BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Kemauan Mami


__ADS_3

"Pi, tadi Mommy Selly manggil Papi. Papi kan Pi? Masa dia ikutin aku sih?" Vano protes sementara Tasya masih menatapnya tajam.


"Tadi itu dia manggil begini, 'Papi Vano, kemana Maminya?'" Reza memperagakan sambil melirik Tasya dengan takut.


"Memang dia bilang Papi Vano, Pi?"


"Bilang. Masa Papi jadi Papi dia! Ngaco kamu!" Reza sedikit khawatir


"Yakin?" Tasya masih menatap suaminya.


"Iya sayang. Duh itu tatapannya kayak yang minta diamond saja!"


"Papi ih!" Reza tersenyum dengan detak jantung lebih kencang karena takut sang istri akan marah.


"Dek, main yuk. Kasihan Mami biar istirahat." ajak Vano pada adiknya


"Anak Mami sholeh banget. Terima kasih Bang, pengertian sekali sama Mami."


"Pi, ayo maen dibawah Pi"


"Ayo"


Mereka bertiga meninggalkan Tasya seorang diri.


***


Sore hari, Tasya keluar kamarnya setelah mandi. Dia melihat ke kamar anak-anak, mereka masih terlelap bersama suaminya.


Tasya merasa senang melihat kebersamaan ketiga jagoannya. Dia kemudian turun setelah bosan seharian di dalam kamar.


"Lagi apa Pa?"


"Sya, Vano ingin ikan. Pasang aquarium disini cocok gak?"


"Emang dia minta iklan apa, Pa?"


"Katanya sih ikan c*pang."


"Biar sama A Reza saja nanti Pa."


"Tadinya Papa mau belikan saja.kasihan nunggu Reza dari kemarin-kemarin gak di turuti terus"


"Ih anak itu banyak banget maunya Pa" gerutu Tasya pada mertuanya.


"Pa, kita makan malam diluar yuk?"


"Makan apa?"


"Seafood. Kok aku ingin ke tempat biasa ya, Pa."


"Ayo."


"Tapi nanti Pa, anak-anak masih tidur. Agak sore saja ya Pa."


"Boleh. Papa mandi dulu kalau begitu." Pak Danu meninggalkannya.


Tasya kini menghampiri kedua Mbaknya yang sedang bersantai. Mereka segera bangun dari tidurnya saat Tasya mendekat.


"Udah santai aja Mbak. Mumpung mereka masih tidur." ucap Tasya pada kedua Mbaknya


"Sudah mendingan, Bu?" tanya Mbak Diah


"Alhamdulillah sudah."


"Mbak nanti siap-siap ya, kita makan di luar." ajak Tasya


"Siap Bu." Mbak Uji bersemangat


"Uji ih. Dasar" Mbak Diah mengingatkannya


"Hehe.. Maaf Bu."


"Gak apa-apa lagi, Mbak. Kayak ke siapa saja."


"Aku nyesel deh, Bu." Ucap Uji kemudian


"Kenapa?"


"Kenapa gak ketemu majikan kayak Ibu dari dulu." Uji tersenyum


"Iya bener." Mbak Diah ikut mengangguk setuju


"Apa sih Mbak."


"Enggak, ibu baik sekali. Kalau majikan saya yang dulu. Dia yang makan enak, terus kita dipesankan makanan yang beda sama dia. Kalau sama Ibu, apa yang Ibu makan. Kita juga ikutan makan."


"Ya ribet Mbak, aku harus milih-milih menu. Mending sekalian saja rame-rame."


"Pantes Bi Tinah betah banget tinggal disini, Bu." Mbak Diah mengingatkannya


"Apakabar Bi Tinah ya? Kapan hari ya, aku inget terus sama Bibi. Rasanya kok kangen banget."


"Iya, Bu. Sejak dibawa ke kampung saya gak tahu kabarnya gimana."


"Kapan-kapan kita kesana yuk, Mbak." ajak Tasya


"Aku sih terserah Ibu. Hehe"


"Abaang..." sapa mbak Uji yang melihat Vano mendekat dengan wajah khas bangun tidur.


"Mii.. " Vano minta di gendong.


" Kok manja sih, Abang?" Tasya mengggendong anaknya


"Sama Mbak aja di gendongnya ya?" ucap Mbak Diah


"Enggak Mau. Aku mau sama Mami." Vano memeluk leher Tasya.


"Adek sudah bangun?"


"Belum."


"Papi?"


"Belum juga."


"Aku mau spaghetti Mi"


"Kita makan diluar. Mau ga?" Ajak Tasya


"Enggak Mi.. Aku mau spaghetti!" Vano merengek.


"Mbak yang bikin ya?" Mbak diah menawarkan diri


"Enggak! Aku tuh mau Mami yang bikin!" teriak Vano


"Gak boleh teriak sama orang yang lebih dewasa, Abang!"


"Minta maaf. Cepetan!"


"Enggak."


"Ya sudah, Mami gak akan buatkan Abang spaghetti." ancam Tasya.


"Mbaak, aku minta maaf"


"Iya, Bang."


"Mii..ayo buatkan Miii kan aku sudah minta maaf sama Mbak." Vano merengek kembali.


"Kamu tuh kayak Papi. Terus aja ngerengek kalau gak di turuti." Tasya berjalan ke dapur. Dia segera membuatkan Vano spaghetti. Sementara sang anak menunggunya sambil menonton televisi.


"Masak apa sih Mam?"


"Tuh yang bangun tidur minta spaghetti."


"Pi, kita makan di luar yuk? Aku mau seafood langganan kita itu loh. Aku juga udah ajak Papa."


"Ya sudah, Papi mandi dulu deh." ucapnya seraya menatap spagehetti yang tengah di aduk oleh Tasya.


"Mau dong Mi. Wangi banget."


Tasya menggulung spaghetti menggunakan garpu kemudian menyuapi Reza bertepatan dengan Vano yang menghampirinya.


"Mamiiiii" Vano merengek.


"Itukan spaghetti aku Mi! Kenapa dikasih Papi sih!"


"Iya ini udah sayang. Ini punya Abang" Tasya membawa piring ke hadapan anaknya.


"Gara-gara Papi kan jadi sedikit spaghetti aku!" kesal Vano melirik Reza.


"Cuma diminta dikit. Oeljt banget sih jadi anak!" gerutu Reza


"Tahu gak Bang, orang pelit itu kuburannya sempit."


"Ya iya Papi kuburan itu sempit, gak ada kuburan yang lega. Emangnya Papi mau main bola apa!" ketus Vano membuat Tasya dan Reza melongo


"Astaghfirullah.. Tahu dari mana itu Bang?"


"Papa Rasya lah! Mami sih sama Papi terus mainnya. Papa Rasya kan baik suka ngasih tahu aku." ucapnya polos


"Lama-lama ingin noyor kepalanya anak ini Mi" ucap Reza yang kesal dengan jawaban anaknya. Sementara Tasya hanya tersenyum.


"Haha.. Iya juga ya. Semua kuburan sempit. Astaghfirullah.. Anak kamu Papi" Tasya tertawa puas.


"Lama-lama Papi kalah debat sama dia, Pi." cibir Tasya

__ADS_1


"Gak apa-apa. Dia smart Mam."


"Eh ingat yaa, kecerdasan itu diturunkan dari Ibunya. Jadi ya wajar saja dia cerdas" Tasya membanggakan diri.


"Cerdas tapi gak cakap, gak guna Mi."


"Haha..iya. Dia pinter adu argumen kayak Papi. Baguslah seenggaknya ada yang mengalahkan Papi selain Mami" Tasya nyengir.


"Udah belum ngobrolnya?" Vano protes.


Tasya membawanya ke depan televisi.


"Aku siap-siap dulu ya Mbak." pamit Tasya pada Mbak Diah yang menemani Vano menonton.


"Kasihan banget sih si Papi kena skak anaknya sendiri." Tasya masih tertawa seraua menaiki anak tangga


"Ih seneng ya suaminya kalah debat." Reza menyusulnya.


Dia seolah mengejar Tasya.


"Haa.. Ampun Pii.." Tasya tertawa masuk ke dalam kamar.


"Mau ngetawain lagi?" Reza memeluk istrinya.


"Enggak sayang." Tasya mengecup pipi suaminya.


"Sana mandi"


"Mami sudah mandi?"


"Sudah."


"Sana ih bau iler" Ucap Tasya saat Reza mulai mengendus lehernya.


"Papii!" Tasya begidig.


"Baru segitu doang sudah ter*ngsang. Haha"


"Ih siapa juga yang ter*ngsang. Geli tahu!"


Reza hanya tersenyum menggoda.


"Cepetan. Aku ingin seafood ih."


"Ih banyak mintanya nih Mami sekarang."


"Gak mau nih ceritanya?"


"Mau sayang. Cuma tumben saja."


" Ya udah cepetan dong, Pi."


Tasya mendorong suaminya masuk ke dalam toilet.


***


"Kenapa sih Mami mau makan seafood?" tanya Vano


"Kamu mau punya dedek lagi kali" Pak Danu menyahuti


"Negatif Pa. Aku sudah ngarep juga." Reza menimpalinya seraya membelokan mobilnya.


"Eh Pi, kapab ya kita jenguk Bi Tinah, aku kok kepikiran."


"Loh, kok sama Sya. Papa juga kemarin-kemarin malah inget beliau."


"Ayo sih maunya kapan?"


"Harus prepare dulu ya Pa. Booking hotel daerah sana, kan gak mungkin pulang pergi."


"Mau minggu ini?" tanya Reza


"Papa gimana Pa? Kosong gak jadwalnya?"


"Opa-opa bamyak gaya pakai jadwal segala. Padahal cuma reuni gak jelas doang isinya." gerutu Reza


"Heh! Nanti kamu juga ngalamin ya" zpak Danu tak mau kalah


"Enggaklah. Aku tuh nanti udah tua bermanfaat. Bukan cuma reuni, karokean kumpul-kumpul."


"Ih kenapa sih kalian jadi ribut? Gak malu sama Daffa?" Vano menimpali membuat semua terbahak.


"Denger tuh kata ustadz Elvano." ucap Tasya seraya tertawa.


Tasya melingjarkan tangannya dilengan Reza seraya menunjuk ikan dan seafood yang ada dihadapannya.


"Jangan di sambel pedes ah." ucap Reza di depan pelayan


"Enggak Pi, kan biasnaya juga gak pedes."


"Jangan di asem manis juga. Sakit ntar lambungnya." mereka berdebat di hadapan pelayan.


"Iya-iya di saos Padang deh Mas tapi jangan pedas ya."


"Siap Pak."


"Tuh udangnya mau di bumbu apa?" tanya Reza


"Tepung aja Mas."


Reza seegrmembayarnya ke kasir.


"Ngapain kesini coba, ini gak boleh itu gak boleh" ketus Tasya


"Papi cuma takut kayak kemarin lagi, sayang."


Tasya masih mengerucutkan bibirnya kesal.


"Sudah sih Mi. Gak enak masa marah."


"Tapi pulangnya beli es krim ya?" pinta Tasya


"Hah? Gak salah?"


"Enggak!"


"Siap laksanakan."


Pesanan mereka pun tiba.


"Aduuhh ngiler semua" ucap Mbak Uji.


"Sikat Mbak" ucap Reza yang mendengarnya membuat Uji malu sendiri.


"Sikat buat apa sih Pi? Papi mau gosok gigi memangnya?"


"Ini anak nyamber mulu kayak petir." Gerutu Reza membuat Pak Danu tersenyum.


"Memang sikat buat menangkal petir Mi?" seketika Pak Danu terbahak kemudian terbatuk.


"Pa minum Pa" Tasya memberikan gelas berisi air teh untuk Pak Danu


"Opa.. Opa.. Makanya jangan ketawa mulu. Keselek sendiri kan jadinya" ujar Vano.


"Abang, makan dulu Bang. Kalau kamu bicara terus kasihan yang lain nanti."


"Kenapa sih Mi! Aku gak boleh bicara"


"Lagi makan gak boleh bicara, sayang."


"Oke Mi."


"Mbak aku mau kriuknya." pinta Vano pada Mbak Diah.


"Dia minta ekornya yang ini Mbak" ucap Reza menunjuk ikan gurame yang sudah terbalut tepung.


Mereka menghabiskan makanannya tanpa sisa.


"Kenyang Mbak? Mau tambah?"


"Hehe alhamdulillah. Enggak Bu. Terima kasih."


"Enak banget Bu. Alhamdulillah."


"Pesan bungkus buat Pak Bejo, Pi"


"Jangan bu, masih banyak kan itu lauk dirumah. Biar yang itu saja." Mbak Diah menimpali.


"Iya, kasih duit aja sih Mi. Buat rokok."


"Oh ya sudah kalau begitu."


Mereka masih berbincang hangat. Sesekali Reza dan Pak Danu membahas pekerjaan mereka.


***


Reza merebahkan tubuhnya setelah pegal setelah menyetir mobil.


"Papi, Mami kan ingin es krim Pi."


"Ya Allah, lupa Mi. Maaf. Besok ya"


"Sebel deh." Tasya cemberut kesal


"Besok ya sayang"


"Orang maunya juga sekarang."

__ADS_1


"Hhh..Papi. Suruh Pak Bejo beli ya?"


"Orang maunya juga Papinya yang beli."


"Heh? Apa Mi?"


"Maunya Papi yang beli"


"Astaghfirullah.. Jahat nih Mami mau nyiksa Papi."


"Nyiksa?" Taysa melebarkan matanya


"Enggak Mami."


"Ya udah gak usah. Aku nyiksa kan?"


"enggak sih Mi. Papi jalan dulu" Reza segera keluar kamar.


Selang beberapa lama, Reza menelepon istrinya.


"Apa?" ketus Tasya


"Mau Es krim apa sayang?"


"Yang cone strawberry."


"Sama apa?"


"Es krim mochi."


"Sam apa lagi?"


"Yang seger Pi"


"Terus?"


"Yang di cup rasa vanilla strawboleh."


"Mi, Mami ngidam?"


"Iya"


"Eh enggak Pi."


"Apa Mi?"


"Sudah cepetan!"


"Oke"


Tasya tersenyum senang telah mengerjai suaminya.


Reza masuk membawa berbagai macam es krim dalam plastik.


"Untung snak-anak tidur." ucap Reza


"Kamu banyak maunya sih Mi? Papi heran deh. Jangan-jangan Mami hamil."


"Papi lihat kan waktu itu apa hasilnya?"


"Negatif sih." Reza menerima es krim yang disodorkan istrinya.


"Jam segini loh Mi makan es krim."


"Memang ada aturannya?"


"Ya enggak. Tumben aja Mi. Biasanya Mami gak mau makan terlalu malam. Apalagi ini makan es krim. Aneh aja."


"Perasaan Papi aja deh itu mah."


" Ini mau dimakan gak? Kalau enggak Papi simpan di lemari es."


"Iya. Simpan aja."


Keduanya kini tengah bersiap untuk tidur.


"Terima kasih Pi sudah penuhi semua kemauan Mami."


"Sama - sama sayang." mereka saling mengecup satu sama lain. Reza memeluk pinggang istrinya.


"Love you, Mi" Reza mengecup kening istrinya


"Hmmm.. Wangi badan Papi. Enak banget." gumam Tasya


"Apa sayang?" Reza tak mendengarnya.


"Enggak Pi. Love you too" Tasya membalas pelukan suaminya.


***


Pagi-pagi Tasya sudah berlari ke kamar mandi. Reza yang mendengarnya segwra bangkit.


"Mii.. Mii.." Reza mengetuk pintu kamar mandi.


Lama Tasya tak membukanya membuat Reza kembali ke kasurnya menunggu sang istri.


"Mual lagi?" tanya Reza


"Di minum gak obatnya?" Reza mencercanya sebelum Tasya menjawab pertanyaan.


"Mual banget."


"Pi, air anget Pi."


"Tunggu" Reza segera ke kamar mandi kemudian turun ke bawah mengambil teh manis hangat.


"Minum sayang." Reza memberikan teh tersebut.


"Ke dokter lagi yuk? Kok gak sembuh-sembuh sih?"


"Enggak ah."


"Dari pada begini tiap pagi."


"Males Pi minum obatnya."


"Oh ya udah, gak usah kalau begitu. Kalau Mami sendiri gak ada niatan sembuh."


"Kok Papi marah sih?"


"Ya habisnya Mami gak nurut. Tapi gak apa-apa. Yang ngerasain semuanya juga Mami bukan Papi."


"Ih, marah-marah terus."


"Mami suka sih bikin orang kesal. Apa-apa mesti dituruti. Giliran Papi sarankan sesuatu, Mami boro-boro mau."


"Iya ya sudah ke dokter. Tapi nanti aja setelah Abang pulang sekolah ya Pi?"


"Ribet ah bawa mereka."


"Ya udah sana Papi mandi dulu. Aku lihat jadwal dokternya."


Reza patuh. Dia segera masuk ke dalam. Kamar mandi.


"Mami gak anter aku lagi?" tanya Vano.


"Maaf ya Bang, Mami masih sakit."


"Mami sih semalam malah ngajak jalan-jalan"


"Bukan jalan-jalan Bang, tapi makan-makan."


"Yuk cepetan Bang." ajak Reza


Tasya mengantar mereka hingga teras rumahnya.


"Adek bawa Pi?"


"Enggak. Ribet. Papinya buru-buru."


"Kasihan Pi, dia nangis tuh. Papi gak kasihan sama Mami nanti harus bujuk Adek?"


Reza yang hendak mebgeluarkan mobil segera membuka pintu mobilnya.


"Ya udah ayo ikut." ajak Reza. Dia segera mengambil Baby chair. Daffa nampak senang.


"sial-siap Mi"


"Iya Bawel"


***


Reza dan Tasya kini berjalan masuk ke dalam rumah sakit.


"Biar Mami saja yang daftar, Pi" pinta Tasya


"Ya sudah. Papi tanggung juga ini" ucapnya seraya asyik dengan ponselnya.


Setelah selesai, Tasya menarik lengan Reza.


"Loh, kok kesini sih Mi?"


.


.


.

__ADS_1


Hanya mengingatkan teman semua jangan lupa Like, komentar, dan vote yang banyak yaaaa ^^


__ADS_2