
Lala dan Keenan kembali ke kantor. Mereka melihat Tasya yang sedang melamun dengan makanan yang masih utuh di hadapannya.
"Bu, kok melamun?" tanya Lala mendekat ke arahnya. Sementara Keenan memasang telinganya untuk mendengar percakapan mereka.
"Hehe gak apa-apa La" ucapnya
"Pak Reza gak kesini?" tanya Lala
"Tidak. Tadi dia sibuk"
"Tahu begitu tadi makan bareng kita Bu, maaf ya Bu tadibharusnya kita menunggu ibu dulu" ucap Lala
"Kenapa kamu minta maaf La, gak apa-apa. Aku juga kurang nafsu makan" Tasya merasa tak enak
"Iya, karena gak ada Pak Reza jadi gak nafsu makan" sindir Lala
Tasya tersenyum kecut.
Lala kembali ke mejanya. Dia berkutat dengan laporannya kembali. Sementara Keenan diam-diam memperhatikan Tasya.
***
Reza dan rekannya tiba di salah satu cafe bergaya Eropa dekat dengan kantornya.
Adit sibuk membolak balikan buku menu sedangkan wanita seksi tersebut berbincang ringan dengan Pak Bambang.
Reza merogoh sakunya. Dia baru sadar kalau ponselnya tertinggal di kantor.
"Kenapa Pak?" tanya Pak Bambang
"Ponsel saya tertinggal di kantor" Reza mulai gelisah. Niat hati mau memberi kabar kepada istrinya tapi tidak bisa.
"Pakai ponsel saya saja Pak" Pak Bambang memberi tawaran kepadanya
"Boleh ya saya pinjam Pak" ucapnya seraya mengambil ponsel Pak Bambang. Dia pamit untuk menelepon Tasya.
"Pak Reza nampak gelisah seperti itu" ujar Karina, wanita dengan rok seksi tersebut.
"Iya. Sepertinya lupa memberitahu istrinya" jawab Pak Bambang
"O, dia sudah beristri Pak?" ucapnya sambil menyibakan rambut panjangnya yang tergerai
"Iya, yang tadi itu istrinya" ucap Pak Bambang
"Dia menikahi bawahannya Pak?" tanyanya seolah merendahkan
"Bukan. Hanya saja setelah menikah istrinya ikut membantu di kantor " ucap Pak Bambang
Reza berada di luar cafe, dia mencoba menghubungi istrinya. Berkali-kali dia menghubungi Tasya tapi tak diangkatnya.
'Kenapa gak di angkat Sya' batinnya cemas
Dia masuk ke dalam cafe dengan wajah murung.
"Ini Pak. Terima kasih" Reza memberikan kembali ponsel pada pemiliknya
__ADS_1
Mereka berbincang-bincang ringan seraya bercanda.
"Pak Reza kenapa tidak semangat sepertinya" tegur Karina
"Tidak apa-apa Bu" ucapnya
"Pokoknya nanti jangan sampai tidak datang ya" ucap Pak Adit
"Kemana?" tanya Reza polos
"Nah kan, Pak Reza tidak fokus. Minggu ini Pak Adit menikah Pak" ucap Pak Bambang
"Wah, selamat Pak Adit" ucapnya
"Ayo kita berangkat sama-sama Pak Reza" ajak Karina
"Wah, boleh Bu. Kita sama-sama saja kesananya" Pak Bambang semangat
Sementara Reza hanya tersenyum tidak menjawabnya.
'Tasya makan gak ya? Dia pasti marah. Tadi juga kelihatan sekali dia cemburu. Hhhh.. ' batin Reza fokus pada istrinya
"Pak Reza, mana nomor ponselnya? Biar nanti kita bisa janjian" ucap Karina sambil memperhatikan Reza
"Oh, sebentar." Reza merogoh saku celananya, dia memberikan kartu nama dari dalam walletnya.
"Oh, Reza Ramadhan" ucapnya seraya menggoda. Dia tertarik dengan pesona lelaki yang ada di hadapannya.
Reza hanya tersenyum.
"Pak Bambang, saya di belakang ya, rasanya saya malas pake seatbelt" ucap Karina
Pak Bambang pun bersedia untuk bertukar posisi duduk.
'Wah, dia mulai bermain.' batin Reza yang sudah sering digoda wanita seperti Karina.
'Kalau bukan karena kontrak, malas sekali sama wanita macam dia' batinnya kembali
"Pak Reza setelah dari sini mau kemana?" tanyanya
"Cek kandungan istri saya" ucap Reza sengaja
"Wah iya ya, Pak Reza calon Bapak" ucap Pak Bambang
"Pak Reza, saya awalnya mengira Pak Reza masih single seperti saya" ucap Adit
"Haha.. Pak Adit bisa saja"
"Memang usia Pak Reza berapa? Sepertinya tidak jauh sama saya Pak" tanya Karina
"Waduh.. Pokoknya anak saya mau dua saja. Sudah bisa di tebak umurku dari situ" ucapnya seraya tertawa
"Wah, Pak Reza bakalan jadi Hot Daddy kalau begitu." ucapnya kemudian
"Loh bukannya masih calon Bapak? Kok sudah dua? Nakal nih Pak Reza" Adit tertawa
__ADS_1
"Iya, anak pertama saya keguguran. Sekarang istri saya mengandung anak ke dua. Begitu maksudnya Pak" jelas Reza
"Oh seperti itu" ucap Adit
Tak lama, mereka tiba dikantor. Pak Reza dan Pak Bambang turun kemudian mobil tersebut melaju kembali.
"Saya lanjut pulang ya Pak, kasihan Tasya pasti menunggu di rumah" ucapnya
"Silahkan Pak" ucapnya kemudian
Reza masuk ke dalam kantor. Lampu kantor sudah menyala terang. Begitu masuk, dia merasa kaget melihat Keenan sedang duduk sambil memainkan ponselnya.
"Kamu belum pulang?" Tanya Reza heran
Keenan menatap Reza dengan kesal.
"Kalau bapak terlambat, setidaknya beri kabar istri anda. Dia sedang hamil, kasihan harus menunggu anda pulang bersenang-senang" ucap Keenan penuh amarah. Dia kemudian pergi meninggalkan Reza yang masih mematung.
Reza bergegas masuk ke dalam ruangannya. Disana Tasya sedang tertidur di atas sofa.
'Ya Tuhan..' batinnya merasa sangat bersalah.
"Sya, sayang.. Bangun Sya" ucapnya lirih
"Sya.. Sayang.. " ucapnya sambil membelai sang istri.
Dikecupnya berkali-kali wajah sang istrinya tersebut.
Tasya yang merasa terganggu mulai membuka matanya. Dia melihat sang suami sedang berjongkok sejajar dengan tubuhnya.
Reza memeluk tubuh istrinya dengan sebelah tangannya, masih tak berhenti mengecupnya.
"Maaf.. Maafkan Aa.." ucapnya lirih
Tasya tak bicara, dia meneteskan air matanya. Kesal, marah, takut, dan khawatirnya menjadi satu.
"Maafkan Aa ya sayang." tak berhenti mengecup kening sang istri.
Tasya masih menangis, Reza mengusap air mata sang istri. Tasya kemudian duduk, hendak berdiri. Tapi Reza meraih tubuhnya hingga jatuh dalam pelukannya.
"Aa minta maaf.. Maaf.. Aa bersalah, tolong maafkan Aa.." ucapnya tak berhenti. Suara tangisan Tasya terdengar lebih kencang dalam dekapan sang suami.
Setelah puas menumpahkan tangisnya, dia melepaskan pelukan suaminya. Dia berdiri kemudian keluar dari ruangan sang suami.
Reza menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja kemudian menyusul sang istri keluar ruangan.
Tasya membereskan barangnya, Reza hendak membantunya tapi tangannya di tepis oleh Tasya.
Reza melihat bekalnya masih utuh semua. Dia semakin merasa bersalah. Setelah berkemas, Tasya keluar dari ruangan. Reza hendak menggenggam tangannya, tapi lagi-lagi di tepis oleh istrinya tersebut.
Dia berjalan melewati mobil Reza yang terparkir disana. Reza yang kaget melihat istrinya hendak keluar gerbang, segera berlari meraih tangan istrinya. Dia menarik paksa Tasya.
"Le.. Pas! Sa.. Kit!" ucapnya dengan isak tangis
Reza tak menghiraukannya, dia memaksa Tasya masuk ke dalam mobil, kemudian memasang seatbelt milik istrinya. Sementara Tasya masih terisak.
__ADS_1
"Sya, Aa salah. Aa minta maaf. Tolong maafkan Aa. Kamu berhak marah, kamu berhak memaki Aa. Tapi jangan diam seperti ini Sya.. Aa mohon bicaralah" ucapnya frustasi