
"Mau makan apa kita Sya?" tanya Reza sambil menyetir mobilnya
"Dirumah saja A. Ibu pasti sudah masak" jawab Tasya
"Tanggung keluar. Kita jalan-jalan dulu saja ya. Mumpung disini." usul Reza
"Selalu begitu. Ngajak jalan kalau aku lagi pakai baju begini" Tasya bersungut
Reza melihat ke arahnya kemudian dia tertawa.
"Aku gak sadar Sya, kamu pakai baju itu lagi" masih dengan tertawanya.
"Kenapa gak bawa baju ganti?" tanya Reza
"Ya aku kan gak tahu kalau A Reza ngajak jalan" jelas Tasya
"Ya sudah gak apa-apa, kita mau makan dimana Sya? Kuliner apa gitu Sya yang enak-enak disini? Tanya Reza
"Jajan batagor saja yuk A? Atau cuanki? Atau mie kocok? Ajak Tasya
"Cuanki itu apa Sya?" tanya Reza
"Cari uang jalan kaki" jawab Tasya
"Maksudnya gimana?" Reza bingung
"Aa gak tahu cuanki?" Tasya heran
Reza menggeleng
"32 tahun hidup Aa dipakai apa saja? Sampai gak tahu cuanki"
"Aa tahu sih kalau batagor, yang di goreng itu kan? Terus mie apa tadi kamu bilang?"
"Mie kocok" sambung Tasya
"Iya itu Aa tahu, mie nya di kocok begitu kan?" dengan polosnya Reza menjelaskan.
Tasya tertawa lepas. Reza ikut tertawa melihat Istrinya tertawa puas.
"Kenapa sih Sya? Salah Sya?" Reza ikut tertawa sambil tak mengerti
"Aa.. Masa..mie.. " Tasya tertawa lagi
"Apa Sya? Apa sih?" Reza penasaran dengan wajah sumeringahnya
"Masa mentang-mentang namanya mie kocok. Mie nya di kocok" Tasya tertawa memegang perutnya
"Aduh sakit.." keluh Tasya yang puas tertawa masih memegang perutnya.
"Kasihan aku sama kamu A. 32 tahun yang A Reza hapal cuma nama sayuran sama buah-buahan doang. Itu pun karena Aa kerjanya begitu" Tasya tertawa geli
"Ya kan disana gak ada Sya makanan itu. Mana Aa tahu lah. Aa tahunya seblak. Itu ada tuh di ujung jalan yang kita beli nasi goreng waktu itu. Tapi Aa juga belum pernah coba" jelasnya
"Mie kocok Apa memangnya Sya?"
"Itu loh A, mie yang pakai kikil gitu. Terus mie nya agak lebar begitu. Pedas asam aduh nikmat sekali. Masa sih disana tidak ada A?" tanya Tasya heran
"Aa belum pernah liat yang jualan mie kocok disana" jawabnya
__ADS_1
"Memang enak itu Sya? Sama saja kan kayak bakso?" tanya Reza penasaran
"Pokonya nanti Aa coba deh. Mau?" tanya Tasya
Reza tampak ragu.
"Terus itu satu lagi apa namanya yang kata kamu cari uang cari uang begitu?" Reza penasaran
"Cuanki" jawab Tasya
"Itu kayak bakso sih a. Tahu, siomay, sama bakso isinya" jelas Tasya
"Yang begitu semua? Gak ada gitu Sya selain itu?" Tanya Reza
"Aa memang mau makan apa? Nasi?" tanya Reza
"A kalau tidak dicoba mana bakal tahu rasanya" tantang Tasya.
"Kamu ingin makan cuanki?" tanya Reza
"Iya dong A. 2 minggu lebih aku puasa makan cuanki"
"Yasudah ayo beli cuanki dimana?" tanya Reza
"Di spbu terdekat" ledek Tasya
"Ya sudah putar balik disana kalau begitu. Kita ke kedai cuanki raos saja kalau begitu" lanjut Tasya.
Sesampainya di kedai, Reza melihat banyak kaum muda mudi yang sedang makan.
"Ramai sekali Sya. Seenak apa sih?" tanya Reza penasaran.
"Tuh kosong a. Yuk duduk disana". Ajak Tasya
Setelah pesanan mereka datang, mereka mulai menikmati cuanki tersebut. Tasya menambahkan sambal yang banyak di mangkoknya.
"Sya, jangan banyak-banyak nanti sakit perut" Reza memperingatkan
"Tenang saja A. Aku sudah biasa" Tasya mencicipi kuah cuanki miliknya
Reza memperhatikannya. Dia mengambil kuah Tasya dengan sendoknya kemudian terbatuk.
"Pedas sekali Sya." ucap Reza seraya minum.
"Jangan dimakan kuahnya Sya, nanti perutmu sakit" ucap Reza
"iih A Reza bawel. Aku sudah biasa. Tenang saja A" ucap Tasya
"Gimana a rasanya? Enak kan?" tanya Tasya
"Lumayan baksonya enak. Kalau tahunya ya rasa tahu" ucap Reza sambil mengunyah
Bibir Tasya memerah karena makan cuankinya yang pedas.
"Nikmat sekali A. Habis bimbingan, pusing sama skripsi eh nemu yang segar begini." Tasya menikmatinya
"kamu mau tambah?" tanya Reza
"Nggak. Aku ingin jajan yang lain" ucap Tasya dengan senyumnya
__ADS_1
Setelah membayar, Mereka melanjutkan berkeliling dengan mobilnya.
***
Hampir tengah malam mereka baru sampai di rumah.
"Sudah sepi Sya" ucap Reza berbisik
"Iya sudah pada tidur kayaknya A" Tasya ikut berbisik.
Mereka kemudian membersihan diri dan bersiap untuk tidur.
"Baru pertama kali aku pulang selarut ini A. Sama cowok lagi" ucap Tasya
"Untung halal ya Sya, jadi kamu gak kena marah ibu" Reza tersenyum
"Coba kalau gak ada aku, pasti kamu gak bakal bisa masuk ke rumah" Reza membanggakan dirinya
"Iya. Terima kasih ya A" ucap Tasya serius
"Terima kasih doang?" Telunjuk Reza mengarah ke pipinya sambil di ketuk-ketuk dengan senyumnya yang menggoda
"Apa sih A Reza. Ayo tidur" ajak Tasya
Tasya lalu menaikkan selimutnya. Dia memunggui Reza yang berharap mendapat kecupan darinya.
Kemudian tangannya memeluk Tasya.
"A Reza!" Tanpa sadar Tasya menghardiknya
Reza menurunkan tangannya. Lagi-lagi ada rasa bersalah dalam diri Tasya. Tasya kemudian membalikan badannya. Pandangan mereka beradu. Ada raut kekecewaan di wajah Reza.
"A Reza maafkan aku ya" ucap Tasya pelan.
Reza terdiam
"Aku minta maaf ya A. Aku hanya belum terbiasa. Aku kaget saat tangan A Reza tiba-tiba meluk aku" ucapnya sekali lagi, penuh penyesalan
"Kalau tidak belajar begini, kapan kamu terbiasa Sya" ucapnya datar.
Tasya menitikan air matanya. Ucapan Reza terasa pedas di telinganya. Sekarang Reza yang balik panik melihat istrinya menangis.
"Maaf.. Maaf.. Kalau Aa terkesan memaksa. Kalau kamu masih takut, Aa tidak akan melakukannya lagi Sya. Aa janji" ucap Reza
"A Reza gak salah, aku yang salah A" ucap Tasya sambil menyeka air matanya
"Aku harap A Reza sabar dan tidak marah, aku ingin belajar sama seperti aku mulai terbiasa melihat A Reza bertelanjang dada." jelas Tasya
"Iya.. Aa yang terburu-buru Sya. Maafin Aa ya" tanpa sadar Reza melingkarkan tangannya di pinggang Tasya kembali. Tasya pun tidak menyadarinya. Dia masih larut dengan penyesalannya
"A Reza, itu tangannya?" Tasya mulai tersadar.
"O iya" Reza melepaskan tangannya. Mereka tertawa bersama.
"Konyol sekali kita Sya" ucap Reza sambil tertawa kecil.
"Kamu benar-benar mengubah duniaku Sya." ucap Reza
"Apa sih, berlebihan A Reza" ucap Tasya
__ADS_1
"Bukan berlebihan Sya. Hanya saja aku harus lebih sabar menghadapi karakter kamu. Aku harus lebih sabar membujuk kamu saat kamu marah. Aku pun terbawa seperti anak abege" ucapnya jujur
"Yang sabar ya Nak!" Tasya menepuk-nepuk lengan Reza. Mereka kemudian tertidur saling berhadapan.