
"Istirahat Sayang" ucap Reza setelah keduanya masuk kamar
"Aa yang istirahat, Aa lelah dari kemarin menjagaku" ucap Tasya.
Mereka merebahkan badannya. Suasana seketika hening.
"A, maafkan aku ya. Aku gak bisa jaga anak kita. Aku egois, minta pulang ke sini. Kalau kita tidak pulang, mungkin anak kita masih bisa selamat" ucap Tasya dengan lancar dan tanpa menangis. Dia mulai mengikhlaskan kejadian tersebut walaupun terasa berat.
"Aa juga bersalah sayang, gak seharusnya kemarin aa buka puasa" ucap Reza
Tasya tersenyum dibuatnya.
"Kok kamu senyum begitu?" Reza heran tapi juga senang melihat istrinya tersenyum
"Aa kok malah mikir kesana" ucap Tasya
"Ya kali Sya, kena goncangan dari kita, di tambah kemarin jalan tol yang super jelek itu" ucap Reza kesal
Tasya terdiam.
"Dua minggu setelah tahu aku hamil kita bahagia ya A" ucap Tasya mengingatnya
"Iya, tapi mungkin kita di suruh pacaran dulu Sya. Allah tahu, kita kayak begini tuh baru sebentar. Jadi kita di kasih kesempatan untuk berduaan dulu" hibur Reza
"Begini bagaimana maksud Aa?"Tasya tak mengerti
"Ya kita bisa benar-benar menyatu. Awal-awal kan kamu takut sama Aa. Berapa bulan coba Aa puasa? Padahal kita sudah halal. Kamu sih tega sama Aa"
Tasya tersenyum, dia teringat semuanya.
"Sya, kamu sayang sama Aa?" tanya Reza tiba-tiba
"Aa kayak wanita saja, tanya hal begitu" Tasya heran
"Ya kan Aa gak tahu, kamu terpaksa atau tidak. Kadang Aa gak yakin sih, Tasya sayang sama Aa atau tidak" ucap Reza
"Atas dasar apa Aa gak yakin?" Tasya penasaran
"Ya kamu hanya patuh sama agama, orang tua dan takut dosa. Itu saja. Siapa tahu dihati kamu masih belum ada Aa." ucap Reza
"Kalau aku gak sayang Aa, aku gak akan mau di ajak Aa" ucap Tasya
"Di ajak apa?" goda Reza
"Apa sih A Reza. Pura pura tidak mengerti" ucap Tasya
Reza sengaja menghibur istrinya. Dia mengingat semua yang Tasya alami setelah bersamanya. Mulai dari ketakutan, stres, sampai keguguran. Reza merasa dia yang harus bertanggung jawab atas semua yang menimpa Tasya.
__ADS_1
"Sya, sayang nggak? " Tanya Reza sambil memejamkan matanya
Tasya melihat ke arahnya.
" Tidur mah tidur saja A" ucap Tasya
Tasya melihat Reza dengan seksama. Dia merasa sangat berdosa pada suaminya. Dia kemudian bangkit, dikecup seluruh wajah Reza. Reza hanya tersenyum, masih memejamkan matanya
"Selamat berpuasa A" ledek Tasya di telinganya
Reza hanya tertawa kecil, masih memejamkan mata. Sementara Tasya keluar kamar karena merasa bosan.
"Loh kamu bukannya istirahat Neng. Ingat apa kata dokter tadi" sapa ibu ketika Tasya menghampirinya
"Bosan bu di kamar terus. Jarang-jarang kan aku pulang bu" ucapnya
Tasya duduk di meja makan, dia mengambil kue yang berbungkus daun di hadapannya.
"Sya.." ibu ikut duduk di seberangnya
"Sabar ya. Kamu jangan berkecil hati. Kamu masih muda. Masih banyak kesempatan" ucap Ibu
Tasya mengambil gelas, kemudian menuangkan air dan segera meneguknya.
"Bu, aku minta maaf. Aku sudah buat ayah, ibu, papa, terlebih A Reza kecewa." ucapnya
"ibu kok bilang begitu?" Tasya mulai berkaca-kaca mendengar kata maaf dari ibunya
"Enggak bu, sekarang aku sudah terbiasa bersama A Reza bu. Bersyukur A Reza mengerti Tasya. Dari awal nikah dia gak pernah maksa Tasya. Sampai Tasya benar-benar percaya sama A Reza." ucapnya kemudian.
"Iya, untungnya dia lebih pengertian Sya." ucap ibu
"Bu, Aa tahu soal aku?" tanya Tasya
"Ibu belum kasih tahu. Semalaman ibu kepikiran kamu" ucap ibu
"Maaf ya bu, kemarin berasa cepat sekali kejadiannya. Tasya kalau ingat itu masih takut." ucapnya
"Gak apa-apa, sekarang tinggal fokus pemulihan. Banyak kok yang setelah keguguran tiga bulan kemudian sudah isi lagi" ucap ibu
"Do'akan ya bu. Mudah-mudahan bisa cepat. Kasihan A Reza" ucap Tasya
"Selalu. Tak putus doa ibu buat anak-anak ibu" ucapnya
***
Tasya kembali ke kamar. Dia masih tidak nyaman dengan perutnya. Dia merebahkan diri disebelah suaminya yang terlelap. Tak lama kemudian dia tertidur.
__ADS_1
***
"Sya, minum obat dulu" ucap Reza
Tasya duduk di tepi kasurnya
"Masih sakit?" tanya Reza
"Iya A. Masih gak nyaman sekali" ucapnya
"Ya sudah istirahat lagi setelah ini" ucapnya
"A Reza kerjaan kita bagaimana? Apa Aa mau pulang duluan saja?" tanya Tasya
"Jangan dipikirkan sayang, Aa sudah minta Papa buat menanganinya. Sekarang kita fokus saja ke pemulihan kamu ya" ucapnya
"Aa sudah beritahu Papa?" tanya Tasya
"Iya sudah"
"Terus Papa gimana A? Maaf ya, aku mengecewakan semuanya" Tasya menyesal
"Papa malah mengingatkan kita, ini semua ujian katanya. Asalkan kamu sembuh dan sehat seperti biasa. O ya, Papa gak bisa ke sini karena Aa kan minta Papa gantikan Aa" Reza menjelaskan
"Iya, aku malah gak mau semua orang repot sama aku A. Maaf ya A, Aa sekarang harus ngurus aku" Tasya merasa tak enak
"Kok kamu bilang begitu?" Reza mengernyitkan dahinya
"Kita suami istri sayang, Aa sakit juga kamu yang ngurus. Sekarang kamu begini, wajar saja Aa yang ngurus. Sudah kamu jangan berfikir macam-macam." lanjut Reza kemudian
***
Dua minggu sudah Tasya bedrest dirumah orang tuanya. Beberapa tetangga datang menjenguknya silih berganti. Banyak doa dan dukungan yang dia dapatkan dari mereka. Setidaknya menjadi pelipur lara untuk dirinya.
Reza setiap hari ikut bekerja dengan Pak Taufik untuk menghilangkan rasa bosan. Dia merasa sangat senang, karena mendapatkan banyak ilmu baru dari mertuanya. Dia pun cukup bisa berbaur dengan para pekerja yang ada di perkebunan tersebut. Bahkan dia menjadi idola para pekerja wanita disana.
"Eh si ganteng datang, si ganteng datang" ucap salah satu ibu muda
"Kalau ada dia, bawaannya semangat bekerja" ucap temannya sambil tertawa riang
"Yuk kesana yuk" ajak salah satu dari mereka. Mereka kemudian menghampiri Reza
"Eh ada Aa ganteng" ucap salah satu dari mereka yang berstatus single parent
Reza hanya tersenyum kikuk.
Dia tahu betul mereka mencari perhatiannya setiap hari. Sesekali, ada yang minta berfoto bersama dirinya seperti seorang idola dengan penggemarnya. Reza tak bisa menolaknya. Hal tersebut sampai di telinga Tasya sendiri. Tasya bukannya cemburu, malah sering meledeknya dengan senang.
__ADS_1