BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Akhir Cerita


__ADS_3

"Kita pulang sayang, Ayah masuk IGD." ucap Reza


"Astaghfirullah.. Kenapa?"


"Jatuh di kamar mandi langsung gak sadar katanya."


Tasya sudah berderai air mata saat mendengarnya. Setibanya di rumah, mereka langsung mengemas baju mereka tanpa membuang waktu.


Reza berusaha setenang mungkin mengendarai mobilnya. Sementara Tasya duduk cemas dengan ketakutan. Dia teringat kembali pada sang mertua.


"Mi, lapar Mi" keluh Daffa.


"Nanti kita ke rest area Dek." ucap Reza.


Hingga tiba disebuah rest area, Vano dan Daffa segera turun untuk membeli makan. Sementara Reza meregangkan ototnya yang terasa kaku.


"Mau ke kamar mandi dulu?" ajak Reza dari luar mobil


"Enggak Pi, Mami ingin cepet kesana."


"Sabar Mi. Kan kita juga lagi perjalanan kesana. Kasihan anak-anak Mi. Jangan sampai semua sakit gara-gara nahan lapar."


"Papi lapar?"


"Ya lumayan juga. Ini sudah lewat jam makan siang."


Daffa dan Vano tiba membawa rice box beserta cemilan dan minuman lainnya.


"Papi kira kalian makan disana."


"Enggak. Kita makan dijalan saja Pi, biar hemat waktu." ujar Vano


Reza melajukan kembali mobilnya sambil disuapi Tasya. Tasya yang awalnya tak selera, sesekali ikut menyuapi dirinya sendiri.


"Makan Mi. Jangan sampai sakit. Buka lagi saja nasinya." titah Reza


"Papi masih mau?"


"Enggak. Takut ngantuk kalau Papi terlalu kenyang, Mi."


"Mau Abang yang nyetir Pi?"


"Gak usah. Tanggung setengah jalan lagi."


Reza meminta Vano untuk menghubungi Rasya setelah mereka keluar dari tol.


"Ke rumah saja katanya Pi." ucap Vano.


"Loh kenapa gak ke rumah sakit sekalian?"


"Biar jemput Nin dulu Mi."


"Nin gak di rumah sakit? Kok bisa sih?"


"Ya kali aja dibawanya sama cowok semua Mi, kan susah juga kalau Kingnya pingsan."


Mobil mereka mulai masuk ke halaman rumah. Kursi-kursi berjajar rapi, beberapa orang memakai pakaian sopan disana membuat Tasya menjadi curiga.


"Pi, kenapa sudah rame?"


"Papi gak tahu Mi. Mungkin Ibu pingsan."


"Gak mungkin kan Pi?" Begitu mobil terparkir sempuran Tasya berlari masuk ke dalam rumah.


Dia melihat seseorang terbujur kaku ditutupi oleh kain jarik dengan beberapa orang yang hening disana. Seketika lututnya lemas. Pecah tangisan Ibu saat melihat Tasya terkulai lemas.


"Ayaaaahhh...Kenapa ninggalin aku yah? Kenapa gak nunggu aku dulu Yah?"


"Ayaah.." Tasya menangis meraung-raung.


"Mi.. Sudah Mi.. Kasihan Ayah, Mi." Reza memeluknya dari belakang.


"Pi.. Kenapa Ayah tega Pi...Kenapa gak nunggu aku pulang dulu. Kenapa Pi?" Tasya terduduk lemas seraya bersandar pada suaminya.


Vano dan Daffa memeluk Nin tercintanya seraya sesekali menyeka air matanya.


Rasya segera masuk ke dalam saat mengetahui sang adik telah tiba.


"Aa.. Aa kenapa gak kasih tahu aku, A! Aa kenapa!" Tasya mengguncang tubuh kakaknya sementara Rasya hanya pasrah. Dia memeluk sang adik.


"Istighfar Neng.. Istighfar..." Rasya memegang bahu sang adik kemudian menyeka air matanya.


"Aa kenapa tega sama aku a! Kenapa? Kenapa semua orang gak ada yang kasih tahu aku!" Tasya seakan meluapkan semua emosinya. Beberapa orang yang ada disana ikut menangis menyaksikan Tasya yang begitu terpukul.


"Ikhlasin yaa.. Ayah sudah tenang." ucapnya dengan suara bergetar.


Reza membuka kain putih yang menutupi wajah mertuanya, dia menyeka air matanya kemudian membaca doa. Saat bersamaan, Tasya mendekat. Dia membungkam mulut dengan tangannya sendiri. Tubuhnya berguncang hebat seraya air mata yang tak henti mengalir.


Tasya menyeka air matanya dengan kerudung miliknya. Dia mengelus lembut wajah lelaki tua dengan penuh keriput diwajahnya namun terlihat tertidur dengan nyaman.


"Maafkan aku, Yaah.. Maafkan aku.." Tasya kembali menangis. Kini dia mendekati Ibunya.


Mereka berpelukan saraya menangis bersama. Rasya menghampiri keduanya. Mengusap lembut punggung keduanya seakan memberi kekuatan walau tak dipungkiri dirinya pun begitu rapuh.


Pelayat yang datang silih berganti seakan tak pernah henti. Berderet karangan bunga memenuhi halaman rumah mereka. Orang terkaya nomor satu di wilayahnya tersebut telah pergi dengan damai dan tak menyusahkan siapapun di akhir hayatnya.


Tasya duduk dengan tatapan kosong menatap jenazah ayah tercintanya. Kilas balik masa kecilnya menari-nari di ingatannya membuatnya tak henti meneteskan air mata.


Semua orang sibuk dengan para pelayat dan persiapan pemakaman. Reza dan kedua anaknya telah berganti pakaian dengan menggunakan koko putih yang tengah disiapkan mereka secara tak sengaja saat berangkat tadi seolah menjadi firasat akan kepergian orang tercinta mereka.


Reza merangkul istrinya saat menyaksikan proses penguburan almarhum ayahnya. Tasya tak hentinya menangis hingga tak bisa menopang tubuhnya dan terkulai di dekapan sang suami.


Beberapa orang dengan sigap membantu Reza mengangkat Tasya menjauh ke samping area pemakaman. Beberapa sanak saudaranya membantu Tasya agar segera sadar.


"Bawa pulang saja A. Pakai motor Mang Dana." ucap seorang tetangga saat Tasya tengah tersadar.


Reza tak banyak bicara, dia meminjam motor tersebut membawa istrinya pulang ke rumah. Tak ada percakapan apapun diantara mereka hingga tiba dirumah.


"Mi, minum dulu sayang" ucap Reza lembut


Tasya menerima air yang diberikan suaminya. Dia minum hanya untuk membasahi bibirnya saja.

__ADS_1


"Minum yang banyak, Mi." titah Reza kemudian.


Tasya masih dengan tatapan kosongnya.


"Sayang, jangan sampai dehidrasi. Minum dulu, yuk." bujuk Reza


Reza membawanya ke kamar mereka. Dia menemani sang istri dengan setia.


***


Lima hari berlalu, suasana duka masih terasa disana. Tasya masih murung dan sangat terpukul atas kepergian ayahnya yang terkesan mendadak.


Rumah yang biasanya sepi, kini ramai oleh sanak saudara dan tetangga yang menggelar acara doa bersama.


"Bang, kamu bantu Papa saja disini. Gimana?" ajak Rasya saat mereka berkumpul.


"Maksudnya aku kuliah disini Pa?"


"Iya. Ambil jurusan perkebunan saja. Papa kayaknya kewalahan kalau urus lahan King sendirian."


"Payah banget sih Pa! King aja bisa." timpal Daffa


"Fokusnya terbagi, Dek. Kan ada kebun wisata juga sekarang."


"Kalau Vano disini, siapa yang bakal nerusin usaha Papi."


"Adek aja Pi." Daffa mengajukan diri.


"Abang bingung. Abang lulus seleksi tahap awal kuliah di luar kan, Pi. Tapi belum tahu sih keterima apa enggaknya."


"Mami lebih setuju kamu disini Bang daripada keluar negeri."


"Gimana anaknya saja Mi." Reza membela Vano. "Dimana saja asalkan serius" ucap Reza


"Abang temani Arumi saja disini, Bang" pinta gadis yang baru beranjak remaja.


"Gak tahu Neng, Abang masih mikir-mikir dulu ya.. Abang tuh berasa aktor tahu gak? Banyak yang rebutin"


Reza menimpuk kaki Vano dengan sandal miliknya. "Sok banget" ketusnya membuat Vano terbahak.


Tasya tersenyum melihat tingkah keduanya. "Gak sadar Pi? Dulu Papi kayak gitu tuh."


"Wajarlah Mi, Papi mah ganteng. Kalau dia mah gantengnya karena Papi kasih jatah."


Mereka tertawa. Setidaknya mereka saling menghibur satu sama lain.


"Eh, kalau ketemu ramainya cuma berantem doang." ucap Ibu.


"Ya Allah.. Kita kumpul ini Bu, tapi rasanya ada yang hilang." Tasya menatap keluarganya


"Hhh.. Apa lagi Ibu Sya."


"Nin, tinggal sama Mami saja, Nin" ajak Vano


"Ah enggak, enak disini. Disana mah Abangnya juga sibuk sendiri."


"Ya masa Abang harus nempel terus di ketek Nin sih." protes Vano.


"Kalian mau tinggal disini temani Nin?" tanya Nin pada kedua cucunya.


"Enggak Nin. Aku temani Mami dong." timpal Daffa


"Dia mah anak manja, gak bisa jauh dari Mami." ucap Vano


"Emang kamu enggak?" Reza meledeknya. Semua tertawa melihat perdebatan keluarga kecil mereka.


***


Kini mereka telah tiba dirumahnya kembali. Dengan terpaksa Reza dan Tasya segera pulang karena mengurus anak-anak mereka yang menghadapi masa-masa sibuknya.


"Mi, jangan melamun terus. Ikhaskan semua yang sudah jadi ketentuan-Nya." Reza mendekat, dia mengelus punggung istrinya.


"Bukan gak ikhlas Pi, tapi apa ya, ada rasa penyesalan disini, Pi." Tasya memegang dadanya. "Kenapa kita gak ketemu dulu? Kenapa pergi begitu saja?"


Tasya menarik nafasnya." Dulu sama Opa, sekarang sama Ayah. Rasanya mimpi."


"Sudah Mi.. Kita mah cuma bisa do'akan saja. Toh kalau semua sesuai keinginan kita, do'a gak akan ada artinya."


"Mami gak kebayang jadi Papi, ditinggal Mama saat Papi masih kecil."


"Gitu lah Mi. Papi udah lebih dulu ngalamin hal begitu."


Tasya memeluknya. "Jagoannya Mami, Papi hebat."


"Papi panjang umur ya, jangan tinggalin Mami pokoknya" Tasya mengelus pipi suaminya dengan wajah sendu. Dia mengulang-ulang ucapannya.


"Papi juga gak tahu mau ngapain kalau Mami pergi lebih dulu Mi."


"Paling Papi kawin lagi"


"Kalau masih ada yang minat." ujar Reza membuat Tasya memukul lengannya.


"Berarti kalau ada yang minat pasti langsung dinikahin dong?"


"Enggak juga Mi. Kayaknya Papi gak nikah lagi biar sehidup sesyurga sama Mami."


"Ih gombal" Tasya hendak berdiri namun ditariknya hingga duduk dipangkuannya.


"Kok gombal? Lihat saja Papa, sampai maut menjemputnya Papa gak nikah lagi."


"Papa keren. Papi bisa emang kayak begitu? Papi kan manja banget. Apa-apa harus dilayani."


"Denger sayang, kan Papi memanfaatkan seorang istri gitu Mi. Biar ada kerjaannya"


"Ih Papi mah."


Reza menangkup wajah istrinya. Lama sekali mereka saling pandang.


"Mami gak berubah dimata Papi."


Tasya tertawa. "Sama. Papi juga. Cuma ada tambahan ini nih Pi" Tasya memegang sedikit kerutan di ujung mata Reza saat Reza tersenyum.

__ADS_1


"Udah ah. Kayak remaja saja." Tasya bangkit sementara Reza terkekeh karena berhasil membuat istrinya salah tingkah.


***


Ibu, dan keluarga Rasya kini tiba dirumah Reza. Mereka berkumpul bersama menikmati hidangan malam yang sengaja Reza pesan untuk acara kecil-kecilan keluarga mereka.


"Pokoknya Bang, kalau ada teman Abang yang ganteng, kenalkan ya Bang" pinta Arumi


"Heh! Masih kecil udah genit." gerutu Reza


"Gak apa-apa dong Pi. Kan buat penyemangat gitu."


"Abangnya saja gak pernah main cewek, ini anak cewek ganjen banget."


"Iih Papi mah, sirik aja. Kan nanti jadi motivasi buat Arumi biar bisa nyusul Abang kesana."


"Ngapain?"


"Kenalan sama bule." ujar Arumi cuek


"Heran deh, cucu yang cowok gak ada banyak tingkah. Ini yang cewek astaghfirullah.."


"Bapaknya salahin bu, dia dalangnya." timpal Reza


"Haha.. Enak aja. Bapaknya sholeh begini." Rasya tak mau disalahkan. "Tapi baguslah. Dia ekspresif. Gak cuma diam saja."


"Hati-hati, anak gadis. Setan kan gak permisi dulu A." Tasya menimpali


"Ih Mami mah kejauhan mikirnya. Aku juga kalau di dekati cowok, kabur Mi."


"Kamu kabur? Gak mungkin" Nin menimpali


"Kaburlah Nin, orang sepatunya aku umpetin."


Semua terbahak mendengar celoteh gadis cerewet titisan Rasya bapaknya.


Mereka kini tiba dibandara. Tasya tak hentinya menangis saat hendak melepas anak bujangnya untuk menggapai mimpinya.


"Mi, jangan nangis terus dong. Abang jadi gak tenang nantinya." Vano memeluk Maminya.


"Abang sehat-sehat disana. Jangan nakal, jangan lupa sholat, jangan salah gaul." Tasya memegang wajah anaknya, dia mengecupnya tak henti. "Pokoknya kabari Mami setiap hari ya, Nak. Biar Mami tenang ya." Tasya memeluknya anaknya erat.


Kini Vano memeluk Papi tercintanya. Tak ada suara diantara mereka. Reza bahkan tak menangis sedikitpun. "Take care." Reza menepuk bahu sang anak.


"Jaga Mami ya Dek. Kamu jangan keluyuran terus. Susul Abang kalau bisa."


"Jangan. Nanti Mami gak ada teman" timpal Tasya


"Hati-hati Bang" ucapnya seraya meneteskan air mata.


"Cengeng dia mah."


Vano beralih menyalami satu persatu keluarganya.


"Abang, kalau Abang bukan Abang Arum, udah Arum kejar Bang." ucapnya jujur.


"Astaghfirullah.. Ini anak ampuuun" Zahra malu mendengar ucapan anaknya


Vano menyeret kopernya seraya melambaikan tangan. Tasya dan ibu menangis kembali menyaksikan kepergiannya.


"Udah Mi. Jangan ditangisi terus. Doakan saja dia selamat sampai sana."


Kini Tasya termenung seorang diri di kamar putra kesayangannya walau sudah seminggu si pemilik ruangan tersebut pergi.


"Mi" Reza masuk ke dalam kamar Vano.


"Kangen Abang Pi." ucapnya lirih.


"Ck.. Kalau terus-terusan begini, anaknya gak maju-maju Mi. Jangan ditangisi terus. Kalau nanti dia pisah dari kita, terus punya kehidupan sendiri gimana? Apalagi nanti bukan kita yang jadi prioritasnya."


Tasya meneteskan air matanya. "Sudah ah. Gak habis-habis itu air mata." Tasya masih meneteskan air matanya.


"Malam mingguan yuk? Kita pacaran lagi." ajak Reza


"Adek gimana?"


"Dia udah gede Mi. Berhenti mengkhawatirkan semuanya secara berlebihan."


"Nanti kalau Papi ada apa-apa, Mami juga bakalan cuek." ketus Tasya


"Kok gitu sih?"


"Papi sendiri kan yang bilang berhenti khawatir."


"Jahatnya, yakin gitu gak bakal nangis kalau Papi pergi?"


"Gak bakalan. Kalau mergoki Papi sama wanita lain."


"Haha.. Beda cerita itu mah."


"Emang ridho kalau Papi sama cewek lain?"


"ih.. Awas aja kalau tega." Tasya mencubit perut suaminya.


"Aww..sakit Mi. Ampun." Reza memegang tangan istrinya, dia mendekatkan diri pada Taysa.


Reza mengec*p lembut istrinya bertubi-tubi hingga menciptakan hawa panas dalam diri mereka. Tasya selalu terbuai dengan perlakuan lembut Reza, hingga keduanya hilang kesadaran dan hanya nikmat yang tercipta.


"Ini kamar Abang, Pi. Pindah."


"Tanggung Mi. Udah gak tahan ini"


"Nanti adek dengar ah." Tasya menarik lengan suaminya. Mereka melakukan ibadah malam itu.


"Love you Tasya Fadilla" Reza mengecup mesra kening Tasya.


Tasya memeluk erat suaminya. "Don't leave me alone, Pi."


"Ciee bahasa inggris. Latihan nyusul anaknya nih." ucap Reza


Begitulah rumah tangga mereka tercipta. Jalan terjal dan berliku dalam rumah tangga itu biasa, yang luar biasa adalah bagaimana tetap bergandengan tangan menuju Jannah-Nya.

__ADS_1


TAMAT.


__ADS_2