BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Penyesalan Reza


__ADS_3

Tengah malam, Tasya gelisah. Dia merasa meriang dan demamnya kembali tinggi. Beberapa kali dia mengerjapkan matanya yang terasa panas. Tasya duduk di bibir kasur. Dia hendak berdiri, tapi kepalanya terasa berat. Dia merebahkan kembali badannya ke atas kasur.


Dia enggan membangunkan Reza yang sedang tidur pulas karena mereka tak tegur sapa sejak perdebatan tadi sore.


"Ya Allah.. " ucapnya seraya mengelus perutnya.


Tasya mulai duduk kembali, dia mengambil obat yang di resepkan dokter kemarin kemudian meminumnya. Setelah itu, dia duduk dengan bersandar ke headboard.


Tasya merasa rapuh, dia ingin sekali pulang.


'Kalau di rumah ibu pasti sigap sekali mengurusku. A Rasya juga sama.' batin Tasya


Tak terasa dia menangis. Lama kelamaan tangisnya tak terbendung.


Reza memicingkan matanya setelah mendengar suara tangisan. Dia melihat ke arah Tasya yang sedang menangis.


"Sayang?" Reza seketika bangun tersentak


"Kenapa nangis Sya?" tanyanya bingung


Reza memegang tangannya. Beralih ke dahinya.


"Kamu demam lagi sayang" ucap Reza.


"Minum obat dulu ya?" pinta Reza yang sedikit panik sambil menggenggam tangan sang istri.


Tasya segera menepisnya.


"Aku mau pulang" ucapnya terbata


"Pulang kemana? Ini rumah kita sayang" ucap Reza


Tasya masih menangis tersedu-sedu.


"Jangan menangis sayang, nanti makin pusing" ucap Reza


Reza segera keluar kamar untuk membuatkan teh manis hangat. Tak berapa lama, Reza masuk kembali ke kamar dengan teh manis dan kue diatas nampan.


"Minum dulu sayang" Ucap Reza


Tasya tak menghiraukannya. Dia menurunkan tubuhnya kemudian berbaring membelakanginya.


"Sayang, minum obat dulu" pinta Reza kembali.


"Sudah" ucapnya. Dia malas diganggu oleh Reza lagi.


Tasya memejamkan matanya, tak lama. Dia tertidur. Sementara Reza masih duduk dengan kebingungan.


***


Tasya terbangun sambil menahan sakit kepalanya.


"Sudah bangun sayang?" tanya Reza yang telah berpakaian rapih.


"Maaf, Aa hari ini mau ke supermarket Adit. Aa tinggal sebentar ya sayang. Setelah selesai urusan, Aa pulang" ucap Reza


Tasya tak bicara sepatah katapun.


"Aa berangkat ya sayang. Maaf Aa harus meninggalkanmu sebentar. Aa mengejar kontrak kita" ucap Reza kembali


Reza segera mencium kening sang istri tapi ditepisnya. Kali ini Reza tak memaksa karena dia sudah terlambat.

__ADS_1


"Nanti Bi Tinah biar menemanimu" ucap Reza seraya berlalu.


"Bi.." Reza mencari Bi Tinah


"Bi, aku titip Tasya. Ada kerjaan yang gak bisa aku tinggal Bi. Tolong buatkan teh manis hangat dan belikan bubur ya Bi." pinta Reza


"Aku titip ya Bi. Terima kasih" ucapnya


"Itu anak, belum. Dijawab sudah pergi saja" ucap Bi Tinah.


***


Reza melajukan mobilnya dengan lebih cepat dari biasanya. Pikirannya terbagi dua antara kerjaan dan istrinya.


'Pokoknya harus dapatkan tender ini' batin Reza


Ada rasa bersalah menyelimuti dirinya setelah perdebatan kemarin. Dia mengakui dirinya memang terburu-buru. Tapi rasa egonya yang lebih tinggi menginginkan motor kesayangannya agar segera pulang.


Reza sampai di supermarket Mall. Dia segera menghubungi Adit melalui sambungan telepon.


"Mas.." tiba-tiba seseorang menghampirinya


"Ya?" ucap Reza


"Suami Tasya ya Mas?" tanyanya


"Betul" Reza melepaskan ponsel dari telinganya sambil mengingat lelaki yang ada dihadapannya.


"Aku Romy, Mas. Teman Tasya yang waktu itu kita bertemu di lantai atas" ucapnya mengingatkan


"Oh iya" ucap Reza


"Romy kerja di supermarket ini kan ya?" tanya Reza seraya melihat kaos yang dikenakannya


"Mas sedang apa? Mana Tasya Mas?" tanya Romy


"Aku mencari Adit divisi Fresh. Ada gak?" tanya Reza


Saat sedang berbincang, Adit menghampiri mereka. Mereka ngobrol bertiga kemudian Reza dan Adit pergi ke ruangannya.


***


Tok.. Tok.. Tok..


"Bibi masuk ya Neng" ucap Bi Tinah sambil membuka pintu kamar Tasya


"Makan dulu Neng" ucapnya seraya melihat Tasya yang tengah berbaring.


"Nanti saja Bi" Taysa menolaknya.


Bi Tinah duduk di tepi kasur. Dia merasa kasihan pada Tasya.


"Sabar ya, harus dilawan sakitnya. Kasihan yang disini" ucapnya seraya mengelus perut Tasya


"Iya Bi" Tasya senang Bi Tinah menemaninya.


"Minum dulu ya" pinta Bi Tinah.


Tasya patuh. Dia segera duduk, kemudian minum dibantu Bi Tinah.


"Duduk saja, jangan tiduran terus. Nanti makin pusing" ucap Bi Tinah

__ADS_1


"Iya Bi. Tapi kalau duduk rasanya berat sekali kepalaku" ucap Tasya


"Makan buburnya ya?" pinta Bi Tinah seraya mengambil bubur.


"Biar Tasya sendiri saja" ucapnya


Bi Tinah mengajaknya berbincang, dia tahu kalau Tasya kesepian.


***


"Jadi Romy bawahanmu Dit?" tanya Reza. Adit mengangguk sambil menyeruput kopi


"Dia teman istriku waktu kuliah" ucap Reza


"Jadi, pembayaran tiap minggu Za?" tanya Adit memastikan


"Bisakan Dit?" Reza tersenyum kecut setelah sebelumnya dia bercerita panjang lebar pada Adit tentang pembelian motormya tersebut.


"Gila kamu! Pantas saja dia marah. Wajarlah. Suaminya lebih mementingkan motor daripada istri dan calon anaknya!" Adit berdecak


"Sudahlah! Aku makin bersalah kalau kau bahas terus" ucap Reza


"Aku pamit Dit." ucap Reza seraya menyalami Adit.


Dia keluar dari ruangan Adit, kemudian melajukan mobilnya kembali ke rumah.


Sesampainya dirumah, Reza berpapasan dengan Bi Tinah.


"Neng Tasya baru saja tidur.Alhamdulillah mau makan walau sedikit. Bibi kasihan melihatnya. Apa gak sebaiknya ke dokter lagi?" tanya bi Tinah


"Kita lihat saja Bi. Kalau masih begitu Reza juga akan bawa ke rumah sakit" ucapnya kemudian


Reza bergegas masuk ke dalam kamar. Dia melihat sang istri terlelap dengan muka yang masih pucat. Dia segera mengganti bajunya kemudian keluar hendak menemui Pak Danu dengan membawa catatan miliknya.


"Papa mana Bi?" tanya Reza menghampiri Bi Tinah di dapur


"Di belakang" ucapnya singkat


Reza segera menghampiri Pak Danu. Mereka berbicara serius. Mereka fokus pada catatan yang dibawa Reza.


"Tolong ya Pa. Kasihan Tasya kalau harus ditinggal-tinggal." ucap Reza


"Tenang saja. Kamu urus saja dia. Sebentar lagi Papa ke kantormu" ucap Pak Danu


Mereka mengakhiri perbincangannya. Reza kemudian menelepon Lala agar mengurus pekerjaan istrinya. Reza yang biasa menggoda Lala, kali ini berbicara dengan sangat serius.


Reza masuk kembali ke dalam kamar, dia melihat sang istri masih terlelap. Dia kemudian duduk sambil memangku laptopnya.


Setelah berapa lama, Tasya terbangun. Reza segera meninggalkan pekerjaannya kemudian menghampiri sang istri.


"Sayang" ucapnya lembut


"Mau apa?" tanyanya kemudian saat melihat Tasya mulai duduk hendak mengambil minum. Reza dengan cekatan memberikann kepadanya.


"Sayang, alhamdulillah kita sudah deal tadi. Rezeki dedek sayang" ucapnya seraya mengelus perut sang istri


"Maaf, Aa kemarin egois. Aa salah. Aa janji gak begitu lagi. Kedepannya, apapun itu pasti Aa diskusikan denganmu" ucapnya


Tasya masih membisu.


"Maaf Aa menambah bebanmu saat kamu sedang sakit. Mau kan Mami maafin Papi?" ucapnya serius menatap lekat wajah sang istri yang tanpa ekspresi.

__ADS_1


*** Hallo Readers, jangan bosan ya baca Bukan Siti Nurbaya. Bantu VOTE, LIKE dan KOMENTARNYA ya.. Terima kasih ^^ ***


__ADS_2