
"Aku suka disini A" ucap Tasya seraya duduk dibangku melihat anak-anak bermain.
"Aa kurang suka disini" ucapnya datar
"Kenapa?" tanya Tasya heran
"Awal mula kamu kabur kesini, di ajak si Lala kabur kesini juga, bahkan awal ketemu si anak magang itu juga di sini kan" ucap Reza memutar memorinya.
"Hehe.. Iya. Tapi aku suka. Disini melihat anak-anak bermain, pohon-pohon rindang, kolam ikan, rasanya damai" ucap Tasya sambil mengedarkan pandangannya.
"Kita juga begini saja nanti sayang. Aku, Aa, sama anak kita kesini naik motor. Kan gak jauh juga dari rumah" Tasya menyeringai
"Kamu gak kasihan anak kita naik motor kena hembusan angin sayang?" tanya Reza
"Enggak. Banyak kok. Tuh lihat, yang bawa bayi juga ada" Tasya menunjuk ibu-ibu yang menggendong anaknya.
"Murah meriah asal bahagia" ucapnya lagi
Reza mengacak kerudungnya. Kemudian memeluknya.
'Ukhtiku memang sederhana. Apa adanya' batin Reza
"Jangan peluk-peluk kalau di umum begini" Tolak Tasya melepas tangan Reza
"Halal sayang"
"Halal juga ada batasnya. Jangan membuat para jomblo menjerit" Ucap Tasya
"Menjerit keenakan?" goda Reza
"A Reza! Gak tahu malu sekali!" Tasya berdecak kesal
"Becanda sayang. Jangan marah-marah nanti cepat tua" ledek Reza
"Makanya jangan memancing" balas Tasya
Dari kejauhan sebuah bola menggelinding ke arah mereka, diikuti oleh anak lelaki yang hendak menangkapnya. Reza mengambil bola tersebut.
"Terima kasih om" anak tersebut hendak mengambil bola dari tangan Reza. Tapi Reza memainkannya.
"A Reza kasihan" ucap Tasya
"Ini ambil bolanya" ucap Reza tanpa menghiraukan Tasya
Anak tersebut nampak kesusahan karena Reza memutar-mutar bola tersebut sambil tersenyum menggodanya.
"Mama..." anak itu melirik ibunya
Ibunya hanya tersenyum melihatnya dari kejauhan.
"Kasih A. Jangan jahil" ucap Tasya seraya merebutnya
"Ini anak ganteng" ucap Tasya
"Terima kasih tante" ucapnya
Anak tersebut mengambilnya kemudian berlari kearah ibunya.
"Dedek, nanti kamu begitu ya sayang. Main sama Papi" ucap Reza mengelus perut Tasya
"Iya ya A. Ya ampun aku sudah gak sabar" ucap Tasya senang
"Aku haus A" ucap Tasya
"Tunggu disini. Aa beli dulu ya" ucap Reza
Dia segera bangkit dan berjalan ke arah pedagang yang berada disana.
__ADS_1
Reza berjalan sambil mengedarkan pandangannya.
"Kayak si Lala" gumam Reza
"Tapi mana mungkin dia ada disini sendirian" gumam Reza kembali.
Reza menghampiri pedagang minuman.
'Tadi Mami minta apa ya?' batinnya lupa
Reza segera membeli air mineral dan teh kemasan. Dia melihat beberapa penjual makanan lainnya.
'Ada mangga kesukaan Mami.' batin Reza
'Tapi kasihan anakku dijejali makanan yang begitu terus.' Reza mengurungkan niatnya untuk membeli. Dia segera pergi menuju istrinya yang sedang menunggu.
"Ini sayang" ucap Reza seraya memberikan kedua air tersebut.
"kok dua?" tanya Tasya
"Aa lupa kamu maunya apa. Ya sudah tinggal pilih saja mau yang mana" terang Reza
Tasya mengambil air mineral kemudian meneguknya.
"Tadi Aa lihat kayak si Lala Mam disana" ucap Reza
"O ya? Sama siapa sayang?" tanya Tasya
"Sendirian. Tapi masa iya dia cari jodoh sampai ke taman begini?" ujar Reza
"Lagi pula mau apa coba dia kesini. Katanya kuliah hari ini" Tasya mengingatkan
"Barangkali Aa salah lihat Sya" ucap Reza santai
"Pulang yuk?" ajak Reza
"Ya sudah kita disini dulu" ucap Reza pasrah. Dia membuka ponselnya kemudian memainkan game di ponselnya seperti biasa.
Tasya merasa damai duduk disana. Menatap pohon yang rindang seraya terkena semilir angin membuatnya tenang. Tak terasa dia menyandarkan kepalanya di lengan Reza sambil memejamkan matanya.
"Sayang.. Mau pulang?" tanya Reza
"Aa cerewet sekali. Ayo pulang" Tasya cemberut
Tasya diam sepanjang perjalanan karena kesal dengan Reza.
"Sayang?" Reza membuka suara
"Mau makan apa?" tanya Reza kemudian
Tasya masih diam
"Sayang.." ucapnya kemudian
"Aku mau steak sejuta umat A" Tasya membuka suara juga
"Steak sejuta umat?" tanya Reza heran
"Iya. Steak yang murah meriah dan cabangnya dimana-mana itu loh" pinta Tasya
"Oh itu. Jangan kesitu. Ke tempat lain saja ya. Aa tahu tempat steak super enak" ucap Reza
"Tapi anak Aa maunya itu" Tasya mengeraskan suaranya
"Baiklah" Reza menyerah
Setibanya disana, Reza mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat duduk karena disana sangat ramai. Dia menggenggam tangan Tasya kemudian duduk di meja kosong dekat kasir. Keduanya memilih-milih menu. Setelah makanan tiba, mereka segera memakannya.
__ADS_1
"apa ini gak salah sayang?" tanya Reza seraya membolak balikan steak milik istrinya.
"Memang kenapa?"
"Dagingnya setipis kulit ayam. Ini mah bukan steak" protes Reza
"Stt.. " Tasya melotot ke arahnya
"Protesnya nanti saja. Kedengaran mereka fak enak tahu! Lagipula jangan buat Dedek hilang selera makannya" gerutu Tasya
Reza langsung terdiam. Dia menikmati steak tersebut dengan enggan. Reza susah payah menelan steak tersebut karena tidak sesuai dengan selera dirinya. Sementara Tasya sangat menikmatinya.
"Kamu mau lagi?" tanya Reza
"Memang boleh?" Tasya merasa mendapat angin segar
"Makan punya Aa sayang. Aa sudah kenyang" Reza berbohong
Dia segera memindahkan steak miliknya ke hadapan Tasya. Sementara Tasya nampak sangat senang menerima steak dari Reza.
'Lahap sekali dia. Apanya yang enak' batin Reza seraya menatap istrinya makan.
"Aa jangan lihat-lihat" ucap Tasya yang sadar ditatap Reza
"Mami sama Dedek lapar sekali ya?" tanyanya
"Enggak." ucap Tasya
"Oh iya, tipis sih" jujur Reza disertai pelototan Tasya
Reza segera menyeka dagu Tasya dengan tisu saat saos menetes di dagu Tasya.
"Pelan sayang" ucapnya
Tanpa sadar, seorang kasir wanita memperhatikan gerak geriknya saat Reza menyeka dagu Tasya kemudian segera memalingkan mukanya saat mereka sekilas beradu pandang. Reza selalu tahu wanita yang mengagumi dirinya, termasuk si kasir tersebut yang nampak salah tingkah saat Reza balik memandangnya.
"Sya, kayaknya kasir itu terpesona sama Aa" Reza tanpa sadar menggali kuburnya
Tasya melirik kasir tersebut kemudian melihat senyuman Reza yang membuatnya tak suka.
"Sana dekati saja!" ucap Tasya yang kesal
"Enggak Mam. Dia cuma lihat Aa saja selintas" ralatnya
'Kenapa keceplosan begini' Reza merutuki dirinya
Tasya menghentikan makannya. Dia meraih minum miliknya. Kini dia tak selera.
"Aa mah masih saja tebar pesona" protes Tasya
"Aa gak tebar pesona sayang. Merekanya saja yang terpikat oleh pesona Aa" Reza membela diri yang lagi-lagi membuatnya salah bicara
"Ya sudah sana dekati. Minta nomor ponselnya sekalian!" Tasya marah
"Mau punya anak juga masih begitu" gerutu Tasya kesal
"Aa kan enggak macam-macam sayang" Reza membela dirinya kembali
"Ayo pulang" ajak Tasya kesal
"Sana bayar!" ucapnya kemudian
Tasya sengaja menunggu di mejanya sementara Reza berjalan ke arah kasir tersebut.
Tasya menyaksikan bagaimana si kasir tersebut sedikit salah tingkah saat Reza mendekati meja kasir, sementara Reza sedikit takut istrinya akan meledak marah. Tasya menyusul kearah mereka dengan rasa cemburu.
"Sayang, sudah dibayar?" ucapnya seraya mengelus perutnya
__ADS_1