
Tasya menunggu Reza seorang diri. Dengan tak fokus dia memainkan ponselnya. Sesekali dia melirik ke arah Reza berjalan tadi, dia menunggu dalam kecemasan. Tak lama Reza datang membawa sebuah plastik ditangannya.
"Dari mana sih?" Tasya kesal karena lama menunggu
"Tadi beli ini buat susternya Vano" ucap Reza
"Bilang dulu kek Pap. Maen pergi saja!"
"Maaf"
"Yuk Mam kita ke Vano" ajak Reza
"Yakin gak apa-apa?" Tasya ragu
"Ada ini kan" Reza mengacungkan plastik yang dibawanya.
"Ih dasar" Tasya tersenyum
Mereka tiba didepan ruang NICU.
"Hallo tante suster. Boleh gak Maminya Vano jenguk?" tanya Reza
"Belum jadwalnya Pak. Maaf ya" ucap salah satu perawat yang berjaga disana
"Maminya seminggu gak ketemu Sus. Sekarang kesini juga karena harus check up. Boleh ya Sus, sebentar saja" bujuk Reza
"Ya sudah boleh Pak" dengan senyuman Reza mereka merasa luluh.
Reza dan Tasya masuk ke dalam ruangan.
"Vanoo.." Tasya segera mendekat
"Sus boleh saya melakukan skin to skin dengan Vano?" tanya Tasya
Suster tersebut nampak saling melirik.
"Ya sudah boleh Bu" ucapnya
Dua perawat dengan cekatan membantu Tasya melakukan metode tersebut.
"Bagaimana berat badannya sus?" tanya Tasya memecah kecanggungan di antara mereka
"Dokter belum visit Bu. Nanti kami informasikan kembali" ucap Suster tersebut.
"Vano, sayang ini Mami. Cepat naik dong berat badannya. Mami dirumah gak tenang" ucap Tasya saat Vano berada di dekapannya.
Perawat yang membantu Tasya tersenyum.
"Hei, jagoan Papi. Ayo bangun.." Reza menimpali
Tasya kini duduk. Mengelus lembut punggung Vano yang terbungkus oleh kain gendongan dan baju yang dipakainya. Dia menyalurkan rasa rindunya pada bayi mungil yang dia lahirkan.
"Sayangnya Mami. Yuk pulang. Mami tiap lihat tempat tidur Vano rasanya sedih. Vano cepat gemuk ya sayang" ucapnya lagi.
"Besok pulang ya Nak. Kalau Vano belum pulang, Mami milik Papi. Vano gak boleh peluk-peluk Mami lagi" ancam Reza
"Papi..kok begitu. Enggak ya sayang, Vano mah kesayangan Mami. Biar Papi saja sendiri. Nanti kita suruh Papi tidur di sofa" Tasya membela sang anak.
"Mam.. Jangan dibela kalau Vano gak mau pulang Mam. Biar Papi yang dipeluk Mami dirumah" ucap Reza
"Papi ih sama anak sendiri juga" Tasya melotot
Terjadilah perdebatan konyol diantara mereka. Sementara perawat melihat mereka dengan tersenyum.
***
"Kita langsung pulang Mam?" tanya Reza setelah konsultasi dengan dokter Tasya.
Mereka sangat lega dengan keadaan Tasya yang berangsur membaik lebih cepat dari perkiraan dokter.
__ADS_1
Kini mereka tengah duduk untuk menebus obat yang dokter resepkan untuk mereka.
"Sayang.. "
"Mau beli makan?" tanya Reza
"Aku mau ketemu Vano sebelum pulang Pap." rengek Tasya
"Gak bisa sayang. Tadi kan kita sudah ketemu." ucap Reza
"Besok lagi ya?" hiburnya
"Besok kapan? Paling minggu depan" Tasya bersungut kesal
"Mami sabar dong. Kok Mami malah begini" Reza gusar
"Gimana mau sabar, anaknya sudah hampir sebulan dirumah sakit. Nyesek tahu Pap" ucapnya berkaca-kaca
"Memang Mami saja yang begitu. Papi juga Mam. Vano juga kan anak Papi"
"Tapi Papi mah kayaknya biasa saja"
"Terus Papi harus kayak gimana? Ngerengek minta Vano pulang?"
Tasya diam
"Sabar Mam. Pasti dia pulang sayang" Reza mengusap lembut punggung istrinya. Seketika Tasya menjatuhkan kepalanya di dada sang suami.
"Sebentar sayang" Reza segera bangkit saat nomor antriannya dipanggil. Tak lama, dia membawa plastik berisi obat dan menggandeng istrinya keluar dari rumah sakit.
"Mami ada yang di inginkan?" tanya Reza yang masih fokus melihat jalan
"Eng.. Enggak" ucapnya
"Serius? Mumpung kita masih diluar sayang" ucapnya.
"Papi gak ingin apa-apa. Terserah Mami. Mau mau apa nanti Papi ikutan makan" ucapnya
"Kangen makanan pedas"
"Mamiiii... Ingat apa kata dokter!"
" Iya iya tahu. Gak usah galak. Cuma bilang kangen doang" ucap Tasya.
"Sayang.. Boleh gak Mami mau lasagna yang di cafe itu" Tasya berbinar
Deg!
"Mmm.. Yang searah pulang saja sayang. Itu kan lebih jauh" Reza menolaknya
"Oh, ya sudah kita pulang" ucap Tasya datar
"Yakin mau itu?" tanya Reza menimang
"Iya"
"Ya sudah. Papi putar balik ya"
"Ga usah, pulang saja." Tasya tak bersemangat
"Katanya mau" bujuk Reza
"Tadi kan Papi gak mau kesana"
"Ini mau. Ayo. Apa sih yang enggak buat Mami. Cuma lasagna kan? Bukan berlian" Reza menghibur sambil clingukan hendak memutarkan mobilnya
"Apa? Diamond Pap?" Tasya seolah teringat milik Reza
Mereka tertawa
__ADS_1
"Diamond Papi kasihan Mam"
"Sabar sayang. Nanti kalau Mami sudah siap, Mami kasih yang spesial" Tasya mengedipkan matanya
"Beli ya, jangan kado kayak waktu itu" Reza bersungut
"Iya" Tasya tertawa kecil
Setelah beberapa lama, mereka tiba di cafe.
"Take away ya, jangan makan disini" ucap Reza
"Kenapa?" tanya Tasya
"Mami harus istrihat. Gak banyak aktifitas. Makan dirumah kan santai sayang." Reza memberi alasan
"Ya sudah" Tasya tak membantah
"Tunggu di mobil ya. Rebahan sayang"
"Apa sih Pap. Aneh banget"
"Tunggu ya sayang" Reza menggenggam tangan istrinya
Reza segera keluar dengan memakai topi dan menggantungkan kacamatanya di kaosnya. Reza mengedarkan pandangannya, dengan nafas lega. Dia tak menemukan sang mantan disana.
'Oh iya, dia kan bos nya. Gak setiap hari disini' batin Reza.
Reza segera memesan lasagna dan beberapa makanan lainnya. Reza mwnunggu dengan memainkan ponselnya sambil sesekali berjaga-jaga takut sang mantan datang menghampirinya.
Setelah selesai, Reza tergesa masuk ke dalam mobil miliknya.
"Banyak sekali sayang. Apa saja ini?" tanya Tasya sambil membuka isi plastik yang Reza bawa.
"Lasagna awet tiga harian kata Masnya. Ya sudah Papi beli saja buat stok Mami."
"Coba buka pizzanya sayang. Itu katanya pizza kayu bakar" Reza meliriknya sepintas sambil memutar kemudinya hendak keluar cafe.
"mmm..wangi Pap" Tasya mengambil satu potong pizza dan menggigitnya.
"Enak?" Reza menelan salivanya
"Coba sayang. Awas panas" Tasya menyodorkan ke mulut Reza
"Mmm.. Iya enak. Cuma lebih tipis dari pizza restoran itu ya?" Reza mengometarinya
'Pantas tajir. Bisnisnya berkualitas' batin Reza
Tak lama dering ponsel Reza berbunyi.
"Lihat siapa yang telepon sayang?" ucap Reza
Tasya membersihkan tangannya kemudian mengambil ponsel dari dasboard.
"Nomor kantor ini" dilihat deretan nomor yang tertera dilayar.
"Hallo Assalamualaikum" Tasya mengangkatnya.
"Waalaikumsalam. Dengan Bapak Reza?" sapa seseorang diseberang sana
"Iya. Saya istrinya. Maaf dari siapa?" tanya Tasya
"Ibu Tasya kami dari ruang NICU Rumah Sakit Harapan Bu"
Deg!
'Vanoo.. ' seketika darahnya berdesir
"Kenapa Vano sus?" tanya Tasya sedikit meninggikan nada bicaranya. Reza menoleh ke arahnya. Dengan segera dia menepikan mobilnya.
__ADS_1