BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Pencuri Sayuran


__ADS_3

Keesokan harinya seperti biasa mereka sudah sampai di kantor. Reza mengikuti Tasya ke gerainya terlebih dahulu.


"Kenapa A?" Tasya heran saat Reza membututinya


"Katanya kemarin ada masalah?" Tanya Reza


"Oh iya." ucapnya singkat


Setibanya di gerai, Reza segera duduk di kursi tempat istrinya bekerja. Dia membuka laptop istrinya kemudian fokus menatap layar tersebut.


Tiap bongkar, kuantitas masing-masing sayuran tersebut kamu tahu Sya?" tanya Reza


"Maksudnya bagaimana A?" tanya Tasya


"Misalnya satu peti kentang isinya berapa kilo, brokoli berapa kilo"


"Iya tahu. Kan disana ada laporannya juga." ucap Tasya


"Sudah ketemu yang hilang apa saja?" tanya Reza


"Belum" jawabnya singkat


"Assalamualaikum selamat pagi bu, pak. Maaf saya terlambat" ucap Lala


"Tumben La. Kamu gak kerja sama saya jadi bebas La" sindir Reza


"A Reza!" Tasya membentaknya


"Maaf Pak, tadi.. Macet" ucapnya


'Maaf aku bohong bu' batinnya


"Gak apa-apa La. Baru sekarang kamu telat begini" Tasya membelanya


"La, sini lihat" Reza memanggilnya


"Kamu sudah hitung kuantitas masing-masing barang yang keluar?" tanya Reza


"Belum Pak." ucap Lala


"Ini sih mudah. Kamu jumlahkan saja barang yang keluar sesuai nota. Nanti yang mana saja yang tidak sesuai dengan jumlah keseluruhannya. Paham?" tanya Reza


"Paham Pak"


"Nanti dari situ ketahuan mana saja yang hilang." ucap Reza


"Nanti saya coba buka cctv juga untuk memastikan" lanjutnya


"Baik Pak." ucap Lala


"Aa ke ruangan dulu ya sayang." Reza beralih melihat Tasya


Tasya melotot ke arah Reza.


"La" panggil Reza


"Sudah pendekatan sama Agus?" tanyanya


"Pak Reza ih!" Lala mulai berani


"Habis, Keenan kan sudah pergi. Atau kamu lanjut bersama Keenan?" tanya Reza


DEG!


"Eng.. Enggak Pak. Bapak pagi-pagi Pak dilarang ghibah" ucap Lala


"Siapa yang ghibah? Kan saya tanya langsung sama narasumbernya" ucap Reza


"Sudah sana A Reza ih! Gak berhenti kalian ini bertengkarnya" ucap Tasya melerai


Reza keluar dari gerai Tasya menuju ke ruang security. Dia segera menghampiri Pak Mukhlis sebagai kepala keamanan kepercayaannya.

__ADS_1


Setelah beberapa lama disana, Reza kembali ke kantornya.


"Zam, celanamu sudah dijahit?" tanya Reza


"Sudah Pak" ucapnya seraya tersenyum malu


"Rosa kemarin tertawa tu Zam" ucap Reza kemudian


Dia masuk ke dalam ruangannya.


'Tiap kali bertemu bos, rasanya degdegan sekali. Padahal dia sudah beristri. Tapi pesonanya maak.. Mana tahan' batin Rosa


Siang hari seperti biasa Tasya masuk ke ruangan suaminya.


"Sini sayang lihat" ucap Reza


"Apa sih A?" Tasya mendekat ke arahnya kemudian Tasya duduk dipangkuan sang suami.


"Kamu lihat yang ini" ucap Reza yang sedang memutar rekaman cctv pada laptopnya.


"A.. Gak salah?" Tasya nampak syok


"Kamu lihat saja gerak geriknya" ucap Reza


"Ini baru sekali sayang" tambah Reza


"Terus kita harus bagaimana A?" tanya Tasya


"Ya mau bagaimana lagi" ucap Reza


"A, dia kerja sudah berapa lama? Kejadian kayak begini baru sekarang kan A?" tanya Tasya


"Apa sebaiknya kita tanya terlebih dahulu A? Barangkali dia memang khilaf" ucap Tasya


Reza hanya diam. Dia masih bingung keputusan apa yang mesti dia ambil.


"A Reza, dia sekarang karyawanku kan? Boleh aku tanya-tanya dia?" tanya Tasya


"Buat apa Sya? Sekali begitu kedepannya pasti begitu." ucap Reza


"Iya tahu baru sekarang. Itu karena sekarang ada kesempatan! Kedepannya kesempatan itu masih terbuka untuk dia. Gak menutup kemungkinan dia akan melakukan hal yang serupa Sya" ucap Reza


"Ya tapi, kita belum tahu kan alasannya?" Tasya beranjak dari pangkuan suaminya. Dia duduk di sofa dengan berselonjor kaki.


"Apapun alasannya tetap salah kalau mencuri!" ucap Reza


"Kalau dia terpaksa bagaimana?" tanya Tasya


"Kenapa dia harus mencuri. Kalau dia terpaksa dia bisa minjam" sanggah Reza


"Kalau gak ada yang menolongnya?" Tanya Tasya kembali


"Ya kenapa dia gak minta bantuan kita?" Reza kembali menyanggah


"Apa selama ini ada yang berani meminta pinjaman pada Aa?" tanya Tasya


Reza terdiam.


"Sudah lah A. Kita coba tanya saja dulu. Jangan sampai orang lain tahu A" ucap Tasya


"Kenapa? Biar dia jera Sya" Reza menyangkalnya


"Allah saja menutupi aib hambanya. Aa mau sejahat itu?" Tanya Tasya


Reza lagi-lagi dibuat diam.


"Yasudah. Nanti kita panggil saja" ucap Reza


"Sekarang kita makan saja dulu ya sayang" ajak Reza dengan suara yang melunak.


Mereka membuka kotak bekal makan mereka.

__ADS_1


"Makan yang banyak mami sama dedek" ucapnya seraya tersenyum


"Aku makan buah saja ya?" pinta Tasya


"Makan nasinya sayang"


"Gak mau" tolak Tasya


"Papi suapin mau ya sayang" bujuk Reza


Tasya membuka mulutnya. Reza menyuapi dirinya dan Tasya bergantian.


***


Sore hari, Reza dan Tasya memanggil orang yang berada dalam cctv tersebut.


"Silahkan duduk" ucap Reza saat orang tersebut datang ke ruangannya. Wajhnya tampak sangat tegang.


"Kamu tahu kenapa saya panggil kesini?" tanya Reza


"Tidak Pak" ucapnya


Reza memperlihatkan rekaman cctv kepadanya. Orang tersebut nampak kaget.


"Saya.. Saya minta maaf Pak" dia tertunduk lesu


"Sudah berapa kali?" tanya Reza


"Tiga kali Pak" Dia tertunduk lesu. Kini dia nampak gemetar


"Sebanyak itu? Pintar juga kamu!" Reza mulai keras


"Saya mohon maaf"


"Kalau boleh tanya, kenapa bapak nekat begitu?" tanya Tasya yang masih dengan nada biasa


'Dasar wanita. Nanya begitu saja masih lemah lembut' batin Reza


"Maafkan saya Bu. Maafkan saya Pak. Saya butuh untuk makan sehari-hari. Karena gaji saya habis untuk membayar hutang bekas berobat ibu saya" ucapnya


"Kenapa gak pinjam saja?" tanya Reza


"Hutang saya sudah banyak Pak. Gak ada yang memberi saya pinjaman lagi" ucapnya jujur


"Kenapa kamu gak tanya Bu Tasya perihal gajimu. Kalau memang butuh, kamu bisa mengambilnya di muka. Kalau kamu bicara, kami juga bisa mempertimbangkannya!" ucap Reza.


"Maafkan saya Pak. Maafkan saya Bu. Saya memang salah. Saya gelap mata" ucapnya seraya menangis


"Saya menyesal" tambahnya


"Menyesal karena sudah ketahuan? Kalau tidak ketahuan kamu tak akan menyesal!" ketus Reza


Dia terdiam.


"Boleh saya tahu, alamat rumahnya?" tanya Tasya


Reza membelalakan matanya seolah tak menyangka pertanyaan sang istri.


"Boleh Bu" ucapnya takut


"Saya mohon Pak Reza tidak memberhentikan saya. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi. Saya bersedia gaji saya di potong untuk membayar semua perbuatan yang saya lakukan" ucapnya


"Haruslah! Kamu harus tanggung jawab. Bukan soal materinya saja. Tapi kelakuanmu juga!" ucapnya keras


"Catat saja alamat rumahnya Pak" pinta Tasya sambil menyodorkan kertasnya


Reza melihat Tasya tapi tak berani membantahnya.


'Buat apa dia minta alamat rumah segala?' batin Reza kesal


Dia menulis alamat rumahnya. Dengan tangan gemetar memberikan kepada Tasya.

__ADS_1


"Tolong jangan beritahu ibu saya Bu, saya takut beliau makin drop" pintanya


"Beliau harus tahu kelakuanmu Gus!" ucap Reza dengan tatapan tajam


__ADS_2