BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Kelulusan Vano


__ADS_3

"Gak Papinya, gak anaknya kalau gak diingatkan pasti saja begitu." Tasya mengikuti Reza yang mengambil helm. "Pi, cepat Pi. Kasihan nanti dia bingung gak ada kartu pesertanya." Ujar Tasya seraya menenteng tas sang anak.


"Iya ini kan mau jalan." Reza mengeluarkan motor miliknya. Dengan satu kali selahan, motornya mengaum dengan gagah.


Tasya memberikan tasnya pada Reza. "Aku berangkat dulu, Mi." Reza menirukan Vano seraya memakai tas milik Vano dipunggungnya.


"Dasar. Sempat-sempatnya ih Papi." Tasya tertawa.


"Hati-hati sayang." ujar Tasya saat Reza melajukan motornya meninggalkan rumah.


Reza menjalankan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi berharap dapat menyusul Vano. Sayangnya, dia tak bisa menyusul sang anak hingga tiba di Sekolahnya.


"Pak, saya mau bertemu dengan Elvano. Ini tasnya ketinggalan." Reza meminta izin pada satpam sekolah.


"Elvano? Oh El anak IPA ya? Masuk saja Pak." ucapnya.


Saat hendak masuk, Reza melihat Vano setengah berlari menuju ke arahnya.


"Piii.. Alhamdulillah..Tadinya aku mau pulang lagi." Vano memegang dadanya.


"Masih muda sudah pikun, Bro" ucap Reza


Seorang siswa menyapa Vano saat melintasi mereka. "El, si Daffa ada gak? Aku kirim pesan kayaknya pending gitu." Reza sontak menoleh pada teman Vano.


"Ada. Dia belum bangun." timpal Reza menatapnya.


"Oh." teman Vano menatap Vano seolah bertanya.


"Saya abangnya mereka." ucap Reza yang mengerti isyarat keduanya.


"Oh, tolong bilang saja sama Daffa, Bang. Pertandingan diundur, gak jadi minggu ini." ucapnya sopan. "Aku duluan kalau begitu" dia menepuk lengan Vano.


Reza dan Vano saling tatap kemudian tertawa.


"Matanya rabun kali ya? Sudah jelas tua begini, masa dia percaya Abangnya." Vano meledek Papinya


"Justru dia normal. Makanya Papi dikiranya masih muda." Reza tak mau kalah. "Sana masuk."


"Oke. Thanks Pi" Ucap Vano meninju pelan lengan Papinya.


"Bro" Reza memanggilnya saat Vano mulai meninggalkannya.


Sontak Vano menoleh ke arahnya. "Good luck" ucap Reza seraya tersenyum sementara Vano mengacungkan jempolnya.


Reza meninggalkan sekolah anaknya. Dia menjalankan motor seperti tadi. Saat menunggangi kuda besi kesayangannya, jiwanya mudanya bangkit kembali. Dia lupa kalau dirinya sudah mempunyai dua anak bujang.


Reza sangat menikmati hembusan angin dan juga sinar mentari yang menyapanya secara langsung membelai kulitnya yang terbungkus kemeja putih pagi ini. Dia melajukan motornya dengan hati yang terasa damai. Tiba-tiba seekor kucing menyebrang jalan membuatnya kaget dan refleks membanting stang motor hingga dia jatuh.


Reza berusaha bangun. Dia dibantu pengendara motor lain menepi di samping trotoar. Darah segar mengalir dari hidung dan pelipisnya. Celana hitamnya robek menunjukan lututnya terluka. Tak hanya itu, pergelangan kaki dan tangannya tak luput dari goresan, serta bajunya tedapat noda darah dan kotor.


"Kasih air. Kasir air" ujar beberapa orang saat melihat Reza yang duduk lemas. Hingga seseorang memberikan air kepada Reza. Reza membasuh darah yang mengalir dihidungnya.


"Ke klinik saja Pak, itu lukanya kayaknya dalam" Saat melihat pergelangan kakinya. "Mari saya antar." ucap pengemudi ojek online


"Tidak usah."


"Dekat kok Pak, cuma 10 meteran ada klinik." tambahnya lagi.


"Ya sudah, tolong saya Pak" pinta Reza.


Reza meringis saat perawat membersihkan luka di lututnya. Sesekali dia meniup luka lainnya di sikut tangannya yang mulai terasa perih.


Dengan setia, pengemudi ojek tersebut menemani Reza. Reza bahkan meminjam ponsel miliknya untuk menghubungi orang rumah.


Reza dan perawat melirik ke arah pintu saat seseorang tiba.


"Astaghfirullah Piiiii" Tasya mendekat seraya meneteskan air matanya disusul oleh Daffa.


"Kata Papi jangan ribut! Tahu sendiri Mami kamu kayak gimana!" Reza memarahi anaknya


"Maminya curiga, Pi."


"Mau ditutupi gimana? Pulang juga bakalan terlihat semua lukanya!" ketus Tasya.


Perawat hanya diam mendengarkan pertengkaran kecil mereka.


"Gak apa-apa sayang, hanya luka kecil. Alhamdulillah Papi masih selamat." Reza melunak pada istrinya.


"Sus, tekan aja sus lukanya. Dia bilang hanya luka kecil" Tasya nampak kesal.


Perawat tersenyum mendengarnya. "Iya Bu, gak ada luka yang serius kok. Cuma yang ini sedikit lebih dalam saja" ucapnya menunjuk oergelangan kaki Reza.


Mereka pulang setelah Reza memberikan beberpa lembar uang pada pengendara ojek yang membantunya.


Kini mereka tiba dirumah. Reza membaringkan tubuhnya, merasakan seluruh tubuhnya yang mulai terasa nyeri.

__ADS_1


"Mi, minum Mi." pinta Reza.


"Mau makan?" Tanya Tasya seraya memberikan minum pada suaminya.


"Enggak ah. Badan sakit semua Mi." rengeknya


"Makanya sudah tua jangan sok jagoan. Gak sadar umur malah kebut-kebutan." ketus Tasya seraya menaruh kembali gelas ke tempat semula.


"Sudah sih Mi, Papi dari tadi di marahin terus. Bukannya disayang-sayang."


Tasya duduk di bibir kasur. Reza mengubah posisinya, bersandar di lengan Tasya.


"Tahu gak? Lemas banget Pi, dengar Papi kecelakaan. Jantung rasanya mau lepas."


"Maaf. Papi menghindar dari kucing, sayang." Reza menggenggam tangan istrinya.


"Mami takut banget tahu gak? Takut Papi ninggalin Mami. Panjang umur ya Sayang, jangan tinggalin Mami sendirian." Tasya mengelus lembut pipi Reza dari samping. Matanya barkaca-kaca menyiratkan kesedihan dan ketakutan.


"Mami mah mikirnya kemana aja!" ketus Reza.


"Kalau boleh milih, Mami duluan saja Pi yang ninggalin Papi." suara Tasya sedikit bergetar. Dia menelan salivanya terasa berat.


"Bicara apa sih Mi!" Reza membalikan tubuh istrinya. Kini mereka saling berhadapan. "Papi gak suka Mami bahas begitu. Maaf sudah bikin Mami khawatir, Mi."


"Makanya jangan berulah. Papi kayak begini rasanya jantung Mami mau copot."


"Iya sayang." Reza mengecup lembut bibir istrinya kemudian mengelus kepala sang istri.


BRAAAAKKKKKK


"Pi, gak apa-apa Pi?" tanya Vano seraya mendekat. "Ya ampun.. Pasangan fenomenal malah mesraan."


Tasya tersenyum.


"Kamar orangtua gak ada harganya banget sih!" ketus Reza


"Syukurlah gak serius, Pi." ucap Vano "Sengaja kayaknya Papi terjun santai Mi, biar Mami ekstra manjain." Vano tak menanggapi ucapan Reza.


"Heh! Gak usah terjun juga Mami mah manjain Papi."


"Gimana ujiannya Bang?"


"Alhamdulillah lancar Mi."


"Awas aja kalau besok sampai lupa lagi bawa tas." ketus Reza.


"Abang mau makan dulu? Mami siapkan."


"Biarkan saja Mii..Udah gede juga. Papi aja yang disuapin."


"Ck.. Tua-tua keladi." ujar Vano seraya meninggalkan mereka.


***


Tak terasa waktu terus bergulir. Reza sudah pulih seperti sedia kala setelah dua minggu dia perawatan dirumah.


Kini mereka tengah bersiap untuk acara perpisahan sang putra setelah pengumuman kelulusannya. Reza memakai baju batik senada dengan dress yang dikenakan Tasya.


Tasya menatap suaminya dari pantulan cermin. Reza fokus mengancingkan bajunya tanpa disadari sang istri tengah mengagumi dirinya dari balik cermin. Tasya merasa bangga pada Reza yang tidak banyak berubah walaupun usianya semakin bertambah.


Reza tetaplah Reza yang romantis dan humoris menurutnya. Tatapan cinta yang diberikan Reza selalu membuatnya merasa jadi wanita paling beruntung yang menemaninya hingga detik ini.


"Cantiknya bidadariku" puji Reza saat Tasya beranjak dari meja rias.


Tasya mendekat ke arah suaminya. Dia melingkarkan tangannya di leher sang suami kemudian mengecupnya dengan mesra.


"Tumben" Reza tersenyum senang.


"Ganteng banget Pi. Kalau pakai baju batik kayak gini tuh, Mami suka."


"Tumben sih Mi, pakai puji-puji. Terpesona banget memangnya?"


Tasya tersenyum sambil mengangguk. Dia kembali menarik leher suaminya. Mengecupnya mesra.


"Kalau bukan acara penting, Papi lepasin semua baju Mami."


Tasya yang biasanya malu, kali ini membalasnya. "Nanti malam sayang." keduanya tersenyum. Tasya menghapus jejak lipstik miliknya dibibir Reza.


"Love you Tasya Fadilla Ramadhan" bisik Reza membuat keduanya tertawa.


"Kayak baru nikah kita, Pi."


"Haruslah Mi. Jangan sampai makin tua makin pudar cinta kita."


"Bahasnya cinta. Haha.. Kayak anak ABG ih Papi"

__ADS_1


"Usia boleh tua, tapi jiwa harus muda terus, Mi"


"Yuk Pi, nanti terlambat." ajak Tasya. Dia segera keluar kamar.


"Loh, Adek kok pakai kaos sih?"


"Mi, acara Abang kenapa aku harus ikut juga sih!" kesalnya


"Pokoknya Mami mau foto studio setelah beres, Dek. Sengaja Mami jahit batik buat foto keluarga."


Daffa cemberut. "Ya Adek kan bisa nyusul Mi nanti ke studio fotonya."


"Enggak. Pokoknya biar sekali jalan. Kita makan diluar juga. Kalau kamu gak mau turun, nanti tunggu aja di mobil."


"Batik kamu mana?" tanya Reza


"Udah di gantung di mobil."


"Ya sudah cepat sih Mi. Nanti telat lagi" Vano tak sabar.


Reza melajukan mobilnya kesekolah Vano.


"Papi jatuh disitu tuh Mi waktu itu" Reza menunjuk ke seberang jalan.


"Pokoknya lain kali semuanya hati-hati. Jangan bikin Mami mati mendadak gara-gara mendengar kabar yang enggak-enggak."


"Mi! Bicara apa sih! Mati-mati segala!" Ketus Vano membuat Reza tersenyum.


"Sekarang Papi punya algojo yang marahin Mami" gumam Reza.


Mereka tiba di sekolah Vano yang nampak sudah ramai.


"Adek disini saja Mi." ucap Daffa.


"Ya sudah. Nanti bilang kalau ada apa-apa."


Ketiganya turun dari mobil. Reza menggandeng Tasya dengan mesra tak peduli wali murid lain menatapnya.


"Elvaaan.." seorang gadis cantik menyapanya.


"hai."


"Orangtuamu?" tanyanya


"Iya. Kan kamu sudah pernah lihat, bukan?" ucap Vano datar


"Hai Tante, Oom." Gadis tersebut menyalami Reza dan Tasya.


"Pacar Vano?" tanya Tasya ramah.


"Mi!"


"Belum Tante. Masih calon." ucapnya seraya tertawa.


"Apa sih! Gak tahu malu banget" ketus Vano membuat Reza menyunggingkan senyumnya.


Reza dan Tasya kini duduk di kursi tamu. Keduanya nampak fokus menyimak layar lebar yang menampilkan pertunjukan dari para siswa.


Tiba-tiba panggilan telepon masuk membuat Reza membuka ponselnya.


"Rasya, Mi?" Reza memperlihatkan ponselnya kemudian bergegas keluar sembari mengangkat telepon.


"Ada apa?" tanya Reza


Wajahnya nampak serius saat mendengarkan pembicaraan dari Rasya. Tak berapa lama, Reza menghubungi panitia penyelenggara acara.


Kini Reza berbincang dengan Vano. Vano memperlihatkan wajahnya yang kaget seraya melonggarkan dasi yang dipakainya.


Reza kambali masuk ke dalam ruangan." Mi, pulang yuk?" ajak Reza


"Ada apa Pi?"


"Nanti Papi cerita. Yuk pulang. Vano sudah di mobil." ucap Reza


Reza menggenggam tangan istrinya, menuntunya ke dalam mobil. Kedua anaknya tak banyak bicara.


"Ada apa sebenarnya. Pi?" ucap Tasya dengan nada bergetar.


.


.


.


Maaf lama ya sobat BSN, akunya sedikit sibuk di dunia nyataa. Ingin nulis tapi gak bisa fokus. Huhu..

__ADS_1


Terima kasih masih setia menunggu. Bantu like, komentar dan vote yaa.. Terima kasih ^^


__ADS_2