BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Hobby Baru Papi


__ADS_3

Tasya merebahkan tubuhnya setelah dia mengecek anaknya yang telah tertidur lelap.


"Papi nih, gak ngerengek lagi?" tanya Tasya saat melihat iklan lego di salah satu online shop yang dia ikuti sambil memperlihatkan ponselnya pada Reza


"Hehe.. Enggak Mam." Reza melihatnya sepintas kemudian mengalihkan pandangannya


"Tuh kan, kata Mami juga apa, Papi tuh laper mata. Cuma inginnya saja. Sayang banget kalau beli terus udah gak dimainin lagi." Tasya ceramah


"Kan bisa dipajang sayang" sanggah Reza


"Iya, nanti di hisab di akhirat gara-gara mainan" ketus Tasya


"Ih mami mah nakut-nakutin" ucap Reza


"Bukan nakut-nakutin tapi emang bener. Sudah gitu mubadzir cuma diliatin doang. Harganya sampai jutaan begitu" ucap Tasya panjang lebar


Reza tak menyahutinya lagi. Jantungnya berdetak lebih kencang.


'Itu iklan pakai muncul disana segala sih. Kalau dia tahu aku beli itu.' Reza begidig memmbanyangkan istrinya akan marah besar.


"Mam, lihat ini deh, ini bagus" Reza mengalihkan perhatian Tasya


"aku kan hamil Pap, gak bisa pakai kebaya gitu."


"Dibuat dress panjang gitu Mam. Bagus kayaknya."


"Ya kalau begitu gak bisa pesan, harus jahit sendiri Pak Rezaaaa"


Reza tertawa namanya disebut.


"Mau jahit sayang?"


"Enggak ah. Mau dipakai dimana coba." ucap Tasya


"Maternity photoshoot sayang" ucap Reza


"Enggak. Dulu Vano juga enggak. Kalau sekarang kita lakuin, gak menutup kemungkinan nanti si abang iri." ucap Tasya


"Kalau mau foto keluarga saja." ajak Tasya


"Boleh sayang."


"Yakin mau jahit baju begitu?"


"Iya. Bisa dipake buat kondangan juga kan Mam."


"Ya sudah nanti saja beli kainnya sekalian beli kemeja Papi." ucap Tasya


"Eh tapi, itu kemeja Papi ganti size dong? Atau bagaimana?" tanya Tasya kemudian


"Masa Papi ganti size sih Mam?"


"Loh kok nanya? Yang gendutan siapa?" tanya Tasya


"Mami lah"


"Ya jelas, aku mah bawa si dedek di perut" ucap Taysa


"Anak baru mau nambah loh, lama-lama kayak ayah deh" Tasya tertawa


"Enggak. Papi nanti mau olahraga pokoknya."


"Kenapa gak workout saja sih? Kan gak ribet kalau begitu"


"Mami mau ambil kelas yoga gak? Kan ada tuh yang hamil gitu?" ucap Reza


"Papi mau memangnya ikut yoga sama aku?"


"Boleh"


"Yakin? Ada waktu gak?" tanya Tasya


"Nah gak tahu kalau begitu." Reza tertawa


"Olahraga sekarang saja yuk?" ajak Reza


Belum mendapat jawaban, Reza langsung mengecup bibir istrinya dengan rakus. Sementara Tasya sangat menikmati perlakuan suaminya yang secara tiba-tiba bebruat demikian.


***


Tok.. Tok.. Tok..


"Pak ada paket" ucap Rosa yang langsung masuk ke dalam ruangan Reza


"Mana paketnya" pinta Reza berbinar.


"Ini Pak" Reza segera menerima paket dari tangan Rosa.


"Terima kasih" ucap Reza


Dia segera duduk di atas sofa.


"Harusnya unboxing begini tuh di abadikan" gumam Reza


Reza nampak antusias dengan mainan yang baru dia beli. Dia segera membuka segel dari dus lego yang berwarna hitam itu dan mengeluarkan isinya dari beberapa kantong menjadi satu.


Kini Reza sedang membaca buku panduan yang berada ditangannya. Tiba-tiba suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasinya.


"Wah, sudah datang Bos?" tanya Adit mendekat ke arah Reza


"Iya. Nih baru datang" ucapnya dengan tersenyum.


"Ada apa?" tanya Reza


"Undangan kuliah umum di universitas mau diambil?" tanya Adit.


"Bentrok gak jadwalnya?" tanya Reza masih asyik melihat legonya


"Gak sih. Kamu kan sekarang gak terlalu padat jadwalnya." Adit ikut memperhatikan Reza


"Kamu atur saja lah."


"Oke." Adit masih diam memperhatikan bosnya


"Ngapain kamu? Sudah sana. Ganggu konsentrasiku tahu" ucap Reza


"Aku foto bos, terus kirim ke Istrimu" goda Adit


"Wah, dia cari mati" Reza mengancam


"Haha.. Ampun bos" Adit langsung menutup pintu ruangan Reza


Reza masih berkutat dengan legonya.


"Yes, beres." ucapnya bangga. Dia memfoto hasil karyanya setelah satu jam berkutat dengan lego tersebut.


Beberapa kali diapun berselfie ria karena bangga dengan hasil karnyanya.


"Aku taruh dimana ya?" batinnya bingung


Dengan bersamaan suara panggilan dari Tasya membuatnya gelagapan. Reza segera duduk di kursi kerjanya.


"Hallo kesayangan Papi. Baru Papi mau telepon. Kok kita bisa sehati ya Mam" ucap Reza berbohong dengan jantung berdetak.


"Papi sudah makan?" tanya Tasya.


"Belum sayang. Mami sudah?"


"Belum juga. Mau dibawain gak?"


"Hmm. Maaf sayang, bukan gak mau tapi habis makan siang Papi mau keluar." lagi-lagi Reza berbohong


"Oh. Oke deh. Jangan lewatkan makan siangnya ya Pap." ucap Tasya

__ADS_1


"Iya sayang. Ya sudah, Papi cari makan dulu ya. Nanti takut telat"


"Iya. Bye Papi. Bilang Bang, Dadah Papi" Wajah Vano mendominasi layar kamera.


"Bye Abang, bye Mami. Love you" Reza segera mematikan sambungan teleponnya.


"Hah..malah jadi deg-degan gini." gumamnya.


Dia memandangi lego hasil karnyanya dengan senang.


"Beli yang lain ah" ucapnya seraya membuka ponsel.


Reza menekan sambungan telepon yang terhubung kepada Adit.


"Cepet kesini" ucapnya tanpa basa basi


Tak butuh waktu lama, Adit masuk ke dalam ruanganya.


"Woww.. Keren. Sudah jadi saja." puji Adit.


"Keren kan?"


"Dit, taruh dimana ini?" tanya Reza


Adit ikut berpikir sambil mengedarkan pandangannya.


"Harusnya sih pakai rak display Za. Taruh disitu tuh" usul Adit sambil menunjuk pojok ruangan Reza


"Bener juga. Beliin yang lain Dit." pinta Reza


"Apanya? Rak-nya? " tanya Adit


"Legonya. Masa rak-nya" ucap Reza


"Eh, beliin rak display dulu" ucap Reza.


"Mau langsung ke toko meubel atau online nih rak displaynya?" tanya Adit


"Online saja lah. Ribet kalau harus ke tokonya" ucap Reza


"Siap Bos"


"Eh pesenin lego-nya lagi."


"Serius Bos?"


"Iyalah. Kenapa?"


"Gak apa-apa Bos."


"Cari dulu rak display-nya Dit." ucap Reza


Adit segera duduk dan membuka ponselnya. Dia membuka satu persatu online shop yang menjual lemari kaca.


"Ini bagus gak?" tanya Adit memperlihatkan sebuah lemari kaca.


"Hmm.. Oke" ucap Reza.


"Yang ini saja?" tanya Adit kemudian.


"Iya."


"Za, ini tokonya deket sih. Aku kesana sajalah. Biar bisa langsung dikirim. Siapa tahu bisa nego. Lumayan 100 atau 200 bisa masuk kantong" Adit tertawa


"Si*lan. Atur-atur lah" ucap Reza tak ambil pusing.


"Ingat, semua dari rekeningmu oke?"


"Siap Bos"


Tak butuh waktu lama, sebuah rak dispay sudah berdiri kokoh disudut ruang Direktur. Reza meletakan lego tersebut di rak paling atas. Dia tersenyum bangga.


"Fotoin Dit" pintanya


"Pegang legonya Za" ucap Adit


"Jelek, lemarinya kosong gini." ucap Reza membuka satu persatu foto miliknya.


"Beli lagi Dit legonya. Nanti aku kirim gambarnya" ucap Reza


"Oke Bos" Adit dengan senang hati membantunya karena Reza selalu memberikan bonus padanya.


***


Reza tiba dirumah saat petang tiba.


"Capek sayang?" Tasya membuka kancing kemeja Reza satu persatu.


Walaupun Reza berstatus sebagai Direktur perusahaan, tapi dia tak pernah merubah gaya busananya. Reza tak pernah memakai jas dan dasi ke kantornya. Dia lebih nyaman hanya menggunakan kemeja dan blazer semi formal ke kantornya seperti biasa.


"Enggak Mam. Hari ini aku dikantor seharian" ucap Reza


"Loh? Bukannya tadi pergi?" tanya Tasya


"Iya. Maksudnya habis itu ke kantor lagi Mam." ucapnya


"Hah! Hampir keceplosan" batinnya


"Oh. Awas kalau bohong" ucap Tasya


"Enggak kok sayang" Reza mengecup kilat bibir istrinya kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Entah insting seorang istri, atau memang kebetulan. Tasya membuka ponsel Reza. Dia melihat-lihat nama dalam aplikasi pesannya.


'Gak ada yang aneh' batin Tasya saat melihat deretan nama yang menghubunginya kebanyakan pria. Dia merasa lega.


Tak lama dia membuka galery foto milik suaminya. Begitu dibuka terpampang senyum sumringah suaminya dengan sebuah benda ditangannya. Tasya memperbesar foto tersebut.


'Astaghfirullah.. Dia bohong kan' gumamnya dalam hati. Seketika dia merasa sangat kesal.


Dia membuka foto lainnya, dan melihat lemari kaca disamping Reza.


'Hmm.. Beli lemari pajangan juga' batinnya.


"Awas saja, nanti disidak tahu rasa" gumam Tasya.


Tasya meletakan kembali ponsel Reza. Dia keluar kamar agar Reza tak curiga.


Reza segera keluar kamar mencari istrinya yang sedang asyik menonton televisi bersama Mbak Diah dan Vano.


"Makan yuk?" ajak Reza


"Aku gak lapar. Papi saja" ucapnya jutek, walau bagaimanapun dia merasa kesal telah dibohongi Reza.


"Ambilin dong Mam." pintanya manja


Tasya dengan malas meladeni suaminya. Setelah selesai meletakan nasi dan lauk pauk dipiring Reza, Tasya hendak meninggalkannya lagi tapi tangannya ditahan Reza.


"Temenin Mam. Masa Papi sendirian" ucapnya


Tasya menyeret kursi dan duduk disana.


"Mami makan ya? Papi suapin." ucap Reza


"Enggak." bantahnya cepat.


Tasya segera mengambil wadah, memasukan beberapa buah anggur, memotong pir, dan apel. Dia membuat salad buah alakadarnya untuk dirinya sendiri dengan saus yougurt, mayonneis, kental manis dijadikan satu dan menaburkan keju diatasnya.


"Papi mau Mam" pinta Reza


Tak banyak bicara, Tasya membagi dua salad buah tersebut. Dan memasukannya kedalam lemari es.


"Mam, kok diam saja sih" ucap Reza

__ADS_1


"Terus harus gimana? Joget-joget?" tanya Tasya


Reza tersenyum


"Biasanya Mami cerewet. Ini tumben diam saja" ucapnya


"Aku kesel sama kamu tahu! Huh menyebalkan!" batin Tasya.


"Gak apa-apa A" ucapnya


"Wah, manggil Aa mah ada sesuatu. Kenapa sih? Tadi gak apa-apa" ucap Reza. Dia meneguk air putih setelah makannya selesai.


Tasya mengambil piring kotor milik Reza dan mencucinya. Reza mendekati Tasya dan memeluknya dari belakang.


"Kenapa sih sayangku?" ucap Reza


"Ehem.. " suara Pak Danu membuat Reza menjauhkan diri dari Tasya.


'Ya ampun malu banget sama Papa' batin Tasya


"Istrimu cuma cuci piring, kamu malah jadi parasit" sindir Pak Danu seraya membuka kulkas


"Bilang saja sirik, gak ada yang dipeluk" ucap Reza dan seketika Tasya menginjak kaki Reza


"aw, sakit Mam" ucapnya


"Sukurin" ucap Pak Danu singkat.


"Papa mau apa Pa?" tanya Tasya


"Ada yang segar-segar gak?" tanya Pak Danu


"Aku bikin salad buah. Papa mau?" tanya Tasya


"Boleh"


Tasya memberikan salad buah pada Pak Danu dan membuka miliknya walau belum terlalu dingin.


"Mam, punya Papi itu"


"Yuk Pa, sambil nonton saja" Tasya tak menghiraukan Reza


"Mam, Papi kan minta" Reza mengikutinya


"Vano, Opa punya ini nih" ucap Pak Danu.


Vano mendekat ke arah Pak Danu. Sementara Pak Danu mencolekan saus salad ke bibir mungil Vano. Vano yang ketagihan menjadi tak sabar.


Reza merebut salad dari tangan istrinya. Dia mengunyah saladnya sampai tak bersisa. Sementara Tasya hanya diam saja.


'Tumben banget dia gak ngomel. Biasanya cerewet kalau makannya diambil' batin Reza


'Apa dia tahu aku beli lego? Tapi gak mungkin lah. Tahu dari mana coba, gak mungkin si Adit kirim pesan sama dia' batinnya kemudian


Tasya tengah bersiap untuk tidur. Dia menyisir rambut panjangnya dan membiarkannya tergerai. Reza mengemati istrinya tersebut. Menebak-nebak kenapa istrinya bersikap jutek kepadanya.


Tak lama, dia naik ke atas kasur membaringkan tubuhnya memunggungi Reza.


"Sayang. Kenapa sih?" tanya Reza seraya memeluk Taysa


Tak ada jawaban apapun dari istrinya.


"Mam, Mami kenapa kok tiba-tiba cuek begini" ucapnya lagi.


Reza mengeratkan pelukannya. Menciumi punggung Tasya dengan gemas.


"tidur" ketus Tasya


"Ya Mami kenapa dulu?" Reza masih penasaran


"Capek" ucap Tasya asal


"Gak mungkin. Masa capek jutekin Papi"


Tasya tak menyahutinya. Kini keheningan tercipta diantara mereka hingga membuat Reza terlelap dengan sendirinya.


***


Reza kini duduk termenung sambil memainkan pena ditangannya secara asal. Sudah dua hari Tasya bersikap jutek kepadanya. Bahkan beberapa kali Tasya tak mengangkat panggilan video darinya.


"Masa sih dia tahu aku beli lego?" Reza mengetuk-ngetuk pena ditangannya


"Ada direktur yang bicara sendiri" ucap Adit


"Heh ketuk pintu kalau masuk" ketus Reza


"Sudah Bos. Kamu saja yang budeg." ucap Adit


"Apa?" Reza mengangkat alisnya


"Tuh kan budeg" Adit tertawa


"S*alan" umpat Reza


"Nih datang" Adit menyerahkan paket pesanan Reza


Seketika Reza sumeringah. Dia segera membuka paket tersebut. Dua buah dus berwarna hitam dengan gambar yang berbeda dipegangnya.


"Terima kasih Dit" ucapnya senang.


"Dit.. " Reza ragu meneruskan ucapannya


"Apa?"


"Kamu kasih tahu Tasya gak, aku beli lego?" tanya Reza


"Itu pertanyaan atau tuduhan?" ucap Adit


"Sudah dua hari ini dia jutek tanpa sebab. Apa dia tahu aku beli mainan?" ucapnya


"Ya mana ku tahu Pak. Kurang di goyang kali, Pak" Adit tertawa


"Gak usah diminta juga aku rajin berkunjung ke anakku. Haha"


"Kenapa ya?" Reza masih menerawang.


"Coba tanyakan pada rumput yang bergoyang Pak" pinta Adit


"Ah s*alan kamu"


"Ya sudah, kamu gak bisa diganggu kalau sibuk begini" ucap Adit yang pergi meninggalkan Reza dengan mainannya.


"Eh Za" Adit balik lagi


Reza mendongak ke arahnya.


"Besok kuliah umum jam sembilan. Jangan telat" ucapnya.


"Oke"


Reza segera membuka satu buah dus dengan gambar menara pisa. Dan mulai merakitnya. Tak lama, dia memindahkan semuanya ke meja tamu dan duduk disofa karena merasa tak nyaman di meja kerjanya. Reza berkutat dengan maiannya tersebut tanpa menghiraukan apapun.


Tiba-tiba sebuah ketukan pintu dari luar membuyarkan konsentrasinya.


"Masuk." teriaknya.


"Assalamu'alaikum." suara yang tak asing ditelinganya. Seketika Reza menghentikan kegiatannya.


"Mami" Reza menelan salivanya


.


.

__ADS_1


.


Perang dimulaaii... Haha.. Yang setuju Papi dihukum mana suaranyaaaaaa.. Bantu vote, like dan komentarnya yaaaa... Terimakasih ^^


__ADS_2