayaknya." ucap Tasya


Pak Taufik segera memberikan uang jajan pada Tasya.


"Yes. Terima kasih Yah." Tasya bergegas masuk ke dalam mobil.


"Gak tahu malu sekali, sudah punya suami Direktur masih minta duit sama ayah." sindir Rasya.


"Biarin. Mbak nanti kita jajan baso aci Mbak." ajak Tasya


"Hehe.. Iya Bu"


"Isiin bensin ah sekalian." pinta Rasya


"Ih gak mau, cuma dari sini ke pasar saja masa harus isiin bensin. Harga bensin sama Kelinci mahalan bensinya." gerutu Taysa


"Ih, suami kamu kan Direktur. Pelit banget sih Neng."


"Ya memang kalau Direktur kenapa? Gak ada hubungannya kali."


"Istri direktur biasanya uangnya banyak."


"Yee..uang banyak juga buat kebutuhan kali."


"Ih dasar pelit."


"Biarin."


***


"Vano mau yang mana Van?" tanya Rasya saat melihat beberapa kelinci dan hamster dihadapan mereka.


"Aa, beli hamster saja lah jangan kelinci." pintanya.


"Lucu tuh ada mainannya kalau hamster." ucapnya kemudian


Dengan bujukan Taysa, Vano akhirnya mau membeli sepasang hamster. Dia sangat senang melihat hamsternya yang tak bisa diam.


Setibanya dirumah, Tasya segera membersihkan dirinya. Dia duduk ditepi ranjang sambil membuka ponsel.


"Beberapa panggilan telepon? Paling ngasih tahu sudah sampai rumah. Biarin ah. Kali-kali kan jadi orang sok sibuk" batinnya senang.


Sedikit rasa khawatir dan kasihan terselip dihatinya. Namun dia segera menepisnya. Dia tak mau luluh begitu saja.


***


Jam sepuluh malam, Reza terbangun dari tidurnya. Reza mengedarkan pandangannya, sesaat dia lupa kalau anak istrinya tak ada dirumah.


Reza mengambil ponselnya yang tergeletak di samping bantalnya. Dia melihat tak ada satu pesan pun dari Tasya.


"Mamii.. Keras kepala sekali sekarang." gumamnya.


Reza segera bangkit keluar setelah dia merasa lapar. Dia mencari sesuatu untuk dimakan. Namun sayangnya hanya ada mie instan.


Reza lupa, sudah lama sekali dia tak mengantar Tasya belanja kebutuhan sehari-hari seperti dulu.


Reza segera mengambil jaketnya hendak membeli nasi goreng dari langganannya. Dia mengeluarkan motor kesayangannya.


Sesampainya disana, tenda yang biasa terpasang nampak menumpuk di pojokan bersama dengan rodanya.


"Gak jualan lagi!" batinnya kesal.


Reza meneruskan ke tempat seafood langganannya. Dia segera memesan pesanannya dan makan seorang diri.


Reza merasa tak biasa makan sendirian ditempat umum. Dia sangat merindukan Tasya yang biasanya menjadi partnernya untuk mencari makanan.


Reza memperhatikan sepasang suami istri. Mereka nampak mesra disana. Sesekali sang suami mengelus perut istrinya yang buncit, terlihat dari gerakan tangan suaminya yang naik turun diperut istrinya.


Sungguh dia merasa melihat dirinya dulu. Jauh sebelum semua kesalahan fatalnya terulang. Terlintas perkataan Tasya seolah menampar dirinya.


"Kalau aku boleh memilih, aku ingin kembali disaat kamu bukan siapa-siapa. Disana ada kehangatan darimu. Sekarang saat kau berubah menjadi indah menurut orang lain. Tapi kamu seolah melupakan cangkang yang membuatmu indah"


Reza menelan salivanya berat, nafsu makannya tiba-tiba hilang. Reza membersihkan tangannya kemudian membuka ponselnya dan menulis pesan pada istrinya.


"Mam, Papi kangen banget. Papi lagi makan sendirian di seafood langganan kita Mam."


Reza menutup ponselnya kembali. Dia segera membayar makanannya dan bergegas pulang ke rumah.


***


Lepas subuh, Taysa membuka ponselnya. Dia melihat satu pesan masuk dari Reza.


"Permainan baru dimulai satu hari dan kamu sudah bilang kangen? Aku tak semudah itu kau bodohi A" gumamnya.


Tasya segera ke dapur untuk membantu Ibu.


"Sya, kamu gak kasihan sama Reza? Dia sendirian disana." ucap ibu


"Kasihan? Selama ini apa A Reza kasihan sama aku? Ngurus Vano sendirian, hamil pula." Tasya membalikan ucapan Ibunya. Dia sedikit jengkel pada Ibu yang seolah membela suaminya.

__ADS_1


Ibu terdiam tak melanjutkan bujukannya. Sementara Tasya hanya diam tak bicara apapun.


Tasya segera masuk ke kamar untuk melihat Vano. Tasya terkejut saat melihat anaknya hendak turun dari ranjangnya seorang diri.


"Astaghfirullah Vano.. Duh hampir saja" Ucapnya seraya menggendong Vano.


"Vano.. Jangan bikin Mami kaget lagi ya.. " ucap Tasya seraya menuntun anaknya keluar kamar.


"Van, kita ke kamar Papa ya. Bangunin Papa kamu" ajak Tasya sambil membuka pintu kamar kakaknya yang memang tidak pernah dikunci.


Vano memukul muka Rasya atas arahan Tasya.


"emh!" pekik Rasya sambil membuka matanya.


"Vanoo. Ih sakit tahu." ucapnya lembut


"Sini tidur sama Papa." Rasya memangku Vani dan memeluknya hingga Vano meronta dan menangis.


"Aku mual A. Titip ya." ucap Tasya


"Kenapa gak kasih ke Mbak Diah sih! Aa masih ngantuk juga!" gerutunya


"Katanya aa ada meeting. Makanya aku bangunkan. Kurang baik apa coba?" ucap Tasya seraya keluar kamar.


"Ih bocah ini. Bukannya bangun siang kek Van mumpung masih kecil." Rasya mengajak Vano keluar kamar.


***


"Za? Kamu gak masuk kantor?" Suara Adit diseberang sana membangunkan tidurnya.


"Jam berapa ini?"


"Jam 9 Bro. Kamu meeting jam 10. Gila kamu belum bangun?" tanya Adit.


Reza tak mendengarkan Adit. Dia bergegas ke kamar mandi. Reza lupa tak memasang alarm karena biasanya Tasya yang membangunakannya.


Reza berjalan cepat menuju mobilnya. Supirnya sudah menunggu dari tadi disana.


"Pak Den, cepet ya. Aku kesiangan nih." ucapnya


***


"Tumben banget sih kamu telat begini Za." Adit menghampirinya


"Semalam gak bisa tidur. Aku lupa oasang alarm."


"Alarm?"


"Istriku pulang kampung. Aku.. "


" Nanti bicaranya. Kamu sudah ditunggu. Cepet." Adit membukakan pintu tempat meeting mereka. Sementara Reza berjalan dengan mantap.


Setelah meeting selesai, Reza mengajak Adit ke ruangannya.


"Istriku pulang kampung." Reza memijat keningnya


"Terus kenapa Bos? Kamu kurang belaian?" Adit menertawakannya.


"Dia marah. Aku gak ada waktu untuknya."


"Kamu bisa padatkan jadwalku dihari biasa, kosongkan waktuku di sabtu minggu. Bagaimana?" tanya Reza


"Kalau sabtu minggu ada undangan bagaimana?"


"Selama istriku belum mau pulang, aku terpaksa kesana."


Adit tertawa.


"Direktur galau. Istrinya minggat" cibir Adit


"Haha.. Maaf Bos."


"Bas bos bas bos" Ketus Reza


"Aku gak mau tahu Dit, jumat sore jdwalku harus kosong. Aku berangkat kesana."


"Siap Bos. Ada lagi?"


"Enggak. Itu saja. Tolong handle sebagian pekerjaanku saja."


"Baik."


"Ya sudah. Aku mau menghubungi istriku dulu. Aku belum memberinya kabar."


"Selamat berjuang Za" ucap Adit seraya keluar ruangan.


"Kirain Aku saja yang takut istri. Ternyata dia juga. Haha. Baguslah" Adit bergumam tepat di depan Rosa.


Rosa melihatnya dengan heran.


***


"Assalamualaikum Mam." Reza tersenyum melihat Vano dan Tasya yang berada dikamarnya.


"Waalaikumsalam." ucap Tasya yang hanya menampakan bagian tubuhnya saja.


"Mam? Mukanya mana?"


"Kamu lihat saja Vano. Buat apa lihat aku?" ucap Tasya jutek


"Mami, kok begitu sih? Papi kangen banget. Tadi Papi kesiangan tahu Mam. Biasa ada Mami yang bangunin."


"Sukurin"


Reza tersenyum mendengarnya.


"Kerasa banget gak ada Mami begini. Pulang dong sayang." bujuk Reza


"Kamu cari saja asisten pribadi yang setia 24 jam sama kamu." ucap Tasya


"Kok gitu sih Mam?"


Tasya tak menyahutinya.


Seseorang mengetuk pintu Reza.


"Za, ini hasil meeting kemarin. Tolong di cek." ucap Adit.


"Oke." Reza menunjuk ponselnya, Adit segera keluar.


"Vanoo.. Maaf ya, Papi sambil kerja nih." ucap Reza


"Matiin saja. Kita gak mau ganggu"


"Enggak kok sayang. Kan Papi kangen ingin dengar suara kalian."


"Tumben banget. Biasanya juga cuek saja. Kita mah sudah biasa gak ada kabar dari kamu. Aneh malah kamu mau video call begini." ketus Tasya


"Mam, Papi tahu Papi salah. Tolong maafkan semua kesalahan Papi. Papi ingin memperbaiki semuanya." ucapnya


Tasya terdiam.


Tiba-tiba ketukan pintu terdengar kembali.


"Za.."

__ADS_1


Reza memberi kode pada Adit.


"Mam, nanti sambung lagi ya. Maaf, Papi ada pertemuan dulu. Miss you so much Tasya Fadilla Ramadhan." ucapnya seraya menutup ponselnya.


Tasya memeluk ponselnya. Tak dipungkiri dia pun menahan rindu yang sama dengan sang suami. Namun hatinya masih enggan bersikap baik pada Reza. Dia takut Reza hanya membujuknya saja dan kembali mengulang kesalahan yang sama.


***


Beberapa hari ini, Tasya rajin membuat story di aplikasi pesannya saat berada dirumah orangtuanya. Dia sedikit menikmati hidupnya karena sering berbincang dengan tetangga dan juga karyawan orang tuanya.


"Syaaaa.. Kamu di sini?" seseorang menyapa dalam pesan.


"Tari?" Tasya membalas pesannya cepat saat melihat foto profil temannya.


"Ih masa lupa sama temen. Mentang-mentang dah sibuk jadi ibu rumah tangga yaaa."


"Ih gak lupaaa. Ya ampuuuuun aku kangeeeen banget. Kumpul yuk?" ajak Tasya


"Ayookkk.. Aku bikin grup dulu ya." Tak lama Rina sudah masuk dalam chat mereka.


Tasya menjadi sangat antusias.


"Tasyaaa" Rina menyapanya.


"Riiin. Duuh kangen kalian" Tasya tersenyum sendiri.


"Sabtu pada kerja gak? Yuukk kumpul." ajak Tasya


"Ayoo. Aku kangen banget. Ingin lihat anakmu yang ganteng itu Sya." Rina antusias.


"Ayoo, kumpul dimana kita?" tanya Tari


"Di Mall yuk, nanti aku bawa Vano. Gak apa-apa kan yaaa?" ucap Tasya


"Harus dibawa. Aku ingin lihat perpaduan kamu dan om ganteng." ujar Rina


"Haha.. Dasar kamu bisa saja."


"Jadi yaa hari sabtu besok." Tari memastikan


"Eh jam berapa dulu?" tanya Tasya


"Jam 2 yuukk." ajak Rina


"Siaap."


Tasya sangat antusias. Dia sangat senang akan reuni bersama sahabatnya waktu kuliah dulu.


Tasya menghampiri Ibunya yang sedang bermain bersama Vano.


"Bu, aku mau reuni sama Rina dan Tari sabtu ini Bu" Tasya memberitahu ibunya


"Mereka mau kesini?" tanya Ibu


"Enggak Bu. Nanti janjian di Mall. Aku juga bawa Vano sama Mbak Diah." ucap Tasya


"Kamu sudah izin sama Reza?" tanya Ibu


Tasya diam.


"Izin dulu Sya sama Reza." ucap Ibu.


"Nanti saja kalau dia kesini."


"Hari ini kan dia kesini?" tanya Ibu


"Gak tahu jadi apa enggak Bu. Aku gak nanya."


"Ya sudah kamu bilang saja dulu" ucap Ibu.


"Iya."


Tasya masuk ke dalam kamar. Dia sedikit gugup saat hendak menulis pesan pada suaminya.


'Rasanya seperti orang lain.' ucap Tasya


Akhirnya dia mengetikan sesuatu di ponselnya.


"Assalamu'alaikum A. Aku cuma mau kasih tahu, besok aku mau reuni dengan temanku. Aku ajak Vano dan Mbak Diah juga." pesan terkirim kepada Reza.


Reza tersenyum membaca pesan dari Tasya. Setidaknya Tasya masih menghargainya dengan memberikan kabar. Dia tak menyia-nyiakan kesempatan. Reza segera menghubungi Tasya.


"Assalamu'alaikum." sapa Tasya


"Waalaikumsalam sayang. Mau reuni sama siapa?" tanya Reza


"temanku lah."


"Iya laki-laki apa perempuan?" tanya Reza


"Dua-duanya." Tasya sengaja berbohong


"Vano dibawa kan sayang? Papi anter ya? Sebentar lagi Papi berangkat kesana." ucap Reza.


"Enggak usah. Aku bisa sendiri. Kalau mau kamu main saja sama Vano." ketus Tasya.


'Duh masih belum luluh juga' batin Reza


"Oh ya sudah. Papi mau siap-siap ya sayang. Doakan Papi mudah-mudahan selamat sampai rumah." ucap Reza.


"Aamiin."


"Love you Mam. Assalamu'alaikum." Reza menutup sambungan teleponnya


Tasya kembali menemui Vano.


"Sudah telepon Reza?" tanya Ibu


"Iya sudah bu. Nanti dia kesini. Gak tahu besok dia ikut atau jaga Vano saja dirumah." ucap Tasya


"Jangan terlalu keras Sya. Kasihan Reza. Tanggung jawabnya besar diluar." ucap Ibu.


"Aku sama Vano juga tanggung jawabnya kan Bu? Dunia akhirat malah." Ucap Tasya


"Ibu gak pernah ada di posisi aku sih" ucap Tasya seraya masuk ke dalam kamar.


***


Reza tengah bersiap untuk pulang, dia membeli satu bucket bunga mawar dan juga kue kesukaan istri dan mertuanya.


Reza melajukan mobilnya dengan semangat hingga tak terasa dia tiba dirumah mertuanya.


Reza mengetuk pintu dengan membawa bucket bunga dibelakang tubuhnya. Begitu pintu dibuka, Reza mendekap bunganya hendak diberikan.


"Assalamu'alaikum sa.."


"Rasya!"


.


.


.


Kira-kira Papi masih bisa bertahaan gak dengan hukuman dari Mami? Atau Mami yang jadi luluh? Yuuukk bantu vote mereka dengan koin atau poinnya.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya yaa.. Terima kasih ^^


__ADS_2