
Seminggu sudah Tasya berbaring tak sadarkan diri. Rekan kerja dan karyawan Reza pun bergantian datang memberi semangat pada lelaki yang menyandang status orangtua baru itu. Lala bahkan menangis saat melihat Tasya dengan peralatan ditubuhnya. Dia tak tega melihat Bosnya tersebut hanya terpejam tanpa bergerak sedikitpun.
Tak hanya Tasya, Elvano sang putra pun berjuang hidup dengan mengandalkan asupan melalui selang yang terpasang dalam tubuh mungilnya. Keluarganya mencurahkan seluruh cintanya menjaga Elvano dan Tasya secara bergantian.
Perjuangan Elvano sedikit membuahkan hasil, berat badannya merangkak naik di angka 1.65 kilogram. Sebuah kemajuan besar untuk bayi mungil tersebut.
Reza berlari kecil menuju ruang NICU setelah mampir ke kantornya untuk menandatangani berkas penting yang dia serahkan pada Pak Bambang.
Dia bertemu dengan dokter Tiara yang menangani Elvano kecil.
"Perkembangan yang bagus Pak, bayi bapak tangguh sekali." ucap dokter Tiara yang menangani Elvano
"Kapan saya boleh memegangnya Dok?" tanya Reza tak sabar
"Boleh. Bapak sudah diperbolehkan menggendongnya" ucap dokter Tiara
"Benar dok?" wajah Reza seketika berbinar. Terbersit sebuah kebahagiaan untuk dirinya.
"Bapak bisa melakukan Kangaroo Mother Care dengan cara melakukan kontak skin to skin dengan bayi Bapak."
"Biasanya ibu yang melakukan metode ini, tapi Bapak bisa menggantikan Ibu. Ini tak masalah" ucap dokter tersebut yang mengetahui keadaan mereka.
"Bisa saya melakukannya sekarang dok?" tanya Reza
Dokter tersebut mengangguk sambil tersenyum. Dia memaklumi kesedihan yang Reza rasakan.
"Sus, tolong dibantu bapaknya" pinta Dokter Tiara
"Tolong lepas kemejanya Pak" pinta suster
Reza tanpa segan membuka kemeja putihnya. Dia bertelanjang dada di depan Dokter dan perawat muda yang berjaga. Sang perawat sedikit gugup melihat paras ganteng Reza tanpa baju.
Satu orang perawat membelitkan gendongan bayi di tubuh Reza menyerupai kantung kangguru. Kemudian dengan hati-hati, perawat mengangkat tubuh Elvano dengan selang yang masih melekat ditubuhnya masuk ke dalam gendongan tersebut. Dia memposisikan Elvano di dada Reza kemudian memakaikan topi bayi pada Elvano. Setelah selesai, Perawat membantu Reza memakai pakaiannya kembali. Reza duduk di kursi dengan menyandarkan tubuhnya.
"Vano, ini Papi Nak" ucap Reza lirih sambil membelai tubuh mungil Elvano.
Rasa bahagia menyelimuti hatinya. Terbersit sebuah semangat baru dalam dirinya.
"Nak, ayo berjuang. Papi tahu Vano tangguh!" ucapnya kemudian.
__ADS_1
Sang perawat yang mendengarnya merasa terharu. Keberadaan Tasya dan Vano menjadi buah bibir para perawat yang bertugas disana. Bahkan Ibu dan Reza hampir mengenal nama perawat disana.
Ibu datang ke ruang NICU karena tak tahu Reza berada disana. Betapa kagetnya ibu melihat cucunya menempel di tubuh menantunya.
Reza melihat ibu dengan wajah bahagia. Senyuman yang telah sirna kini terlihat diparas gantengnya.
"Za.. " ibu mendekat
"Vano perkembangannya bagus Bu" ucap Reza bahagia.
Ibu menyentuh Vano. Rasa bahagia yang ibu rasakan meski masih ada duka di hatinya, tapi setidaknya mereka bisa menyentuh Vano secara langsung.
"Kata dokter, aku bisa melakukan ini setiap hari Bu" Reza seolah mengadu
"Iya Nak. Salurkan kehangatan pada Vano, jangan tunjukan kesedihan. Nanti dia ikut merasakannya" ucap Ibu mengingatkan.
Mereka terdiam lama. Ibu meninggalkan mereka, memberikan kesempatan kepada Reza untuk mencurahkan kasih sayangnya.
Berita Reza dan Vano ibu sebarkan pada keluarga mereka. Tak ayal, berita tersebut membuat haru keluarga. Begitupun Rasya, dia ikut berbahagia melihat perkembangan keponakan tercintanya.
***
"Sayang, tadi Vano Papi gendong. Kata dokter sangat bagus untuk perkembangan Vano dan kedekatan kita" Reza menggenggam tangan Tasya saat jam kunjungan tiba
"Mami harusnya sama kaya Vano, Mam. Masa kalah sama anaknya sendiri" Reza berbicara sendiri
"Vano saja bisa berjuang, masa Mami gak bisa. Bisa kan Mam? Vano sudah peluk Papi loh Mam. Papi juga kangen banget dipeluk Mami." ucapnya lagi.
"Mami harus bangun ya. Demi Papi dan Vano. Dua pengawal Mami yang gantengnya semakin parah" ucapnya seraya tersenyum.
Reza terdiam cukup lama. Mengelus wajah sang istri tercinta sambil menggenggam tangannya. Doa dan asa dia panjatkan tak henti.
***
Keesokan harinya, Reza datang ke rumah sakit dengan penuh semangat setelah dia mengontrol kantornya seperti biasa.
Semangat untuk melakukan kangaroo mother care dengan sang buah hati membuatnya lebih optimis bahwa sang putra akan tumbuh dan berkembang dengan baik.
Dia masuk ke ruang NICU dengan membawa cemilan untuk perawat yang bertugas menjaga anaknya siang itu.
__ADS_1
"Berat badannya masih sama Sus?" tanya Reza
"Iya Pak" ucap suster tersebut singkat.
Tak banyak basa-basi, dia meminta segera melakukan metode skin to skin tersebut.
"Hari kedua ya Nak. Ayo lekas naik berat badannya. Biar cepat pulang" Reza berbicara pada sang buah hati
"Vano kangen Mami kan? Ajak Mami cepat pulih ya Nak. Bilang sama Mami, Papi kangen juga sama Mami" pinta Reza kemudian
"Mami pasti sembuh ya Vano" timpal sang perawat yang membuat Reza menoleh kearahnya sambil tersenyum.
Setelah selesai melakukan skin to skin dengan Vano, Reza kini bergegas ke ruangan sang istri. Dia masuk ke dalam ruangan istrinya masih dengan semangat yang menggebu.
Seperti biasa, dia meraih jemari sang istri.
"Assalamualaikum Mami. Papi barusan dari ruangan Vano dulu Mam. Papi senang sekali, dia menempel lagi sama Papi."
"Dia kayak Mami, suka sekali nempel di dada Papi. Memang sih, Papi buat kalian nyaman kan?"
"Vano makin hari makin ganteng, Mam. Pokonya kegantengan Papi sama Vano gak ada yang mengalahkan. Mami bangun ya? Biar Mami tahu gantengnya Papi sama Vano."
"Papi kangen banget sama Mami. Mami bangun ya Mam. Mami harus kuat. Mami harus bisa bertahan demi Papi sama Vano, sayang." tutur Reza tak henti
Reza tertunduk lesu.
"Papi sayang banget sama Mami. Papi juga sayang banget sama Vano. Lekas bangun sayang. Ibu, Ayah, Rasya, Papa, semua menunggu Mami bangun. Papi mohon, jangan siksa Papi seperti ini sayang." ucapnya dengan nada melemah.
Reza mengusap lembut wajah sang istri. Dia melihat keluar air dari sudut mata Tasya. Seketika Reza mendekatkan wajahnya pada mata tersebut. Reza mengerjapkan matanya. Apa yang dilihatnya salah? Ataukah memang Tasya mengeluarkan air mata?
"Mami.. Mami dengar Papi kan Mam?" Reza mengencangkan suaranya.
"Sayang.. Ini Papi. Ayo bangun Sya.." ucapnya lagi
"Tasya.. Ini Aa, sayang. Vano nunggu kita. Nunggu Mami bangun. Papi sama Vano kangen Mami. Aa mohon Mam. Ayo bangun" ucap Reza dengan penuh pengharapan.
Air mata mulai mengalir dari sebelah mata Tasya.
"Mami?" pekik Reza
__ADS_1
*** Papi minta dukungan dari Readers agar Mami segera sadar dengan cara bantu VOTE KOIN DAN POINNYA. Jangan lupa yinggalkan jejak dengan LIKE dan KOMENTARNYA.
Jangan lupa follow instagram aku juga ya @Only.ambu. Terima kasih ^^ ***