
"Mam.. Mami?" Remasan tangan Reza tak menyadarkannya bahwa ada pergerakan kecil dari jemari Tasya.
Reza segera keluar ruangan.
"Rasya.. Rasya.. Lihat sini" Reza yang bingung memanggil Rasya yang segera menghampirinya.
"Ini air mata bukan? Iya kan? Ini air mata Tasya?" tanya Reza meyakinkan
"Dasar bodoh! Cepat hubungi perawat!" ucap Rasya tak sabar
Reza berlari keluar ruangan. Mereka lupa akan perselisihan mereka berdua.
"Neng. Dengar Aa kan sayang. Ayo bangun Neng. Kasih respon sama Aa" ucap Rasya
Tasya sedikit menggerakan jari-jari tangannya yang terasa kaku. Seketika darah Rasya terasa berdesir. Jantungnya berdegup kencang. Hatinya terasa akan meledak.
Reza datang disusul oleh dua perawat dibelakangnya.
"A Reza.. Dia bergerak.. Dia bergerak" ucap Rasya berhambur memeluk Reza tanpa sadar.
Reza melepaskan pelukannya. Memastikan bahwa wanitanya memang telah sadar.
"Ibu dengarkan saya. tolong respons instruksi saya. Coba ibu gerakan kakinya" ucap Perawat
Tasya menggerakan jemari kakinya dengan mata masih tertutup. Reza dan Rasya saling pandang dengan wajah takjub.
"Sekarang gerakan tangan ibu" ucap Perawat lagi
Tasya patuh, dia menggerakan jemarinya.
"Ya Allah.. Neng.. " Rasya meremas tangan Tasya
"Sekarang gerakan tubuhnya Bu" pinta perawat lagi
Tasya menggerakan sedikit badannya.
Perawat yang berjaga segera menghubungi Dokter yang menangani Tasya. Reza dan Rasya tak hentinya memanggil Tasya. Reza menggenggam erat tangan Tasya. Sementara Tasya ikut meresponnya.
Mereka terus memanggil Tasya. Mengajaknya berbicara, tapi Tasya tak menjawabnya karena mulutnya masih terhubung dengan selang ventilator.
Setengah jam kemudian, dokter tiba dengan tergesa. Dia melakukan pengecekan pada Tasya. Tak lama, dokter melepas alat pernafasan Tasya.
"Ini keajaiban" ucap dokter tersebut.
"Saya tak menyangka Ibu Tasya bisa sadar secepat ini" ucapnya kemudian.
Dengan proses yang sedikit panjang, Dokter memberi arahan pada Tasya untuk bersuara.
"Ibu masih pusing bu?" tanya dokter
"I.. Ya" ucapnya
"Nama ibu siapa bu?" tanya dokter tak henti mengajaknya bicara
"Ta.. Sya" ucapnya terbata.
Suara yang keluar dari mulut Tasya sukses membuat Reza mengeluarkan air mata. Butuh beberapa menit untuk Tasya berbicara secara lancar.
"Aku gak bisa melihat A" ucapnya dengan panik saat dia membuka matanya.
Reza dan Rasya saling pandang kembali.
"Perlahan Bu." Dokter mencoba menenangkan.
"Ini berapa Sya?" tanya Rasya seraya menunjukan keempat jarinya.
"Empat" ucap Tasya
"Aku melihatnya samar banget A." ucap Tasya
"Sabar. Semua ada prosesnya" ucap sang Dokter.
Hingga lama kelamaan mata Tasya terbuka dengan sempurna. Dia melihat orang-orang tercintanya dengan jelas.
"Aku kenapa A?" tanya Tasya
Reza dan Rasya saling pandang.
"Gak apa-apa. Kamu hanya kelelahan" bohong Reza
__ADS_1
"Mami tahu ini siapa?" tunjuk Reza pada Rasya
"Iya A Rasya" ucap Tasya yang membuat Reza dan Rasya bernafas lega. Setidaknya Tasya tak hilang ingatan. Begitu pikir mereka.
"Aku siapa Mam?" tanya Reza kemudian
"Lupa. Dia siapa A?" tanya Tasya pada Rasya
Deg!
Seketika mereka saling pandang.
"Sayang, kamu gak ingat aku siapa?" tanya Reza panik
"A Reza. Aku becanda" ucap Tasya tersenyum
"Astaghfirullah.. Hhh.. Mami jahat Mam" ucap Reza seraya mengecup tangan sang istri.
"Wah, naluri humornya sudah kembali juga" ucap Dokter.
"Nanti kita cek up keseluruhan. Sekarang biarkan Ibu Tasya beradaptasi terlebih dahulu"
"Nanti ibu Tasya bisa belajar bergerak. Miring kanan kiri, duduk, berdiri dan berjalan. Tapi gak usah langsung. Bertahap saja" ucap Dokter
"Baik dok" ucap Reza
"Baik saya permisi dulu, masih ada pasien lain yang menunggu" tambah sang dokter sambil berlalu.
"Badanku sakit semua" ucap Tasya
"Gak apa-apa sayang. Nanti gak sakit lagi" ujar Reza
Rasya keluar ruangan. Dia segera menghubungi keluarga mereka. Sementara Reza duduk disampingnya. Memandangnya dengan penuh haru dan rasa syukur.
"Terima kasih Mam. Terima kasih untuk perjuangan Mami" ucapnya
"Perjuangan apa?"
"Apa aku melahirkan A?" tanya Tasya
"Iya sayang. Mami melahirkan kembaran Papi" Reza tersenyum
"Iya sayang. Elvano Satria Martadinata" ucap Reza. Rasya mendengarnya diambang pintu
"Martadinata?" tanya Tasya heran
"Iya. Rasya yang minta. Biar sama kayak namanya" ucap Reza menutupi perdebatan mereka
"A Rasya! Memangnya Dedek anaknya dia!" Tasya bersungut
"Habis dia mewarisi gantengnya Aa sih" ucap Rasya seraya mendekat.
"Enak saja! Dia mewarisi Papinya lah" bela Tasya pada Reza
"Sudah jangan berdebat dulu" ucap Reza
"Elvano mana A?" tanya Tasya
"Vano di ruangannya sayang. Dia di ruangan khusus bayi" ucap Reza
"Vano.. " Tasya mengulang nama sang anak
"Iya Vano" Reza membelai lembut pipi Tasya.
"Neng.. " Rasya memanggilnya haru
"Kalian kenapa sih?" tanya Tasya
"Aduh.. Kelilipan.. " ucap Rasya keluar ruangan. Dia menahan tangisnya.
" A Rasya aneh"
Reza melihatnya lekat-lekat.
"Aa juga kenapa sih?" tanyanya
"Aa cinta sama kamu Tasya. Kamu gak boleh ninggalin Aa" ucap Reza
"Apa sih A!" ucapnya
__ADS_1
"Rahangku sakit"
"Iya kan dari kemarin-kemarin pakai alat. Sekarang adaptasi lagi" ucap Reza seraya menggenggam tangannya.
"Papi sayang sama Mami. Papi cintaa sama Mami" Reza mengulang ucapannya
"A Reza gak kerja?" tanya Tasya
"Lebih penting kamu dari pada kerjaan sayang" ucap Reza
"Gombal. Biasanya Aa gila kerja" ucapnya.
Reza terdiam. Tamparan keras dari mulut Tasya membuatnya lebih menyesal.
"Maaf. Harta tak ada artinya kalau Mami gak bahagia" ucap Reza
Tasya tersenyum.
"Gerakan lagi tubuhnya sayang. Pelan-pelan saja" ucap Reza
Tasya menurut. Dia menggerakan seluruh tubuhnya.
Ibu berlari ke dalam ruangan.
"Ibu.. " panggil Tasya senang
"Sayangku. Anak ibu. Anak ibu" ibu meneteskan air mata
Ayah menarik lengan ibu.
"Sudah bangun sayang" Ayah bicara hangat
"Sudah Yah."
"Naak.." Pak Danu kini mendekat dengan mata berkaca-kaca
"Papa.. "
"Kenapa semuanya begini?" tanya Tasya heran
"Semua senang kamu sudah sadar" ucap Ayah
"Aku kenapa?" tanya Tasya
"Kamu koma sayang" ucap Ayah. Semua melirik ke arah Ayah. Ayah menjadi kikuk.
"Emm.. Maksudnya.."
"Aku koma?" seketika kepalanya terasa pusing
"Pusing A" ucapnya
"Sudah. Istirahat dulu. Yang lain keluar saja!" ucap Reza ketus
Mereka keluar ruangan. Ibu tak hentinya memarahi ayah yang salah bicara. Ayah hanya diam atas kesalahannya.
"Jangan berpikir banyak. Mami sehat. Vano juga sehat. Kita akan segera pulang" hibur Reza
"Iya. Aku ingin ketemu Vano" ucap Tasya
"Iya sabar. Nanti kita ketemu Vano sayang. Vano juga rindu sama Mami" hibur Reza
"Sekarang Mami istirahat saja dulu ya" Reza mengecup lembut pipi Tasya.
"Papi juga mau" pinta Reza
"Apa?" Tasya membuka matanya
"Sun Aa" pinta Reza seraya mendekatkan pipinya pada Tasya
"Dasar" kecupan kilat mendarat di pipi Reza.
'Apakah ini mimpi?' batin Reza
***
Author nangis gak sih? Author gak nangis temans, cuma termewek-mewek. Rasanya sakit hatii banget sampe gak bisa tidur. Hehe. Lebay ya? Biarin daah..
Ayo dong ungkapkan kegembiraan dengan bantu VOTE KOIN dan POINnya. Bantu LIKE dan tinggalkan jejak dengan komentar positifnya.
__ADS_1
Jangan lupa follow instagram @only.ambu yaa.. Terima kasih ^^ ***